
Selama didalam lift menuju kamar, Medina terus merenung tentang sikap suaminya.
Kemudian hingga ia teringat ucapan Daniel saat berada di dalam bioskop.
"Apa kakak marah karena aku tidak menanggapi perkataannya soal keinginannya untuk segera memberi cucu untuk mama?" Medina berbicara dengan dirinya sendiri.
"Ya Allah...Bukan aku tidak mau segera menjadi seorang ibu dalam waktu dekat, hanya saja sekolahku belum selesai. Aku pasti akan membuat keluarga suamiku malu jika ada yang bertanya tentang diriku" Medina menghela nafasnya.
Medina keluar dari lift saat terdengar bunyi dentingan dan pintu lift terbuka.
Medina berjalan menuju kamarnya. Dan lagi-lagi Medina harus menarik nafasnya dalam-dalam. Ia sangat gugup bertemu suaminya sendiri.
Kini ia sudah berada didepan pintu kamarnya. Ia masih berdiri mematung hingga suara seorang pegawai hotel mengagetkan nya.
"Maaf, Nona...kamar ini sedang dalam perbaikan, Tuan Daniel meminta saya untuk mengantar ke kamar lain selama kamar ini masih belum rampung perbaikan" Ucap pegawai hotel berjenis kelamin perempuan itu.
"Perbaikan? Memang apa yang rusak, mbak?" Tanya Medina penasaran.
"Ada yang bocor di kamar mandi" Jawab pegawai itu.
Medina yang tidak merasa curiga hanya mengangguk paham.
"Mari ikut saya" Ajaknya.
Medina mengikuti pegawai itu untuk menuju kamar hotel yang lain. Hanya beberapa puluh meter dari kamar sebelumnya.
"Silahkan, Nona" Pegawai itu membukakan pintu untuk Medina.
"Terimakasih" Ucap Medina.
"Ini tip untuk mbaknya" Medina memberikan 2 lembar uang ratusan kepada pegawai hotel itu.
"Tidak perlu, Nona. Tuan sudah memberikan tip untuk saya" Tolaknya.
"Tidak apa. Itu rezeki dari Allah melalui suami saya. Dan ini rezeki dari Allah melalui saya" Medina menyematkan uang itu kedalam genggaman tangan pegawai hotel itu.
"Terimakasih banyak, Nona. Semoga kalian bahagia dan hari anda menyenangkan" Ucapnya sebelum meninggalkan Medina.
Medina menutup pintu kamar dan menyapu ruangan dengan maniknya. Kamar yang tidak begitu luas dari kamar mereka sebelumnya.
Medina merasa tidak nyaman dengan kesendirian nya.
"Ya ampun...aku lupa memberi tahu kakak" Medina mengambil ponselnya dan segera menghubungi Daniel.
Tiga kali Medina mencoba menghubungi suaminya namun tetap tidak ada jawaban. Membuatnya semakin gelisah. Medina terduduk lemas diatas ranjang.
"Sebenarnya kamu kenapa, Sayang" Gumam Medina lirih.
Medina melirik arloji ditangannya. Disana menunjukkan waktu pukul 5 sore.
"Sebaiknya aku sholat ashar dulu" Medina beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu.
Medina selalu menyimpan mukena didalam tasnya kemanapun ia pergi. Sehingga ia tidak perlu repot lagi mencari mukena.
Setelah melaksanakan sholat ashar, ia kembali menatap ponselnya. Hatinya sedih mengingat Daniel tidak mengangkat telepon dan membalas pesannya.
"Apa kamu meninggalkan ku?" Air mata Medina kini sudah mulai berseluncur dipipinya.
Saat dirinya masih terisak, suara ponselnya berbunyi. Dengan wajah senang Medina mengangkatnya tanpa melihat nama si penelepon.
__ADS_1
"Assalamualaikum kak..Sayang kamu dimana?"
"Maaf, nona. Saya Raihan" Jawab Raihan diseberang telepon.
"M...Mas..Raihan?"
"Iya, Nona. Saya hanya ingin menyampaikan pesan dari Bos Daniel. Beliau minta anda bersiap"
"Bersiap? Aku bahkan berada kamar hotel lain. Semua bajuku ada dikamar sebelumnya" Protes Medina yang semakin bingung.
"Nona, anda bisa memakai baju yang berada didalam paperbag warna merah. Saya akan menjemput anda selepas sholat Maghrib"
"Dimana suamiku?" Tanya Medina menahan tangisnya.
"Aku tidak tahu, Nona. Bos hanya memerintahkan saya menjemput anda melalui sambungan telepon"
"Ada yang lain, Nona?"
"Jika dia menelepon lagi..katakan padanya aku mencari dan menunggunya" Suara Medina tercekat.
"Baik, Nona. Jika anda butuh sesuatu bisa menghubungi saya"
"Terimakasih" Medina menutup ponselnya tanpa mendengar Raihan yang masih berbicara diseberang telepon.
"Sebenarnya kamu kenapa, Kak?" Medina kembali terisak mengingat suaminya.
****
Sementara dirumah baru yang ditinggali keluarga pakde Radiman, Bude Tatik terlihat sangat menikmati suasana barunya.
"walaupun tidak jadi berangkat ke kota J, yang penting kita sekarang punya rumah dikota" Ucapnya dengan senang.
"ibu tidak akan lupa, nduk. Ibu akan memikirkan rencana yang lebih matang lagi" Ucap bude Tatik yakin.
