
Setelah pertemuannya dengan Pak Sanjaya dan Ibu Melani, Daniel bergegas kembali ke Rumah sakit.
Sebelumya Daniel menghubungi kak Danu yang berbincang di ponselnya. Setelah itu Daniel menghubungi Arif dan sekretaris nya untuk mengubah semua jadwal kerjanya selama dua pekan kedepan.
"Bro...apa yang terjadi?" Tanya Arif terkejut sekaligus penasaran. Karena hal ini sangat mendadak.
"Maaf...aku tidak bisa menceritakan nya sekarang." Jawab Daniel.
"Dan satu hal lagi....aku akan menonaktifkan ponselku dan Medina selama pergi. Aku hanya akan menerima email dari kamu dan kak Danu." Tegas Daniel langsung menutup ponselnya.
"Tung__" Arif mendengus kesal karena Daniel sudah memutuskan teleponnya.
"Apa yang tejadi sebenarnya? Apa ini semua ada kaitannya dengan keberadaan kedua orang tua Medina?" Arif bermonolog sendiri.
Daniel telah sampai dirumah untuk mengemasi pakaiannya dan Medina. Setelah selesai berkemas Daniel memberi pesan kepada semua asisten dirumahnya. Jika dirinya akan menginap dirumah sakit beberapa hari kedepan dan tidak akan pulang karena kondisi Medina masih belum diperbolehkan untuk pulang.
"Lebih baik aku memakai alasan itu. Jadi mereka tidak perlu bertanya apa-apa." Batin Daniel.
Daniel melajukan mobilnya kembali ke Rumah sakit. Kak Rani dan Syifa masih setia menemani Medina hingga Daniel masuk ke dalam kamar.
"Papa Niel..." Teriak Syifa.
Medina dan Kak Rani yang sedang asyik melakukan belanja online di ponsel Rani langsung menoleh.
"Sayang..."
Daniel terus melangkah dan tersenyum tampan. Menutupi semua kebingungan dan kecemasan yang mendera hatinya.
"Kalian sedang apa?" Daniel mencium kening Medina membuat Rani beranjak menjauh menghentikan aktivitas belanja nya.
"Kami sedang melihat-lihat perlengkapan bayi." Ucap Medina dengan wajah berbinar.
Daniel melirik Rani yang seolah tahu akan kondisi mereka saat ini.
"Kak Rani...." Ucapan Daniel menggantung dan hanya menatap kakak iparnya itu.
Rani tersenyum dan mengangguk pelan. Pandangan nya beralih pada sosok adik iparnya yang sedang bercanda dengan Syifa. Mengisyaratkan jika dirinya sudah tahu dan tidak perlu membahasnya karena Medina akan curiga.
"Ah.. perutku sangat lapar. Aku akan ke bawah untuk mencari cemilan. Apa kalian ingin sesuatu?" Tanya Rani.
"Kak Rani tidak perlu mencari sendiri. Minta kak Daniel membelikannya saja." Usul Medina yang merasa tidak enak jika wanita hamil itu yang turun sendiri mencari makan.
"Aku merasa bosan disini, jadi...aku ingin jalan-jalan juga." Rani terkekeh dan Medina ikut tertawa kecil.
"Sayang...mau temani bunda mencari cemilan?" Rani mengulurkan tangannya mengajak Syifa dan gadis kecil itu mengangguk.
"Syifa akan bawakan makanan yang enak buat mama Niel." Ucapnya sebelum turun dari ranjang.
"Terimakasih, princes." Ucap Medina.
Daniel beranjak ingin membukakan pintu kamar untuk Rani. "Apa mama juga tahu?" Tanyanya dengan pelan saat mereka jalan bersama menuju pintu.
"Tentu saja." Rani tersenyum meledek membuat Daniel berdecak kesal.
"Kalian benar-benar..." Gerutunya dalam hati. Ia merasa menjadi orang bodoh.
"Fokus, Papa Niel." Sindir Rani dengan menahan tawa. Ia tahu apa yang dipikirkan adik iparnya itu sehingga Daniel hanya memegang kenop pintu tanpa membukanya.
"Ah..iya." Daniel membuka pintu dan tersenyum kecut.
"Sayang....ada apa?" Medina membaca raut wajah suaminya yang terlihat sedikit kacau.
"Aku sedikit lelah karena kurang tidur. Tapi aku tidak boleh lelah, karena malam ini kita akan pergi." Daniel mencium pipi Medina.
