
Bi Wati berjalan mondar-mandir didepan kamar majikannya. Sudah pukul tujuh tapi pasangan suami istri itu belum menampakkan batang hidungnya. Tidak biasa majikannya bangun hingga sesiang ini. Selama yang ia tahu, Medina selalu bangun pagi sekali untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya. Bahkan saat bi Wati masuk ke dapur, Medina telah selesai membuat sarapan.
Ragu untuk kembali mengetuk pintu, akhirnya bi Wati memutuskan untuk kembali ke dapur. Masakan yang sudah ia tata diatas meja makan, sudah tidak hangat lagi.
"Jo...tumben sekali Tuan dan Nona belum keluar kamar. Saya khawatir Nona sakit karena semalam menunggu tuan diluar rumah hingga larut." Bi Wati mengeluarkan unek-uneknya kepada Joko si tukang kebun.
"Bi Wati seperti tidak pernah muda saja." Ucap Joko pelan. Ia menutup mulutnya dengan tawa kecil.
"Hush!! Kalo ngomong sama orang lebih tua itu harus sopan. Jo." Bi Wati kesal dengan Joko yang ceplas ceplos.
Sementara itu didalam kamar, Daniel baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan handuk melilit di pinggang, ia berjalan menuju ruangan khusus yang terdapat deretan lemari pakaian.
Daniel tersenyum melihat istrinya yang sedang memilih pakaian. Medina juga baru selesai mandi sesaat sebelum Daniel keluar tadi.
"Apa kamu lelah?" Daniel memeluk Medina dari belakang. Mencium aroma wangi khas tubuh istrinya.
"Tidak." Jawab Medina menahan hasrat yang kembali timbul karena sentuhan suaminya. Mereka baru saja selesai melakukan ritual ranjang selepas sholat subuh tadi.
"Berarti kita bisa menambah tiga ronde lagi?" Daniel menyusupkan kepalanya pada lekukan leher Medina. Memberi kecupan mesra dan meninggalkan tanda cinta disana. Tangannya menyusup bagian paha yang terbuka karena Medina mengenakan dress pendek.
"Apa?" Medina mencubit lengan suaminya yang melingkar di pinggangnya. Membuat Daniel tertawa.
"Terimakasih, Honey." Daniel mencium pipi Medina.
Medina membalik badan dan melingkarkan tangannya pada leher Daniel.
"Aku tidak menerima ucapan terimakasih." Ucap Medina sambil senyum lebar.
"Hei....itu kata-kata ku." Protes Daniel membuat Medina tertawa lebar. Menampilkan derean giginya yang rapih dan putih.
"Bagaimana kabar Kak Farah?" Medina tersenyum cantik.
"Dia terlihat baik-baik saja." Jawab Daniel tanpa ekspresi.
"Apa yang kalian bicarakan hingga selarut itu?" Ada aroma cemburu dalam pertanyaan Medina.
Daniel tertawa kencang hingga suaranya memenuhi ruangan. "Aku senang karena dicemburui." Daniel kembali tertawa. Membuat Medina menyebikkan bibirnya.
"Jadi kalian benar-benar menghabiskan waktu berdua saja? Berarti ponsel sengaja dinonaktifkan?" Manik Medina sudah berkaca-kaca. Ia tidak rela suaminya bersama wanita lain apalagi Farah adalah mantan kekasih suaminya.
"Tidak." Elak Daniel.
"Aku hanya sebentar menemui Farah. Karena aku kesal, aku menemui Arif di apartemennya. Aku tidak akan pulang dan bertemu istriku jika emosiku belum sepenuhnya hilang." Jelas Daniel.
"Apa yang membuat kakak kesal?" Medina memeluk suaminya. Ia tahu, jika semua ini tidak mudah bagi dirinya dan suaminya.
"Dia membuat ku emosi." Jawab Daniel pelan. Ia tidak mungkin berkata jujur kepada Medina. Jika Farah menghina dan merendahkan nya.
"Apa? Tapi kenapa?" Desak Medina.
"Apa kita akan terus membahasnya?" Daniel merasa jengah jika terus membahas Farah.
"Maaf."
"Tapi apa dia baik-baik saja?" Tanya Medina khawatir.
"Aku tidak mau ikut campur masalah internal keluarga mereka. Ayahmu pasti sudah memikirkan ini dengan sangat matang." Daniel menangkup pipi Medina dengan kedua tangannya.
