Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 145


__ADS_3

Daniel dan mama Safira telah sampai di bandara kota B tempat tinggal pak Sanjaya. Mereka dijemput oleh Fian secara langsung. Bahkan Fian menyetir sendiri tanpa supir.


"Selamat sore dan selamat datang." Sapa Fian dengan senyuman terbaiknya. Menyambut dengan hangat kedua Tamu kehormatan dipintu utama kedatangan pesawat domestik.


"Silahkan, Tante." Fian membuka pintu mobil untuk Mama Safira.


"Terima kasih Nak Fian" Jawab Mama Safira. Lalu beliau masuk kedalam mobil.


"Terima kasih, Bro." Daniel menyusul sang mama masuk kedalam mobil. Ia duduk disamping Fian yang hari ini rela menjadi supir karena permintaan adik kesayangannya.


"Apa Medina baik-baik saja?" Tanya Daniel saat mobil sudah melaju kencang menuju kediaman pak Sanjaya.


"Dia merengek meminta ikut menjemput kalian." Fian terkekeh mengingat Medina yang merengek kepada Ayah dan Ibu nya untuk ikut bersama Fian menjemput suami dan mertuanya.


"Dia akan begitu jika berurusan dengan ibu Ratunya." Ucap Daniel sambil melirik ke belakang.


"Ahh...benarkah?" Satu hal lagi yang membuat Fian semakin menyayangi adiknya. Medina akan selalu lebih perhatian kepada orangtua.


"Bicara apa kau ini.?" Mama Safira terlihat tidak nyaman dengan ucapan Daniel. Karena kini keadaan Medina telah berubah. Ia bukan hanya putrinya, tapi juga putri dari kedua orangtua kandungnya, pak Sanjaya dan Ibu Melani.


"Dia perhatian dengan semua anggota keluarga." Timpal mama Safira.


"Dia sangat ceweret dari yang aku duga." Fian tertawa terbahak-bahak.


Daniel mendengus, tidak suka jika istrinya dijuluki cerewet meskipun oleh kakaknya sendiri.


"Dan...dia banyak mengatur menu makan kami." Fian kembali tergelak.


Mama Safira yang sudah paham dengan sifat Medina hanya ikut tersenyum. "Dia memang seperti itu."


Sepanjang perjalanan menuju rumah, ketiganya tenggelam dalam obrolan hangat. Hingga mobil memasuki halaman rumah mewah berlantai dua.


"Selamat datang dirumah kami." Fian keluar dari mobil dan diikuti oleh Daniel dan mama Safira.


"Mamaaaaa....." Suara yang sangat Daniel kenal memenuhi pendengarannya.


Daniel melihat Medina berjalan cepat dari teras rumah ke arahnya dengan terburu-buru.


"Honey....pelan-pelan!" Bentak Daniel tanpa ia sadari. Ia terlalu khawatir dengan tingkah istrinya yang tiba-tiba berjalan dengan berlari tanpa memikirkan kondisinya yang sudah hamil besar.


"Maaf, sayang....Aku sangat merindukan mama." Medina tidak mendengarkan suaminya. Ia terus berjalan melewati suaminya dan memeluk mama Safira.


"Kamu tidak merindukan suamimu?" Gumam Daniel namun masih terdengar jelas oleh telinga Medina. Medina terkekeh sambil melewati Daniel. Membuat Daniel semakin gemas dan rasanya ingin mengurung istrinya.


"Apa kabar mama?" Medina memeluk mama Safira dengan erat. Medina sangat merindukan mama mertuanya karena seminggu ini mereka berpisah jarak. Meskipun mereka sering bertukar suara dan panggilan video namun tetap saja berbeda bagi Medina.


"Sayang...biarkan mama dan suamimu masuk lebih dulu." Suara merdu ibu Melani membuat Medina dan Mama Safira tertawa dan mengurai pelukannya.


"Maaf, aku terlalu senang." Medina kembali tertawa.


Ibu Melani menghampiri mama Safira yang tertawa karena tingkah menantu kesayangannya.


"Selamat datang." Sambut pak Sanjaya dengan senyum ramah. Daniel menghampiri dan menyalami ibu Melani dan pak Sanjaya.


"Apa kabar?" Kedua wanita paruh baya itu saling menautkan pipi.


"Sayang....apa kabar?" Medina mendekati suaminya yang berdiri disamping pak Sanjaya.


Saat Medina ingin memeluk tubuh suaminya, tubuh kekar Fian langsung menghalangi dan tentu saja pelukan Medina kini mendarat tepat ditubuh sang kakak.