"Kamu akan pergi? Tanya Medina penasaran.
"Bukan aku tapi kita, Honey." Daniel mengecup bibir Medina.
"Kemana?"
"Apa dokter mengijinkan aku pulang?"
__ADS_1
"Kita akan pergi kemana?"
"Aku sudah bicara dengan dokter, Honey." Daniel mengecup bibir Medina berkali-kali karena gemas.
"Sudah...hentikan..." Medina menutup mulutnya.
"Aku gemas. Sekarang kamu sangat cerewet." Daniel tertawa karena Medina mulai kesal.
"Apa istriku tidak mau pergi jalan-jalan?" Daniel menatap Medina intens.
"Dengan kondisiku seperti ini? Aku hanya akan menyusahkan suamiku." Medina tersenyum membalas tatapan suaminya.
"Dokter bilang, kondisimu sudah jauh lebih baik, asalkan kamu tidak pernah berpikir keras lagi dan menyembunyikannya seolah kamu baik-baik saja." Ucap Daniel membuat Medina seketika mengalihkan pandangannya.
"Aku tidak memikirkan apapun." Lirihnya.
"Maafkan aku..." Daniel mencium pelipis Medina lalu memeluknya dengan erat..
"Aku janji...aku akan segera mempertemukan kalian." Bisik Daniel dan Medina mengangguk pelan.
"Permisi..."
Daniel melepaskan pelukannya saat dokter masuk kedalam bersama suster.
"Saran saya...jangan membebani pikiran anda dengan sesuatu yang berat. Karena itu berpengaruh banyak kepada janin yang ada didalam kandungan anda. Bersikap terbuka kepada pasangan jauh lebih baik agar kondisi seperti ini tidak terjadi lagi." Ucap Dokter panjang lebar setelah memeriksa Medina.
"Iya dokter. Terimakasih." Medina tersenyum ramah.
"Sampai bertemu dipemeriksaan selanjutnya." Ucap Dokter sebelum meninggalkan kamar Medina.
Medina mengangguk dan Daniel mengantarkan dokter keluar. Dan saat itu mama Safira, Tante Latifah datang bersama Rani dan Syifa.
"Mama...Tante..."
"Sayang.... bagaimana keadaanmu?" Mama Safira memeluk Medina.
"Kamu harus lebih menjaga kesehatan untuk calon bayi kalian." Tante Latifah bergantian memeluk Medina.
"Maaf merepotkan semua orang." Medina menunduk lesu.
"Mama pasti lelah karena harus bolak balik kemari." Medina merasa bersalah.
"Putraku meminta ijin akan membawamu pergi babymoon. Makanya mama datang kemari." Bohong mama Safira. Sebenarnya ia tahu alasan putranya membawa Medina pergi karena Danu telah menceritakan semuanya.
Meski berat hati, Mama Safira harus membiarkan Daniel membawa Medina pergi sementara. Setelah ini ia akan menemui besannya untuk berbincang membicarakan masa depan Medina. Karena mama Safira tidak ingin menantu yang sudah seperti putrinya berada dalam situasi seperti terus menerus.
"Bersenang-senang lah...dan jangan memikirkan hal apapun. Pikirkan kebahagiaan kalian saat calon bayi kalian tumbuh dan lahir dengan sehat dan selamat." Mama Safira memberi nasehat dan diamini oleh Tante Latifah dan Rani.
"Terimakasih, ma." Medina tidak bisa menahan air matanya. Ia sangat bersyukur, atas perhatian dan kasih sayang keluarga suaminya.
"Tante apa kabar?" Tanya Medina.
"Tante harus sehat...karena Tante akan mengadakan pesta pernikahan." Jawab Tante Latifah dengan candaannya yang khas.
Membuat Medina dan yang lainnya tertawa. "Kau juga harus sehat, Sayang." Ucapnya kemudian dan Medina mengangguk tersenyum.
Sementara itu, Daniel bersama Danu tengah berdiskusi di luar kamar Medina.
"Aku seolah suami yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk Medina." Kesal Daniel mengingat ia harus mengikuti rencana ayah mertuanya.
"Ini demi kebaikan semuanya. Jangan egois." Danu menepuk pundak Daniel.
"Hmm." Keduanya lalu beranjak masuk kedalam kamar rawat inap Medina.
Setelah semua orang berbincang hangat, kini saatnya mereka berpamitan.
