
Tepat jam 08.30 pagi, keluarga Daniel keluar bersama menuju restoran dibawah untuk sarapan.
Jangan ditanya bagaimana wajah-wajah pasangan yang sedang dimabuk cinta.
Daniel dan Medina saling mencuri pandang dan tersenyum malu-malu. Sementara Danu dan Rani makin terlihat romantis setelah malam panjang panasnya berdua. Mereka memakai baju couple berwarna putih yang bertuliskan *Husband* dan *Wife*. Bahkan tingkah Danu membuat mamanya terus menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Papa Niel..kenapa papa Niel sama mama Niel ga pake baju kembar kayak papa sama bunda?" Celoteh Syifa membuat Danu tergelak.
Daniel dan Medina saling menatap.
"papa Niel pasti belum punya ya. Ifa tau tempat orang yang jual baju kayak bunda pake. Nanti Ifa anterin ya" Ucap Syifa lagi dengan suara cadelnya. Membuat semua terkekeh geli.
"sayang..kamu itu lucu banget sih" Medina mencubit pipi gembul Syifa.
Daniel mendekatkan wajahnya ke arah Medina.
"Aku juga mau dicubit kamu..." Goda Daniel memasang pipi mulusnya, membuat wajah Medina merah karena malu.
Daniel tersenyum.
"Ibu mau sarapan apa?" Medina beralih menghampiri Ibu Safira yang sudah duduk.
"ibu ingin makan bubur ayam" Jawab Ibu Safira mengedarkan pandangannya ke meja makan yang sudah tersaji makanan yang sudah dipesan Daniel sebelumnya.
Daniel mendengar keinginan mamanya dan segera memanggil pelayan.
"apa restoran ini menyediakan menu bubur ayam?" Tanya Daniel setelah pelayan mendekat.
"ada pak..." Jawab si Pelayan.
"baiklah..bawakan itu kemari" Pinta Daniel.
Pelayan mengangguk dan berjalan meninggalkan meja.
Dengan sigap Medina mengambil beberapa potong buah ke dalam piring dan menyajikannya didepan ibu Safira.
"Sambil nunggu buburnya dateng, ibu makan ini dulu" ucapnya dengan senyum manis.
"terimakasih sayang"
Saat mereka sedang Hidmat menyantap sarapan, tiba-tiba suara centil perempuan menghampiri meja mereka.
"Raniiiiiii..." Teriak Raisa menghambur ke tempat Rani duduk.
Rani yang sedang menyuapi Syifa reflex menoleh ke arah suara.
__ADS_1
"Raisa???" Pekik Rani. Berdiri dari duduknya dan memeluk Raisa.
"halo cantiknya aunty...kamu makin cantik aja" Tangan Raisa mencubit pipi gembul Syifa yang sedang asik mengunyah makanan.
"iihhhhh...jangan cubit-cubit Ifa dong aunty. Kan sakit pipi ifa" Syifa menepis tangan Raisa dengan kesal. Bibirnya mengerucut membuat Syifa semakin lucu.
Rani dan Raisa terkekeh gemas.
"Halo Tante..Danu.,Daniel...apa kabar?" Mata Raisa menatap tajam ketika ia menyapa Daniel.
Mereka hanya membalas dengan anggukan dan senyum tipis. Termasuk Medina yang tidak disapa karena mereka belum saling mengenal.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Rani.
"Aku lagi ada project dijakarta...timku akan menginap disini selama beberapa hari" Jawab Raisa.
"ohhh. Ayo duduk. kita sarapan bersama" ajak Rani.
Tanpa ragu dan malu Raisa mengambil kursi dan duduk menyantap sarapan bersama keluarga Daniel. Bahkan ia melupakan tim kerjanya yang sudah menunggunya sarapan dimeja lain.
"Daniel.. bagaimana kabarmu? Kamu terlihat makin tampan dan macho" Kini Raisa beralih menatap Daniel.
Medina mendongak terkejut dengan ucapan Raisa yang terdengar seperti rayuan ditelinganya. Hatinya seperti tercubit dan merasakan sakit setelahnya. Medina menoleh sekilas ke arah Daniel dan kembali menyantap sarapannya yang belum habis.
"Alhamdulillah saya baik. Bagaimana kabarmu?" Tanya Daniel balik.
Danu merasa jengah dengan tingkah sepupu istrinya itu. Ia menghela nafas dan segera menghabiskan sarapan dipiringnya tanpa bersuara.
Manik Raisa kini beralih menatap Medina dengan kening mengernyit.
"Ran...siapa perempuan itu?" Raisa bertanya dengan berbisik ke telinga Rani.
"Oh iya..dia Medina. Med,,Kenalin ini sepupu aku Raisa" Medina mendongak dan mengulas senyum.
"Assalamualaikum..saya Medina" Medina segera berdiri dan mengulurkan tangan ke arah Raisa yang duduk persis disebelahnya. Namun tidak mendapat respon dari Raisa.
