
Saat ini, Medina dan Daniel telah selesai menyantap makan mereka didalam kamar.
Mereka menghabiskan menu makan malam yang dipesan Daniel.
Daniel mencuci tangan dikamar mandi sementara Medina merapikan piring kotor bekas makan malam.
"Biar aku saja..." Daniel mengambil alih nampan yang akan dibawa Medina.
"Terima kasih sayang" Ucap Medina mesra.
"Ohhh nooo...kamu menggodaku, Honey" Daniel meletakkan kembali nampan yang sudah dibawanya. Daniel langsung menarik pinggang istrinya dan mendaratkan kecupan dihidung, pipi dan bibir Medina.
Medina terkekeh dan membalas kecupan dipipi Daniel.
"Aku tidak yakin, aku bisa menahannya" Ucap Daniel dengan hidung yang sudah mengendus ceruk leher Medina.
"Pakde Radiman menunggu kita, Sayang" Medina mendorong dada suaminya agar menjauh dan melepaskan pelukannya.
Daniel menarik nafas panjangnya. Daniel harus mengalah karena jika ia menunda terus maka semakin lama mereka akan berada dikota S dan urusan lainnya akan terbengkalai.
"Baiklah...Tapi berikan aku satu ciuman" Daniel menunduk dan memonyongkan bibirnya.
Tanpa berpikir lama, Medina langsung mendekatkan bibirnya dengan bibir Daniel. Mereka berciuman lembut dan mesra dalam waktu lama. Hingga membuat Daniel hampir lepas kendali lagi.
Saat lengan kecil Medina terus memukul dada dan bahu Daniel, barulah Daniel melepaskan bibir Medina dari bibirnya.
"Hah...hah...haaaahhh" Nafas Medina terengah dengan mata terpejam.
Daniel tertawa lebar melihat istrinya yang terlihat lucu dan menggemaskan dengan ekspresi seperti saat ini.
"Sudah...sudahh...haahhh..haahhh" Medina terus mencoba menetralkan deru nafasnya yang tersengal.
Setelah mata Medina terbuka, lengan Medina kembali mengayun dan mendarat didada suaminya.
"Aduhhh..!!" Daniel mengaduh.
Medina berjalan menjauhi Daniel dan memakai hijabnya.
Saat Daniel membuka pintu untuk meletakkan nampan piring kotor didepan pintu, Raihan sudah berdiri disana dan hampir mengetuk pintu kamar.
"Maaf, Bos. Biar saya yang bawakan" Raihan mengambil nampan dari tangan Daniel dan meletakkannya dilantai didepan kamar Daniel.
"Terimakasih" Ucap Daniel.
"Maaf, Bos. Tadi Pak Danu menelepon saya. Meminta anda mengaktifkan ponselnya"
"Ohh..tentu. Tadi ponsel ku lowbat dan sedang dicharge" Jawab Daniel kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana.
"Sayang...aku sudah siap" Ucap Medina yang telah berada dibelakang Daniel.
"Oke...Honey" sahut Daniel singkat.
Mereka bertiga menaiki lift menuju lantai bawah. Raihan sudah memesan tempat untuk pertemuan antara Medina dan Keluarga Pakde Radiman.
"Sebelah sini, Bos" Raihan menunjuk sebuah pintu kaca.
"Bissmillahirrohmanirrohiim... Huffftttt!!" Medina mengatur nafasnya saat handle pintu sudah berada dalam genggaman tangan kiri Daniel. Sementara tangan kanannya terpaut dengan jemari Medina.
Daniel menghentikan langkahnya ketika jemari Medina basah berkeringat seolah sedang merasakan takut.
"Semuanya sudah selesai. Mereka tidak akan berani macam-macam lagi. Buang rasa cemasmu jauh-jauh. Aku disini, Honey" Ucap Daniel lembut berusaha membuat istrinya tenang.
"Aku tahu" Medina mengangguk pelan dan tersenyum manis.
__ADS_1
Daniel mendorong pintu dengan memasang wajah datar dan dibuat sesinis mungkin.
