Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 91


__ADS_3

Daniel dan Medina kini sudah berkumpul dengan seluruh anggota keluarga besar setelah menyelesaikan mandi bersama yang menguras tenaga.


Rencananya siang ini semua anggota keluarga besar akan kembali ke rumah masing-masing. Maka dari itu Daniel dan Medina menyempatkan waktu untuk menemui mereka.


"Maaf kami terlambat" Ucap Daniel dengan ekspresi wajah yang berbinar.


Daniel menarik kursi untuk Medina setelah mereka menyalami mama dan anggota keluarga yang lebih tua.


"Kalian pasti kehabisan banyak tenaga. Makanlah yang banyak" Goda Tante Latifah yang langsung mendapat tatapan tajam dari mama Safira.


"Lihatlah wajah pengantin wanita. Sepertinya kurang tidur" Celetuk lagi kerabat mama Safira yang lain.


"Ck...kalian ini seperti tidak pernah muda saja" Bela Mama Safira mencoba menghentikan godaan keluarganya. Meskipun kenyataannya ia melihat wajah menantunya sedikit pucat.


"Jangan dengarkan mereka. Habiskan sarapan mu" Mama Safira membelai kepala Medina.


Daniel yang melihat istrinya masih terdiam belum menyentuh sarapannya, tampak sedikit khawatir.


"Kenapa?" Bisik Daniel.


Medina menoleh suaminya dan menggeleng pelan. Kemudian ia meneruskan menyantap sarapannya hingga habis.


Saat siang hari semua keluarga sudah membubarkan diri. Daniel dan Medina menyalami mereka semua dan tidak lupa mengucapkan rasa terima kasih karena sudah datang menghadiri pesta resepsi pernikahan mereka.


"Sayang....aku ingin bertemu pakde Radiman" Ucap Medina dengan hati-hati.


Mereka sedang berada didalam kamar dan baru saja melaksanakan sholat Dzuhur.


"Kamu yakin ingin menemui mereka?"


"Bagaimana pun mereka pernah menjadi keluargaku" Jawab Medina pelan.


Mengingat keluarga Daniel teringat reaksi keluarga pak Sanjaya ketika melihat Medina untuk pertama kalinya.


"Honey...menurutmu bagaimana keluarga pak Sanjaya?" Tanya Daniel.


"Aku menyukai mereka. Mereka sangat ramah...apalagi pelukan ibu Melani yang___" Medina berhenti bicara saat mengingat pelukan hangat ibu Melani.


"Kamu merasakan apa?" Tanya Daniel lagi.


"Aku tidak tahu, tapi pelukan itu sungguh rasanya tidak asing dan aku ingin berlama-lama memeluk Bu Melani. Seperti sedang memeluk mama" Ucap Medina jujur.


Daniel tersenyum dan membelai pipi istrinya. Dalam hati Daniel berjanji akan mencari tahu tentang kehidupan ibu Melani. Daniel merasa ada dorongan kuat yang mengarahkan dirinya jika Ibu Melani adalah ibu kandung Medina. Meskipun Pak Sanjaya pernah mengatakan jika Alfian adalah putra tunggal mereka.


Namun tentu saja ia tidak boleh gegabah. Ia akan terus menyelidiki ini sampai menemukan titik terang.


"Aku akan mengantarmu menemui mereka. Tapi sebelum itu...." Daniel menarik pinggang Medina dan langsung melahap bibir maniis Medina yang selalu menjadi candu baginya.


****


Medina dan Daniel berjalan menuju restoran tempat pertemuannya dengan keluarga Pakde Radiman.


"Sayang...bisakah nanti kamu meninggalkanku bicara dengan pakde Radiman?" Tanya Medina sebelum mereka masuk ke restoran.


"Hm?" Daniel mengehentikan langkahnya dan menatap istrinya penuh tanda tanya. Hingga Medina yang tangannya digandeng Daniel, ikut berhenti.


Daniel terdiam dan tampak berpikir.

__ADS_1


"Baiklah...hanya 5 menit" Jawab Daniel singkat.


"Sayang....5 menit hanya untuk menyapa mereka" Rengek Medina.


"10 menit" sahut Daniel sambil membuang wajahnya. Ia tidak bisa menolak wajah gemas istrinya ketika sedang merengek.


"Sayang...."


"15 menit"


"Setelah ini, kamu bisa mengurungku didalam kamar sepuasmu" Bisik Medina menggoda.


Sebenarnya ia tidak ingin mengatakan itu. Karena tanpa mengatakan nya pun suaminya pasti akan mengurungnya didalam kamar. Apalagi semua keluarganya sudah kembali kerumah.


Tapi ada hal yang harus ia tanyakan secara pribadi kepada Pakde Radiman. Dan ia ingin bicara berdua saja dengan orang yang pernah menjadi pamannya itu.


"Baiklah....tapi aku akan tetap mengawasi kalian" Daniel menyetujui dengan wajah bahagia.


Bagaimana tidak bahagia? Ia bisa mengurung istrinya seharian didalam kamar. Dan itu artinya....Daniel menang banyak. Hahahah.


Daniel dan Medina memasuki restoran dan berjalan menuju meja yang sudah dipesan Raihan sebelumnya.


"Assalamualaikum" Sapa Medina.


"Wa'alaikumsalam" Jawab mereka bersamaan.


Melihat Daniel bersama Medina, Pakde Radiman dan Bude Tatik bangun dari duduknya. Dan mengangguk sopan.


"Mbak Medina" Pekik Billa senang. Gadis itu berdiri dan memeluk Medina.


"Maaf jika semalam, Medina kurang menyapa kalian" Ucap Medina sambil menyalami pakde dan Bude Tatik.


