Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 117


__ADS_3

Hari sudah hampir menjelang malam. Daniel benar-benar tidak meninggalkan Medina, karena permintaan manja istrinya. Keduanya menghabiskan waktu bersama sepanjang hari didalam kamar.


Hal itu membuat Daniel gelisah karena rencana dirinya untuk melihat persiapan pesta dan bertemu dengan keluarga nya harus berantakan.


"Sayang....telepon dari siapa lagi?" Tanya Medina yang masih dibuat heran karena sepanjang hari suaminya sibuk menerima telepon.


"Honey...kamu tahu kantor cabang sedang bermasalah. Dan aku tidak ada disana." Kilah Daniel.


Seketika itu pula Medina terdiam. Ia merasa bersalah karena menahan suaminya dirumah, sementara perusahaan sedang membutuhkan pemimpin nya.


"Maafkan aku." Lirih Medina membuat Daniel yang sedang memeriksa ponselnya, menoleh ke arah istrinya.


"Jangan bilang begitu." Daniel mendekat dan mengusap pipi Medina.


"Sebaiknya kita mandi dan menunggu waktu sholat Maghrib." Medina tersenyum cantik.


"Baiklah...kita mandi bersama." Daniel menggendong Medina didepan dan membawanya masuk kedalam kamar mandi.


"Jangan aneh-aneh. kita akan pergi, bukan?" Gerutu Medina sepanjang perjalanan ke dalam kamar mandi.


Daniel tergelak kencang hingga suara tawanya memenuhinya kamar.


"Aku tahu." Daniel menutup pintu kamar mandi dengan salah satu kakinya.


****


Sementara itu, Rumah baru Daniel sudah penuh dengan dekorasi dan makanan yang tersaji dengan rapi diatas meja prasmanan. Pesta diadakan dihalaman belakang rumah Daniel yang cukup luas dan asri karena ditanami pohon dan rumput hijau yang menyegarkan mata.


"Jam berapa mereka datang?" Tanya Mama Safira kepada Danu.


Keluarga mama Safira sudah berada dirumah Daniel. Syifa yang dari tadi siang sangat antusias, terlihat tidak sabaran bertemu dengan mama kesayangannya.


"Kenapa mama Niel lama sekali, Nek." Gerutu Syifa yang mulai lelah menunggu Medina datang.


"Sebentar lagi sayang. Mereka dalam perjalanan. Kita bersiap-siap menyambut tamu agung." Ucap Danu menatap mamanya.


"Tamu? Siapa?" Tanya Rani yang memang belum tahu tentang keberadaan kedua orangtua Medina.


"Orangtua kandung Medina." Jawab Mama Safira yang memang sudah mengetahui kebenarannya.


"Apa? Mereka sudah bertemu? Apa Medina tahu?" Rani sangat terkejut.


"Sayang...Medina belum tahu apapun. Mereka pernah bertemu hanya saja Daniel mengenalkannya sebagai rekan bisnis yang sangat akrab."


"Benarkah?" kening Rani berkerut dalam.


"Kita cukup lihat dan bersikap ramah seperti biasanya. Dan jaga rahasia ini." Ucap Danu memelankan suaranya dan Rani mengangguk.


Tidak lama kemudian, tamu yang ditunggu datang. Pak Sanjaya, ibu Melani dan Fian datang dengan membawa hadiah masing-masing ditangan mereka.


"Selamat datang, Pak Sanjaya." Sambut Danu dengan ramah.


Ibu Melani disambut mama Safira dan Rani. Mereka berjalan ke belakang rumah untuk melihat persiapan pesta.


"Apa ada yang kurang?" Tanya Pak Sanjaya kepada Danu.


"Sejauh ini belum. Lagipula hanya tamu keluarga dan teman-teman dekat yang hadir. Tidak perlu khawatir." Danu tersenyum penuh arti.


"Baiklah." Pak Sanjaya berjalan bersama Danu dan Fian. Mereka memilih duduk di gazebo samping kolam renang.


"Desain yang sangat indah." Puji Fian disela obrolan mereka.


"Sepertinya, Medina menuruni bakat anda." Danu tersenyum penuh arti kepada Apk Sanjaya.


"Benarkah?" Wajah Pak Sanjaya berbinar..


"Hampir 80% desain rumah ini, Medina yang membuatnya." Danu memberikan minuman jus kepada Pak Sanjaya dan Fian.


