Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 43


__ADS_3

Setelah perdebatan panjang, akhirnya Medina mengalah. Mereka menuruti keinginan suaminya untuk pergi menemui Dokter kandungan untuk berkonsultasi.


Mereka mendatangi sebuah Rumah Sakit yang tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap. Raihan sudah mendaftarkan nama Medina sebelumnya. Jadi mereka tinggal menunggu nama Medina dipanggil.


Medina masuk kedalam ruang pemeriksaan saat namanya dipanggil suster yang bertugas.


"Silahkan...Saya dokter Nida. Dengan mbak Medina ya?" Sapa ramah sang dokter.


"Iya dok..." Jawab Medina lembut.


"Malam Dok...Saya Daniel suaminya" Sapa Daniel.


Dokter Nida tersenyum memperhatikan keduanya.


"sepertinya mereka pengantin baru" Ucap Dokter Nida dalam hati.


Medina menoleh sekilas wajah Daniel yang duduk disebelahnya.


"Jadi..ada yang bisa saya bantu?" Tanya sang dokter setelah mereka duduk.


"Emmhhh..jadi begini dok_____"Medina menceritakan semuanya meski dengan perasaan malu. Tapi ia harus melakukannya, karena kedatangan dirinya dan suaminya bukan untuk berbulan madu atau sekedar berlibur, tapi dengan tujuan yang mengharuskan kondisi tubuhnya benar-benar harus prima.


Sang dokter tersenyum ramah.


"Baiklah...Silahkan berbaring disana. Saya akan melakukan pemeriksaan dahulu" perintah dokter yang memakai hijab itu.


Setelah Medina berbaring dibrangkar dengan cekatan sang dokter memeriksa Medina dengan alat USG. Berlama-lama menekan alat USG diatas perut Medina sambil memperhatikan layar monitor yang berada didepannya. Daniel ikut memperhatikan dari sisi brangkar sembari memegang tangan istrinya.


"Bagaimana dok?" Tanya Daniel khawatir saat dokter selesai memeriksa istrinya.


Daniel membantu Medina bangun dan merapikan pakaian nya.


"Sebenarnya tidak ada masalah, hanya saja mbak nya baru benar-benar selesai menstruasi dan langsung melakukan hubungan suami istri. Apalagi ini adalah hubungan intim pertama kali. Jadi.. kondisi rahimnya masih melunak, apalagi dengan penetrasi yang cukup dalam" Jelas dokter Nida.


"Jadi kami harus bagaimana dok?" Tanya Daniel serius.


"Mbak sama mas nya masih bisa melakukan hubungan intim. Hanya saja harus dilakukan dengan posisi mbaknya tidak terlalu mengangkang. Atau dengan mengganti posisi bercinta yang lebih nyaman untuk kedua pasangan. Terlebih untuk mbaknya ya" Medina menekuk wajahnya malu atas penjelasan dokter.


Berbeda dengan wajah Daniel yang terlihat serius dengan semua penjelasan sang dokter kandungan.


"Saran saya...jika kalian pasangan yang ingin segera memiliki momongan, jangan lupa memperhatikan dan menghitung masa subur mbaknya. Yaitu satu Minggu setelah haid dan satu Minggu sebelum haid. Itulah masa subur seorang wanita dewasa"


"Intinya...meski hal ini sering dianggap tabu..tapi dalam hal hubungan seksual antara pasangan suami istri sebaiknya harus mengutamakan keterbukaan dan saling pengertian" Medina mengangguk paham.


"Terimakasih banyak dok...atas penjelasannya" ucap Daniel sebelum mereka pergi meninggalkan ruangan.


****


"Sayang...aku lapar" Ucap Medina saat mereka berjalan menuju mobil.


"Tuan putri lapar? Baiklah...kita mau makan apa?" Daniel mencubit pipi istrinya.


"Sayang...Kita kuliner malam, gimana?" Medina memberi ide.

__ADS_1


"Honey...besok perjalanan kita masih panjang. Nanti kamu kelelahan..kita makan di resto hotel aja ya?" Bujuk Daniel.


"Aku janji..setelah urusan kita selesai. Kita akan kembali kesini" lanjut Daniel.


Medina berpikir sejenak dan akhirnya menyetujui ide suaminya.


****


Setelah Syifa terlelap, Danu meninggalkan kamar putrinya. Saat masuk ke dalam kamarnya, Danu melihat Rani masih merapikan pakaiannya ke dalam koper.


Rani menoleh dan memberikan senyum manisnya.


"Sayang..Syifa sudah tidur?" Danu mengangguk dan membuka kemejanya.


"Sayang...kamu berapa lama disana?" Tanya Rani kembali.


"Kenapa Bun? Ga rela ya aku pergi lama-lama?" Jawaban Daniel yang narsis membuat Rani terkekeh.


"Aku udah biasa" Sahut Rani cuek.


Danu mendekati Rani dan memeluknya dari belakang. Membuat Rani menghentikan aktifitasnya.


"Ohhh..jadi kamu tidak pernah merasa rindu kalo aku pergi ninggalin kalian ya?" Danu menyerukkan wajahnya dileher Rani.


Rani terkekeh lagi.


"Kamu tuh aneh...mana ada istri yang ga rindu saat ditinggal suami tugas keluar" Tangan Rani mengelus pipi Danu. Danu meraih tangan istrinya dan mengecupnya.


Danu belum menjawab...ia sibuk dengan aktifitas nya mengecupi leher dan tengkuk Rani.


"Awwwww!!" Teriak Rani karena Danu menggigit telinganya. Ia sudah tahu jika suaminya sedang menginginkan lebih.


"Sayang...maafkan aku" Ucap Rani lirih.