Mendengar penjelasan suaminya, Medina mengangguk. "Bagaimana jika kamu menyiapkan diri untuk bertemu Ayah dan Ibu mu?" Suara Daniel membuat Medina mendongak seketika.
"I_itu....." Medina menunduk dalam. Ia memang belum siap bertemu dengan orangtuanya.
"Aku hanya takut."
"Takut apa?"
__ADS_1
"Entahlah. Aku juga bingung menjelaskan nya." Medina membenamkan kepalanya pada dada bidang Daniel yang terbuka.
"Ditambah masalah yang datang silih berganti." Medina mendesah perlahan.
"Jangan bebani pikiran mu dengan masalah apapun. Katakan padaku yang kamu khawatirkan. Aku tidak akan memaafkan diriku jika sesuatu terjadi padamu seperti waktu itu." Daniel menatap lekat Medina.
"Demi kesehatan kamu dan bayi kita." Imbuh Daniel.
"Aku tahu." Medina mengangguk pelan.
"Aku sudah melihat usaha Ayah dan Ibu untuk bisa dekat denganmu. Mereka terus melindungi dan mengkhawatirkan kamu." Daniel bicara pelan. lalu mencium dahi Medina dengan intens.
"Honey...aku ingin kehidupan kita semakin sempurna. Aku ingin melihatmu bahagia."
Daniel kembali memeluk istrinya. Ia tahu tidak bisa memaksakan kehendaknya. Tapi Medina harus mencobanya.
"Akan kupikirkan." Keduanya sepakat untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Semakin lama maka masalah semakin berlarut-larut tanpa solusi. Dan akan menimbulkan masalah baru.
"Aku sudah sangat lapar, Sayang." Medina mengelus perutnya. Ia benar-benar lapar setelah melayani suaminya.
"Oh ya ampun, Daddy lupa. Maaf ya." Daniel berjongkok dan mencium perut istrinya.
"Aku hampir selesai, Honey." Sempat-sempatnya Daniel mencuri kecupan saat dirinya sedang bersiap memakai pakaian kerjanya.
"Sudah. Ayo kita sarapan." Daniel menggandeng tangan istrinya keluar kamar.
Melihat kedua majikannya keluar, Bi Wati bergegas menyambut mereka dimeja makan.
"Makanannya sudah dingin, Tuan. Apa perlu saya panaskan lagi?" Bi Wati terlihat gugup.
"Tidak apa-apa Bi." Jawab Daniel.
"Nona baik-baik saja?" Tanyanya khawatir.
"Alhamdulilah aku sehat bi." Medina tidak bisa menyembunyikan rona merah dipipinya menahan malu saat ditanya demikian oleh asisten rumah tangga.
Daniel segera berangkat ke kantor setelah selesai sarapan. Ada banyak pekerjaan yang menunggunya setelah hampir tiga Minggu tidak datang ke kantor. Meski ia selalu menyelesaikan pekerjaan dirumah tapi beberapa jadwal pertemuan dengan klien harus diundur dan dijadwalkan ulang.
Sesampainya di kantor, Daniel langsung masuk ke ruangannya. Ada setumpuk dokumen yang menyambutnya dimeja kerjanya.
"Apa kamu benar-benar akan membuatku sibuk hari ini?" Sindir Daniel pada sekretaris nya, Rania. Belum memulai pekerjaan, ia sudah merasa jengah dan sudah dipastikan jika ia akan sibuk.
"Maaf, Bos." Jawab Rania yang bingung.
"Bagaimana keadaan Bu Medina, Bos?" Tanya Rania ragu. Ia sedikit takut menanyakan kabar Medina kepada Daniel. Tapi ia benar-benar mengkhawatirkan sahabatnya. Karena ponsel Medina tidak pernah bisa dihubungi. Jadi mereka jarang mengobrol atau bertukar pesan.
"Alhamdulilah istriku sehat. Terimakasih, Rania." Ucap Daniel tersenyum.
"Nomernya sudah aktif, kamu bisa menghubungi nya." Lanjut Daniel. Rania tersenyum mendengar kabar Medina dari Daniel.
"Baik, saya akan menghubungi Bu Medina saat istirahat nanti." Rania tersenyum.
"Apa ada jadwal saya keluar?" Tanya Daniel. Ia punya ide yang terlintas dibenaknya.
