Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 157


__ADS_3

Pukul setengah tiga pagi, Medina merasakan perutnya begitu lapar. Hingga membuatnya mau tidak mau membuka mata. Padahal sebentar lagi masuk waktu subuh, tapi perut laparnya membuat sang jabang bayi ikut meronta. Bergerak terus menerus seolah melayangkan protes kepada ibunya meminta agar segera mengisi perut yang sudah lapar.


"Padahal semalam aku makan banyak sekali." Gumam Medina sambil memposisikan tubuhnya agar aman untuk ia bangun. Terlebih tangan Daniel masih melingkar diatas perutnya.


Merasakan pergerakan sang istri membuat Daniel ikut membuka mata. "Honey...ada apa?" Serak namun terdengar panik saat melihat wajah Medina didepannya.


"Maaf...kakak jadi terbangun." Medina mendaratkan kecupan di bibir suaminya dan terkekeh.


"Aku dan baby lapar." Medina mengusap perutnya masih dengan tawanya.


"Hufft! Aku pikir kamu kesakitan dan mau melahirkan." Daniel yang tadi panik kini bernafas lega setelah mendengar alasan istrinya.


"Bukan. HPL nya masih beberapa minggu lagi." Daniel mengangguk faham.


"Apa restoran hotel buka jam segini?" Medina sudah tidak dapat menahan rasa laparnya lagi. Ia sudah menurunkan kakinya dan beranjak dari ranjang. Daniel menyusul istrinya yang lebih dulu beranjak dari ranjang.


"Tunggu disini saja. Aku akan meminta pelayan resto membawakannya untukmu. Apa yang ingin kamu makan?" Daniel berdiri berhadapan dengan istrinya.


"Aku ingin kebawah saja. Aku bisa memilihnya nanti." Medina tidak tahu apa yang ingin ia makan. Mungkin dengan melihat menu dimeja baru akan terlintas apa yang akan ingin ia makan.


"Baiklah ayo." Daniel menggandeng tangan Medina keluar dari kamar hotel yang mereka tempati.


Dan saat keduanya hampir masuk lift, tanpa sengaja bertemu dengan pasangan pengantin baru. Siapa lagi jika bukan Fian dan Donita yang juga akan menuju lift.


"Kak Fian?"


"Kalian disini? Ada apa? Kamu baik-baik saja?" Fian seketika panik melihat adiknya yang dirangkul suaminya.


"Kakak...aku baik-baik saja." Elak medina dengan tawanya karena merasa lucu dengan kepanikan Fian.


"Aku dan bayiku sepertinya kelaparan. Jadi aku ingin ke bawah mencari sesuatu yang bisa dimakan." Kekeh Medina merasa malu karena ada kakak iparnya disana.


"Kakak sendiri?" Tanya Medina menatap kakak dan kakak iparnya.


"Aku dan Donita tidak bisa tidur. Ingin duduk santai sambil minum kopi, sepertinya akan rilex." Ucap Fian membuat Daniel mengernyit. Mereka sudah satu beberapa hari menikah. Dan pastinya sudah tidak peu tegang, bukan?


"Seharusnya pengantin baru betah diam dikamar, apalagi di waktu seperti ini." Goda Daniel membuat kedua pasangan pengantin itu tersenyum malu.


"Sayang..." Medina menyenggol lengan suaminya. Lalu menatap Donita yang berdiri disamping kakaknya. "Maafkan suamiku, kak. Mereka senang sekali menggoda jika sudah bertemu." Medina tidak ingin kakak iparnya merasa tidak nyaman.


"Hei...tidak apa-apa, santai saja." Donita mengusap lengan Medina yang canggung.


Pintu lift berdenting dan terbuka. Membuat keempatnya mengalihkan pandangan lalu masuk kedalam lift. Sepanjang didalam lift, keempatnya kembali mengobrol santai hingga mereka sampai di tempat yang dituju.