Semua pandangan yang berada didalam ruangan itu seketika menoleh ke arah pintu.
"Mbak Medina...." Wajah Bella tampak sumringah ketika bertatap dengan Medina.
Sementara Pakde Radiman dan Salsa nampak sedikit terkejut dengan penampilan Medina yang kini tampil cantik dan anggun dengan gamis dan hijab yang mahal.
"Assalamualaikum..Pakde..Bude..Salsa..Bella" Sapa Medina dengan senyum kecilnya.
Daniel belum melepaskan genggaman tangannya.
"Wa'alaikum salam" Jawab mereka berempat kompak.
"Nduk...Maafin tindakan Bude tadi pagi ya" Bude Tatik menghampiri Medina dan memeluk Medina.
"I_iya..Bude" Balas Medina terbata. Ia sungguh terkejut dengan sikap manis bude Tatik kepadanya.
Pakde Radiman juga menghampiri Medina yang masih berpelukan dengan istrinya.
"Medina...apa kabar, nduk?" Tanya Pakde Radiman.
Bude Tatik melepas pelukannya dan beranjak mundur memberi ruang untuk suaminya agar lebih dekat dengan Medina.
"Kabar Medina baik. Pakde apa kabar?" Medina balik bertanya.
"Alhamdulillah Pakde sehat" Jawab Pakde
"Oh iya..kenalkan ini suami Medina Pakde.. Bude" Medina mengenalkan Daniel kepada mereka.
Mereka berdua menyalami Daniel dan bersikap manis.
"Maafkan saya tuan atas sikap saya tadi pagi. Tolong maafkan saya" Bude Tatik menangkup kedua tangannya kedepan dan berkali-kali membungkuk.
Wajah Bude Tatik seketika pias. Namun bukan bude Tatik namanya yang punya seribu akal untuk mengelabui orang. Ia memasang wajah sedihnya lalu meminta maaf kepada Medina.
"Maafkan Bude yo nduk...Bude tidak bermaksud begitu. Bude sudah kehabisan akal dan bingung karena Pakdemu dipenjara dan kami tidak bisa berbuat apa-apa"
"Iya Bude, tidak apa-apa" Sahut Medina tidak ingin berpanjang lebar.
"Honey...ayo kita duduk" Daniel mengecup punggung tangan Medina dengan mesra dihadapan keluarga pakde Radiman.
Salsa dan Bella membulatkan matanya melihat adegan romantis dihadapannya.
"Romantis sekali.." Bathin Billa
"Huh..dasar! Bilang aja mau pamer!" Kesal Salsa dalam hati.
"Jangan sungkan Salsa, Billa. Ayo...duduk" Medina sudah bisa menguasai rasa gugupnya dihadapan pakde Radiman dan keluarganya.
Mereka kini semua sudah duduk dan makanan kecil telah terjamu diatas meja.
"Saya ucapkan banyak terimakasih kepada Tuan Daniel, karena sudah menyelesaikan masalah saya dan mengeluarkan saya dari penjara" Ucapan Pakde Radiman terdengar tulus ditelinga yang mendengar.
"Tidak perlu seperti itu Pak...Saya melakukan semua itu demi istri saya yang sangat saya cintai" Daniel melirik Medina dan kemudian memeluknya dari samping bahkan kadang mencium kepala atau pipi Medina tiba-tiba.
Medina hanya tersenyum dan membiarkan kelakuan suaminya.
"Pakde...Medina minta maaf sebelumnya. Karena sudah pergi dari rumah dan tidak memberi kabar kepada kalian beberapa bulan terakhir" Lirih Medina.
"Iya kamu tuh Med...pergi ga pamit. Tahu-tahu pulang sudah bawa suami" Celetuk Bude Tatik.
"Maafkan Medina..Bude. Medina tidak bermaksud membuat kalian susah dan repot" Jawab Medina.
__ADS_1
"Ndak Medina...justru kami yang minta maaf karena sikap dan perlakuan kami selama ini terhadap kamu. Kami benar-benar minta maaf, sudah membuat hidup kamu menderita ketika bersama kami" Elak Pakde dengan wajah getir.