Medina menarik tangannya dan kembali duduk. Daniel melihat itu dan langsung menggenggam tangan Medina tanpa menoleh ke arah Medina.
Daniel mengeratkan genggaman nya ketika Medina hendak melepaskan. Ia menoleh Daniel memberi isyarat agar Daniel melepaskan tangannya. Namun Daniel hanya menoleh sekilas dan kembali menyantap sarapannya.
"Aunty...mama Niel ini istrinya papa Niel. Cantik kan?" Celetuk Syifa membuat Raisa melotot.
Raisa terkejut dengan ucapan Syifa. Ia menoleh menatap Rani tajam.
"apa?? istri Daniel?" Pekiknya dengan suara kencang. Ia menggeleng tidak percaya.
__ADS_1
"calon istri Daniel" jelas Rani datar. Mencoba bersikap netral. Ia tahu sepupunya itu menyukai Daniel sejak lama, dan pernah sempat minta dicomblangi agar dekat dengan Daniel. Namun Daniel tidak pernah menanggapinya. Karena saat itu, perasaan Daniel masih terjebak dengan Farah.
"ohh..baru calon" Jawab Raisa enteng.
Danu memutar malas bola matanya. Ia segera berdiri dan mengajak Syifa bermain permainan di Playground yang tidak jauh dari restoran.
"Sayang,,,kamu mau bermain disana.?" Tunjuk Danu dan disambut dengan senyum sumringah Syifa.
"mau pa.." Syifa mengangguk antusias. Syifa berlari mendahului papanya.
"apa ibu sudah selesai?" Tanya Medina.
Ibu Safira mengangguk. Maniknya menatap Medina memberi kode jika beliau ingin kembali ke kamar hotel.
"Sinar mataharinya bagus...kita akan berjemur di dekat taman sana" Ucap Medina menunjuk area taman dibelakang restoran.
"baiklah..aku juga sudah selesai. Maaf Raisa...aku mau menemani mamaku dulu. Silahkan nikmati sarapanmu" Ucap Daniel setelah menyesap sisa kopinya hingga tandas.
Medina menggandeng tangan Ibu Safira.
"Tante tinggal dulu ya.." Pamit ibu Safira kepada Raisa yang masih duduk bersama Rani.
Mereka berdua mengangguk. Raisa menatap kesal punggung Medina dan Daniel yang berlalu meninggalkannya.
Rani memperhatikan sikap sepupunya. Ia tahu Raisa pasti akan memborbardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah siap meluncur dari bibir seksinya.
"Ran..."Raisa sudah menatap tajam Rani.
Rani mengambil nafas dalam. Ingin rasanya menghindar dan berlalu pergi menyusul suami dan putrinya bermain. Tapi Rani menyakini jika itu tidak akan mudah. Karena Raisa sudah dalam mode kesal dan patah hati. Setidaknya ia harus menghibur Raisa.
"Kami mengenalnya 6 bulan lalu. Medina pernah nyelamatin mama Safira saat sakit jantungnya kambuh" Rani berhenti sejenak sebelum ia menceritakan semuanya.
Rani berharap setelah ia ceritakan semuanya Raisa akan mengubah sikap dan perasaan Raisa terhadap Daniel. Jangankan seorang Raisa, sosok Farah pun yang pernah singgah dihati Daniel, kini tidak akan mudah menggoyahkan cinta Daniel untuk Medina.
"Daniel mungkin bukan jodohmu, Sa..."Ucap Rani mengakhiri kisah Daniel dan Medina yang ia ceritakan pada Raisa.
Raisa tidak bergeming. Telinganya masih mendengar jelas kata demi kata yang sepupunya katakan. Namun hatinya menahan emosi dan amarah yang siap meledak. Terlihat dari nafasnya yang memburu cepat dengan tangan terkepal.
Rani memperhatikan itu dan ada rasa khawatir dalam hatinya.
Tiba-tiba Raisa berdiri dan hendak berjalan meninggalkan Rani. Namun Rani menarik lengan Raisa.
"Maafkan aku. Bukan aku tidak mau membantumu dekat dengan Daniel...tapi..." Ucapan Rani terpotong karena ia terkejut saat Raisa menghempaskan tangan Rani dengan kasar.
"jika kamu tidak membantuku tidak apa. Aku akan mendekati Daniel dengan caraku sendiri" Ancam Raisa dan berlalu meninggalkan Rani yang berdiri mematung.
__ADS_1
Rani menghela nafas panjang. Ia merasa bersalah dan kasihan dengan sepupunya. Tapi ia juga tidak bisa berbuat banyak. Ia berharap Raisa tidak melakukan hal-hal yang akan merugikan dirinya sendiri.
Rani mengambil tasnya dan berjalan menyusul Danu dan Syifa yang asyik bermain di arena bermain mini.