
Saat ini mobil yang dikendarai Daniel telah sampai dihalaman rumah tantenya. Rumah tempat mamanya menginap 3 hari lalu. Rumah yang menurut pamdangan mata Medina sangat luas dan mewah.
Medina meremas kedua jemarinya untuk menghilangkan rasa gugup yang sedang menggelayuti dirinya.
Daniel menatap istrinya dan tersenyum tampan. Kemudian digenggamnya tangan Medina dan mengecupnya dengan penuh perasaan.
"Ayo turun" Ajak Daniel dengan senyuman diwajahnya. Keduanya kemudian turun dari mobil.
"Apa didalam sedang ada acara? sepertinya banyak tamu yang datang" Medina terus memperhatikan halaman luas dengan beberapa mobil terparkir disana.
"Mereka berkumpul sengaja untuk bertemu dengan dirimu"
"Apa?" Medina terkejut dan semakin gugup.
Daniel terkekeh dengan respon Medina.
"Tentu saja...mereka ingin mengenalmu lebih lanjut"
"Jadi...Kakak sengaja membawaku kesini?" Tanya Medina kesal karena sudah dikerjai suaminya.
"Mereka memaksa ingin dirimu sebelum pesta resepsi. Jika tidak...mereka akan menyandera mama sampai hari resepsi"
"Apa??" Medina menggelengkan kepalanya tidak percaya. Dan itu semakin membuat dirinya semakin gugup karena berpikir sudah pasti keluarga besar mertuanya akan memborbardirnya dengan sejuta pertanyaan.
"A_aku tidak mau masuk" Medina berbalik bada dan hendak berjalan menjauh, namun Daniel dengan segera menahan tubuh istrinya dan memeluknya.
"Tenanglah, Honey. Ada aku yang akan selalu mendampingi mu. Lagipula keluarga besarku sangat baik dan akan menerima dirimu" Bisik Daniel lembut. Kemudian ia menghujani ciuman pada puncak kepala istrinya.
Medina terdiam dan menarik nafas panjang dan dalam.
"Hai Bro...apa kamu akan terus memeluk istrimu disana atau mengenalkannya kepada kami?" Seseorang berteriak dari depan pintu masuk sambil melipat kedua tangannya ke depan.
Daniel dan Medina menoleh ka arah suara secara bersamaan. Daniel tersenyum saat melihat saudara sepupunya yang tengah berdiri tegap dengan senyum mengejek.
"Ayo, masuk" Daniel menautkan jemarinya dan membawa Medina menemui keluarga besarnya.
"Assalamualaikum" Ucap Medina saat mereka sudah dekat dengan sepupu Daniel.
"Wa'alaikum salam" Jawab Sepupu Daniel yang bernama Gio.
"Hai...aku Gio. Sepupu Daniel dari pihak papanya" Gio mengukurkan tangannya namun Medina hanya mengangguk dan menangkupkan kedua tangannya kedepan.
"Maaf...Saya Medina" Medina tersenyum manis sehingga menampakkan wajah cantiknya.
Daniel tersenyum melihat kegugupan istrinya. Ia menyambut tangan Gio yang tadi hendak menyalami Medina.
"Lama tidak bertemu. Sekalinya ketemu langsung bawa istri" Ledek Gio membuat Daniel melayangkan tinju pada Gio.
"Istrimu sangat manis" Bisik Daniel
"Tutup mulutmu!!" Bentak Daniel dengan tatapan tajam..
"Apa dia istrimu?" Suara seorang perempuan yang baru keluar dari pintu mengagetkan ketiganya.
"Wooowww....ini kejutan. Kau juga ada disini?" Daniel melepas tautan tangannya dan segera menghambur memeluk perempuan muda dan cantik itu.
__ADS_1
Medina memalingkan wajahnya saat Daniel memeluk dengan erat perempuan itu.
"Ehemmm" Gio berdehem karena Daniel terlihat terbawa suasana.
"Sebaiknya kita masuk....semuanya sudah tidak sabar menunggu" Ucap Gio merangkul bahu Daniel.
