
Suasana ballroom tampak hening saat sang biduan mulai mengeluarkan suaranya menyapa Daniel yang berada di sampingnya.
"Pengantin pria sudah berada dipanggung tim band, ini menandakan akan ada persembahan yang akan dilantunkan, benar begitu Tuan?"
"Anda benar sekali" Jawab Daniel dengan senyum diwajahnya.
"Apa yang mau dipersembahkan dan untuk siapa?" Tanya sang biduan dengan nada menggoda.
"Aku akan mempersembahkan sebuah lagu untuk teman hidupku yang saat ini duduk sendiri diatas sana" Ucap Daniel sambil menunjuk ke arah Medina yang juga menatapnya.
Suara dan tepuk tangan tamu undangan kembali terdengar riuh memberi semangat kepada Daniel.
"Baiklah, Tuan Daniel....mari tunjukan persembahan mu" Teriak sang biduan.
Suara tepuk tangan lagi lagi terdengar riuh. Medina yang hanya duduk dikursi pelaminan nampak sangat gugup menunggu penampilan suaminya. Ia berharap apa yang akan dilakukan suaminya, akan lancar. Karena ia tahu jika suaminya tidak mempunyai hobi mendengarkan musik secara khusus apalagi sampai bernyanyi.
"Ehemmm!!!" Daniel berdehem sebelum memulai aksinya.
"Teruntuk cintaku, belahan jiwaku, sekaligus teman sepanjang hidupku, terimakasih karena dirimu sudah mengisi seluruh ruang hati dan hidupku yang penuh luka dengan semua ketulusan cintamu"
"Lagu ini sebagian kecil dari seluruh ungkapan perasaan cinta dan sayang ku untukmu"
"Meski dirimu bukan cinta pertamaku, satu hal yang harus kau yakin.....bahwa dirimu akan menjadi yang terakhir dari perjalanan cintaku"
"Terimakasih karena dirimu memberi warna kehidupan pada wanita yang hampir terpuruk karena kesalahanku" Daniel menatap sang mama dengan sendu.
Daniel mengingat bagaimana keadaan sang mama saat kegagalan perjalanan cintanya terdahulu, membuat kondisi sang mama terpuruk. Dan ia sangat bersyukur, karena Tuhan mempertemukan mereka dengan wanita baik seperti Medina.
"Istri kecilku, terimalah persembahan suamimu"
Daniel mulai mengarahkan michroohon ke depan bibirnya. Suara piano berdenting memulai alunan.
Dengarkanlah....wanita impianku
Malam ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin.... mempersunting mu
Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Engkaulah yang terbaik untukku
Masih memegang microphone, Daniel turu. dari panggung menuju pelaminan.
Suara indahnya kembali terdengar mengalun mengisi keheningan ballroom, karena semuabtamu tampak sangat menikmati suara indah sang pengantin.
Kebanyakan mereka tidak menyangka jika seorang CEO perusahaan besar seperti Daniel, akan melakukan hal yang romantis untuk istrinya.
Kau begitu sempurna
Dimataku kau begitu indah
Kau membuat diriku
Akan slalu memujamu
Di setiap langkahku
Ku kan slalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan, hidupku tanpa cintamu
Janganlah kau tinggalkan diriku
Tak mampu menghadapi semua
Karena bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahku...
Kau adalah jantungku...
Kau adalah hidupku, lengkapi diriku
Oh Sayangku kau begitu
Sempurna.....
Medina tidak bisa menyembunyikan rasa haru dan bahagianya karena merasa sangat dicintai dengan tulus oleh suaminya.
Daniel yang sudah berada didepan istrinya, meraih jemari Medina dan mengecupnya dengan mesra. Membuat Medina semakin terisak.
__ADS_1
Daniel menyeka air mata Medina dengan lembut. Lalu mengecup kedua bola mata, hidung dan bibir Medina bergantian.
Medina tersenyum cantik dan segera memeluk tubuh suaminya dengan erat. Bahkan ia tidak ingin melepaskannya.
Daniel tersenyum dan membalas pelukan hangat istrinya. Ia menghujani Medina dengan kecupan dipuncak kepala dan bahu istrinya.
Semua mata tertuju pada pasangan pengantin yang sedang dimabuk asmara ini. Bahkan mama Safira dan beberapa tamu undangan lainnya menitikkan airmata karena terbawa suasana.
"Satu lagu terakhir untuk istriku, teman hidupku" Ucap Daniel tanpa melepas pelukannya.