"Tidak ada, Pak."
"Bagus." Daniel tersenyum penuh arti. Lalu ia mengeluarkan ponselnya.
"Ada lagi yang harus kamu sampaikan?" Tanya nya pada sekretariat yang belum beranjak dari tempatnya.
"Tidak ada, Pak." jawab Rania.
"Baik, saya permisi." Pamit Rania.
"Rania...jika Arif sudah datang, minta dia menemuiku segera." Perintah Daniel.
__ADS_1
"Baik, Bos. Permisi." Rania meninggalkan ruangan bosnya.
"Assalamualaikum, Hon." Sepeninggal Rania, Daniel langsung menghubungi istrinya.
"Wa'alaikumsalam. Kakak sudah sampai?" Jawab Medina disana.
"Apa yang istriku lakukan?" Daniel melihat layar komputernya yang terhubung dengan cctv dirumah.
"Tidak ada pekerjaan yang bisa aku lakukan. Aku bosan." Keluh Medina.
"Jam sebelas nanti bersiaplah. Pak Darma akan menjemputmu. Kita makan siang bersama."
"Apa kita akan makan siang di kantor?"
"Apa ada tempat makan yang istriku ingin kunjungi?" Tanya Daniel sambil memeriksa dokumen diatas meja.
"Tidak ada. Tapi sudah lama kita tidak kumpul dengan kak Arif dan Rania. Bagaimana jika kita mengajaknya?"
"Atau aku akan memasak. Dan kita makan bersama dikantor kakak? sampai bertemu nanti, Sayang."
Tuuuttt..
Medina sudah menutup sambungan teleponnya. Ia segera pergi ke dapur dan memasak masakan spesial untuk dibawa ke kantor suaminya.
"Hon..." Panggil Daniel namun ponsel Medina sudah tidak mengeluarkan suara.
"Aku salah mengajaknya keluar rumah." Daniel tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Daniel kembali bergelut dengan setumpuk pekerjaannya hingga menjelang makan siang. Ia melirik arlojinya. Ada notifikasi pesan masuk kedalam ponselnya. Ia tersenyum tampan sambil membaca pesan disana.
Tangan lainnya, menyambar telepon biasa dan Daniel segera menghubungi Rania.
"Ran...Tolong turun ke bawah dan bawa istriku kemari." Titahnya pada Rania.
"Bu Medina disini?" Tanya dengan nada suara yang sangat senang. Ia akan bertemu sahabat yang sangat dirindukannya.
"Sebentar lagi istriku sampai." Setelah mengatakan itu Daniel menutup telepon.
Rania langsung beranjak dari tempatnya dan turun ke lobby. Ia menunggu sebentar dan tidak lama Medina datang dengan membawa banyak box makanan.
"Selamat datang, Bu Medina." Sapa Rania dengan wajah bahagia. Tangannya mengulur untuk mengambil kotak makanan yang dibawa Medina.
"Mbak Rania, apa kabar?" Medina memeluk Rania sebentar.
"Pak...tolong diantar ke meja saya ya." Rania memberikan kotak makanan kepada satpam yang berjaga dipintu lobby.
"Hati-hati, Bu." Rania berjalan beriringan dengan Medina masuk kedalam kantor suaminya.
Beberapa karyawan yang bertemu dengannya dilobby mengangguk hormat kepada istri bos. Bahkan kebanyakan berdecak kagum karena Medina terlihat lebih cantik dengan perut yang membuncit.
"Ah...mbak Rania aku sangat merindukanmu." Medina memeluk erat Rania saat mereka sudah didalam lift.
"Aku juga merindukan mu. Teman curhatku menghilang." Goda Rania membuat Medina tertawa. Keduanya tampak akrab dan tidak jaim mengingat mereka hanya berdua saja. Karena mereka sudah sepakat akan hal itu.
"Kamu semakin cantik. Pantas saja pak Bos jarang masuk kantor." Goda Rania lagi.
Medina hanya tersenyum mendengar godaan sahabatnya. Banyak hal yang dilewati dirinya hingga harus mengorbankan suaminya yang meninggalkan pekerjaannya hanya untuk menemaninya.
"Terimakasih sudah membantu pekerjaan suamiku." Ucap Medina sebelum keluar dari lift.
_
_
_
__ADS_1
_
_ Lempar bunga yang banyak ya, biar authornya semangat Up.