"Ayo Honey" Daniel kembali menggamit tangan Medina dan berjalan masuk ke dalam rumah mewah.
"Ini dia yang ditunggu-tunggu....!!!!" Teriak seseorang wanita baya yang masih terlihat bugar dan cantik. Dia pemilik rumah yang juga adik kandung dari Papa Daniel.
"Halo Tante...apa kabar?" Daniel menyalami Perempuan baya itu lalu diikuti Medina.
Medina mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Namun dirinya tidak menemukan sosok mama mertuanya.
Dalam hatinya ia mulai cemas. Dan mulai berpikir yang bukan-bukan.
"Kabar Tante tidak baik. Kau hampir tidak pernah lagi datang berkunjung atau sekedar menelepon tantemu ini. Kalo tidak karena kami menyandera mamamu...mungkin kamu tidak akan pernah datang kesini" Omel perempuan baya itu.
"Kamu pantas mendapat omelan mami" Sindir Perempuan muda yang menyambutnya didepan pintu tadi.
Daniel terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak membantah omelan Perempuan baya yang bernama Latifah itu.
"Minggir kau!!!" Tante Latifah mendorong tubuh Daniel kesamping.
"Halo nak...Aku Tante Latifah. Adik dari papanya Daniel" Medina tersenyum ramah kepada Tante Latifah.
Kemudian menarik tangan Medina dan membawanya duduk disofa ruang keluarga.
Medina yang gugup setengah mati menoleh suaminya yang berada dibelakangnya.
Tante Latifah mengenalkan semua anggota keluarga yang berkumpul disana kepada Medina. Ia hanya menurut dan sesekali tersenyum ramah kepada semua orang disana.
"Maaf, Tapi dimana mama? Apa mama baik-baik saja?" Medina memberanikan dirinya untuk bertanya keberadaan mama mertuanya.
Tante Latifah dan semua yang sedang duduk diruang keluarga langsung menoleh dan menatap Medina.
Medina yang ditatap banyak orang membuat dirinya langsung menundukkan kepalanya.
Tanpa diduga Medina, semua keluarganya tertawa bersama. Kini Tante Latifah yakin...apa yang diceritakan kakak iparnya mengenai Medina memang benar adanya.
Medina merasa terkejut, karena semua orang menertawakan dirinya. Begitupun dengan Daniel. Ia melihat semua keluarganya sedang menertawakan istrinya. Membuatnya berpamitan dari sepupunya dan berjalan menghampiri Medina.
"Ada apa, Tante?" Tanya Daniel yang masih bingung.
"Hei...apanya yang ada apa? Kau pikir kami melakukan apa kepada istrimu?" Omel Tante Latifah sambil menahan senyumnya.
"Gadis ini benar-benar pilihan terbaik untuk Daniel. Terlihat dia sangat menyayangi Kak Safira. Dan Daniel pun sepertinya sangat mencintai gadis ini. Ya Tuhan...aku sangat bersyukur. Setidaknya kehidupan mereka kini sudah kembali bahagia" Bathin Tante Latifah.
"Honey..?" Daniel menatap wajah istrinya yang terus menunduk.
"A_aku...mama" Airmata Medina telah menggenang. Ia benar-benar sangat khawatir dengan mama Safiranya.
"Hahahaha...." Kini Daniel yang tiba-tiba tertawa. Membuat Medina tidak bisa menahan suara tangisnya.
"Ohh...Honey. Maaf...maaf...aku tidak bermaksud menertawakan mu" Daniel berjongkok dihadapan istrinya dan mengecupi kedua tangan Medina.
__ADS_1
Semua mata yang melihat pemandangan itu tersenyum penuh haru. Kecuali satu orang yang kini sedang menatap mereka dengan tatapan tajam dan tidak suka.
"Cih!! Drama apa yang sedang perempuan itu mainkan. Dan semua orang merasa terhibur" Gerutu gadis itu dengan sinis.