"Jadi Medina tahu?"


"Daniel mengatakan ia perlu ide untuk desain rumah sahabatnya. Jadi Medina tidak curiga." Danu tertawa lebar mengingat bagaimana adiknya membujuk Medina.


"Terimakasih." Ucap Pak Sanjaya tiba-tiba.


Danu tersenyum dan paham arti dari ucapan terimakasih Pak Sanjaya.


"Medina gadis yang sangat baik. Dia akan mengerti dan mudah menerima kalian." Ucap Danu yang langsung diamini Pak Sanjaya dan Fian.


Dan saat mereka tengah asik mengobrol, Keluarga Tante Latifah datang dan suasana semakin ramai. Gio dan Raka pun ikut bergabung dengan para lelaki.


"Aku dengar, Raka akan melamar Renata. Apa itu benar?" Danu membuka obrolan.


Gio mengangguk dan Raka hanya tersenyum..


"Selamat untuk kalian. Semoga berjalan sesuai harapan." Danu menyalami Raka.


"Terimakasih, kak." Sahut Raka.


Dan saat itu ponsel Danu berdering.


"Daniel." Danu menekan ikon hijau.


"Sebentar lagi kami sampai." Daniel hanya mengatakan itu lalu menutup kembali ponsel nya.


"Mereka akan sampai. Ayo bersiap-siap." Danu dan semua orang bersiap untuk membuat kejutan.


Semua lampu penerangan disemua ruangan dipadamkan. Semua orang berada di posisi mereka masing-masing sesuai instruksi Danu.


Sementara itu, mobil Daniel berhenti tepat didepan gerbang rumah mereka.


"Kita sudah sampai." Ucap Daniel sambil membuka sabuk pengaman nya.

__ADS_1


"Sayang....kenapa gelap sekali? Kamu yakin acaranya dirumah? Atau dia memindahkan tempat acaranya tanpa memberi tahu kamu." Medina turun dari mobil dan melihat ke arah rumah yang sangat gelap tanpa penerangan.


Daniel hanya tersenyum melihat istrinya yang kebingungan.


"Sayang..." Panggil Medina karena Daniel tidak menjawab pertanyaan nya.


"Aku tidak tahu, Honey." Daniel menggandeng tangan Medina dan membuka gerbang..


"Sayang...sebaiknya kamu menghubungi sahabatmu." Medina tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya.


"Oh ya ampun...aku lupa hadiahnya. Masih didalam mobil, akan ku ambil dulu." Daniel melepas genggaman tangannya dan meninggalkan Medina yang hampir sampai didepan pintu utama.


"Kamu bisa masuk lebih dulu, Honey." Daniel mencium kening Medina dan berjalan begitu saja.


"Sayang...." Panggil Medina namun tidak dihiraukan Daniel.


Medina menghela nafasnya dengan berat. Dalam benaknya ia bertanya-tanya, apa iya Undangan makan malam harus gelap-gelapan begini.


Agak lama Medina menunggu Daniel, namun suaminya tak kunjung datang. Medina memegang kenop pintu dan mulai mendorongnya perlahan.


"Assalamualaikum, permisi." Ucap Medina dengan suara terbata.


"Permisi...." Medina semakin melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah. Ia melihat ada sinar cahaya yang berasal dari halaman belakang rumah.


Dan saat itu pula, lampu menyala dan terjadi kehebohan yang membuat Medina terkejut hingga tidak bisa berkata-kata melihat semua orang yang disayanginya berada disana.


"Happy Birthday!" Seru semua orang yang berada di ruangan itu.


"Kalian?" Medina memperhatikan wajah semua orang satu persatu.


"Selamat ulang tahun." Rani menghambur memeluk adik iparnya. Disusul Syifa dengan teriakannya yang khas.


"Mama Niel...."


"Kamu terkejut sayang?" Rani terkekeh melihat Medina menangis dengan kencang.


"i_ini?" Suara Medina terbata karena tangisnya.


"Kejutan untuk hari ulang tahunmu, Sayang." Mama Safira kini memeluk Medina membuat Medina kembali menangis.


"Selamat ulangtahun, mama Niel." Syifa memberikan hadiah yang ia siapkan sejak siang.


Medina menunduk lalu memeluk Syifa dalam tangisnya.


