
Mobil Daniel berhenti tepat didepan lobby hotel teranama ibukota. Ia segera keluar dari kantornya setelah pak Sanjaya mengabarinya sudah berada dihotel.
Daniel langsung menuju lift dan menekan tombol tempat tujuannya.
Daniel menarik nafas panjang dan membuangnya berkali-kali. Entah mengapa dirinya menjadi gugup.
Daniel berada didepan pintu kamar 501. Tempat yang telah ditentukan ayah mertuanya. Ya!! Daniel tidak bisa mengelak satu hal itu. Mereka sekarang adalah keluarga, meskipun belum sepenuhnya jelas.
Daniel mengetuk pintu kamar hotel beberapa kali.
CEKLEK!
"Selamat sore" Daniel melihat ibu Melani berada dihadapannya setelah pintu terbuka.
Bukannya menjawab salam Daniel, manik ibu Melani justru melihat sekeliling Daniel dengan penuh harap.
"Apa kamu sendiri?" Tanya Ibu Melani setelah sosok yang ia cari tidak ditemukannya.
"Iya" Jawab Daniel singkat.
"Maaf...silahkan masuk" Ibu Melani membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan Daniel masuk.
"Selamat datang, Daniel" Sapa pak Sanjaya saat keduanya bertemu.
"Selamat sore Pak" Daniel menyalami Ayah mertuanya itu.
Suasana canggung dan hening meliputi mereka.
"Maaf...harus memintamu datang kesini" Ucap Pak Sanjaya memecah keheningan.
Daniel tersenyum kaku. Sungguh suasana diluar bayangannya. Karena mereka bertemu bukan untuk membicarakan tentang bisnis seperti biasanya.
Daniel duduk berhadapan dengan pak Sanjaya dan istrinya. Daniel menatap wajah sendu ibu Melani. Ada rasa iba dihati Daniel. Namun ia tidak boleh lemah sebelum ia mendengar apa yang akan disampaikan Pak Sanjaya dan Ibu Melani.
"Kalung yang dipakai istrimu...." Suara tangis ibu Melani pecah seketika.
Pak Sanjaya langsung memeluk istrinya berusaha mencoba menenangkan istrinya.
"Aku akan mendengarkan kalian" Daniel juga berusaha tenang menahan emosinya. Ia tahu, hal ini juga tidak mudah bagi ibu Melani dan pak Sanjaya.
Maka dengan pembawaan yang tenang Daniel sangat siap mendengarkan cerita dari Pak Sanjaya dan Istrinya. Daniel berpikir, jika masa lalu mereka tidaklah mudah hingga harus merelakan bayi yang baru dilahirkan diberikan kepada orang lain.
Ibu Melani nampak tenang saat menceritakan tentang masa lalunya. Sesekali ia menghapus airmata yang mengalir di pipinya. Pak Sanjaya juga nampak sedih dan menyesal, terlihat dari wajah dan gerakan tubuhnya.
"A_aku terpaksa meninggalkannya bahkan tidak pernah menemuinya selama 24 tahun. Aku bersalah... aku tidak pantas mendapatkan maaf putriku" Ibu Melani terisak.
"Tidak...semua ini adalah karena kesalahan dan keegoisanku. Aku adalah laki-laki bodoh dan juga arogan" Pak Sanjaya tampak emosional.
Keduanya lalu saling memeluk dan menenangkan diri. Daniel menatap mereka penuh simpati.
"Setelah pertemuan kami dengan bidan Nurul yang tidak disengaja 4 bulan lalu, aku langsung mencari keberadaan orangtua kandung Medina berbekal kalung itu. Tapi aku tidak menyangka jika kalian adalah..." Ucap Daniel terputus.
"Aku akan mencoba mengatakan kebenaran ini kepada Medina. Tapi aku mohon untuk tidak terburu-buru. Beri kami waktu....." Lanjut Daniel.
Pak Sanjaya dan Ibu Melani tampak terkejut dengan ucapan Daniel. Mereka pikir, menantunya akan segera mempertemukan mereka dengan putrinya.
