Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 120


__ADS_3

Medina duduk dengan tenang di bangku sebuah taman tidak jauh dari hotel. Maniknya menatap jauh ke depan.


Sementara itu disamping Medina, Farah pun tidak bergeming. Ia juga diam setelah hampir satu jam lebih ia dan Medina berbicara dari hati ke hati. Semua atas permintaan Medina.


Flashback on


Setelah Daniel pergi, Medina meminta pengasuh Syifa untuk memesan taksi online.


"Mama Niel tidak ikut pulang?" Tanya Syifa saat ia dan pengasuhnya sudah masuk kedalam mobil sementara Medina masih berdiri disamping mobil.


"Mama Niel belum berpamitan dengan Oma Melani. Nanti mama menyusul pulang." Medina mengecup kening Syifa.


Gadis kecil mengangguk pelan dengan raut wajahnya yang sendu.


"Jangan pasang wajah sedih. Kita akan pergi lain waktu. Oke?" Hibur Medina.


Dan sebelum mobil yang ditumpangi Syifa dan pengasuhnya pergi, Medina memberi pesan keapda pengasuh untuk tidak mengatakan apapun kepada orang-orang dirumah.


"Baik, Bu." Sahutnya paham.


Medina menarik nafas dalam-dalam. Langkahnya kembali masuk kedalam restoran. Ia mencari Farah ditempat mereka makan siang.


"Kamu?" Farah terkejut saat melihat Medina datang.


"Bisa kita bicara? Berdua saja dan tidak disini."


Farah tersenyum. Ia berhasi membuat istri Daniel cemburu, pikirnya.


"Kita mau kemana?" Tanya Farah saat mereka sudah berada didalam mobil Farah.


"Taman tengah kota." Jawab Medina tanpa melihat Farah.


Setelah mereka sampai, Keduanya berjalan dengan saling diam.


"Kamu ingin berbicara dengan suamiku bukan? Aku akan memberimu kesempatan." Ucap Medina setelah mereka duduk disalah satu bangku ditengah taman.


Farah tertawa kecil mendengar kalimat Medina. "Kamu sangat percaya diri."


"Aku hanya mencoba memberikan apa yang kamu minta pada suamiku. Karena aku tahu, Daniel ku akan menolakmu." Ucap Medina telak.


Entah mengapa mengetahui jika wanita dihadapannya adalah bagian masalalu suaminya yang memberi luka. Medina menjadi tidak terima.


"Kamu tahu bagaimana seorang Daniel mencintai. Seharusnya kamu tidak sia-siakan."


"Aku memberimu kesempatan untuk menjelaskan kesalahpahaman kalian dimasa lalu. Bukankah itu yang kamu inginkan?" Medina menoleh sekilas lalu pandangan nya kembali lurus kedepan.


Ada perasaan tidak rela ketika Medina melihat perubahan sikap suaminya setelah bertemu mantan tunangannya. Emosi dan luka masa lalu suaminya kembali terkoyak. Medina benar-benar tidak rela. Namun ia juga tidak bisa egois. Ia harus tetap memberi mereka ruang meski ia tahu, suaminya akan menolak.


"Kamu tidak takut aku merebut suamimu?" Tatapan keduanya bertemu.


"Bagaimana pun....kami pernah merasakan manisnya cinta bersama dalam waktu yang cukup lama." Ucap Farah penuh percaya diri. Sebenarnya ia juga tidak berharap banyak, namun ia tidak ingin terlihat bersalah dihadapan Medina.


"Dan kamu menghancurkan cinta dan kepercayaan nya." Ucap Medina pelan namun telak seolah menampar Farah.


"Dan....jangan lupakan satu hal. Daniel ku....adalah pria romantis yang setia dengan satu cinta." Medina tersenyum cantik membuat Farah terdiam seribu bahasa.


Yang dikatakan Medina benar. Daniel adalah tipe pria setia dengan satu wanita jika ia sudah mencintai.


