
"Apartemenmu terlihat lebih nyaman sekarang" Ucap Danu saat melihat suasana apartemen adiknya yang banyak perubahan di setiap sudutnya.
Saat ini mereka sedang berada diruang tengah sambil menonton televisi. Sementara para istri sedang sibuk mengolah makanan didapur untuk makan malam.
Daniel tersenyum lebar. Tentu saja banyak perubahan karena sentuhan tangan nyonya rumah ini yang selalu mengatur letak dan dekorasi setiap ruangan.
Sudah dua Minggu Medina dan Daniel menjalani rumah tangganya di apartemen.
"Ini semua Medina yang mengatur. Aku hanya memberi persetujuan saja" Sahut Daniel dengan bangga.
"Dan kakak tahu? aku semakin betah berlama-lama di rumahku"
Tahu arah pembicaraan adiknya, Danu melempar bantal sofa ke arah Daniel.
"Dasar mesum!! Ingat..kalian akan mengadakan resepsi dua Minggu lagi. Jangan membuatnya hamil lebih dulu. Setidaknya sampai kalian pulang bulan madu" Ucap Danu panjang lebar.
"Atau mungkin saat ini sudah ada bakal calon Daniel junior dalam rahim Medina" Bantah Daneil dengan percaya diri dan Senyumnya mengembang sempurna.
"Bagaimana dengan perkembangan pencarian orangtua Medina?" Kali ini Danu terlihat serius dan agak memelankan suaranya. Khawatir jika Medina mendengar dan akan membuatnya sedih.
"Baru dua Minggu proses pencarian ini dilakukan, belum dapat hasil yang bagus" Jawab Daniel.
"Tidak mudah memang...tapi teruskan pencariannya sampai ada titik terang" Nasehat Danu kepada adiknya.
"Ya...agak sulit dan akan memakan waktu yang sangat lama. Karena hanya kalung itu satu-satunya petunjuk yang ada"
Danu tampak manggut-manggut dengan penuturan adiknya.
"Lalu bagaimana dengan Pak Radiman dan keluarganya?" Tanya Danu lagi.
"Anak sulungnya berbuat ulah. Aku tidak mau mengambil resiko. Aku meminta pihak kampus untuk mengeluarkannya dari kampus" Jawab Daniel dengan nada kesal.
"Kamu memberi ancaman kepada keluarga mereka?"
"Itu tugas Raihan...aku melarang Medina untuk terlibat" Jawab Daniel tegas.
"Mereka akan tetap datang?" Kali ini Danu bertanya dengan nada berhati-hati.
"Ck..Ini yang aku sesali dari awal. Jika saja rahasia Medina terbongkar sebelum bertemu mereka, mungkin semuanya akan lebih mudah"
"Jadi mereka akan tetap datang?" Danu kembali menekankan pertanyaan yang sama.
Daniel hanya mengangguk malas.
"Mereka akan datang dua hari sebelum pesta resepsi" Jawab Daniel.
"Aku harap kau sudah memikirkan hal ini dengan bijak. Jangan sampai timbul masalah yang akan menyusahkan kalian nantinya" Saran Danu bijak kepada adiknya.
Sementara itu Medina dan Rani masih sibuk meracik bahan untuk membuat makan malam didapur.
"Medina sangat mengkhawatirkan mama" Ucap Medina disela aktifitas memasaknya.
"Mama sering berpergian dengan keluarganya. Jadi jangan khawatir berlebihan. Lagipula kali ini mama membawa misi juga, kan?"
"Misi?" Tanya Medina heran.
__ADS_1
"Iya...membagikan undangan kalian" Jawab Rani sambil terkekeh.
"Harusnya itu tugas kak Daniel. Kenapa harus mama sendiri yang pergi" Elak Medina.
"Banyak yang akan menjaga mama disana. Semua keponakan mama sangat menyayangi mama. Karena mama orang yang sangat baik dan lembut. Jadi hampir semua keponakan baik dari pihak mama maupun pihak papa sangat menyayangi mama" Satu kenyataan lagi yang Medina ketahui dari keluarga mertuanya. Membuat gadis berhijab itu merasa lega dan tenang.
"Apa yang akan mereka katakan saat melihatku di pesta nanti?" Wajah Medina berubah sendu.
"Jangan hiraukan mereka" Sahut Rani singkat.
"Yang terpenting Daniel dan kami semua menyayangimu dan akan selalu seperti itu" Ucap Rani lembut mencoba menenangkan kegundahan adik iparnya.
"Terimakasih kak" Medina memeluk kakak iparnya dengan erat. Rani membalasnya dengan mengelus punggung Medina.
"Kalian sedang memasak atau reuni saudara ipar?" Suara bariton Danu mengagetkan kedua wanita cantik beda usia itu.
Keduanya tersenyum dan berkata maaf bersamaan.
"Ada apa?" Tanya Daniel yang baru saja bergabung diruang dapur.
"Sepertinya istrimu sedang mengadu kepada kakak iparnya jika suaminya sangat mesum" Sahut Danu dengan wajah datar menahan senyum.
"Apa?" Daniel mengernyit bingung.
"Kak Danu jangan asal bicara" Protes Medina dengan wajah kesal. Membuat Danu dan Rani terkekeh.
Sementara Daniel masih berdiri mematung bingung.
"Ada apa, Honey?" Daniel mendekati istrinya dan merangkul bahunya.
"Aku merindukan mama" Medina memeluk suaminya kemudian tangisnya pecah.
