
Danu duduk berhadapan dengan Daniel diruang kerja yang juga ruang perpustakaan.
"Aku sudah mendapat alamat kampung Medina dan kami akan segera kesana menemui Pakdenya Medina" Daniel membuka percakapan .
"hei.. kamu pikir mama mendapatkan alamat itu dari siapa?" Danu melipat tangannya kedepan.
"kakak memeriksa nya?" Tanya Daniel penasaran.
"Aku bahkan menyelidiki nya tanpa sepengetahuan mu"
Daniel membulatkan matanya. Ia tidak percaya kakaknya bergerak lebih cepat darinya.
Kini Danu melipat satu kakinya ke kaki yang lain.
"Kamu ingat saat Medina membawa barang-barang nya dan menginap di Rumah Sakit saat mama dirawat?" Daniel menangangguk.
"Saat itulah, aku menyuruh orang untuk mencari informasi tentang Medina"
Daniel terkesiap mendengar ucapan Danu.
Ia pun berdiri dan menghambur memeluk Danu.
"Terimakasih kak..." Ucap Daniel disela pelukannya.
"Hei...jangan geer..Aku melakukan itu untuk mama. Aku harus tahu latar belakang orang,-orang yang dekat dengan mama. Kegagalanmu menjadi pelajaran berharga dan aku tidak mau mama ikut menanggungnya" Ucap Danu tanpa melepas pelukan Daniel.
"Medina mengajukan satu permintaan padaku" Daniel melepaskan pelukannya.
"oh ya? apa itu?" Tanya Danu penasaran.
Daniel kembali duduk disofa.
"Medina mau aku menyelesaikan ketidakpastian hubunganku dengan Farah" Ucap Daniel dalam satu tarikan nafas.
Danu tidak terlihat kaget. Ia justru tersenyum.
"Aku pikir, hubungan ku dengan Farah benar-benar sudah berakhir dengan menolak pertunangan kami dan kepergiannya. Kakak benar, Medina ragu padaku bukan karena perasaannya, tapi dia sangat mempedulikan mama" Ucap Daniel tegas.
"Kamu akan ke New Zealand?" Tanya Danu.
Daniel mengangguk. Ia mengambil nafas dalam. Lalu diam sejenak.
"kakak punya ide?" Daniel menatap kakaknya.
"Temui Farah setelah kalian menikah. Akan aku siapkan paket bulan madunya sekalian. Banyak tempat indah disana, kalo kamu sedikit lupa. Sangat disayangkan jika dilewatkan begitu saja bukan?" Danu tersenyum lebar.
Daniel menatap tidak percaya kakaknya akan memberi ide demikian. Bahkan ia tidak pernah terpikir sampai kesana.
"tentu saja aku ingat..." Jawab Daniel dengan wajah kesal.
__ADS_1
Dan percakapan hangat mereka pun harus terhenti karena waktu sudah masuk waktu Maghrib. Mereka keluar ruangan untuk mengerjakan sholat Maghrib.
Setelah selesai makan malam, Daniel menuju ruang kerjanya. Ia menunggu Medina sambil memainkan pulpen dimeja kerjanya. Ia melirik jam dinding, Daniel nampak mulai gelisah karena Medina tak kunjung datang.
Tak dapat menunggu lebih lama lagi..Daniel keluar dari ruang kerjanya.
Maniknya menangkap sosok gadis yang ia tunggu sedang duduk diruang keluarga.
"Honey...aku menunggumu dari tadi" Ucap Daniel sambil mendekat ke sofa. Ia belum menyadari jika Medina sedang menidurkan Syifa dalam pelukannya.
"Honey..."
"ssssttttt..."Medina menutup mulutnya dengan telunjuk. Memberi kode agar Daniel tidak mengeluarkan suara.
Daniel membisu dan segera mengambil posisi duduk disamping Medina.
"Syifa kenapa lagi?" Tanya Daniel dengan suara pelan.
Medina belum menjawab. Ia masih fokus mengelus punggung dan kepala Syifa yang terlelap dipangkuan Medina.
Setelah memastikan Syifa benar-benar nyenyak, Medina beringsut berdiri akan membawa Syifa ke kamarnya.
"Sini..biar aku yang menggendong nya" Ucap Daniel ketika melihat Medina terlihat kewalahan bangun dari tempat duduknya sementara Syifa dalam pelukan.
"Pelan-pelan..nanti Syifa bangun lagi" Bisik Medina.
Syifa kini sudah beralih dalam gendongan Daniel.
Mereka berdua keluar dari kamar Syifa setelah memastikan Syifa tidur dengan pulas.
"Kemana Kak Danu dan Rani?" Tanya Daniel heran. Maniknya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan paviliun milik kakaknya.
"mereka pergi setelah makan malam. Ada kabar om nya kak Rani masuk rumah sakit" Jelas Medina.
"Om Rahmat masuk Rumah Sakit?" Tanya Daniel.