"Sudahlah Bu... seharusnya kita bersyukur mereka sudah mengeluarkan bapak dari penjara, memberikan yang kita butuhkan saat ini dan Anak-anak juga sudah didaftarkan melanjutkan sekolahnya, dan bapak mendapatkan pekerjaan bagus" Pakde yang merasa tidak enak hati untuk menipu Medina dan suaminya, memberikan nasehatnya.
"Hidup kita harus seperti ini semuanya karena Medina, Pak" Ketus bude Tatik tidak terima.
"Jika dulu dia mau dinikahkan dengan Zaldy, hidup kita tidak akan mengalami ini semua" Lanjut Bude Tatik dengan wajah merah menahan amarah.
Pakde Radiman hanya terdiam. Begitu juga dengan Billa yang tidak sepatah katapun ikut dalam perbincangan keluarganya.
Billa tahu ini salah, dan ia akan mencaritahu apa yang ibunya rencanakan. Kali ini ia berjanji tidak akan tinggal diam saja, jika keluarga nya kembali membuat hidup Medina dalam kesusahan. Namun ia harus melakukannya secara diam-diam dan tidak mudah mengambil kesimpulan sendiri yang berakibat kesalah pahaman nantinya.
"Billa mau mandi ah, gerah" Seloroh nya seraya meninggalkan keluarga yang masih berbincang.
Dikamar hotel Medina masih melamun tentang kejadian yang tidak ia mengerti. Ia sudah melaksanakan sholat Maghrib dan sudah berganti pakaian sesuai perintah suaminya melalui Raihan.
Medina melihat pantulan dirinya dalam cermin, Medina tersenyum getir. Ia tidak ingin berpikir yang aneh-aneh, karena sungguh itu membuatnya semakin khawatir.
Sekelebat dalam pikirannya saat ini mampu menenangkannya, mungkin suaminya kini sedang menunggu disuatu tempat dan meminta Raihan menjemputnya.
Tok...tok...tok...
Medina menoleh ke arah pintu. Kemudian mengambil tasnya.
"Anda sudah siap, Nona?" Tanya Raihan setelah Medina membuka pintu kamar.
Medina hanya mengangguk. Wajahnya yang tanpa polesan makeup menambah gurat sedihnya.
__ADS_1
Medina hanya mengikuti Raihan dari belakang tanpa sedikitpun bertanya atau membuka suara.
Hingga mereka sampai dilobby dan Raihan memberi intruksi agar istri bosnya itu segera menaiki kendaraan yang telah siap dipintu lobby.
"Kamu tidak ikut?" Tanya Medina.
"Saya akan mengikuti Nona dari belakang dengan mobil lain" Jawab Raihan yang sudah membuka pintu penumpang untuk Medina.
Medina masih dalam mode diamnya. Kali ini hatinya bukan hanya gelisah namun ada emosi yang ia tahan.
"Mereka menyebalkan, tidak ada satupun yang menjawabku dengan benar" Kesal Medina saat supir yang membawanya pun menjawab tidak tahu-menahu mengenai suaminya.
"Kalian akan dapat hukuman, jika sampai mempermainkan ku" Ancam Medina yang sudah tidak tahan menahan rasa kesalnya.
Setelah hampir 20 menit, Mobil telah sampai disuatu tempat. Supir membukakan pintu untuk Medina.
"Silahkan, Nona"
Medina memutar malas bola matanya.
"Apa suamiku ada didalam?" Tanya Medina lagi, berharap kali ini sang supir menjawabnya.
"Saya tidak tahu, Nona" Medina melotot tidak percaya. Giginya bahkan gemerutuk menahan kesal.
Tiba-tiba Raihan sudah berada didekat mobil mereka.
"Baiklah...bisakah kamu mengatakan yang sebenarnya kepada saya?" Suara Medina sudah bergetar.
"Rai...kemana kamu akan membawaku?" Bahkan Medina lupa dengan panggilan sopannya untuk Raihan yang biasa ia gunakan.
Raihan tahu istri bosnya kini sedang menahan tangis dan marah secara bersamaan, ia hanya tersenyum datar.
"Saya hanya melakukan hal yang Bos Daniel perintahkan"
"Bahkan jawabanmu bisa saya tebak, Rai"
"Jika Nona sudah tahu kenapa masih bertanya?"
"Aku mencabut semua pujianku beberapa hari lalu untukmu, Rai" Medina berkata dalam hatinya.
"Kalian sangat menyebalkan" Ucap Medina lirih.
"Dimana suamiku? Dimana Danielku? Hiks...Hiks.." Medina menangis.
"Mengapa kalian mempermainkan seorang wanita..hah??" Satu pukulan keras melayang dan mendarat didada Raihan.
Raihan yang terkejut hampir terjungkal ke belakang, namun ia masih bisa menahannya.
"Tolong katakan padaku, dimana suamiku" Medina menjerit sekuat tenaganya.
Medina terduduk lemas dilantai parkiran sambil menangis.
"Maaf, Nona..." Ucap Raihan.
"Mengapa suamiku pergi? Mengapa bukan dia yang menjemputku" Tanya Medina setengah berteriak.
Sementara itu seseorang yang telah menunggu Medina didalam restoran, terkejut dengan kejadian yang dilihatnya.
"Kenapa jadi begini?" Gumamnya sambil beranjak dari tempatnya.
__ADS_1