Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 11


__ADS_3

Setelah selesai melayani ibu Safira sarapan dan minum obat, Medina mengantar ibu Safira kembali ke kamar. Sementara Daniel dan Danu berangkat ke kantor.


"Bu...Medina ijin tinggal sebentar ke belakang ya? Medina mau mencuci baju Medina" pamit Medina.


"kamu berikan saja baju kotor mu sama Risma. Dia yang bertugas mengerjakan mencuci dan setrika pakaian dirumah ini" Ujar ibu Safira.


"tidak usah Bu...Medina sudah biasa cuci baju sendiri. Lagian gak enak juga kalo Risma yang cuci baju Medina" Tolak Medina yang sudah menenteng kantong plastik baju kotor ditangannya.


"kamu tahu tempatnya, nak?" tanya Ibu Safira.


"sudah bu..Tadi pagi, Medina sudah tanya ke Bi Inang" Medina menjawab dengan lembut.


"Baiklah..nak"


Medina berjalan menuju area loundry dirumah itu. Tempat paling pojok berdekatan dengan kamar Para ART. Persis dibelakang paviliun. Danu.


Medina bersyukur karena pagi ini Risma diajak bi Inang ke psar untuk berbelanja kebutuhan dapur.


Dia sangat malas untuk meladeni tingkah laku Risma yang menurutnya sudah kelewatan. Baru 2 hari Medina tinggal dirumah itu, Medina sudah beberapa kali mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Risma. Entah apa maksudnya?


"apa dia tidak suka karena ada orang baru bekerja dirumah ini?" Medina bertanya-tanya sendiri.


"aahhh..kenapa banyak sekali orang yang tidak suka kepada ku? Apa salahku sama mereka?" Mata Medina mulai berkaca-kaca mengingat kejadian malam itu saat teman-teman yang dianggapnya dekat tidak ada satupun yang mau membantu.


Namun ia tetap bersyukur Allah SWT mempertemukanmya dengan ibu Safira meski dengan kejadian yang tidak ia duga.


Setelah selesai menjemur pakaiannya disana. Medina langsung kembali ke kamar Ibu Safira, setelah sebelumnya mampir ke dapur untuk mengambil beberapa potong buah untuk diberikannya kepada ibu Safira.


"Assalamualaikum..." Medin membuka pintu kamar.


"Wa'alaikum salam..." sahut ibu Safira yang sedang membaca buku disofa.


"lho...ibu ga istirahat?" Medina menghampiri Ibu Safira dan menyodorkan potongan buah-buahan yang ia bawa dari dapur.


"ini juga istirahat sayang..." Jawab ibu Safira dengan senyum hangatnya.


"aku kompres tangan ibu yang bengkak ya. Sebentar Aku ambil air hangatnya dulu ke dapur" ucap Medina dengan tatapan matanya ke arah tangan ibu Safira.


Ibu Safira tersenyum.


Medina berdiri dari sofa dan beranjak ke arah dapur untuk mengambil air hangat.


Bi Inang dan Risma terlihat sudha kembali dari pasar dan sedang sibuk menyiapkan makan siang.

__ADS_1


"Bibi kapan kembali?" Sapa Medina saat sudah didapur.


"Belum lama nduk.." Jawab bi Inang sembari merajang bumbu.


Medina melihat sekilas Risma yang sedang mencuci sayuran. Risma membalas tatapan Medina dengan sinis dan mendecih.


"kamu butuh sesuatu?" Tanya bi Inang.


"iya bi, Medina butuh air hangat dan handuk kecil untuk mengompres tangan ibu yang bengkak"


"Kamu tunggu sebentar, bibi ambilkan"


"terimakasih kasih bi" Medina menerima air hangat dalam wadah baskom dan tidak ketinggalan handuk kecilnya.


Saat hendak kembali ke kamar Ibu Safira, ia melihat Danu yang baru masuk kedalam rumah.


"assalamualaikum kak.." Sapa Medina yang membuat Danu kaget karena tidak menyadari Medina yang baru keluar dari dapur.


"wa'alaikum salaaaaaaam" sahut Danu dengan mimik terkejut.


Medina terkekeh geli.


"maaf... kak Danu kaget ya?" Tanya Medina menahan tawanya dengan menutup mulut dengan satu tangannya.


