
Daniel dan Medina duduk saling memeluk diatas sofa yang berada dibalkon kamarnya. Keduanya saling bercerita banyak hal dan kadang membuat tertawa.
Sambil mengelus perut buncit istrinya yang terus mendapat respon dari calon bayi, Daniel terus berkelakar. Mencari nama untuk calon anaknya, dan banyak hal yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan.
"Kenapa saat seorang wanita sedang hamil, dia semakin terasa nikmat?" Tanya Daniel membuat istrinya melotot. Daniel justru tertawa.
Tangan Daniel meraih ponsel yang tidak jauh dari sana. Langsung mengetikkan sesuatu yang baru saja ditanyakan.
"Wahhh...ternyata benar, Hon." Mata Daniel berbinar menatap layar ponselnya dengan senyum menyeringai.
"Apanya yang benar?" Medina yang duduk bersandar
membelakangi suaminya langsung mendongak.
"Ini." Daniel memperlihatkan sebuah artikel tentang riset yang mengatakan jika wanita hamil terasa nikmat ketika sedang bercinta.
Medina membaca artikel itu dengan wajah yang memanas menahan malu. "Disana juga dikatakan jika beberapa wanita hamil tingkat libido nya lebih meningkat dari biasanya. Persis seperti kamu." Bisik Daniel lalu membuat gigitan kecil ditelinga Medina. Membuat wanita itu langsung merasakan desiran hangat dalam tubuhnya.
"Tapi disini dikatakan juga agar tetap berhati-hati saat bercinta. Karena bisa saja membuat ibu hamil kram perut." Daniel mengambil ponselnya dan melanjutkan membaca artikel tersebut.
"Honey....apa kamu mengalaminya?" Tanya Daniel khawatir. Selama istrinya hamil ia tidak pernah mendengar Medina mengeluhkan kram perut setelah mereka bercinta.
"Tidak, Sayang. Karena kita melakukannya pelan dan aman untuk si kecil." Jawab Medina mengusap tangan suaminya.
"Ah, kamu benar. Kita selalu melakukannya dengan hati-hati dan penuh perasaan." Daniel mencium tengkuk Medina hingga meninggalkan bekas kemerahan disana.
"Sayang...geli." Medina meronta saat bibir Daniel terus memberikan kecupan bertubi-tubi.
"Sayang...kamu harus menyelesaikan masalahmu dengan kak Gio." Medina mendongak menatap suaminya.
"Iya." Jawab Daniel singkat. Wajahnya berubah seketika.
"Kamu sudah janji." Medina menegakkan tubuhnya. Mengingatkan janji suaminya saat sarapan tadi.
"Iya." Daniel membalas tatapan Medina.
"Sebaiknya kita pulang." Medina hendak berdiri namun ditahan suaminya.
Daniel melirik ponselnya lalu beralih menatap Medina kembali. " Temani aku." Ucap Daniel.
"Hah?"
"Aku akan mengirim pesan pada Gio dan meminta bertemu. Tapi kamu harus menemaniku." Pinta Daniel dan Medina langsung mengangguk menyetujui.
"Ayo." Medina menarik tangan Daniel hingga keduanya masuk kedalam kamar.
****
Rani meringis sambil memegangi perutnya yang sedang kontraksi hebat. Hari persalinan yang sudah terjadwal dengan proses Caesar lusa hari sepertinya tidak akan terjadi karena tiba-tiba perutnya mengalami kontraksi hebat dengan ditandai pecah ketuban.
"Jadi bagaimana dok? Istri saya bisa melahirkan secara normal?" Tanya Danu yang sudah berada di Rumah sakit.
"Sepertinya bisa pak. Kondisi bayi sudah beradu diposisi bagus dan dinding rahim membuka sempurna sesuai hitungan." Jawab dokter yang menangani Rani sejak kehamilan anak pertama mereka.
"Alhamdulillah." Danu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Saat ini sudah pembukaan empat. Mudah-mudahan dalam waktu enam jam kedepan bayi anda sudah lahir." Lanjut dokter.
