
Daniel dan Medina sedang menikmati waktu sore ditaman belakang rumah. Sambil menikmati pemandangan taman yang membuat rileks siapapun yang memandangnya. Keduanya duduk sambil memeluk tubuh satu sama lain.
"Jangan pernah meninggalkan rapat hanya untuk menemaniku. Mereka pasti akan merasa kecewa dan tidak dihargai." Ucap Medina sambil tangannya memainkan kancing baju suaminya.
"Aku mengkhawatirkan mu." Daniel mengeratkan pelukannya.
"Aku baik-baik saja, sayang. Dia selalu membuatku semangat." Medina mengambil tangan Daniel dan menuntun nya ke perutnya.
"Terimakasih sudah menggantikan Daddy menjaga mama." Daniel menatap dan mengusap perut Medina.
"Jangan menjadi lemah hanya karena aku." Satu ucapan Medina yang membuat Daniel menghentikan gerakan tangannya.
"Iya...aku janji tidak akan mengulangi." Sahut Daniel pelan. Ia tidak ingin berdebat dengan istrinya. Ia ingin menikmati moment saat bersama dengan Medina.
"Permisi, Tuan. Ada tamu." Suara Joko membuat Daniel dan Medina menoleh ke arah suara.
"Tamu?" Medina langsung berdiri.
"Itu pasti Arif. Aku memintanya datang untuk mengantarkan berkas-berkas." Ucap Daniel.
"Suruh dia langsung kemari." Titah Daniel pada Joko.
Joko langsung pergi untuk menyampaikan perintah majikannya.
"Aku akan siapkan minuman untuk Kak Arif." Medina hendak melangkah namun tubuhnya ditahan oleh lengan kekar suaminya.
"Untuk apa ada banyak asisten jika kamu yang harus melakukannya?" Pertanyaan Daniel membuat Medina terdiam.
"Selamat sore pak bos dan ibu bos." sapa Arif dengan sedikit berteriak.
"Tidak usah berlebihan." Sergah Daniel membuat Arif terkekeh.
"Sayang..." Medina mengusap lengan suaminya.
"Apa kabar kak Arif?" Sapa Medina ramah.
"Alhamdulilah kabarku baik." Arif membalas senyum Medina dan duduk dihadapan Daniel.
"Berikan berkasnya, kamu boleh pulang." Daniel mengulurkan tangannya ke arah Arif.
"Tapi aku belum ditawari minum atau makan cemilan." protes Arif kesal. Baru saja datang dan duduk sudah disuruh pulang.
"Kak Arif mau minum apa?" Medina tersenyum.
"Apa saja asal dingin dan segar."
"Aku akan minta bi Wati untuk membuatkan cemilan juga." Medina meninggalkan Daniel dan Arif.
"Medina seperti nya baik-baik saja." Ucap Arif setelah Medina masuk kedalam dapur.
Mendengar perhatian sahabatnya kepada istrinya, manik Daniel menatap tajam.
"Bagaimana rapat tadi?" Daniel tampak serius.
"Alhamdulilah...tahun ini sepertinya profit kita naik lagi." Arif tersenyum lebar. Menaikkan satu kakinya pada kaki yang lain. seolah membanggakan hasil kerjanya. Bagaimana tidak bangga...setelah menikah Daniel sering meninggalkan kantor dan semua urusan Arif yang mengahndle dengan batuan semua divisi.
"Apa perusahaan akan membagikan bonus lagi?" Arif menegakkan tubuhnya dan menatap Daniel.
__ADS_1
"Kali ini aku tidak akan membaginya dalam bentuk uang." Daniel menarik sudut bibirnya.
"hah?"
"Bagaimana jika alokasikan untuk pembangunan perumahan cluster untuk karyawan yang belum memiliki rumah?" Daniel mengutarakan idenya yang sudah lama ia rencanakan jika profit perusahaan naik.
"Tapi kita belum menghitung keseluruhan profit yang didapat perusahaan." Arif menurunkan kakinya.
"Baiklah. Aku tunggu laporan divisi keuangan paling lambat Minggu ini. Mudah-mudahan melebihi target." Daniel melihat Medina kembali dan ia tersenyum.
Selang berapa lama, Arif berpamitan. Medina dan Daniel kembali ke kamar untuk membersihkan diri karena hari hampir masuk waktu Maghrib.
Setelah berada di kamar, Daniel lebih dulu membersihkan diri. Sementara Medina menyiapkan pakaian untuk suaminya.
Saat sedang mengambil pakaian, ponsel Daniel berdering. Awalnya Medina mengabaikannya, namun karena ponsel berdering terus menerus, membuat dirinya penasaran. Medina mengambil ponsel suaminya dan ia melihat satu nama tertera dilayar ponsel.
"Kak Fian."
Karena gugup Medina kembali mengabaikan panggilan itu. Ponsel yang sudah kembali berada diaats mea, kembali berdering membuat Medina penasaran. Dengan tangan bergetar, Medina mengusap tombol hijau dan membawa benda pipih itu ke telinganya.
"Halo...Daniel. Syukurlah akhirnya kamu mengangkat telepon ku. Ayah Sanjaya kecelakaan, dan kondisinya serius. bisakah kamu membawa Medina kemari? Tolong bujuk dia agar mau menemui Ayah dan Ibu. Halo? Daniel...." Panggil Fian dari seberang telepon karena Fian merasa Daniel tidak memberi respon.