"Jaga dia baik-baik." Pesan mama Safira kepada putranya.
"Doakan kami, Ma." pinta Daniel. Ia lalu mengecup tangan mamanya dan memeluknya.
"Jaga dirimu baik-baik, sayang." Kini mama Safira memeluk Medina. Bergantian dengan semua orang kecuali Danu.
__ADS_1
"Kenapa rasanya kalau ini sedikit aneh bagiku. Kalian semua khawatir berlebihan." Medina memicingkan matanya menatap semua orang.
Ucapan Medina sontak membuat semua orang terkejut dan tersenyum kikuk.
"Itu agar suamimu lebih memperhatikan kalian dengan baik lagi." Ucap Rani dengan cepat.
"Baiklah...kami semua pulang sekarang." Danu tersenyum lembut kepada Medina.
"Terimakasih banyak kak."
"Sama-sama." Jawab Danu.
Semua orang beranjak keluar kamar inap meninggalkan Daniel dan Medina.
"Baiklah... sekarang saatnya kamu untuk bersiap-siap." Daniel membuka selimut yang menutupi sebagian tubuh Medina.
"Apa yang akan kakak lakukan?" Medina menahan selimut dengan tangannya.
"Memandikanmu. Apalagi?" Jawab Daniel santai.
"Aku bisa sendiri. Hei..." Teriak Medina saat tubuhnya melayang dalam dekapan suaminya.
"Jangan membantah, aku bisa kena marah ibu ratu lagi. Dan mendapat hukuman jauh dari istriku." Daniel mengecup bibir Medina dengan gemas.
Medina tertawa kencang hingga masuk kedalam kamar mandi. Medina tak bisa membantah apalagi menolak. Apalagi ia juga merasakan tubuhnya masih lemah, jadi memasrahkan dirinya untuk dimandikan suaminya. Toh dengan kondisinya saat ini, Daniel tidak akan berbuat lebih.
"Aku tidak akan macam-macam." Ucap Daniel seolah tahu dengan jalan pikiran istrinya.
"Terimakasih, Sayang."
****
Mobil mewah hitam metalik melaju dengan kecepatan sedang membawa pasangan suami istri ke bandara.
"Sayang...ini bukan mobilmu." Daniel menoleh saat satu ucapan meluncur dari bibir Medina.
"Kamu beli mobil baru?" Medina meneliti setiap sudut mobil yang terlihat masih baru itu.
"Memang bukan. Ini mobil Arif." Jawab Daniel bohong karena sebenarnya mobil yang mereka tumpangi adalah mobil milik Pak Sanjaya.
"Sebenarnya kita akan kemana?"
"Dan kenapa mendadak? Maksudku...dengan kondisiku seperti ini, seolah perjalanan ini dipaksakan."
Daniel mencoba untuk bersikap tenang dan memberikan senyuman tatkala istrinya terus memberikan pertanyaan-pertanyaan yang ia sendiri bingung untuk menjawabnya.
"Kamu selalu begitu, semuanya serba mendadak dan tidak memberi ku kesempatan untuk melakukan apapun atas kemauanku." Medina mengeluarkan kekesalan nya karena Daniel tidak juga membuka suara untuk menjawab semua pertanyaan nya.
"Menyebalkan." Medina mengerucutkan bibirnya menahan kesal.
"Honey...." Panggil Daniel dengan suara menggoda namun Medina tetap tidak bergeming.
Daniel tersenyum penuh arti. Pertanyaan demi pertanyaan yang terlontar dari bibir cantik Medina memberinya ide briliant.
Daniel mengarahkan mobilnya ke jalanan yang bukan seharusnya. Meski ia tahu akan ada kekacauan setelah keputusan nya, namun ia lebih takut tidak mampu menjawab pertanyaan yang datang bertubi-tubi dari Medina setelah berada ditempat yang direncanakan mertuanya.
Daniel mengelus perut Medina dengan sayang. "Maafkan papa, sayang." Lirihnya dalam hati.
"Jangan marah-marah terus. Itu tidak baik untuk kesehatan dan calon anak kita, Hon." Ucap Daniel sambil terus mengusap perut istrinya.
Daniel mengulum senyumnya. Meski Medina masih diam, namun saat tangannya terus bergerak diperut Medina, istrinya itu tidak menolak.
"Maafkan aku, Ayah Mertua." Ucapnya dalam hati.
TO BE CONTINUED
_
_
_
__ADS_1
_