Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 106


__ADS_3

"Mungkin kami terlihat memaksakan diri untuk bisa dekat dengan Medina. Tapi ketahuilah...untuk pertama kalinya, selama 24 tahun ini, aku melihat wajah istriku sangat berbeda. Dia terlihat sangat bahagia" Mata pak Sanjaya tampak menerawang jauh ke masa lalu.


"Saya mengerti Pak, dan maaf....untuk saat ini saya hanya bisa melakukan hal ini untuk kalian" Daniel tersenyum menatap pak Sanjaya.


"Aku justru berterimakasih padamu, jika orang lain berada diposisimu mungkin saja suami putri kami akan menolak kami sebelum kami bertemu"


"Jujur saja...saat pertama kali saya mengetahui kebenaran ini saya sangat emosi. Bagaimana mungkin ada orangtua yang tega menyerahkan putrinya yang masih merah kepada orang lain tanpa memikirkan masa depan bayi itu" Daniel menatap mata pak Sanjaya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Bahkan setelah mengetahui dirinya anak yang dibuang, setiap malam dia selalu memikirkan itu dan merutuki nasib dirinya sendiri. Merasa dirinya tidak dicintai karena puluhan tahun orang tua kandungnya tidak pernah mencarinya" lanjut Daniel.


"Bahkan saya pernah berjanji padanya, jika suatu hari saya menemukan orangtua kandungnya, saya akan membuat perhitungan dengan mereka karena sudah menelantarkan wanita secantik dirinya" Pak Sanjaya menoleh dan keduanya saling tatap dan terdiam sejenak.


"Tapi...belakang saya berpikir. Saya harus berterimakasih kepada kalian. Karena melalui jalan inilah saya akhirnya menemukan kebahagiaan dan cinta sesungguhnya" Daniel terkekeh sambil mengusap wajahnya.


"Dia datang saat hati dan kehidupan saya hampir tidak ada semangat dan tujuan. Terlebih Saat mama saya juga sakit. Tapi Medina datang seperti malaikat tak bersayap yang menyembuhkan rasa sakit dan luka di hati keluarga kami. Dia menyayangi mama dan merawat nya dengan penuh cinta. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk menyerahkan hati dan perasaan ini kepada Medina" Ucap Daniel panjang lebar.


Pada kesempatan pagi itu, Daniel menceritakan semua kisah cintanya dengan Medina dari awal hingga saat ini.


"Kalian sangat beruntung" Mata pak Sanjaya nampak berkaca-kaca.


Ia menyadari kesalahannya di masa lalu sehingga hari ini ia merasakan penyesalan yang teramat mendalam.


"Medina adalah gadis yang sangat baik. Perlahan dia akan menerima kenyataan ini dengan mudah dan saya akan membantu semampu saya" Ucap Daniel.


"Aku mendengar tentang adik dari orang yang merawat Medina. Dia membuat hidup putriku menderita. Kenapa kamu melepaskannya?" Tanya Pak Sanjaya. Ia telah mengetahui semua tindakan Daniel kepada keluarga Pakde Radiman dari anak buahnya.


"Awalnya saya benar-benar tidak ingin memberikan kesempatan kepada mereka. Tapi lagi-lagi kebaikan hati Medina membuat saya tidak bisa berkutik. Itulah mengapa saya melepaskan mereka" Jelas Daniel.


"Termasuk kehidupan mereka sekarang?" tanya pak Sanjaya.


"Putri anda merengek dan mengancam tidak akan memberi jatah seumur hidup jika saya menelantarkan mereka" Ucap Daniel tertawa lebar.


"Hei...apa putriku benar-benar mengancammu dengan itu, anak muda?" Pak Sanjaya menatap tajam Daniel.


Daniel yang mendapat tatapan tajam pak Sanjaya langsung tergelak tawa.


"Keluarga pakde Radiman tidak bisa diberi celah sedikitpun. Mereka bisa memanfaatkan kebaikan Medina. Dengan sedikit ancaman mereka hampir tidak berani macam-macam. Bahkan untuk sekedar menelepon Medina" Daniel nampak tidak terkejut pak Sanjaya mengetahui tentang pakde Radiman. Karena ia sudah tahu, kuasa pak Sanjaya.


"Jika nanti putriku tidak menerimaku, setidaknya aku tenang bisa meninggalkan dia dengan pria sebaik dirimu" Puji Pak Sanjaya.


"Jangan pesimis, Medina akan memaafkan kalian" Daniel tersenyum penuh arti.


"Permisi, pak. Ibu sudah menunggu untuk sarapan" Ucap seorang pegawai hotel yang diperintahkan ibu Melani.


"Sebaiknya kita mengisi energi sebelum menerima kenyataan" Canda Daniel membuat Pak Sanjaya tertawa spontan.


"Ayo" Pak Sanjaya beranjak dari duduknya diikuti Daniel. Keduanya berjalan berdampingan dan kembali mengobrol sepanjang jalan dengan akrab.


****


Setelah sarapan dan mengobrol sebentar, Medina dan Daniel kini kembali ke kamar mereka.