Kau indah meretas gundah
Kau yang selama ini kunanti
Membawa sejuk memanja rasa
Kau yang selalu ada untukku
Didekatmu aku lebih tenang
Bersamamu jalan lebih terang
Tetaplah bersamaku menjadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku, aku milikmu, kita satukan tuju
Bersama Arungi derasnya waktu
Kau milikku, ku milikmu
Kau milikku, ku milikmu
Penuh penghayatan Daniel menyanyikan lagu terakhirnya. Mengutarakan semua perasaan yang memenuhi rongga hati dan jiwanya.
Dan saat Daniel mengakhiri persembahan untuk istrinya, suara riuh dan tepuk tangan mengisi ruangan ballroom.
"Terimakasih. Silahkan menikmati acaranya kembali" Ucap Daniel menyapa semua orang disana.
Daniel menyerahkan microphone kepada salah satu asisten tim band yang sengaja menghampirinya.
"Apa kamu akan terus memelukku, Tuan Putri?" Medina tersadar dan melepaskan pelukannya.
"Aku memberikan persembahan lagu cinta, bukan film India, yang banyak menguras air mata" Goda Daniel membuat wajah istrinya tersenyum.
"Ayo turun...kita akan menyapa tamu-tamu" Daniel menggamit Jemari istrinya dan melangkah turun dari singgasana.
Gio, Arif, Raihan dan Danu menghampiri Daniel dan memberikan ucapan selamat.
"Bisa jadi kau akan menyaingi Afgan" Ledek Gio dengan tawanya.
Yang digoda justru semakin tertawa.
"Terimakasih" Daniel melewati mereka saat melihat kedatangan Pak Sanjaya dan keluarganya.
"Maaf kami sedikit terlambat" Sapa Pak Sanjaya menyalami Daniel.
Pak Sanjaya memenuhi janjinya untuk membawa keluarganya. Namun masih harus bersiap di mobil karena saat berangkat mereka dari tempat terpisah.
"Tidak apa pak Sanjaya. Dimana keluarga anda?" Tanya Daniel kepada pak Sanjaya.
"Mereka masih bersiap dimobil. Sebentar lagi mereka akan kemari"
"Selamat untuk pernikahannya. Semoga kalian berbahagia" Ucap Pak Sanjaya yang juga menyapa Medina.
Saat pandangan fokus pada Medina, ia sangat terkejut ketika melihat wajah Medina yang sangat mirip dengan seseorang. Dan....
"Kalung itu....." Gumam Pak Sanjaya dalam hati.
"Bagaimana kalung itu bisa dimiliki istri Daniel??" Pak Sanjaya masih dengan pertanyaan yang menggganggu kepalanya.
"Ayah...." Panggil Fian yang baru masuk kedalam gedung.
Fian berjalan bersama 2 orang yang Daniel belum kenal. 2 wanita yang berbeda usia.
"Halo Tuan Daniel....selamat atas pernikahan kalian" Fian menyalami Daniel dan Medina.
"Terimakasih atas kedatangan kalian"
Keluarga pak Sanjaya tampak terkejut saat menatap Medina. Bahkan beberapa saat terjadi keheningan diantara mereka.
"Oh ya...perkenalkan. Ini istriku, Melani dan yang ini calon istri Fian, Donita" Pak Sanjaya mengenalkan anggota keluarganya.
Donita menyalami Daniel dan Medina lebih dulu. Dan Saat istri pak Sanjaya hendak menyalami Medina, ada perasaan aneh yang menyelimuti wanita paruh baya itu.
Ia melihat wajah Medina dengan seksama. Dan saat pandangan nya berlaih pada kalung yang digunakan Medina, Ibu Melani semakin membulatkan matanya karena terkejut.
"Kalung itu....Apa mungkin dia...??" Ibu Melanie berbicara dalam hatinya. Menebak-nebak apa yang dilihatnya meski ia masih belum yakin.
"Ehemmm!!" Suara deheman keras ok Sanjya membuyarkan lamunan ibu Melani.
__ADS_1
"Selamat untuk kalian. Semoga bahagia selalu" Ibu Melani memeluk Medina dengan erat dan lama.
Pelukan ibu Melani membuat Medina memejamkan mata. Merasakan gelenyar aneh dalam tubuhnya yang ia tidak mengerti. Namun pelukan itu terasa sangt hangat dan menenangkan.
"Selamat menikmati acara dan hidangannya" Ucap Daniel sopan. Mempersilahkan pak Sanjaya dan keluarganya untuk duduk ditempat VVIP yang sudah disediakan WO.
Daniel tersenyum penuh arti dan membisikkan sesuatu ditelinga Medina.
"Ada apa?" Daniel menatap wajah Medina yang terus memperhatikan keluarga pak Sanjaya.
Medina menggeleng pelan dan tersenyum cantik.