Danu segera menghentikan aksinya. Ia membalikkan tubuh Rani.


"Maaf?" Tanya Danu heran.


"Tamu bulananku baru datang tadi siang..."Jawab Rani dengan memasang senyum.


Danu mendengus kesal. Ia akan pergi, dan malam ini tidak bisa melakukan penyatuan dengan istrinya.


"Jangan pasang wajah begitu dong...setelah selesai seperti biasa aku akan menggantinya double"


"Triple" Protes Danu.


"Hah? Mana ada semalam 3 kali? yang ada nanti aku ga bisa antar Syifa sekolah" Sahut Rani tidak terima.


"Tapi nanti aku akan minta jatah 3 kali semalam, supaya Syifa secepatnya punya adik" Rani tersenyum mendengar ucapan suaminya.


Ia berjinjit untuk mengecup bibir Danu.


"Aku tidak memerima kecupan, nyonya" Danu memegang tengkuk istrinya. Ia memagut bibir merah sensual istrinya. Saling ******* dan bertukar Saliva.

__ADS_1


"Bantu aku pelepasan" Bisik Danu.


Rani yang sudah paham permintaan suaminya kemudian melakukan yang seharusnya dilakukan hingga suaminya melepaskan tembakan.


****


Sementara dikamar hotel Medina sedang membersihkan diri dikamar mandi. Sedangkan Daniel kembali ke restoran untuk berbicara dengan Raihan direstoran setelah mengantar Medina masuk ke kamar.


Setelah selesai dengan urusannya, Daniel segera masuk ke dalam kamar. Ia tidak ingin berlama-lama meninggalkan istrinya sendirian didalam kamar. Saat Daniel membuka pintu, manik Daniel menangkap sosok Medina yang sudah terlelap dengan sangat nyenyak diatas ranjangnya.


"Honey...kau sudah tidur?"


Daniel mendekati istrinya dan mendaratkan kecupan diseluruh wajah istrinya. Juga bibir ranum milik istrinya.


Medina menggeliat kecil namun kembali terlelap.


"Maafkan aku Honey..sudah membuatmu kelelahan hari ini. Seharusnya kita sudah berada dikampung halamanmu sekarang. Tapi aku malah mengacaukan semuanya" Gumam Daniel pelan.


Daniel kembali menyambar bibir istrinya yang bagai candu. Ingin terus dan terus mengecup, mencium hingga ********** dengan lembut.


Daniel terkekeh geli saat Medina kembali menggeliat. Hingga selimut yang menutupi tubuhnya melorot kebawah.


"Kamu sangat menggemaskan Honey.." Daniel beranjak menuju kamar mandi.


Setelah berganti pakaian tidur, Daniel merangkak naik ke atas ranjang. Berbaring miring menghadap istrinya. Daniel membentangkan tangannya dan sedikit menari tubuh Medina agar berada didekapannya. Mengecup keningnya mesra sebelum ia menyusul istrinya jatuh kealam mimpi.


Medina terbangun pukul 3 dinihari. Ia mendapati dirinya berada dalam pelukan hangat suaminya. Dengan sangat hati-hati, Medina mengangkat lengan Daniel yang melingkar ditubuhnya. Dan dengan gerakan pelan Medina turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi.


Setelah membersihkan diri dan mengambil wudhu, Medina melaksanakan sholat Qiyamullail. Semua beban dan keinginan dihatinya ia curahkan dalam doa disepertiga malam.


Medina meyakini, apa yang terjadi pada dirinya adalah suratan takdir yang tidak ditolak atau diprotes. Tuhan tahu yang terbaik untuk hambanya. Setiap manusia yang hidup dimuka bumi ini, pasti akan diberi berbagai ujian. Begitulah cara Allah untuk terus mencintai dan menyayangi hambanya. Allah tidak ingin kita ummat manusia menjauh dari Rahmatnya.


Medina menyadari ujian berat yang ia lewati tidaklah lebih banyak dari nikmat dan karunia yang Allah berikan kepadanya. Allah SWT tahu yang terbaik bagi hambaNya. Jalani.. Nikmati...dan Syukuri.


Medina menahan suara tangisnya agar tidak terdengar Daniel. Meski menahannya, Daniel samar-samar mendengar suara isak yang tengah bersimpuh dihamparan sajadah nya.


Daniel bangkit dan turun dari ranjang. Menghampiri Medina dan memeluknya dalam dekapan.


"Honey..."


Meski sedikit terkejut, Medina membalas pelukan Daniel. Ia membenamkan wajahnya pada dada suaminya dan semakin terisak.


Daniel membiarkan istrinya menangis, tanpa berkata sepatah katapun. Daniel Mengecupi puncak kepala Medina dan mengeratkan pelukannya.


Setelah sekian waktu Daniel membiarkan, Daniel menangkup wajah Medina.


"Ini tangisan terakhirmu, Honey. Besok dan selamanya aku tidak mau melihat dan mendengar mu menangis seperti ini. Emmm...tidak!! Meski hanya menetes sedikit saja, aku tidak mengijinkannya. Kamu harus ingat itu" Air mata Medina kembali mengalir mendengar ucapan Daniel.


"Honey...." Daniel menyeka air mata istrinya. Kemudian mengecup lembut kedua maniknya bergantian, hidung lalu terakhir mencium bibir Medina.


Medina tidak menolak hingga Daniel berani sedikit ******* bibirnya.


"Kamu mau kita gagal berangkat lagi?" Goda Daniel. Mereka tertawa bersama. Kemudian melaksanakan sholat subuh berjamaah dan bersiap untuk berangkat ke kampung halaman Medina yang lumayan cukup jauh dari hotel mereka menginap.

__ADS_1


__ADS_2