"Silahkan temani istri anda." Dokter berpamitan dan mempersilahkan Danu menemani sang istri diruang persalinan.
"Sayang." Rani menyambut suaminya dengan senyuman.
"Semangat ya." Danu mengecup kening Rani lalu duduk disamping istrinya.
"Anak papa...kamu harus membantu bunda agar bisa melewati proses ini. Papa ingin kalian sehat dan selamat." Danu menunduk dan mengajak bayi dalam perut Rani berbicara.
Rani tersenyum sambil mengusap rambut Danu. Ketika datang kontraksi, senyuman itu berganti dengan remasan tangan pada pundak Danu.
Danu melihat tidak tega. Sesekali ia menyeka keringat yang mengalir didahi istrinya dan mengusap punggung istrinya ketika nyeri itu datang.
****
"Kalian dimana?" Tanya Mama Safira saat sambungan telepon tersambung dengan ponsel Daniel.
"Kami sedang dijalan. Ada apa, Ma?" Tanya Daniel.
"Rani dilarikan ke rumah sakit sepertinya akan melahirkan hari ini." Jawab Mama Safira diujung telepon.
"Apa? Bukankah lusa dia akan operasi? Apa sesuatu terjadi?" Berondong Daniel dengan pertanyaannya.
__ADS_1
"Dia mengalami kontraksi dan sudah pecah ketuban. Sepertinya cucu mama sudah tidak betah didalam perut bundanya." Daniel tersenyum mendengar jawaban sang mama.
"Lalu Syifa dimana?" Tanya Daniel.
"Syifa dirumah. Kami akan ke rumah sakit jika sudah mendapat kabar Rani melahirkan."
"Baiklah. Aku dan Medina akan ke rumah sakit sekarang." Ucap Daniel sebelum menutup sambungan.
"Kak Rani akan melahirkan sekarang?" Tanya Medina yang begitu terkejut dengan kabar yang disampaikan mama mertuanya.
"Iya."
"Sayang, ayo ke rumah sakit." Medina sangat antusias mendengar kakak iparnya yang akan melahirkan.
"Kamu tidak apa-apa jika harus menunggu dirumah sakit?" Tanya Daniel ragu mengajak istrinya ke Rumah sakit.
"Tidak apa-apa." Senyum Medina menggambarkan jika istrinya bahagia.
"Eh...tunggu. Tapi bagaimana dengan janji bertemu dengan kak Gio?" Daniel tampak berpikir lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku lalu memberikan kepada Medina.
"Kirimkan pesan kepada Gio, jika aku membatalkan pertemuan karena harus menemani kak Danu di Rumah Sakit." Pinta Daniel dan Medina mengangguk.
****
Daniel dan Medina telah sampai di rumah sakit setelah duapuluh menit perjalanan. Mereka langsung ke ruang Persalinan tempat Rani dirawat setelah bertanya perawat dibagian informasi.
"Kalian disini?" Danu melihat kedua adiknya setelah bertemu dokter.
"Kak, bagaimana kak Rani?" Medina langsung bertanya kakak Iparnya.
"Alhamdulillah sudah pembukaan empat. Doakan yang terbaik ya." Jawab Danu dengan senyuman.
"Kami akan disini menemanimu. Jadi jika butuh apapun, katakan padaku." Ucap Daniel kepada sang kakak.
"Terimakasih." Danu kembali masuk kedalam untuk menemani istrinya. Sementara Daniel dan Medina menunggu diruang tunggu.
Ruang persalinan tiba-tiba heboh beberapa perawat terlihat mondar mandir keluar masuk. "Ada apa, Suster?" Medina berjalan mendekati perawat yang membawa peralatan..
"Kepala bayi sudah keluar, padahal belum pembukaan lengkap." Jawab perawat itu. Lalu buru-buru kembali masuk kedalam ruang persalinan.
"Masyaa Allah." Gumam Medina seraya memanjatkan doa untuk kakak ipar dan calon bayinya.
Dan setelah berjuang dengan dibantu dokter, akhirnya lahirlah seorang bayi berjenis laki-laki. Suara tangis sang bayi memenuhi ruang bersalin. Rasa bahagia dan haru bercampur jadi satu menjadi kelegaan yang terucap dengan kata syukur.