"Kamu tidak merasa istri pak Sanjaya sangat mirip denganmu, Honey??" Daniel menyadari sejak tadi jika wajah istri pak Sanjaya dan wajah istrinya sangtlah mirip.
Dalam hati Daniel berharap apa yang ia pikirkan adalah benar. Namun ia tidak boleh gegabah, dan akan mencari tahu secara diam-diam.
"Apa??" Medina menjauhkan wajahnya dan menatap Daniel dengan wajah bingung.
"Sudahlah...aku akan mengajakmu berkeliling lagi. Apa kamu lelah, Honey?" Tangan Daniel mengusap pipi Medina.
Medina tersenyum cantik dan menggeleng. Mereka menghampiri sahabat dan juga kerabat Daniel.
"Selamat untuk mu kawan." Ucap Raka yang berdiri berdampingan dengan Renata. Mereka berpelukan dan saling memuji.
"Kalian sangat serasi" Ucap Raka lagi.
Renata memalingkan wajahnya saat tatapannya bertemu dengan tatapan Daniel. Ada rasa sakit dan juga sedih dalam hatinya yang tidak ingin ia tunjukkan pada orang-orang yang berada disekitarnya.
"Terima kasih sudah datang" Sahut Daniel.
"Ini untukmu, Nona" Raka memberikan paper bag kecil berwarna ungu kepada Medina.
"Apa ini?"
"Hanya hadiah kecil dari kami berdua. Semoga Nona menyukai hadiahnya" Ucap Raka dengan tatapan penuh cinta kepada Renata.
"Terima kasih banyak" Ucap Medina dengan senyum diwajahnya.
"Sepertinya akan ada yang menyusul mu" Gio menepuk pundak Daniel.
"Benarkah??" Daniel menatap Gio dan Raka bergantian.
Renata yang tadi memalingkan wajahnya kini harus menatap Gio sang kakak. Ia terlihat tidak nyaman dengan kalimat yang baru saja diucapkan kakaknya.
"Abang...." Lirih Renata.
"Sepertinya aku banyak ketinggalan berita Selamat untukmu dan Raka" Daniel tersenyum dan mengusap rambut Renata.
"Kami baru saja memulai, jangan dengarkan Abang" Kalimat Renata terdengar seperti sanggahan ucapan Gio sebelumnya.
Gio terkekeh mendengar kalimat Renata. Ia tahu adiknya masih memiliki perasaan kepada Daniel. Namun ia berharap, dengan berjalannya waktu, hubungan antara adiknya dengan Raka akan semakin dekat. Dan perasaan adiknya kepada Daniel sedikit demi sedikit akan hilang dengan sendirinya.
Setelah berbincang-bincang sebentar, Daniel membawa Medina berkeliling menemui tamu lagi. Dengan bangga Daniel terus memperkenalkan istrinya kepada teman, sahabat, karyawan kantornya, dan para kolega nya.
"Kamu terlihat lelah, Honey" Daniel mengusap pipi Medina.
"Tidak...aku hanya merasa tidak nyaman dengan sepatuku saja. Ini terlalu tinggi untukku" Ucap Medina pelan. Ia tidak mau ada yang mendengar ucapan nya dan membuat suaminya malu.
"Coba aku lihat"
"Jangan!!" Medina menahan bahu Daniel yang hendak berjongkok untuk melihat kakinya.
"Kenapa? Kakimu sekarang pasti sudah lecet. Lebih baik dibuka saja"
"Tidak usah. Acaranya sebentar lagi selesai. Aku bisa menahannya" Medina menatap lembut suaminya.
"Kamu yakin, Honey?"
Medina mengangguk yakin dan tersenyum cantik.
"Jangan tunjukkan senyuman itu sekarang. Aku tidak tahan melihatnya" Bisik Daniel dengan menggoda. Membuat pipi Medina merona seketika.
Daniel tersenyum dan mencium pipi istrinya dengan gemas.
Saat malam mulai larut dan para tamu undangan sudah mulai meninggalkan gedung.
"Sekali lagi terimakasih atas kedatangan kalian diacara kami" Ucap Daniel kepada pak Sanjaya saat mereka hendak berpamitan.
"Sama-sama. Jika kalian ada waktu, datanglah dalam acara pernikahan Fian nanti" Sahut pak Sanjaya tanpa melepas pandangan nya kepada Medina.
"Tentu saja kami akan datang" Ucap Daniel.
Medina kembali gelisah saat menatap wajah ibu Melani. Namun ia mencoba menyembunyikan perasaannya. Mereka kembali berpelukan sebelum keluarga pak Sanjaya meninggalkan acara.
_
_
_TBC
_
__ADS_1
_
_Terima kasih sudah mampir dan jangan lupa tinggalkan jejak kebaikannya yaa. Thank all