"kita bicara disini aja. Aku khawatir Syifa akan bangun dan menangis" Ucap Medina.
Daniel terdiam. Ia menimbang ucapan Medina.
"oke...kita ngobrol disini sambil mereka pulang" Daniel menarik tangan Medina ke sebuah mini bar disana. Danu sengaja tidak membuat Dapur dipaviliun miliknya. Hanya ada 2 kamar, mini bar dan ruang keluarga yang saling terhubung. Danu sengaja membuatnya seperti itu karena agar bisa terus bersama dan menemani sang mama dirumah utama.
"Honey...lihat aku" ucap Daniel yang sedikit kesal melihat Medina terus menunduk.
Medina menggeleng. Ia justru semakin menundukkan kepalanya.
Daniel tak tahan dan menarik dagu Medina dengan jarinya. Kini pandangan mereka saling bertemu. Saling menatap dalam satu sama lain.
"Kak..." Panggil Medina.
__ADS_1
Daniel meremang hanya dengan panggilan Medina yang terdengar mesra menggelitik telinganya.
"kak...jangan seperti ini" Ucap Medina lagi.
Daniel mengambil nafas dalam. Ia tahu jika Medina tidak menyukai kondisi mereka yang hanya berdua saja.
"aku calon suami kamu dan kamu calon istriku. Menurutku wajar kalo kita duduk berdua" Ucap Daniel dengan wajah penuh semangat. Memperlihatkan gigi putih dan rapih setelahnya.
"Apa yang mau kakak sampaikan?" Medina mengalihkan perhatian.
"Lusa...temani aku ya?" Daneil bertanya setelah menyesap minuman dingin dimeja.
"kemana?" Medina balik bertanya. Kini maniknya menatap wajah tampan Daniel.
"Mengunjungi pusara calon mertuaku dan meminta restu pastinya" Jawab Daniel dengan tangan menggenggam jemari Medina.
"kak..." Manik Medina berkaca-kaca ketika mendengar itu. Butiran bening kini mulai terjun bebas dipipi mulusnya.
Tangan Daniel terangkat mengusap pipi Medina yang telah basah.
"kamu mau menemaniku?" Tanya Daniel pelan. Medina membalas dengan anggukan.
Ia sangat merindukan mendiang orang tuanya. Namun ia tidak bisa pulang untuk sekedar berziarah karena takut bertemu dengan pakde nya. Mengingat itu, Medina segera melontarkan pertanyaan kepada Daniel.
"apa kakak juga akan menemui pakde?" Medina masih belum mengalihkan pandangannya.
Daniel mengangguk. Membuat Medina kembali menunduk kan wajahnya.
"apa kamu takut bertemu Pakde mu?" Daniel membaca raut wajah yang ditunjukkan Medina.
Medina terdiam. Kepalanya semakin tertunduk. Pundaknya bergetar karena terisak. Medina masih belum lupa kejadian di masa lalu. Ketakutan nya kini kembali menguasai pikirannya. Ia takut bertemu dengan Pakdenya dan akan kembali dipaksa menuruti kemauan pakde.
Daniel tidak tega melihat gadisnya menangis tersedu dihadapannya. Daniel meraih punggung Medina dan mendekapnya dalam pelukan.
"kamu ga perlu takut, Honey. Ada aku disampingmu. Akan aku buat mereka berlutut dihadapan mu dan meminta maaf padamu atas apa yang telah mereka lakukan dimasa lalu" Ucap Daniel dengan tangan yang terus mengelus lembut kepala Medina.
"kamu percaya padaku, Honey...?"
Medina mengangguk dalam pelukan Daniel. Ia bahkan semakin terisak. Entah sadar atau tidak, Entah efek capek menangis atau malam yang memang sudah larut, Medina merasa pelukan Daniel sangat hangat dan menenangkan. Hingga ia terbuai lelap dalam pelukan calon suaminya.
"Honey..." Panggil Daniel.
Daniel menunggu respon. Namun nihil. hingga beberapa kali ia memanggil dan menggerakkan tubuh calon istrinya. Namun tetap tidak ada gerakan dari Medina. Daniel mendengar hembusan nafas halus Medina. Daniel tersenyum.
"Apa pelukan ku sehangat itu hingga membuatmu terlelap dengan sangat mudah?" Batin Daniel.
"Baiklah Honey...Kamu memberiku kesempatan berlatih menggendongmu sebelum aku terus menggendong mu setelah menikah" Gumam Daniel dan senyum tipis.
Daniel segera menggendong Medina dan membawa nya ke kamar Syifa.
__ADS_1
Daniel terus memandangi wajah Medina yang masih menyisakan Kilauan sisa airmata. Daniel mengusapnya dengan sangat lembut dan Menyelimutinya dengan penuh rasa cinta.
"Tidurlah Honey....setelah hari ini aku akan menjadi orang pertama yang akan selalu melindungi dan menjagamu" Ucap Daniel sebelum ia meninggalkan kamar Syifa.