"Terimakasih, Sayang." Danu mencium kening istrinya mesra. Menyampaikan ungkapan bahagia yang sulit dijelaskan Dengan kata-kata.
"Apa bayiku sehat?" Tanya Rani lemah.
"Dia sehat dan tampan." Jawab Danu lalu mencium pipi istrinya.
"Dia laki-laki?" Tanya Rani terkejut. Karena sepanjang pemeriksaan saat kehamilannya, dokter mengatakan jenis kelamin calon bayi mereka adalah perempuan. Namun kuasa Tuhan bekerja, anak yang dilahirkan Rani berjenis laki-laki.
"Iya. Adik Syifa jagoan." Danu tersenyum tampan.
"Alhamdulillah." Ucap Rani. Tenaganya yang terkuras habis membuatnya merasakan tubuhnya sangat lemas.
"Sementara saya akan membereskan sang ibu, anda bisa ke ruangan sebelah untuk mengadzani putra kalian." Dokter tersenyum kepada pasangan itu bergantian.
"Baiklah. Sayang....aku tinggal dulu." Danu mencium kening Rani sebelum meninggalkannya untuk mengadzani putra mereka.
****
Daniel melihat seorang perawat yang keluar dari ruangan Rani. "Apa bayinya sudah lahir?" Tanya Daniel.
"Sudah, Pak. Bayinya laki-laki dan sehat, begitu juga dengan ibunya." Jawab sang perawat.
"Kak Rani melahirkan bayi laki-laki?" Medina terkejut dengan penjelasan perawat. Karena menurut hasil pemeriksaan saat hamil, kakaknya dinyatakan mengandung anak perempuan oleh dokter yang memeriksa.
"Iya." Jawab Perawat itu dengan senyum ramah.
"Alhamdulillah. Terimakasih suster." Perawat itu meninggalkan Daniel dan Medina yang langsung berpelukan setelah mendengar kabar keponakan mereka telah lahir.
"Aku akan mengabari mama." Daniel mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sang mama.
****
Semua keluarga sudah berkumpul dikamar VVIP rumah sakit tempat Rani dirawat. Syifa yang memang menginginkan adik laki-laki sangat bahagia dan terus berada disamping adiknya. Bahkan saat adiknya menyusu, Syifa tidak beranjak dari samping bundanya.
"Aku tidak menyangka jika akan melahirkan anak laki-laki. Karena beberapa hasil USG, dokter mengatakan jika aku mengandung bayi perempuan." Celetuk Rani dengan wajah bahagia.
__ADS_1
"Itulah kuasa Allah. Tidak ada yang bisa melawan kehendakNya." Ucap Mama Safira.
"Semua anak itu anugerah. Laki-laki atau perempuan sama saja. Tugas dan tanggung jawab orangtua tetap sama." Lanjut mama Safira dan semua anak menantunya mengangguk mengiyakan.
"Tapi semua baju adik bayi warnanya pink." Cicit Syifa membuat semua orang tertawa. Menyadari semua perlengkapan yang disiapkan kedua orangtuanya bernuansa anak perempuan.
"Memangnya kenapa jika adik bayi memakai warna pink?" Tanya Danu menggoda.
"Itu hanya untuk anak perempuan, Papa." Jawab Syifa sambil memainkan tangan adiknya.
"Lalu bagaimana nanti?" Rani yang baru menyadari jika persiapan untuk bayi mereka identik dengan anak perempuan.
"Jika kakak mau, pakai saja dulu perlengkapan yang kami siapkan untuk anak kami. Sampai kalian siap dengan perlengkapan baru untuknya." Sela Daniel yang tengah menggendong keponakan barunya.
"Iya kak. Lagipula persalinanku masih beberapa Minggu lagi. Kita masih bisa mencari perlengkapan lagi." Medina menimpali menyetujui ide suaminya.
"Baiklah, terima kasih." Ucap Danu. Karena ia tidak mungkin mencari semua perlengkapan untuk anaknya dalam waktu sekejap.