__ADS_1


Daniel yang sudah merentangkan tangan, terkejut dengan ulah kakak iparnya. "Honey....kenapa malah memeluk dia?" Dengus Daniel tidak suka. Ia sudah sangat merindukan pelukan istrinya.


Fian yang sengaja menggoda suami adiknya hanya menahan senyum. Dan sebelum suami adiknya membalas dendam, Fian langsung bergeser kebelaknag tubuh pak Sanjaya dengan tawanya yang lebar.


"Oh sayang...." Medina melepas tubuh sang kakak dan beralih memeluk suaminya dengan tawa semua orang yang berada disana Medina mengendus aroma maskulin yang selalu membuatnya nyaman.


"Aku merindukanmu." Daniel yang sangat merindukan istrinya juga melakukan hal yang dengan Medina. mengendus aroma parfum khas istrinya dalam-dalam.


"Aku juga." Medina mengadah melihat wajah tampan suaminya dan Daniel langsung mengambil kesempatan itu untuk mengecup bibir Medina yang tampak menggodanya sejak tadi.


"Hei...!" Pekik Medina terkejut. Ia langsung menoleh ke arah keluarganya yang ternyata melihat kelakuan keduanya.


"Mereka melihat kita." Medina yang merasa malu memukul dada bidang Daniel.


"Biarkan saja." ucap Daniel cuek membuat semua orang hanya bisa menggelengkan kepala.


****


Setelah makan siang kedua keluarga kini berkumpul dihalaman belakang rumah. Halaman yang dipenuhi pohon buah dan tanaman hias membuat suasana rumah menjadi sejuk dan segar meskipun sinar matahari sudah terasa panas.


Para ibu dan Medina duduk bertiga sementara Daniel berkumpul dengan Pak Sanjaya dan Fian yang pastinya membincangkan soal kerja sama mereka.


"Insya Allah cucu kita laki-laki, jeng." Ibu Melani terlihat sangat bahagia menceritakan semua hal tentang Medina.


"Aamiin...mudah-mudahan mereka sehat." sahut mama Safira yang juga bahagia.


"Iya betul, yang penting cucu kita lahir dengan selamat dan sehat kedua-duanya." Ibu Melani mengangguk dengan senyuman bahagia yang selalu terpancar dari wajahnya.


Medina yang mendengarkan itu hanya tersenyum penuh haru. Kini ia memiliki dua ibu yang baik dan penuh kasih sayang. Ia sangat bersyukur, impiannya menjadi nyata.


Ketiganya asyik membicarakan tentang persiapan acara besok dan tentu saja proses kelahiran cucu mereka. Kedua ibu saling memberi pengalaman mereka saat hamil dan melahirkan, dan itu menambah pengetahuan bagi Medina sebagai mama muda yang masih minim pengalaman.


****


Selesai makan malam, Medina mengantar mama Safira ke kamarnya. Sebenarnya, Medina sangat ingin menemani sang mama dengan tidur satu kamar. Namu mengingat jika ada suami yang lebih diutamakan, membuat Medina mengurungkan niatnya.


Semua orang kembali ke kamar masing-masing. Termasuk Daniel dan Medina. Medina sedang menunggui suaminya yang sedang berada dikamar mandi sambil menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.


"Aku merindukanmu dan anak kita." Medina yang tidak tahu jika suaminya sudah keluar dari kamar mandi, terlonjak kaget saat tubuhnya direngkuh dari belakang. Aroma maskulin yang selalu ia rindukan kini memenuhi rongga hidungnya hingga hasratnya mulai terpancing. Apalagi saat ini tangan dan bibir Daniel mulai menjelajah tubuh Medina.


"Sayang...." Medina membalik tubuhnya dan mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya.


Daniel tersenyum dan langsung melahap bibir Medina dengan lembut. Ciuman yang berbalas membuat keduanya saling memagut hingga terdengar suara indah dari ciuman. ******* dan lenguhan Medina menjadi penambah suhu panas yang mulai membakar hasrat mereka.


Daniel menuntun tubuh Medina tanpa melepaskan pagutannya. Hingga tubuh yang padat berisi itu sudah berada diatas ranjang. Keduanya saling melepas ciuman dan saling memandang penuh damba.


"Kamu semakin cantik dan sexy." Bisik Daniel dengan nada sensual. Seperti api yang tersiram bahan bakar, tubuh Medina semakin memanas.