"Terimakasih atas kedatangan kalian" Ucap Medina lagi dengan senyum yang tidak lepas dari bibirya.


Setelah berbincang sebentar dengan keluarga pakde Radiman. Medina mengajak Pakde Radiman bicara empat mata.


Sementara itu, Daniel juga mengajak Raihan bicara empat mata dengan nya diruangan terpisah.


"Ada apa nduk?" Tanya Pakde Radiman yang masih bingung karena Medina mengajaknya bicara berdua saja.


"Medina ingin bertanya tentang keluarga kandung Medina. Apa mereka juga tinggal di kota S?" Tanya Medina penasaran.


"I_itu...."


"Apa kamu akan mencari keluargamu?"


"Aku tidak tahu. Tapi jika suatu saat Medina dipertemukan dengan mereka, setidaknya Medina tahu apa yang Medina akan lakukan kepada mereka" Jawab Medina tanpa ragu.


"Bapak dan ibumu tidak pernah mengatakan apapun mengenai wanita yang menyerahkan bayinya. Tapi pakde pernah dengar jika wanita itu adalah istri muda dari seorang pengusaha kaya dikota besar" Medina menatap manik pakde Radiman untuk menemukan adanya kebohongan atau tidak. Dan Medina menangkap kejujuran disana.


"Pakde pernah bertemu dengan ibu kandung ku?" Tanya Medina.


"Pernah...satu kali. Saat itu, wanita itu datang ke rumah bidan Nurul untuk menjengukmu ketika usiamu 2 tahun" Pakde Radiman masih mengingat wajah cantik dan mulus ibu kandung Medina saat itu.


"Dia...dia sangat mirip denganmu. Hanya saja dia tidak mengenakan kerudung seperti mu"


Medina menghela nafasnya yang terasa berat. Dadanya terasa sesak dan rasanya saat ini ia ingin menangis. Namun ia harus menahannya agar tidak tumpah dihadapan pakde Radiman. Ia tidak ingin pakde Radiman memanfaatkan kelemahannya. Dan suaminya pasti tidak akan menyukainya.

__ADS_1


"Baiklah...itu saja yang ingin Medina tanyakan. Terimakasih banyak atas semua yang pernah pakde lakukan untuk Medina. Dan maafkan Medina jika sering merepotkan kalian" Dan saat Medina mengatakan itu, Daniel datang.


"Kalian sudah selesai?" Tanyanya mendekati Medina.


Medina tersenyum dan mengangguk. Melihat perhatian suaminya rasanya ia ingin memeluk pria itu dan menangis dalam pelukannya.


"Ya sudah...sebaiknya kita kembali. Karena mereka akan pulang malam ini juga" Ucap Daniel dengan tatapan tajam kearah pakde Radiman.


"Apa?? Mereka akan pulang malam ini?" Medina terkejut.


"Maaf Nona...tapi aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ku lebih lama lagi" Tiba-tiba Raihan datang.


"Baiklah...aku ucapkan terima kasih karena sudah menemani dan menjaga keluargaku" Medina tersenyum kepada Raihan.


"Sudah menjadi tanggung jawab ku, Nona. Tidak perlu sungkan" Sahut Raihan membalas.


"Pakde....apapun yang Mas Raihan dan Kak Daniel lakukan kepada kalian, semata-mata hanya untuk kebaikan kalian kedepannya. Tolong jangan merepotkan mas Raihan dan mengecewakan suamiku" Ucap Medina pelan namun penuh penekanan.


Raihan dan Daniel agak terkejut dengan kalimat yang diucapkan Medina. Mereka berdua menatap Medina kemudian saling pandang.


Pakde Radiman mengangguk paham. Ia jua memaksakan bibirnya tersenyum. Karena pada dasarnya ia tahu apa yang disampaikan Medina sama saja dengan menambah ancaman yang mereka dapatkan dari Raihan dan Daniel selama ini.


"Ayo...Sayang" Medina memeluk lengan suaminya dan menariknya keluar restoran.


Diluar restoran Medina melihat Bude Tatik, Salsa dan Billa yang menunggu.


"Belajarlah yang giat, jadilah wanita yang mandiri dan buat keluargamu bangga" Nasehat Medin kepada Billa.


"Dan kamu Salsa....mulailah berpikir untuk keluargamu. Karena keluarga adalah tempat pertama yang menerima kita dengan segala kekurangan dan kebodohan kita" Ucap Medina tersenyum.


"Dan...Bude... Seharusnya bude bisa menjadi contoh yang baik untuk Salsa dan Billa. Kelak mereka juga akan hidup berkeluarga dan hidup terpisah dari kalian"


Semua orang terdiam dengan nasehat yang diucapkan Medina.


"Sampai jumpa lagi" Medina memeluk ketiganya.


"Jika ada waktu, berkunjunglah ke rumah" Ucap Billa.


"Insya Allah" Jawab Medina.


Setelah saling peluk dan berpamitan, mereka berpisah dan kembali ke kamar masing-masing.


Dan saat Daniel dan Medina sudah berada dikamar mereka, Medina memeluk suaminya dengan erat.


Tubuh Medina bergetar karena tangis yang ia tahan sejak tadi, kini tak terbendung lagi.


"Ini yang tidak aku sukai ketika kamu menemui mereka" Ucap Daniel sambil mengelus punggung istrinya.


Daniel membiarkan istrinya menangis tanpa bertanya apapun tentang apa yang dibicarakannya dengan pakde Radiman.


"Aku berjanji, Honey. Aku akan segera mengakhiri pencarian ini dan menemukan keluarga kandungmu" Janji Daniel dalam hati.


_


_


_TBC

__ADS_1


_


_Ditunggu Like dan vote nya ya. Thank you all


__ADS_2