"Mama kamu baik-baik saja...Sengaja kami menyanderanya di kamar. Kamu tahu kenapa? Semenjak dia datang, hanya menantu bungsunya saja yang dia bicarakan. Dan itu membuat kami semua penasaran. Apa istimewanya dirimu? Hingga kakak ipar ku terus merengek ingin diantarkan ke apartemen Daniel karena merindukan menantunya. ya Tuhan....ternyata benar" Ucap Tante Safira panjang lebar.
"Kalian membuatku terharu sekaligus bahagia. Terimakasih, Sayang" Tante Latifah memeluk Medina dari samping. Membuat Medina semakin terisak.
Daniel tersenyum bahagia melihat keluarga besarnya bisa menerima Medina dengan tangan terbuka tanpa menanyakan kehidupan pribadi istrinya. Medina memang tidak perlu berbuat apapun agar keluarga besar papanya menerimanya..karena dia sudah mengambil hati mamanya sejak lama. Dan hari ini mereka melihat sikap tulus Medina untuk sang mama.
"Maaf Nyonya...makan siang sudah siap" Seorang pelayan datang dan berbisik pelan kepada Tante Latifah.
Tante Latifah mengangguk dan meminta keluarga besarnya untuk pergi ke meja makan.
"Ayo temui..mamamu" Ajak Tante Latifah sambil menggandeng tangan Medina.
"Hei..kau mau kemana?" Pekik Tante Latifah saat mengetahui Daniel mengekori nya dibelakang.
"Tentu saja ikut kalian menemui ibu Ratuku" Jawab Daniel.
"Pergilah ke meja makan...Dan sambut kami nanti disana" Ucap Tante Latifah narsis membuat Dani membulatkan matanya tidak percaya.
"Kalian tidak hanya menyandera mama, tapi juga istriku" Gerutu Daniel kesal. Ia berjalan berbalik arah menuju meja makan yang sudah ramai keluarganya.
****
"Apa menantuku belum datang menjemput?" Tanya Mama Safira kepada salah satu keponakan nya yang menemaninya dikamar.
"Erika tidak tahu, Tan" Gadis berkacamata itu mengedikkan bahunya.
"Mereka tidak jadi datang" Tante Latifah masuk kedalam kamar.
"Apa?? Mereka tidak jadi kesini? Tapi kenapa? Apa Medina sakit?" Tanya Mama Safira bertubi-tubi membuat adik ipar dan keponakannya menahan senyum.
"Kenapa yang kamu pikirkan hanya menantumu saja? Bagaimana jika putramu yang sakit?" Tante Latifah duduk disamping Mama Safira.
"Putraku tidak akan sakit. Karena istrinya pasti menjaganya dengan baik" Mama Safira meletakkan buku yang dibacanya.
Erika segera berdiri dari duduknya setelah mendapat kode dari maminya. Ia sudah tahu rencana sang mami dan hanya mengikutinya saja.
Medina yang berdiri didepan pintu hanya bergumam tidak karuan. Meski ia senang keluarga besar suaminya menerimanya namun ia masih tidak mengerti kenapa mereka mengerjai dirinya juga mama mertuanya.
"Hai kakak ipar...masuklah" Erika membuka pintu kamar dan mempersilahkan Medina untuk masuk.
"Mama..." Panggil Medina saat dirinya sudah berada didalam kamar.
Mama Safira tersenyum lebar saat melihat Medina datang.
"Kau ini!! Senang sekali mengerjaiku" Mama Safira memukul lengan adik iparnya yang tertawa.
Medina dan mama Safira berpelukan.
"Mama... baik-baik saja?"
"Mama sehat. Bagaimana kabarmu?"
__ADS_1
"Medina merindukan mama" Manik Medina berkaca-kaca.
"Ahhhh....kalian membuatku iri" Ucap Tante Latifah. Ia ikut bergabung memeluk keduanya. Tanpa mereka sadari, seseorang diluar pintu sedang menatap mereka dengan tatapan tidak suka sambil mengepalkan kedua tangannya.