"Tapi aku ingin bertemu dengannya....aku mohon" Lirih Ibu Melani.
Melihat Ibu Melani yang terlihat menyedihkan, membuat hati Daniel tidak tega.
Daniel melirik arlojinya, waktu masih menunjukkan pukul setengah enam sore. "Masih ada waktu". Ucap Daniel dalam hati.
"Saya akan menghubunginya. Anda bisa mempersiapkan makan malam bersama" Daniel berlalu keluar kamar hotel untuk menghubungi istrinya.
Pak Sanjaya dan Ibu Melani tersenyum bahagia, ia berharap Medina bisa datang meski belum tahu kebenarannya.
"Assalamualaikum, Honey"
"Sayang... wa'alaikum salam" Sahut Medina diseberang telepon sana.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Daniel.
"Aku sedang bersama Syifa. Ada apa?"
"Honey...rekan bisnisku mengajakku makan malam bersama di hotel XXX dan diluar dugaan ku, mereka juga ingin kamu hadir makan malam" Daniel berharap Medina akan datang, karena ia tahu jika istrinya agak susah diajak pergi jika bukan untuk acara keluarga.
"Honey....jika kamu tidak ingin datang tidak apa-apa" Ucap Daniel.
"Emmm...baiklah aku akan sholat dan bersiap-siap"
Daniel tersenyum lega istrinya menyetujui permintaan dirinya.
"Ah ya...bawakan baju santai untuk kita berdua" Pinta Daniel membuat Medina mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Untuk apa?" Tanya Medina bingung.
"Kita akan melanjutkan honeymoon satu malam dihotel" Jawab Daniel terkekeh.
"Sayang..." Medina menganggap permintaan suaminya mengada-ada.
"Jaka akan mengantarmu, jadi bersiaplah" Ucap Daniel sebelum menutup ponselnya.
Setelah menelepon istrinya Daniel kembali kekamar Pak Sanjaya dan memberitahu jika Medina akan datang untuk makan malam.
Tentu saja kabar ini membuat pak Sanjaya dan Ibu Melani sangat senang. Pak Sanjaya langsung memerintahkan kepada asistennya agar menyiapkan makan malam spesial untuk empat orang. Dan Ibu Melani meminta pak Sanjaya juga menyiapkan hadiah untuk Medina.
Pak Sanjaya juga menyiapkan kamar khusus untuk Daniel beristirahat sambil menunggu Medina datang dan makan malam tiba.
Sementara itu dirumah, Medina mulai menyiapkan keperluan yang diminta suaminya dan memasukkannya kedalam paper bag meski ia sedikit ragu.
Selepas sholat Maghrib, Medina mulai bersiap-siap. Medina yang tidak ingin mengecewakan suaminya dihadapan rekan bisnisnya, meminta sang kakak ipar untuk membantunya memilih baju yang akan dikenakannya.
Dengan mengenakan gamis berwarna abu-abu dan hijab senada Medina nampak terlihat cantik.
"Kamu selalu terlihat cantik" Puji Sang kakak ipar Rani setelah melihat penampilan adik iparnya.
"Terimakasih banyak kak. Kakak juga" Sahut Medina menimpali.
"Mama Niel sangat cantik" Timpal Syifa yang duduk diatas kasur.
"Ohh ya ampun, gadis kecil ini membuat mama Niel nya semakin gemas" Medina menguyel-uyel wajah Syifa dengan gemas.
"Aku sudah memberitahu mama akan pergi makan malam, tapi justru mama tidak pulang" Medina yang masih merindukan mama mertuanya, terlihat kecewa ketika mama Safira berencana menginap dirumah Tante Latifah.
"Tante Latifah tidak akan melepaskan mama jika mereka sudah bersama" Rani tertawa lebar.
Medina juga memeluk kakak iparnya dengan sayang.
"Terimakasih kak, Aku pergi dulu" Keduanya menautkan pipi.
"Dah sayang" Medina juga mencium pipi Syifa.
"Hati-hati" Teriak Rani dari kamar.
Mang Jaka yang sudah menunggu Medina, langsung membuka pintu ketika istri majikannya sudah terlihat didepan rumah.