__ADS_1


"Hhhmm,...wangi apa ini?" Medina mengendus aroma masakan yang membuat rasa laparnya kian menjadi.


"Honey....ingat yang dikatakan dokter." Daniel memperingati istrinya yang mulai kalap.


"Iya, sayang. Aku akan memesan makanan dengan jumlah kalori yang sesuai untukku, Terimakasih."


Daniel menarik kursi lalu membawa istrinya agar duduk disana. Lalu ia mengambil kursi lain untuk dirinya sendiri.


Interaksi keduanya tidak luput dari mata Donita. Gadis yang baru menyandang status pengantin baru itu merasa iri dengan perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh keluarga dan orang-orang terdekat Medina. Bahkan suaminya sendiri sering memuji dan tidak sungkan memberi perhatian kepada Medina didepan matanya.


"Dia sangat beruntung." Ucap Donita dalam hati. Ia tidak tahu bagaimana Medina menjalani hidupnya sebelum ini.


"Sayang...kamu ingin makan apa?" Suara Fian menyadarkan Donita dari lamunannya.


"Eh..iya sayang. Aku akan memesan." Donita mengambil buku menu lalu memesan yang diinginkan.


Semuanya sudah memesan dan menunggu makanan diantar ke meja mereka. Obrolan ringan menjadi bincang mereka saat makanan belum tersedia dimeja.


"Kamu berencana memiliki anak berapa?" Tanya Donita dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Aku?" Medina menepukkan tangannya ke dadanya sendiri. Menunjuk diri apakah pertanyaan itu memang untuknya.


"Iya. Aku sedang bicara padamu." Entah mengapa Daniel tidak menyukai nada bicara iparnya. Dan tanpa ragu Daniel menjawab pertanyaan istri iparnya dengan wajah dingin.


"Kami berencana memiliki banyak anak. Seru sekali jika tangis dan tawa mereka mengisi rumah besar kami." Ucap Daniel dengan sedikit penekanan. Padahal sebelum pertanyaan itu muncul dari bibir Donita, Daniel dan Fian terlibat obrolan santai seputar bisnis dan kerja sama mereka yang saat ini sedang berjalan.


Sebenarnya Daniel tidak merasa terganggu dengan pertanyaan seputar berapa akan memiliki anak. Itu hal lumrah yang biasa ditanyakan semua orang jika bertemu mereka. Namun saat ucapan Donita berikutnya yang terdengar sinis, Daniel tak tinggal diam. Bahkan ia terlihat biasa saja didepan Fian, tanpa merasa takut iparnya itu tersinggung karena sudah menjawab obrolan para istri.


"Buatlah keponakan yang banyak untukku. Jadi aku tidak perlu terburu-buru untuk memiliki anak." Celetuk Fian tanpa diduga. Bahkan istrinya sampai menoleh ke arah Fian hanya untuk menegaskan ucapan yang baru saja didengarnya.


"Apa?"


"Sayang...kamu tidak ingin punya anak denganku?" Pertanyaan Donita terdengar setengah berteriak. Membuat Medina dan Daniel saling bertukar pandang.


"Bukan itu maksudku, sayang. Tentu saja aku ingin punya keturunan. Tapi jika ada keponakanku, bukankah sama saja mereka juga seperti anak kita." Ucap Fian dengan tawanya. Entah maksudnya serius atau bercanda, namun Donita menangkap hal lain yang baru saja dikatakan sang suami.


"Tentu berbe__"


Sebelum Donita menyelesaikan perkataannya, dua orang pelayan datang dengan membawa pesanan mereka. Setelah menyajikan makanan, kedua pelayan itu kembali ke tugasnya.


"Aku doakan kalian juga akan punya banyak anak. Jadi Kakak ipar tidak perlu menunda kehamilan. Semoga segera hadir buah cinta kalian." Medina mengusap punggung tangan kakak iparnya. Tak ingin memperpanjang obroqlan tentang anak. Karena tidak semua yang telah menikah diberikan kepercayaan untuk segera mendapatkan amanah seoarang anak dalam rahimnya. Bahkan ada yang puluhan tahun menanti, hingga harus melewati program yang lumayan merogoh kocek dalam.