Dan saat semakin malam, semua orang kini kembali kerumah kecuali Danu yang masih menemani istrinya dirumah sakit.
Syifa yang sempat tidak mau pulang akhirnya menurut saat Medina yang merayunya dengan mengatakan Syifa bisa kembali ke rumah sakit besok pagi.
"Sus, tolong jaga Syifa ya." Pinta Medina setelah menidurkan Syifa dikamarnya. Medina menutup pintu dengan sangat pelan takut jika menimbulkan suara dan Syifa terbangun.
"Baik, Non." Suster mengangguk.
Medina keluar dari rumah Danu dan hendak masuk kekamar mama Safira. Namun mengurungkan niatnya karena ia yakin jika mamanya pasti sudah tidur.
Medina melanjutkan langkahnya menuju kamarnya yang berada didekat taman. Kamar tamu yang akhirnya diubah menjadi kamar pribadi Daniel saat usia kandungan Medina membesar. Terlalu beresiko jika kamar mereka masih dilantai dua dengan kondisi Medina yang hamil besar.
Medina membuka pintu kamar dan melihat suaminya sedang menelepon seseorang. Daniel melihat istrinya dan memberi kode agar Medina mendekat.
Medina membuka kerudung dan berganti baju lalu menghampiri suaminya yang masih sibuk dengan teleponnya.
"Siapa?" Tanya Medina tanpa suara. Hanya Ejaan di bibirnya, namun Daniel paham. Daniel merentangkan tangan memberi isyarat agar istrinya masuk kedalam pelukannya.
"Ayah." Jawab Daniel pun sama seperti Medina.
"Aku akan menunggu kalian disini. Sampai bertemu nanti." Ucap Daniel dengan terus menatap istrinya.
"Akan aku sampaikan." Daniel tersenyum lalu menutup ponselnya.
"Ayah menelepon di jam begini? Seharusnya dia sudah istirahat." Medina melirik jam dinding yang berada dikamarnya.
"Dia bilang merindukanmu." Jawab Daniel.
"Tapi dia mengabaikan kesehatannya." Gerutu Medina.
"Jika aku tidak menerima panggilan telepon darinya, aku juga salah." Daniel membelai pipi Medina.
"Apa yang kalian bicarakan?" Medina penasaran. Karena ia yakin jika suami dan ayahnya sudah mengobrol lama hingga dirinya masuk kedalam kamar.
"Rahasia para pria." Goda Daniel membuat bibir istrinya cemberut.
"Begitu, ya? Baiklah. Lebih baik aku tidur sekarang." Medina berdiri dan berjalan menuju ranjang. Ia tidak benar-benar marah hanya saja ia tidak suka jika suami dan ayahnya mulai menyembunyikan sesuatu darinya.
"Honey...apa kamu marah?" Daniel mendekati istrinya dan ikut berbaring disisi Medina.
"Tidak." Medina memeluk guling membelakangi Daniel.
"Hei...ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Kami hanya membicarakan pekerjaan." Jelas Daniel namun tidak digubris Medina.
"Aku tidak bodoh. Mana ada membicarakan pekerjaan selarut ini. Dan...ayah masih belum boleh bekerja kan? Mana bisa membicarakan hal pekerjaan? jika itu...bukan sesuatu yang penting." Omelnya dibalik selimut. Ia yakin ada sesuatu yang penting
Daniel gemas mendengarkan omelan istrinya. Ia tertawa tak bersuara. Kantuk yang mendera membuatnya tidak lagi menanggapi istrinya. Daniel merebahkan tubuhnya lalu menarik istrinya kedalam dekapannya. Daniel tersenyum karena tidak ada penolakan dari istrinya. Karena Medina sudah terlelap jatuh kedalam alam mimpinya.
"Selamat malam, istriku. Semoga mimpi indah." Kecupan di kepala Medina menjadi akhir dari ucapan selamat selamat malam untuk istrinya.
_
_
_
_
_
Selamat menyambut Tahun Baru 2022
__ADS_1
Semoga Tahun depan semua hajat dan cita-cita tercapai. Aamiin 🙏🏻