Medina bangun dari duduknya dan menatap Farah yang masih duduk ditempatnya.


"Kamu tidak tahu apapun." Ucap Farah mulai geram.


"Maka dari itu aku memberi kalian kesempatan." Medina meninggalkan Farah yang sedang diselimuti kabut kesal.


Ia salah meremehkan wanita yang bernama Medina. Ia pikir Medina wanita yang melankolis. Yang akan menangis meraung-raung ketika mengetahui masala lalu dirinya dengan suaminya.


Flashback off


Medina menyalakan pendingin ruangan saat masuk kedalam apartemen yang dua bulan ini sudah tidak ditinggali. Namun masih terawat karena Daniel memperkerjakan seseorang untuk selalu membersihkan apartemen.


Medina mulai membuka hijab dan pakaiannya. Lalu masuk kedalam kamar mandi. Menurutnya, berendam dengan aroma therapy bisa menyegarkan badannya.


Setelah hampir setengah jam, Medina keluar dari kamar mandi dan terkejut saat tangan seseorang menariknya lalu memeluknya dengan erat.


"Maafkan aku karena meninggalkan mu." Ucap pemilik suara berat yang sudah tidak asing bagi Medina.


"Kamu baik-baik saja, hah? Aku sangat mengkhawatirkan dirimu." Daniel mengecupi wajah, tangan, kepala Medina secara bertubi-tubi hingga handuk Medina hampir terlepas.


"Aku merindukan tempat ini. Makanya aku kesini." Medina tersenyum cantik membuat pria dihadapannya semakin merasa bersalah.


"Maafkan aku, Honey." Hanya kata-kata itu yang keluar dari bibir Daniel. Ia kembali menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya.


"Kak...aku sesak." Daniel tidak mempedulikan ucapan istrinya. Ia justru mengangkat tubuh Medina dan membawanya ke ranjang.


"Ponselku mati, jadi tidak bisa menghubungimu." Ucap Medina ketika melihat tatapan mata Daniel. Ia paham tatapan suaminya.

__ADS_1


Daniel menunduk, bibirnya menyapa dahi, hidung, dan bibir Medina yang ranum.


"Kak...Aku lapar." Ucap Medina saat Daniel hendak menurunkan kecupannya menuju leher putih Medina yang terpampang.


"Apa yang ingin kamu makan?" Daniel mengelus perut Medina.


"Steak daging restoran bawah. Aku menginginkan nya." Medina tersenyum cantik.


"Oke. Ada lagi, tuan putri?" Tanya Daniel dengan tatapan menggoda.


Medina membuka laci disamping tempat tidur dan mengambil kertas dan pena. Kemudian ia menulis beberapa menu makanan yang ia ingin makan dari restoran favoritnya.


"Kamu yakin akan menghabiskan semuanya?" Tanya Daniel dengan wajah yang sedikit terkejut dengan daftar makanan yang diinginkan istrinya.


"Tentu saja." Jawab Medin sambil terkekeh.


"Baiklah...tunggu sebentar tuan putri." Daniel mencium dahi Medina lalu beranjak keluar kamar untuk menghubungi restoran.


"Kenapa pakai baju?" Daniel telah kembali ke dalam kamar dan melihat istrinya sudah duduk disofa dengan pakaian rumahan.


"Beri dia kesempatan untuk menjelaskan." Ucap Medina saat Daniel sudah duduk disampingnya.


"Siapa yang kamu bicarakan?" Tanya Daniel pura-pura .


"Farah menginginkan kesempatan bukan? Aku sudah berbicara dengannya. Aku ingin memberinya kesempatan bicara denganmu." Suara Medina terdengar pelan.


Medina menunggu reaksi suaminya yang hanya terdiam.


"Jika kakak sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya, kenapa kakak harus menghindar?" Pertanyaan Medina membuat Daniel tertawa.


"Kenapa tertawa?" Medina dibuat kesal dengan ulah suaminya yang menertawai nya.