"Aku mengkhawatirkannya" Potong Medina cepat sebelum Daniel menyelesaikan ucapannya.
Daniel mengelus punggung istrinya dan menciuminya dengan cinta. Membuat sepasang suami istri dihadapannya hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Baiklah...makan malam akan siap sebentar lagi. Lebih baik kalian mandi dulu" Ucap Rani sebelum beranjak menata hidangan dimeja makan.
Danu mengekori istrinya masuk kedalam kamar tamu. Sementara Daniel dan Medina masih berdiri saling memeluk didapur.
"Besok kita akan menjemputnya" Bisik Daniel kemudian membawa istrinya dalam gendongan masuk kedalam kamar mereka.
Setelah mandi dan makan malam. Rani dan Danu berpamitan.
"Kenapa tidak menginap saja, kak?" Ucap Medina sebelum mengantar Danu dan Rani ke pintu depan apartemen nya.
"Princess kalian bisa ngambek berhari-hari nanti" Jawab Rani cepat.
"Kakak benar" Medina tertawa kecil.
"Kabari aku jika kalian perlu sesuatu" Ucap Danu sebelum meninggalkan apartemen adiknya.
"Terimakasih dan hati-hati"
Medina menatap punggung kedua kakak iparnya yang beranjak menjauh. Sementara Daniel langsung masuk kedalam apartemen karena mendengar bunyi ponselnya yang berdering tidak berhenti.
__ADS_1
"Halo...Assalamualaikum" Sapa Daniel.
"......."
"Terima saja. Tapi pastikan dia bekerja mulai dari level bawah dan harus sesuai prosedur penerimaan karyawan baru"
"....."
Klik! Daniel menutup ponselnya dengan kesal.
"Menyusahkan saja!! Sangat merepotkan!!" Gerutu Daniel pelan.
Dan membuat Medina yang sudah berada dibelakang suaminya mendengarnya.
"Telepon dari siapa? Dan siapa yang merepotkan?" Tanya Medina dengan hati-hati.
Daniel berbalik dan langsung memluk istrinya.
"Karyawan baru dicabang Kota S. Dia sangat merepotkan" Jawab Daniel ambigu.
"Wajahmu terlihat lelah, Honey" Tangan Daniel mengelus pipi Medina yang mulus.
"Aku sangat mengantuk" Ucap Medina dengan merebahkan kepalanya didada Daniel.
"Uuuhhh...bayi besarku. Kamu harus segera tidur. Karena besak jadwal kita sangat padat" Daniel menggendong Medina seperti menggendong anak kecil. Tangan Medina melingkar dileher suaminya sementara bkedua kakinya melingkar di pinggangnya.
Daniel membawa istrinya masuk kedalam kamar dan membaringkan tubuh mungil Medina dengan hati-hati.
"Selamat malam, Honey. Mimpi indah" Daniel mengecup kening Medina mesra. Kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Seperti malam-malam sebelumnya, Daniel selalu memeluk tubuh istrinya saat tertidur hingga mereka bangun di esok hari.
*****
Pagi hari setelah sarapan, Daniel menyuruh Medina untuk bersiap-siap karena mereka akan menjemput Mama Safira di rumah keluarganya.
"Sayang...aku tidak usah ikut menjemput mama ya?"
"Kamu bilang kamu merindukan dan mengkhawatirkan mama" Daniel menginterupsi.
Sejenak Medina terdiam. Daniel memang benar, bahkan semalam dirinya tidak bisa tidur karena terus memikirkan hal ini.
"Bagaimana jika..hhhmmmppttt" Daniel membungkam bibir istrinya dengan bibirnya. Daniel tidak memberi ruang untuk istrinya. Mereka berciuman dengan mesra dan lama.
"Aku akan menghukummu lebih dari ini jika masih berpikir macam-macam" Ancam Daniel tidak bersungguh-sungguh. Ia hanya ingin Medina tidak selalu berpikir buruk dan takut akan sesuatu yang belum pernah terjadi.
Medina melayangkan satu pukulan tidak bertenaga didada Daniel. Membuat Daniel tertawa lebar karena melihat rona merah diwajah istrinya.
"Mereka akan menanyaiku tentang orangtua dan keluarga. Apa yang harus aku jawab? Aku takut...tidak bisa menjawabnya dan membuat kamu dan mama.....Awwwwww..!!!!" Tanpa aba-aba Daniel mengangkat tubuh mungil istrinya dan melemparnya ke atas ranjang.
"Sudah aku bilang....aku akan menghukummu jika masih terus-terusan berpikir terlalu jauh" Daniel segera melancarkan ancamannya tanpa bisa ditolak oleh Medina.
Saat ini Medina dan Daniel sudah berada di mobil dalam perjalanan untuk menjemput mama Safira.
Medina yang tidak menyembunyikan rasa gelisahnya terlihat tidak bisa tenang duduk di kursinya.
"Hei...tenang Honey. Selama ada aku, tidak akan ada masalah" Daniel menggenggam tangan Medina yang terasa dingin seeprti es.
__ADS_1
"Dia sangat gugup dan takut" Bathin Daniel dalam hati.
Sebenarnya ia tidak tega melihat keadaan istrinya seperti sekarang. Seolah dipaksa dan membuat istrinya tidak nyaman. Tapi bagi Daniel, cepat atau lambat Medina dan keluarga besarnya pasti akan bertemu juga. Dan pertanyaan-pertanyaan tentang jati diri Medina pasti akan dilontarkan keluarga besarnya. Tapi Daniel sudah bertekad akan selalu mendampingi Medina.