"Terimakasih, sayang." Medina mencium kepala Syifa.


Pak Sanjaya dan Ibu Melani tidak bisa menahan rasa haru dan bahagia mereka melihat putri semata wayangnya.


Dan saat menyadari semua orang menatap dirinya, Medina langsung menghapus airmatanya.


Semua orang memberi pelukan hangat dan ucapan selamat. Medina tersenyum kepada semua orang dan mencari sosok suaminya.


"Selamat ulang tahun untukmu, Honey" Daniel memberikan buket bunga kepada Medina dan memeluk erat tubuh istrinya dari belakang.


"Maaf jika membuatmu terkejut. Karena ini memang kejutan untukmu." Daniel mengecup bibir Medina dihadapan semua orang.


"Sayang.." Protes Medina. Ia merasa malu karena Daniel menciumnya.


"Terimakasih, Aku mencintaimu, Sayang." Medina kembali menangis dalam pelukan Daniel.


"Para tamu menunggu kuenya, honey." Mendengar ucapan suaminya Medina langsung melepas pelukannya dan tersenyum malu.


****


Malam bahagia masih terus berlanjut, semua keluarga dan kerabat kini berkumpul dan saling berbincang setelah acara pemotongan kue.


"Ibu, anda semakin cantik dengan hijab." Puji Medina menatap ibu Melani yang malam itu hadir dengan mengenakan hijab.


"Terimakasih, sayang." Manik ibu Melani tampak berkaca-kaca mendapat pujian dari putrinya.


"Terimakasih juga untuk semua hadiahnya, Bu." Medina memeluk ibu Melani yang duduk disampingnya.


Mama Safira dan yang lainnnya ikut tersenyum bahagia.


"Ini sudah larut. Sebaiknya kami pulang." pamit Tante Latifah kepada mama Safira.


"Medina...apa aku boleh mengajak mamamu?" Canda Tante Latifah.


"Jangan bawa mama pergi. Malam ini aku ingin tidur dengannya." Ucap Medina manja. Ia bergelayut dipundak mama Safira membuat Tante Latifah dan yang lainnya tertawa.


"Hei...kamu sudah punya suami. Mana bisa tidur dengan mama?" Protes Rani dengan nada bercanda.


"Ini hukuman untuknya karena sudah membohongiku." Ucap Medina tak mau kalah.


"Dan mama akan mendapat hukuman, tidak mendapat jatah bulanan dari Daniel jika mama tidur denganmu satu kamar." Canda Rani lagi membuat Medina tertawa.


"Tante terimakasih sudah datang." Medina memeluk Tante Latifah dan Renata bergantian.


"Jangan lupa Minggu depan acara pertunangan Renata dan Raka." Ucap Tante Latifah kepada mama Safira.


"Tentu saja. Mana mungkin aku melupakannya."


"Baiklah. Sampai jumpa semuanya." Tante Latifah berjalan bersama Renata menghampiri Gio dan Raka yang sudah menunggu di ruang tengah..


"Terimakasih sudah datang, kak." Ucap Medina kepada Gio yang langsung mengangguk.


"Semoga kalian selalu bahagia." Gio memeluk Daniel.


"Thanks. Bro."


Setelah keluarga Tante Latifah pulang, kini giliran Keluarga pak Sanjaya berpamitan.

__ADS_1


"Kami juga akan pulang. Ini sudah hampir larut malam. Kamu harus jaga kesehatan dan bayimu." Ucap Pak Sanjaya kepada Medina.


Medina tertegun sejenak. Kata-kata pak Sanjaya sangat menyentuh hatinya. Medina merasakan jika ada sosok seorang ayah yang memperhatikan kesehatannya.


"Terimakasih." Sahut Daniel melihat istrinya yang terdiam.


Ibu Melani menghampiri Medina dan memeluknya.


"Jaga diri dan bayimu. Sampai jumpa lagi."


"Terimakasih banyak Bu." Medina membalas pelukan ibu Melani.


Fian juga berpamitan dengan semua orang disana. Ia bisa melihat ada kesedihan diwajah kedua orangtuanya. Namun ia tidak bisa berbuat lebih.


Medina menatap Pak Sanjaya dan ibu Melani yang telah berlalu. Ada perasaan aneh yang ia kembali rasakan. Perasaan nyaman dan hangat saat berada diantara mereka. Kali ini justru lebih kuat dari sebelumnya.