"Tuan putri cemburu?"


"Tentu saja aku cemburu. Seorang istri pasti akan bereaksi jika suaminya bertemu dengan mantan. Bukankah itu wajar?" Medina memukul lengan suaminya dan saat itu juga Daniel menarik Medina masuk kedalam pelukannya.


"Jangan pergi seperti tadi. Aku sangat khawatir." Lirih Medina pelan namun suaranya masih bisa didengar telinga Daniel.


"Maafkan aku, Honey." Daniel menangkup wajah istrinya dan menatap nya lekat.


"Apa kakak mencintaiku?" Pertanyaan ini lolos begitu saja dari bibir mungil Medina.


"Hei...pertanyaan apa itu? Kamu meragukanku?"


"Aku terkejut bertemu dengannya tiba-tiba disana. Itu membuat emosiku muncul begitu saja." Sanggah Daniel.


"Maafkan aku..." Daniel menciumi wajah Medina. Ia tahu hormon kehamilan membuat istrinya semakin sensitif. Dan Daniel menghindari itu.


"Aku mencintaimu...sangat mencintaimu. Kamu adalah anugerah terindah yang Tuhan kirim untukku dan mama." Daniel mencium dahi Medina.


"Tuan putri masih meragukan hamba?" Medina tersenyum lalu menggeleng cepat.


"Aku sangat mencintaimu, pangeranku." Medina menenggelamkan wajahnya pada dada sang suami, tempat favoritnya.


Keduanya tenggelam dalam pelukan hangat dan menenangkan satu sama lain. Tempat terindah bagi pasangan halal adalah pelukan yang saling memberi rasa nyaman dan hangat.


****


Sementara itu ditempat lain Ibu Melani tampak melamun. Ia teringat semua perkataan Daniel padanya. Ia tidak menyangka, jika Daniel dan Farah pernah memiliki hubungan bahkan hampir bertunangan.


"Bu...kamu kenapa?" Tanya Pak Sanjaya.


"Aku....Aku tidak apa-apa, Mas." Bohongnya.


"Apa terjadi sesuatu dengan Medina? Kalian ada acara bersama bukan?" Selidik pak Sanjaya. Ia tahu istrinya tengah menyembunyikan sesuatu.


"Apa kamu sudah bertemu dengan Farah?" Tanya Bu Melani mengalihkan pembicaraan mereka.


"Ya....tadi dia datang ke kantorku." Jawab Pak Sanjaya sedikit enggan.


"Ada apa?" Tanya pak Sanjaya lagi. Kali ini tatapannya tampak berbeda.


"Mas...." Ibu Melani mulai menceritakan semua yang baru diketahuinya kepada Pak Sanjaya.


"Apa?" Pekik pak Sanjaya yang sangat terkejut dengan semua cerita istrinya.


"Mereka bahkan hampir bertunangan tapi entah mengapa tiba-tiba Farah meninggalkan pesta pertunangan mereka secara sepihak." Lanjut Ibu Melani.


"Aku tidak percaya ini." Ucap Pak Sanjaya sambil memijat batang hidungnya.


"Daniel juga sama terkejutnya dengan ku. Ia tidak tahu, jika Farah adalah keponakan kamu, Mas. Itu artinya, Medina dan Farah adalah saudara sepupu."


"Apa sesuatu terjadi dengan putriku? Dia pasti tahu masalalu Daniel." Pak Sanjaya khawatir.


"Daniel sempat shock dan emosi setelah bertemu Farah. Lalu.... dia meninggalkan Medina."

__ADS_1


"Apa?"


Pak Sanjaya mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi anak buah yang ditugaskan untuk menjaga Medina.


"Nyonya Muda berada di apartemen bersama Tuan Daniel." Jawab bodyguard setelah Pak Sanjaya menanyakan kinerja anak buahnya.


"Awasi mereka terus. Aku tidak akan melepaskan kalian, jika putriku dalam bahaya." Ancam pak Sanjaya.


