Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 154


__ADS_3

Mood ibu hamil yang jungkir balik membuat Daniel lebih tenang menghadapi istrinya. Ia memahami sikap dan perilaku istrinya lebih dominan dipeengaruhi oleh tingkat hormon pada ibu hamil di trimester ketiga.


Kini mereka tengah dalam perjalanan pulang kerumah setelah debat panjang yang membuat tenaga Daniel terkuras karena harus mengikuti kemauan sang ibu hamil.


"Ingat dokter bilang apa? Jangan sering marah karena itu berdampak pada tensi darah kamu nanti. Dan itu tidak baik, Hon." Ucap Daniel sambil mengusap kepala istrinya penuh cinta.


Yang diajak bicara hanya diam tidak bergeming. Suasana hati nya masih diliputi rasa kesal karena sang suami selalu tidak mau terbuka hal apapun padanya. Tiba-tiba begini, tiba-tiba begitu tanpa Medina tahu. Sebagai seorang istri, ia ingin terlibat dalam hal apapun yang berkaitan dengan suami dan keluarganya. Karena waktu yang telah berlalu tidak akan kembali. Dan ia ingin mengukir moment dalam kebersamaan.


Bagi Medina, meski tidak bisa berbuat banyak namun setidaknya ia tahu semua yang dilakukan suaminya. Alih-alih ingin membuat istrinya nyaman justru malah membuat suasana hatinya menjadi kesal.


Medina masih tidak ada niat untuk menjawab semua yang dikatakan suaminya. Bahkan saat mobil yang mereka naiki telah masuk kedalam halaman rumah.


"Silahkan saja berbuat semau kakak. Aku akan diam dan tidak akan bertanya." Medina membuka sabuk pengaman dan keluar begitu saja dari mobil.


"Honey..." Panggil Daniel karena khawatir dengan istrinya yang berjalan tergesa-gesa.


Sampai ia berada didepan pintu utama, Medina baru berhenti karena nafasnya yang terengah-engah. Berjalan cepat ternyata menguras tenaganya. Hingga membuatnya harus berhenti untuk mengambil nafas.


Daniel menatap punggung Medina sambil tersenyum. Gemas dengan tingkah kekanakan yang ditunjukkan istrinya.


"Dia pikir aku akan luluh dengan senyuman mautnya?" Medina melengos saat mendapat senyuman tampan suaminya. Tangannya sudah meraih handle pintu dan siap mendorong pintu. Dan saat ia membuka pintu, ia dikejutkan dengan kejutan yang ada dihadapannya.


Medina menutup mulutnya dengan mata berair. Semua orang yang dirindukannya berada didalam rumahnya.


"Kalian?" Medina tidak bisa berkata-kata. Langsung menghambur memeluk sang ibu yang sudah merentangkan kedua tangannya. Menyambutnya dengan kerinduan yang memuncak.


"Ibu...aku merindukanmu." Tangisnya pecah dalam pelukan sang ibu.


"Benar yang dikatakan suamimu, kamu semakin cengeng." Ibu Melani mengeratkan pelukannya saat suara tangis Medina terdengar tersedu.


"Jadi_kalian_bersengkokol lagi?" Suara Medina terbata karena tangisnya.


"Ini kejutan, sayang." Ayah Sanjaya memeluk dua wanita berharga dalam hidupnya.


"Aku harus memberi hadiah kepada Daniel." Goda Fian membuat Medina semakin menangis.


"Maaf..." Fian mengusap kepala Medina.


Semua orang bergantian memeluk Medina yang masih syok karena kejutan yang didapatnya. Sembari tertawa mereka menggoda Medina yang masih belum berhenti menangis.


"Kalian juga?" Medina semakin kesal saat melihat Arif dan Karin berada dirumahnya.


Daniel meraih tubuh istrinya kedalam pelukannya. Meski istrinya meronta, namun Daniel tidak melepaskan istrinya.


"Jika mereka memberitahu, bukan kejutan lagi namanya." Bisik Daniel dan Medina tetap tidak terima.


"Ayolah....jangan habiskan airnatamu untuk mereka. Karena ada satu hal lagi yang harus kamu lihat nanti." Medina refleks mendongak lalu mengusap air matanya.


"Tidak perlu menunjukkan apapun." Medina mengabaikan suaminya.


"Dan...Aku tidak mau tidur dengan kakak malam ini." Satu tangannya memukul dada Daniel dengan sekuat tenaga yang ia punya membuat Daniel meringis. Kemudian berlalu meninggalkan Daniel.


"Apa? Honey...." Daniel hendak protes namun istrinya lebih dulu menjauh. Melihat itu, Daniel frustasi karena ancaman istrinya terdengar tidak main-main.


"Ini salah kalian, kenapa datang tiba-tiba begitu?" Daniel menyalahkan dua orang yang kini saling melempar tatapan tidak percaya.