Mobil kemudian melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan halaman rumah.
Sepanjang perjalanan Medina merasa sedikit gugup karena ini adalah pertama kalinya dirinya diminta hadir dalam jamuan makan malam rekan bisnis suaminya.
"Mang Jaka, apa penampilanku tidak berlebihan?" Tanya Medina dengan gurat wajah khawatir.
"Nona luar biasa cantik" Puji Mang Jaka dengan mengacungkan jempolnya ke udara.
"Bukan itu maksud Medina mang....Medina takut mengecewakan kak Daniel didepan rekan bisnisnya" Medina menunduk gelisah.
"Apa yang biasa dilakukan seorang istri yang ikut jamuan makan rekan bisnis suaminya?" Tanya Medina. Ia sedikit menyesal karena lupa bertanya keoada kakak iparnya.
"Cukup berikan senyum ramah dan menjawab pertanyaan dengan singkat" Mang Jaka memberi saran.
Medina tersenyum cantik, "Terimakasih, mang".
Mobil yang dikemudikan mang Jaka akhirnya sampai depan di lobby hotel. Daniel yang sedari tadi menunggui istrinya, langsung menghampiri Medina yang belum terlihat turun dari mobil.
"Sayang" Medina melihat suaminya mendekat. Kemudian ia bergegas turun dari mobil.
Daniel menatap istrinya dengan tatapan lembut dan penuh cinta. Ia merindukan istrinya yang seharian ini tidak ia temui.
"Honey, aku merindukanmu" Daniel mencium dahi lalu memeluk Medina dengan erat.
Medina tidak menolak karena ia juga sangat merindukan suaminya. "Aku juga," Ucap Medina pelan.
"Kamu membawa yang aku minta?" Daniel melihat istrinya tidak membawa paperbag.
"Entahlah aku bingung...tapi sudah aku siapkan, ada dimobil" Jawab Medina pelan.
"Bagus..." Daniel kembali mencium pipi Medina membuat gadis itu melotot ke arah suaminya.
Keduanya lalu berjalan ke restoran yang sudah dipersiapkan pak Sanjaya. Bahkan kedua suami istri itu sudah terlihat menunggu di meja makan.
"Maaf kami terlambat" Ucap Daniel setelah mereka sampai dimeja makan.
Pak Sanjaya dan ibu Melani menatap Medina dengan intens. Keduanya masing-masing menahan diri untuk tidak bersikap berlebihan.
"Dia benar-benar mirip Melani ketika masih muda" Ucap Pak Sanjaya dalam hati.
__ADS_1
"Apa kabar, Medina?" Ibu Melani memeluk Medina. Bahkan Medina bisa merasakan pelukan ibu Melani terasa sangat erat dan lebih hangat.
"Me_Medina baik Bu. Bapak dan ibu apa kabar?" Medina membalas pelukan Ibu Melani dan memberanikan diri menatap Pak Sanjaya.
"Maaf...Medina tidak membawa apa-apa untuk kalian. Karena ini undangan mendadak" Medina manatap suaminya.
"Tidak apa-apa, Nak. Salah kami yang mengundang secara mendadak. Maaf...tapi terimakasih sudah datang" Pak Sanjaya refleks mengelus kepala Medina tanpa ia sadari.
"Ayo duduk dan nikmati makan malam keluarga" Ucap Daniel menarik kursi untuk Medina.
"Keluarga?" Medina mendongak menatap wajah suaminya.
"Aku melihatmu sangat gugup, Honey. Anggap kita sedang makan malam keluarga agar lebih akrab dan santai" Daniel mencium kepala Medina yang tertutup hijab membuat Medina merona karena malu.
"Anda keberatan pak Sanjaya?" Daniel tersenyum menatap Pak Sanjaya dan ibu Melani bergantian.
"Tenta saja tidak, kami justru beruntung jika bisa menjadi bagian dari keluarga kalian. Benarkan istriku?" Pak Sanjaya mengelus pundak istrinya yang terus memandangi Medina dengan perasaan bersalah.