Medina menggigit bibir bawahnya saat Daniel mulai membuka kancing piyama hingga atasan piyama Medina terbuka dan terpampang jelas buah kembar yang semakin padat dan montok.


Daniel menelan ludahnya susah payah. Melihat dada Medina semakin padat dari terakhir ia melihat dan menyentuhnya seminggu yang lalu.


Kedua insan yang saling merindu kini melebur jadi satu. Kehamilan yang mulai membesar tidak menyurutkan gairah Medina. Justru hasratnya semakin melambung tinggi karena faktor hormon kehamilan.


Kedua tubuh tanpa pakaian terus bergelut dengan alunan indah yang keluar dari bibir keduanya. Semakin menciptakan suasana erotis dan romantis. Peluh yang membanjiri tubuh menjadi penanda panas nya olahraga malam mereka. Bahkan dinginnya pendingin ruangan tidak memberi efek apapun.


Semua gaya bercinta mereka lakukan. Tentu saja gaya bercinta yang aman untuk ibu hamil. Daniel sudah banyak mencari tahu di internet dan buku yang ia beli. Sehingga percintaan yang mereka lakukan membuat Istrinya nyaman dan aman. Dan pastinya memuaskan.


Daniel menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya setelah selesai ritual malam mereka yang panas. Daniel menciumi wajah Medina bertubi-tubi hingga Medina terkekeh geli.

__ADS_1


"Ayo bersihkan diri." Ajak Daniel yang sudah bangun dan memakai celana pendek.


"Apa?" Medina beringsut dan bersandar di sandaran ranjang. Menggelung rambutnya yang berantakan dengan asal hingga leher jenjang yang penuh kissmark terpampang jelas.


"Apa kamu tidak lelah?" Daniel duduk dipinggir ranjang disamping istrinya.


"Sekarang masih lelah. Tapi...." Medina menutupi wajahnya dengan selimut. Malu melanjutkan perkataannya.


"Tapi apa?" Goda Daniel sengaja. Ia tahu jika istrinya masih ingin bercinta. Begitu juga dengan dirinya.


Daniel menarik selimut yang menutupi wajah istrinya. Selimut yang telah merosot membuat Medina memalingkan wajahnya yang sudah memerah. Lagi-lagi ia malu mengakui.


"Aku juga masih ingin bercinta. Tapi aku takut tidak bisa melepasmu hingga pagi dan aku tidak ingin istriku kelelahan karena besok acaranya cukup padat." Bisik Daniel sambil menatap mata istrinya.


"Kamu benar, sayang." Medina tertawa karena melupakan acara syukuran kehamilannya besok.


"Kamu lupa?" Tanya Daniel.


"Karena efek nikmat bercinta, aku hampir saja lupa." Medina terbahak.


"Sssttt...." Daniel menutup mulut istrinya dan ikut tertawa namun tanpa suara. Takut jika suaranya sampai keluar kamar.


"Ayo." Daniel menggendong tubuh Medina menuju kamar mandi.


"Biarkan aku jalan sendiri. Aku sudah sangat berat, nanti pinggang kakak encok." cicit Medina sepanjang perjalanan ke kamar mandi.


Namun Daniel terus saja menggendongnya hingga mereka keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri.


"Seprei nya harus diganti dulu." Ucap Medina.


"Aku tahu. Beritahu aku dimana seprei dan selimut barunya " Daniel menurunkan Medina di sofa lalu berjalan menuju lemari.


"Disini?" Daniel mengikuti petunjuk Medina.


Daniel selesai mengganti seprei dan selimut. Lalu membawa Medina ke ranjang.


"Terima kasih , sayang." Medina mencium pipi Daniel.


"Aku tidak suka ucapan terima kasih." Daniel mengedipkan mata.


"Ya...ya...aku akan membayarnya nanti." Medina menahan suara tawanya.


"Tidurlah." Mereka sudah berbaring di ranjang dengan posisi saling berhadapan.


"Aku mau dipeluk dari belakang." Pinta Medina sambil membalikkan badannya memunggungi Daniel.


Daniel langsung memeluk Medina dari belakang. Menempelkan bibirnya pada tengkuk istrinya yang harum. Tangan Daniel mengusap perut buncit Medina hingga wanita itu merasa nyaman dan langsung terlelap.


"I love you." Bisik Daniel sebelum akhirnya menyusul Medina ke alam mimpi.


_


_


_


_


_

__ADS_1


Kebiasaan baik yaaaaa


__ADS_2