"Bagaimana?" Tanya Ibu Melani.


"Mereka berada di apartemen. Aku akan kesana untuk memastikan keadaan putriku." Ucap Pak Sanjaya.


"Aku ikut, Mas." Pak Sanjaya mengangguk dan mereka meninggalkan rumah.


****


"Hon....Aku akan menemui kak Danu dibawah." Bisik Daniel.


"Kenapa kak Danu tidak langsung kemari?" Tanya Medina. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Karena mereka baru saja selesai bercinta.


"Syifa pasti menceritakan kejadian tadi pada papanya." Daniel tersenyum memperhatikan gerak gerik istrinya.


Daniel melihat istrinya kembali memejamkan matanya. "Aku turun sebentar, ya." Daniel mengecup bibir Medina sebelum ia turun dari ranjang.


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Daniel keluar dari apartemen nya dan menuju ke cafe yang berada dibawah apartemen.


"Maaf membuat kakak menunggu." Danu yang sedang menyeruput kopinya langsung menyudahi.


"Bagaimana Medina?"


"Dia sangat baik. Bahkan kami baru saja selesai bercinta." Jawab Daniel dengan senyum lebar. Membuat Danu melayangkan pukulan pada lengan adiknya.


"Issh...kau ini."


Daniel yakin kakaknya pasti sudah tahu tentang Farah.


"Aku terkejut melihatnya ada dihotel bersama Medina dan ibunya. Emosiku tiba-tiba keluar begitu saja." Daniel menarik nafasnya panjang.


"Arif bilang kau kehilangan Medina."


"Dan aku menemukan istriku disini." Jawab Daniel enteng.


"Daniel...."


"Farah dan Medina ternyata saudara sepupu." Daniel menatap kakaknya serius.


"What??" Danu langsung berdiri dari duduknya karena saking terkejutnya.


"Bagaimana bisa?" Danu kembali duduk di kursinya.


"Aku mengetahui nya saat aku bicara dengan Ibu Melani. Dan itu yang membuatku semakin shock." Daniel mengusap wajahnya.


"Apa ibu Melani juga tahu masalalumu dengan Farah?" Tanya Danu penasaran dan dijawab Daniel dengan anggukan.


"Aku yang mengatakan nya." Jawab Daniel.


Danu tercengang dan hampir tidak bisa berkata-kata. Hingga akhirnya ia menatap adiknya dengan tatapan tajam..


"Sebaiknya Medina segera diberitahu kebenaran nya. Kita tidak bisa menundanya terus menerus. Kita terus membohongi nya." Ucap Danu.


"Bagaimana jika Medina shock dan membuat kesehatannya dan bayi kami bermasalah?" Daniel terlihat sangat khawatir.


"Apagunanya ada dirimu, hah? Dasar bocah!" Gurau Danu membuat Daniel tersenyum kaku.


"Ada apa?" Danu melihat adiknya yang tampak gelisah.


"Medina ingin aku bicara dengan Farah." Daniel menatap kakaknya. Lalu ia mendesah pelan.


Danu tahu ini sulit untuk adiknya. Setelah luka dalam yang Farah goreskan untuk Daniel dan mamanya. Tidak menutup kemungkinan, jika Daniel masih merasa sakit hati dan kecewa kepada Farah. Dan itu pasti menimbulkan emosi tersendiri untuk adiknya.


"Ingat permintaan Medina saat awal kalian menjalani hubungan?" Tanya Danu mengingatkan adiknya.


Daniel mengangguk pelan. Helaan nafasnya kembali terdengar.


"Aku akan mencobanya." Ucap Daniel sebelum ia pergi meninggalkan kakaknya disana.


Daniel kembali ke apartemen nya. Kejadian hari ini membuat dirinya sangat merasa bersalah kepada istrinya. Ia tidak ingin Medina bersedih, Daniel merasa belum menjadi suami yang baik untuk Medina.


_


_


_


_

__ADS_1


__ADS_2