Danu menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Malu. Sebab pria seperti dirinya yang sudah berusia matang masih bisa lupa menjaga adab dan etika.


Bibirnya tersenyum. Matanya menatap punggung gadis berhijab yang masuk kedalam kamar mamanya.


Daniel yang baru masuk ke dalam rumah pun terheran dengan kakaknya yang berdiri ditempatnya tanpa bergeming.


"kak...ngapain disini? bukannya siap-siap berkemas" Daniel menepuk pundak kakaknya.


Danu menoleh sekilas. Lalu beranjak menuju paviliun. Sementara Daniel, menuju kamar mamanya.


Risma yang mendengar suara Daniel diruang tengah langsung berlari dari dapur.


"Den Daniel..butuh sesuatu?" Tanya Risma dengan nada manja.


Tidak mendapatkan sambutan baik dari majikannya, dengan wajah kesal Risma kembali ke dapur.


"sejak ada Medina, semua orang selalu saja memperhatikan dia? Padahal dia juga sama statusnya dirumah ini. Pembokat!" Gumam Risma kesal.


Danu dan Daniel berencana akan berangkat bersama ke Bandung Sore nanti. Untuk menghadiri acara pernikahan adik Ipar Danu (adik kandung dari Rani, istri Danu). untuk itu mereka sengaja pulang kantor lebih cepat untuk berkemas dan bersiap.

__ADS_1


"Ma...." Daniel menyembul masuk kedalam kamar.


Medina yang sedang memijit kaki ibu Safira disofa sontak menoleh bersamaan setelah sebelumnya selesai mengompres punggung tangan ibu Safira yang bengkak.


"Kamu kok sudah pulang, nak?" tanya Ibu Safira Heran.


Daniel mendekat ke sofa dan ikut duduk di sofa single disamping mamanya. Daniel melirik Medina sekilas lalu menjatuhkan pandanganya lagi ke arah mamanya.


Medina hendak beranjak berdiri dari sofa. Tiba-tiba perasaan Medina menjadi canggung dengan kehadiran Daniel. Tapi tangganya ditahan mama Safira.


"iya ma. Sore nanti Niel berangkat bareng ka Danu ke Bandung"


Ibu Safira mengernyit. Ia menatap Daniel heran.


"Kan masih ada waktu 2 hari nak. Kamu bisa berangkat hari sabtunya kan?"


"iya.. kebetulan Niel ada jadwal ketemu klien disana besok pagi. Jadi sekalian aja Niel berangkat bareng Kak Danu"


"ohh..Sampaikan permohonan maaf mama untuk keluarga Rani" ucap Ibu Safira.


"Mama ga papa kami tinggal?" Daniel menoleh Medina yang sedang masih duduk disamping mamanya.


"tentu saja nak...sekarang sudah ada gadis cantik yang menemani mama dirumah. Dia sangat pengertian. Dia melayani mama dengan telaten tanpa harus mama memintanya. Mama benar-benar beruntung" Puji ibu Safira dengan sengaja menyebut Medina gadis Cantik dihadapan Daniel.


"wah...sepertinya nasib kita dirumah ini tinggal menunggu waktu aja, Niel. Habislah kita" Teriak Danu yang sudah berdiri dipintu.


Medina tergelak.


Danu kembali berulah dengan menjahili Daneil yang punya sifat posesif.


Danu berdecak.


"Saingan Lo kali ini berat bro! Mama aja udah muji-muji Medina begitu"


Daniel menoleh Danu dan sorot mata tajam.


Danu nyengir dan menepuk-nepuk pundak Daniel sambil menatap Medina.


Kejahilan-kejahilan Danu kepada Daniel sudah sering gadis itu lihat jika kedua adik kakak itu sedang bersama. Meski menjadi bulan-bulanan sang kakak, Daniel tidak pernah bereaksi berlebihan. Karena bagi Daniel, hal demikian menjadikan hubungan nya semakin dekat dan akrab dengan kakaknya ditengah kesibukan keduanya mengurus bisnis.


Suasana hening seketika. hingga suara dering ponsel Danu membuyarkan lamunan mereka.


"Ya udah..Niel ke kamar dulu mau packing baju" Daniel memilih ngeloyor pergi meninggalkan kakaknya yang sedang berbicara dengan ponselnya. Eh..Istrinya.

__ADS_1


##############


__ADS_2