"Ehemmm!!!" Daniel berdehem karena merasa tidak terima Medina yang kini seolah terpojok dan bersalah.
Bude Tatik yang akan kembali bersuara mengurungkan niatnya ketika mendengar Daniel berdehem keras.
"Jadi intinya seperti ini Pakde, Bude.____" Daniel langsung mengatakan maksud dan tujuannya kepada Pakde Radiman yang sebelumnya sudah Raihan sampaikan sebelum mereka bertemu.
"Jadi benar kita akan tinggal dikota J, Tuan?" Tanya Salsa dengan antusias.
"Isshh kamu itu tuli apa? Tadi tuan Daniel sudah mengatakan jika kita akan ikut ke kota untuk menghadiri resepsi pernikahan Medina dengan tuan Daniel" Desis Bude Tatik kepada Salsa.
"Kita hanya perlu menurut dengan semua yang diperintahkan Tuan Daniel selama disana" lanjut Bude Tatik dengan berbisik ditelinga Salsa.
Daniel menatap ibu dan anak yang tengah berbisik. Mendapat tatapan tajam, keduanya segera berpura-pura bersikap biasa.
"Hoaaammmmmhhh...Maaf Tuan. Saya memang tidak biasa tidur malam. Benar kan, Sa" Bohong Bude Tatik. Ia melirik Salsa yang akhirnya ikut tersenyum paksa.
"Benar, Tuan. Apa perbincangan ini telah selesai? Apa kami bisa pamit untuk istirahat?" Seloroh Salsa hati-hati.
Medina menatap suaminya. Seolah mengatakan untuk menyudahi pertemuan mereka.
Daniel mengangguk paham kemudian mencium pundak Medina yang tertutup.
"Kami juga harus istirahat...Come on, Baby" Daniel menautkan jemarinya pada jemari lentik istrinya.
Keduanya bangkit dari duduk dan hendak beranjak. Namun suara Billa menghentikan langkah mereka.
"Tuan, maaf... bolehkah saya memeluk sepupu saya?" Tanya Billa yang memang sedari bertemu Medina hanya diam dibelakang karena dilarang sang ibu.
Daniel dan Medina saling menatap. Dan tersenyum.
"Tentu saja...Mengapa kamu harus minta ijin?" Ucap Daniel.
Setelah mendengar ucapan Daniel, Medina melepaskan genggaman jemari Daniel dan menghampiri Billa.
"Kenapa diam? Katanya tadi mau peluk?" Tanya Medina yang sudah berada dihadapan Billa namun justru Billa hanya terdiam.
"Billa pangling liat Mbak Medina. Semakin cantik" Billa menghambur ke pelukan kakak sepupu nya setelah mengatakan itu.
"Tuan...terimakasih sudah menjaga kakaknya Billa" Ucap Billa lirih.
Ia tahu penderita kakak sepupu nya alami selama bersama keluarganya. Namun saat itu Billa tidak bisa berbuat apa-apa karena selalu kalah dan tidak punya daya untuk melawan keluarganya.
Daniel hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Medina melepaskan pelukannya.
"Bagaimana sekolahmu?" Tanya Medina.
Ia ingat ketika masih ikut Pakde Radiman, Medina suka membantunya mengerjakan PR Billa.
"Setelah Mbak pergi, nilai raportku merosot" keluh Billa sedih.
Saat ini Billa duduk di bangku kelas satu SMA.
"Bapak sama Ibu terus saja menyuruh Billa ini dan itu. Jadi kurang fokus belajar." lanjut Billa memasang wajah sedihnya.
Medina hanya tersenyum.
"Baiklah... sekarang istirahatlah. Sampai bertemu besok pagi" Pamit Medina dan mengacak rambut Billa seperti kebiasaan lamanya.
Mereka berpelukan lagi dan berpisah.
__ADS_1
Sementara itu, Pakde Radiman dan yang lainnya menunggu Billa dilobby hotel.