"Kenapa kita disalahkan, bos?" Arif tidak terima disalahkan. Begitu juga dengan Karin yang mengangguk setuju dengan protes rekan kerjanya.


"Harusnya kalian jangan__Ah, sudahlah."

__ADS_1


Semua orang disana menertawakan Daniel yang langsung panik dan mengejar istrinya. Tidak mempedulikan orang-orang disana yang memanggil dan menggodanya..


****


Acara makan malam berlangsung dengan hangat. Diselingi candaan serta obrolan panas yang ditujukan untuk pengantin baru. Fian dan Donita.


Selesai makan malam dan mengobrol santai, satu persatu keluarga meninggalkan rumah Medina. Pengantin baru dan besan kembali ke hotel sementara ibu Melani dan ayah Sanjaya pulang ke rumah mereka yang tidak jauh dari rumah Medina. Danu dan keluarga kecilnya memilih untuk pulang karena besok pagi Syifa masih harus sekolah. Hanya mama Safira yang tinggal karena mertua Medina itu sudaha berjanji akan menginap.


"Honey..." Daniel terus merengek saat Medina akan masuk kedalam kamar mama Safira setelah mengantar pulang semua orang tanpa mempedulikannya..


"Ma...." Tatapan Daniel memelas. Namun tidak digubris oleh sang mama. Beliau malah membela sang menantu kesayangan yang saat ini masih mode perang dengan sang suami.


"Ma...istriku tidak akan bisa tidur tanpa pelukanku." Narsis sang anak membuat Mama Safira tidak bisa menahan tawanya.


"Biasanya dia akan tidur nyenyak jika aku mengusap perut dan pinggangnya."


"Mama akan melakukannya menggantikanmu." Sahut mama Safira enteng.


"Mama tega sekali dengan anak sendiri." Protes Daniel masih berusaha agar istrinya tidak tidur dengan sang mama.


"Apa bukan sebaliknya?" Sindir sang mama dan Daniel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Dia sedang hamil besar, bagaimana jika sesuatu terjadi dengan kehamilannya?" Daniel terdiam. Sejujurnya ia membenarkan ucapan sang mama.


"Ma...mama tahu kan? jika aku melakukan semuanya untuk menyenangkan istriku?__Tolong bujuk dia." Mama Safira menggeleng.


"Kamu membangunkan harimau betina yang sedang tidur." Bisik sang mama membuat Daniel tersenyum getir.


"Biarkan kekesalannya mereda. Jangan mengganggunya." Pinta sang mama.


"Honey...kamu tega aku tidur sendiri hanya memeluk guling?" Teriaknya dengan keras karena usaha mmbujuk sang mama tidak berhasil


Sementara Medina yang sudah berada didalam kamar terkekeh mendengar suaminya yang terus berteriak merengek kepada sang mama.


"Sudah...sudah...mama lelah mendengarkanmu terus berteriak. Kamu tidak malu dengan para asisten rumah tangga yang mendengarkanmu?" Omel mama Safira. Beliau berdiri dan hendak melangkah menuju kamarnya.


"Ma...aku tidak akan bisa tidur tanpa istriku." Daniel tidak lelah merengek.


"Itu derita suami yang suka membuat istri kesal." Mama terbahak-bahak sambil berlalu kekamar. Meninggalkan Daniel yang terus memanggil nama istrinya.


"Ma...apa kakak masih diluar?" Tanya Medina saat melihat mertuanya masuk kedalam kamar.


"Biarkan dia merengek sampai pagi." Keduanya tertawa lebar membayangkan Daniel.


"Tapi rasanya aku tidak tega." Medina menatap pintu.


"Aku istri durkaha." lirihnya lemah.


"Lalu kamu ingin keluar dan membuatnya menang?" Mama Safira mengingatkan menantu kesayangannya.


Medina bergeming, maniknya masih menatap sendu pintu kamar yang tertutup rapat. "Keluarlah dan katakan pada suamimu jika kamu merindukannya." Pancing mama Safira karena mulai gemas dengan sikap plin plan menantunya.


"Sayang...mama sangat mengantuk. Ayo tidur." Mama Safira membuka selimut dan merebahkan tubuhnya dibawah selimut. Medina dengan terpaksa ikut merebahkan tubuhnya meskipun pikiran dan hatinya masih terus memikirkan suaminya.


Sementara itu dikamar lainnya Daniel terlihat gelisah diatas tempat tidurnya. Terbiasa memeluk dan mencumbu istri dan calon bayi mereka yang masih didalam perut Medina membuatnya seolah hilang separuh jiwanya. Padahal baru hitungan jam, namun Daniel sangat merindukan istrinya.


"Padahal aku ingin membuatnya bahagia dengan memberi semua kejutan ini. Tapi kenapa justru jadi seperti ini?" Gumam Daniel dibawah selimutnya.