Tubuh Medina terjatuh lemas. Ia sangat terkejut mendengar berita yang baru saja didengarnya. Medina menangis masih dengan menggenggam ponsel milik Daniel.
"Honey....?" Daniel yang baru keluar dari kamar mandi terkejut melihat istrinya terduduk dilantai sambil menangis.
"Honey...ada apa?" Daniel berjongkok dan meraih wajah istrinya.
Melihat suaminya, Medina langsung memeluk suaminya. Tangisnya semakin menjadi-jadi.
Daniel meraih benda pipih itu, melihat layar ponsel yang masih terhubung.
"Halo....? Fian...ada apa?"
"Oh ****!!!" Fian menyadari keteledoran nya.
Daniel menaruh ponselnya setelah bicara sebentar dengan Fian. Ia masih memeluk Medina yang menangis.
"Tenanglah...Jangan menangis....Ayah akan baik-baik saja." Daniel menenangkan istrinya.
"Kamu...."
"A_aku ingin menemui mereka, kak." Ucap Medina disela tangisnya.
"A_aku....hiks...hiks...." Medina menyesali sikapnya.
"Sssttt...kamu harus tenang." Daniel mengusap punggung istrinya.
"Kita akan pergi besok pagi." Daniel mengangkat tubuh Medina ke atas ranjang.
"Tapi aku ingin sekarang. Aku mohon." Medina menatap suaminya. Berharap Daniel mau menemaninya pergi ke kota B menemui Ayahnya.
"Aku akan menelpon dokter kandungan kamu." Daniel mengambil ponsel nya dan menghubungi dokter kandungan yang memeriksa Medina untuk menanyakan apakah istrinya bisa melakukan penerbangan atau tidak.
****
Daniel terus menggenggam jemari Medina yang duduk dikursinya dengan pandangan yang tertuju keluar jendela pesawat. Setelah mendapat ijin dokter kandungan, keduanya kini berada diatas pesawat pribadi yang telah disediakan oleh orang-orang pak Sanjaya menuju pulau B.
__ADS_1
Perjalanan yang memakan waktu hanya dua jam seolah berjam-jam bagi Medina. Air matanya terus mengalir hingga membuat kedua mata indahnya bengkak dan memerah.
"Kita akan langsung ke rumah sakit, kan?" Medina menyeka air matanya.
"Iya." Jawab Daniel pelan.
"Aku menyesal...."Suara Medina tercekat. Ia benar-benar menyesali sikapnya yang berlebihan.
"Mereka pasti berharap aku datang setelah aku mengetahui kebenarannya. Tapi..." Medina menjeda ucapannya karena kembali menangis.
"Bagaimana jika sesuatu terjadi dengan Ayah?" Medina sudah pernah merasakan kasih sayang dan perhatian yang luar biasa dari Pak Sanjaya dan Ibu Melani.
"Jangan berpikiran negatif." Daniel mengusap punggung tangan Medina. Yang bisa dilakukan Daniel menenangkan istrinya. Karena ia juga tidak tahu seberapa parah kondisi Pak Sanjaya saat ini.
"Kamu sudah berjanji untuk kuat. Jika kamu terus menangis, aku akan membawa mu kembali ke rumah." Tegas Daniel membuat Medina berhenti menangis.
"Ingatlah ada baby kita yang harus kamu jaga. Dia akan sedih jika mamanya sedih." Daniel berharap ucapannya tidak menyinggung perasaan istrinya yang sedang sedih. Tapi harus ia lakukan untuk kebaikan Medina juga calon anak mereka.
"Permisi Tuan...pesawat akan landing 10 menit lagi." Seorang pramugari menghampiri Daniel dan Medina.
Mendengar kabar pesawat akan landing, Medina dengan tidak sabar memasang kembali sabuk pengaman yang sempat ia buka.
"Biarkan aku saja." Daniel berdiri dan memasangkan sabuk pengaman istrinya.
"Jangan bersedih lagi." Daniel mencium kepala Medina yang tertutup hijab sebelum ia kembali ke kursinya.
Pesawat landing dengan sempurna. Keduanya keluar dari pesawat dan disambut oleh Fian yang sudah menunggu mereka sejak satu jam lalu.
Fian dan Medina saling bersitatap, tiba-tiba suasana menjadi canggung. Meski pernah bertemu beberapa kali, namun pertemuan kali ini terasa berbeda.
"Ayah akan segera membaik." Ucap Fian dan Medina mengangguk.
Ketiganya melanjutkan langkah dan menaiki mobil yang sudah disiapkan.
"Apa kita akan langsung ke Rumah sakit?" Tanya Medina sebelum masuk kedalam mobil.
"Ini hampir tengah malam....kamu bisa istirahat di hotel samping Rumah sakit tempat ayah dirawat." Jawab Fian.
"Tapi...."
"Ternyata kamu sama keras kepalanya dengan Ayah." Fian mengusap kepala Medina.
"Pikirkan kesehatanmu dan juga calon bayi yang ada dalam kandungan mu." Setelah mengatakan itu, Gian masuk kedalam mobil. Ia duduk disamping supir.
"Ayo..." Ajak Daniel membuat Medina akhirnya masuk kedalam mobil.
_
_
_
_
_
Mohon maaf sebelumnya, karena sudah lama tidak update bab baru. Selain sekarang sibuk memantau anak-anak sekolah daring, juga sibuk lainnya. Mohon pengertiannya ya. Terimakasih ❤️😘
__ADS_1