"Ah...aku hampir lupa dengan hadiahnya" Ibu Melani mulai sadar dari lamunannya dan mengambil buket bunga dan dua paperbag dari meja lainnya.
"Ini untukmu" Medina bangun dari duduknya dan menerima hadiah dari Ibu Melani.
"Untukku?" Medina menatap ibu Melani lalu menatap suaminya untuk meminta ijin.
"Terima kasih" Ucap Medina setelah mendapat ijin suaminya melalui kedipan mata.
Suasana kembali tenang saat mereka mulai menyantap hidangan yang sudah disajikan diatas meja.
Pak Sanjaya dan Ibu Melani nampak sangat bahagia, terlihat dari wajah-wajah mereka yang berbinar.
Daniel tersenyum penuh arti membuat Medina mengernyit bingung dengan tingkah suaminya.
Saat kedua mata mereka bertemu, Medina memberi isyarat dengan menaikan dagunya dan dibalas gelengan kepala Daniel.
Setelah makan malam selesai, keempatnya berbincang hangat. Daniel seolah memberi kesempatan untuk Pak Sanjaya dan Ibu Melani merasakan kebersamaan mereka dengan Medina.
Dan saat mereka akan berpisah karena malam hampir larut, Ibu Melani seakan enggan melepaskan genggaman tangannya pada Medina.
"Kalian akan pulang?" Tanya Ibu Melani yang berharap masih bisa bersama dengan putrinya.
"Kami akan menginap semalam disini" Jawab Daniel membuat wajah Ibu Melani yang semula sendu kini berubah dengan senyuman yang hampir mirip dengan senyuman milik Medina.
"Mereka benar-benar mirip" Daniel hanya berani bicara dalam hati.
"Kalian sudah memesan kamar khusus?" Pak Sanjaya pun tak ingin kehilangan momen.
"Kami akan tidur dikamar yang sudah ada" Jawab Daniel.
"Kenapa tidak mengambil suite room?" Pak Sanjaya yang hendak mengeluarkan ponselnya ditahan Daniel.
"Tidak perlu, pak. Bagi kami tempat tidak menjadi masalah. Yang terpenting moment yang diciptakan itu harus berkesan, benar?" Daniel tersenyum tampan membuat semua orang tertawa lebar.
"Baiklah...selamat beristirahat. Sampai bertemu besok pagi" Pak Sanjaya menyalami dan memeluk Daniel.
"Terimakasih atas kesempatan ini" Bisik Pak Sanjaya. Ia tahu alasan Daniel mengajak istrinya menginap.
"Selamat malam" Ucap Medina sebelum berpisah.
"Selamat malam" Jawab Pak Sanjaya dan Ibu Melani bersamaan.
Ibu Melani menatap punggung putrinya dengan perasaan haru. Meskipun baru permulaan, namun ia sangat bersyukur, ia bisa bersama putrinya.
"Terimakasih" Ibu Melani menatap mata Pak Sanjaya kemudian tangisnya pecah.
"Dia sangat mirip denganmu" Gumam pak Sanjaya.
"Aku akan meminta pengacara kita untuk segera mengurus pembagian aset kita kepada Medina" Lanjut pak Sanjaya.
"Bagaimana dengan keluargamu, mas? Mereka belum tahu tentang Medina. Adik-adikmu pasti meminta penjelasan dan bisa jadi mereka menolak putriku" Ibu Melani merasa khawatir dengan keputusan suaminya.
"Selama 30 tahun aku selalu mendengarkan mereka. Dan inilah harga yang harus aku bayar. Saat ini dan selanjutnya, mereka yang harus mendengarkan aku" Ucap Pak Sanjaya penuh keyakinan. Pandangannya terlihat kosong mengingat masa lalu..
Ibu Melani kembali menangis mendengar ucapan suaminya. Ia tidak menyangka suaminya akan benar-benar berubah.
"Terimakasih, mas" Lirih Ibu Melani dipelukan suaminya.
_
_
_Tbc
_
__ADS_1
_Bab terpanjang, hampir 2000 kata. Biar ga dikata nanggung 😂👍🙈**