"Aamiin." Ucap Fian mengaminkan yang dikatakan adiknya. Lalu ia menatap sang istri yang masih terdiam.

__ADS_1


"Sayang...makanlah." Fian memberikan potongan daging panggang ke atas piring istrinya. Membuat lamunan Donita buyar seketika.


Begitu juga pasangan suami istri dihadapannya. Tak kalah romantis. Keduanya bahkan saling menyuapi membuat Fian terus saja menggerutu sepanjang menyelesaikan makan. Sementara Donita sibuk dengan jalan pikirannya sendiri.


****


"Hampir subuh, sebaiknya kita mengambil wudhu dan menunggu waktu." Daniel menguarkan ponsel dalam sakunya dan melihat angka dalam jam digitalnya. Mereka sudah kembali ke kamar masing-masing.


"Iya." Sahut Medina pelan. Wajahnya murung setelah kembali dari restoran. Dan itu tidak luput dari perhatian Daniel.


"Kenapa?" Daniel mengangkat wajah istrinya dengan kedua tangan yang mengalir pipi Medina. Namun wanita hamil itu menggeleng pelan.


"Tidak perlu memikirkan yang bukan urusan kita. Itu urusan mereka." Daniel memperingatkan dengan nada lembut.


"Tapi mengapa kak Fian bicara seperti itu didepan istrinya? Aku merasa tidak enak hati dan khawatir jika kak Donita akan salah paham pada kita."


"Salah paham bagaimana?" Daniel mengernyitkan dahi.


"Entahlah...aku merasa kak Donita menjadi berubah diam setelah obrolan kita tentang keturunan." Medina mengingat bagaimana Kakak iparnya terus diam saat mereka selesai dan kembali.


"Apa Kak Fian serius dengan ucapannya?" Medina terus berpikir hingga ia merasa kepalanya berdenyut.


"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Mungkin ada alasan lain yang membuat Fian mengatakan demikian." Daniel mencoba menenangkan istrinya.


"Sudah masuk subuh. Sebaiknya kita sholat lalu istirahat." Medina menurut. Ia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu.


Setelah keduanya melaksanakan sholat berjamaah, Daniel mengajak istrinya untuk tidur. "Kamu hampir begadang hari ini. Kamu tahu ini tidak baik untuk ibu hamil." Bujuk Daniel saat Medina menolak untuk mengistirahatkan tubuhnya.


"Aku akan bangunkan nanti." Janji Daniel agar istrinya tidak khawatir terlambat bangun. Karena semalam mereka berjanji akan bertemu dimeja makan waktu sarapan.


Medina memiringkan tubuhnya diatas ranjang. Dan dengan gerakan lembut Daniel merengkuh tubuh istrinya kedalam pelukannya. Memeluknya dari belakang seperti yang biasa dilakukan selama kehamilan besar istrinya. Tangan Daniel terus mengusap punggung, perut hingga pinggang istrinya dengan lembut hingga wanita dalam pelukannya itu memejamkan mata.


"Jika istri kakakmu berniat mengusikmu, aku tidak akan tinggal diam." Daniel bicara dalam hati. Ia yakin, banyak wanita yang akan merasa iri dengan kondisi Medina saat ini. Pewaris bisnis Sanjaya Gruop dan beberapa aset milik ibu kandung Medina.


Mengingat tentang aset-aset Sanjaya Group, membuat Daniel mengingat sesuatu. "Hampir saja aku melupakannya." Daniel tersenyum sambil menatap wajah istrinya yang teduh dalam alam mimpi.


"Aku punya kejutan untukmu saat bangun nanti." Daniel mencium puncak kepala istrinya. Lalu menyusul istrinya karena rasa kantuk yang mendera.


_


_


_

__ADS_1


_


_


__ADS_2