Hingga pukul satu dinihari Daniel masih belum bisa memejamkan matanya. Tubuhnya terus bergerak berguling ke kanan dan kekiri. Mencari posisi tidur yang membuatnya bisa memejamkan mata., namun nihil.

__ADS_1


"Istriku tidak akan selama ini jika sedang marah. Pasti mereka semua sudah mempengaruhi istriku." Daniel turun dari ranjang dengan menggerutu tidak jelas. Mengayunkan kakinya keluar kamar dengan tujuan yang tidak jelas.


"Apa aku tidur disofa saja?" Daniel menatap pintu kamar sang mama yang berada persis disebelah kamarnya. Dan pintu kamar yang berhadapan dengan ruang keluarga membuatnya memiliki ide untuk tidur diruang keluarga. Setidaknya saat istrinya keluar, Daniel berharap Medina melihatnya dan merasa bersalah karena sudah mengabaikannya.


"Ide bagus!" Daniel tersenyum penuh kemenangan dan kembali masuk kedalam kamar untuk mengambil bantal dan selimut.


Lain halnya dengan Medina yang merasakan jika tidurnya terus terganggu karena bayi yang terus bergerak didalam perut. Tidak seperti biasanya. Hingga membuatnya memaksakan diri untuk terjaga.


"Sayang...kamu pasti merindukan pelukan Papa." Medina mengusap perutnya perlahan.


"Mama juga merindukannya. Tapi papa membuat mama kesal." Medina seolah memberi pengertian kepada calon bayinya. Jika sikapnya mempunyai alasan.


"Tapi besok kita akan tidur bersama papa lagi." Medina tersenyum membayangkan dirinya berada didalam pelukan suaminya.


Dan ketika gerakan si jabang bayi mulai bergerak normal, Medina baru berhenti berbicara. Hingga ia merasakan haus dan melihat isi Tumbler diatas meja dekat ranjang nya kosong.


"Mama haus karena banyak bicara. Kamu juga pasti haus, kan?" Medina tersenyum lalu turun perlahan dari tempat tidurnya agar tidak membangunkan mama Safira.


"Sayang...." Manik Medina membulat saat membuka pintu kamar dan melihat sosok suaminya tidur diatas sofa.


Medina langsung mendekati sofa dan melihat suaminya yang terlelap dengan selimut membungkus tubuhnya. Air mata Medina langsung berderai melihat pemandangan dihadapannya. Merasa bersalah karena sudah mengabaikan suaminya akibat rasa kesal yang menguasai hatinya.


"Sayang...ma_maafkan aku." Medina menekuk lutut didekat sofa sambil sesegukan. Membuat Daniel langsung membuka matanya karena mendengar suara istrinya ditelinganya.


"Honey...kamu sedang apa?" Daniel terkejut dan langsung menghambur memeluk tubuh Medina yang bergetar karena menangis.


"Ma_af." Berkali-kali Medina mengucap kata maaf kepada suaminya.


"Ssssttt...aku yang minta maaf." Daniel menenangkan istrinya.


Medina mulai tenang setelah hampir satu jam ia menangis dipelukan Daniel. Mereka masih berpelukan di sofa hingga seoarang asisten rumah tangga masuk kedalam rumah dan terkejut melihat majikannya menangis.


"Ya Allah..Nona kenapa Tuan? Apa sudah mau melahirkan?" Tanya bibi dengan wajah panik.


"Belum, bi Nur. Tadi istri saya hanya merasakan kontraksi palsu." Bi Nur lega mendengar penjelasan majikannya.Meskipun yang dikatakan Daniel sebuah kebohongan.


"Bibi buatkan susu hangat ya, Non?" Medina menggeleng pelan. dengan tawaran bi Nur.


"Tolong ambilkan air putih saja, Bi." Pinta Medina kepada bi Nur. Dan bibi langsung masuk kedapur dan kembali dengan yang diminta majikannya.


"Sebaiknya kita ke kamar." Daniel membawa istrinya masuk kedalam kamar setelah menyuruh Bi Nur kembali ke kamarnya.


"Maaf." Lirih Medina saat tubuhnya telah terbaring ditempat tidur. Daniel dengan mesra mengusap dan menciumi wajah hingga perut istrinya.


"Sudah. Istirahatlah." Daniel pun ikut masuk kedalam selimut dan memeluk istrinya dari belakang seperti biasa.


Kelegaan dan rasa nyaman menyelimuti kedua insan dalam peraduan. Jemari mereka saling terpaut erat seolah takut berpisah.


Sebelum keduanya terlelap, Medina berjanji tidak akan mengulangi sikapnya yang kekanakan. Ia akan berusaha mengontrol emosi karena hormon yang meningkat saat hamil tua seperti sekarang.


Daniel pun sama. Berjanji tidak akan membuat kesal istrinya. Karena tidak hanya menerima resiko dari istrinya saja, tapi juga dari sang mama yang selalu membela menantunya.


_


_


_


_

__ADS_1


_


_


__ADS_2