"Ada apa?" Daniel memeluk Medina dari belakang dan mencium puncak kepala istrinya.


Medina mendongak dan tersenyum cantik. "Mereka sangat baik. Aku semakin nyaman diantara mereka."


Daniel tersenyum penuh arti. Inilah yang ia inginkan. Membuat kedekatan antara Medina dan orangtuanya sebelum mengatakan kebenaran.


"Kamu bahagia?" Daniel mencium ujung hidung Medina.


"Sangat. Terimakasih banyak." Medina merebahkan kepalanya dengan nyaman didada bidang Daniel.


"Ayo masuk." Daniel menggendong Medina masuk kedalam rumah.


"Masih ada mama dan yang lainnya."


"Mereka juga akan pulang, Honey." Daniel mengecup bibir istrinya dengan gemas.


"Aku ingin mereka menginap disini." Medina mengalungkan tangannya pada leher Daniel.


"Kamar tamu belum bisa ditempati."


"Lalu kita?"


"Hanya kamar tamu, istriku. Kamar kita sudah sangat siap untuk adu gulat sampai pagi." Mata Medina melotot membuat Daniel tertawa lebar.


"Turunkan....." Belum selesai Medina merengek minta diturunkan suara mama Safira langsung terdengar panik.


"Sayang...kamu kenapa?"


"Dia kelelahan dan mengantuk." Jawab Daniel cepat membuat Medina memicingkan matanya.


"Kau harus istirahat, kami akan pulang." Mama Safira memeluk Medina yang masih dalam gendongan Daniel.


"Kakak berlebihan, ma." bisik Medina ditelinga Mam Safira hingga wanita paruh baya itu tertawa.


"Bye, sayang. Kabari aku jika kamu bosan dirumah. Kita akan melakukan kesenangan ibu hamil." Rani tertawa lebar.


"Terimakasih, kak." Ucap Daniel saat Danu berpamitan.


Setelah keluarga suaminya pulang, Medina mencubit pipi Daniel dengan gemas.


"Sekarang turunkan. Semua kekacauan harus dibereskan bukan?" Medina mengedarkan pandangannya beberapa meja masih terlihat berantakan.


"Oh tidak, Honey. Saatnya mengurungmu dikamar." Daniel membawa Istrinya kedalam kamar yang sudah didekorasi oleh keluarganya.


"Tutup matamu." Perintah Daniel.


"Kenapa harus tutup mata?"


"Aku tidak tahu. Tapi ini perintah ibu Ratu." Daniel menurunkan Medina.


"Mama?"


"Oh, oke." Lanjut Medina yang langsung memejamkan matanya.


Daniel membuka pintu kamar sambil menggenggam tangan Medina.


"Sekarang buka matamu."


Perlahan Medina membuka matanya dan ia tersenyum penuh haru melihat dekorasi kamarnya yang penuh dengan balon berbentuk hati dengan perpaduan warna kesukaannya. Beberapa bingkisan kado tertata rapi diatas ranjang. Tak ketinggalan kue kesukaan Medina buatan mama Safira juga terhias cantik diatas meja.


Medina menatap suaminya dengan wajah bahagia. Ia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan yang begitu spesial.


"Terimakasih." Medina memeluk Daniel.


"Jadi rumah ini....?" Medina bahkan belum selesai dengan pertanyaan nya karena Daniel sudah membungkam bibir Medina dengan bibir nya.


"Hadiah kecil untuk ibu dari anak-anakku." Ucap Daniel setelah mereka selesai berciuman. Tangannya menyentuh perut Medina yang masih rata namun terasa kencang.


"Kita akan pindah kesini?" Medina mendongak menatap suaminya dan Daniel mengangguk.


"Rumah ini dekat dengan rumah mama dan..."


"Dan? Rumah siapa?" Tanya Medina tidak sabar.


"Rumah pak Sanjaya." Jawab Daniel menatap istrinya intens.


"Aahhhh...benarkah? Mereka juga akan tinggal di sekitar sini?" Daniel tampak tidak percaya reaksi istrinya akan sebahagia itu.


"Iya." Daniel menjawab singkat.


"Kapan-kapan kita mampir kerumahnya, ya?" Medina memberi ide. Daniel mengangguk.


_


_

__ADS_1


_


_


__ADS_2