"Bagaimana dengan mobilnya, Honey? Aku harus membawanya kemana?" Daniel memainkan kedua alisnya menggoda Medina.


"Hhhmmm..." Medina memainkan telunjuknya berpikir hal apa yang akan ia lakukan kepada mobilnya.


"Boleh aku menjualnya?" Daniel membulatkan matanya tidak percaya dengan pertanyaan istrinya.


"Hei....kamu tidak berniat menjualnya kan?" Daniel balik bertanya.


Dan seketika Medina tertawa dengan kencang.


"Mungkin suatu hari nanti aku akan menjualnya...Harga mobil itu sangat fantastis bisa untuk membeli ruko dan memulai usaha" Medina tersenyum menggoda.


"Suamimu masih sanggup untuk membiayai keinginan mu. Akan aku lakukan apapun" Daniel memeluk tubuh Medina.


"Oh ya?" Medina mendongak hingga keduanya saling menatap.


"Kamu ingin bisnis apa?" Daniel mencium hidung Medina dengan gemas.


"Yang jelas bisnis makanan. Tapi aku belum tahu jenis makanan seperti apa" Tangan Medina memainkan rambut Daniel.


"Lagipula aku harus mencari lokasi yang bagus terlebih dahulu untuk memulai usaha, bukan?" Medina tersenyum cantik.


"Istri pintar" Daneil mengecup bibir Medina.


"Kakak akan ke kantor?" Tanya Medina.


"Iya...Hari ini ada rapat" Jawab Daniel.


"Baiklah...aku akan menghubungi mang Jaka agar menjemputku" Ucap Medina.


"Aku tidak mengijinkan mu pulang" Bisik Daniel.


"Lalu?"

__ADS_1


"Kamu akan ikut aku ke kantor" Daniel mengeratkan pelukannya dan mulai menciumi leher Medina.


"Apa?"


"Kenapa? Kamu tidak mau menemani suamimu yang tampan ini bekerja?" Tanya Daniel narsis. Ia sangat senang menggoda istrinya.


"Aku tidak ingin berada jauh darimu, Honey" Daniel ******* bibir merah jambu Medina.


Medina membalas ciuman Daniel. Keduanya saling memagut bibir dan bertukar saliva dengan lembut hingga keduanya melepas ciuman ketika hampir kehabisan oksigen.


"Bibirmu, semakin manis" Daniel menyeka bibir Medina dengan jari jempolnya.


"Sayang...hadiah apa yang sekiranya cocok untuk membalas ibu Melani?" Tanya Medina setelah melepas ciumannya.


"Kamu ingin memberi apa?" Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Daniel justru bertanya karena ia ingin tahu ide istrinya.


"Aku tidak tahu selera mereka seperti apa, makanya aku bertanya" Medina mengerucutkan bibirnya.


"Tidak perlu jika merasa bingung"


"Tapi aku tidak enak hati. Mereka sangat baik" Ucap Medina pelan.


"Baiklah..karena istriku bertanya padaku maka aku akan memberi saran" Daniel duduk dipinggir ranjang dan menarik pinggang Medina agar duduk di pangkuannya.


"Kamu bisa menjadikan mereka keluarga barumu" Ucap Daniel dengan sangat hati-hati. Maniknya menatap dalam wajah istrinya. Menunggu reaksi Medina.


"Maksudnya?" Medina masih bingung dengan saran suaminya.


"Yaa...kamu bisa lebih dekat dengan mereka bukan karena mereka rekan bisnis ku. Tapi anggap mereka keluarga" Jelas Daniel tanpa mengalihkan pandangannya.


Medina tampak diam dan berfikir untuk mencerna ucapan Daniel barusan.


"Kenapa?" Tanya Daniel.


Medina mengeleng pelan. Dalam benaknya ia sedang berpikir apa iya mereka hanya ingin dibalas Sepeti itu?


"Mereka menganggap ku sebagai anak, maka kamu pun pasti sudah dianggap begitu oleh mereka" Daniel merangkai kata-katanya. Ia hanya ingin memberi kesempatan Medina dan keluarga pak Sanjaya lebih dekat sebelum Medina mengetahui kebenarannya.


"Kamu tidak perlu melakukan apapun. Mulai saat ini dan seterusnya kamu hanya perlu mengakrabkan diri dengan mereka. Karena kita akan sering bertemu untuk urusan bisnis. Dan mereka pasti akan memintaku untuk mengajakmu" Daniel terus mencoba memberi penjelasan meski sebuah kebohongan. Namun ia lakukan agar tidak membuat istrinya bingung dan menimbulkan kecurigaan.


"Bagaimana?" Daniel menaikkan alisnya.


"Baiklah...tapi aku ingin memberi mereka sesuatu. Apa boleh?" Tanya Medina dengan manja membuat Daniel gemas dan mengusuk-usuk hidungnya pada hidung Medina.


"Apa ibu Melani akan tersinggung jika aku memberinya gamis dan hijab?" Medina sedikit ragu namun ia harus meminta saran suaminya.


"Entahlah...rasanya sangat tidak nyaman melihat wanita seusia ibu Melani belum menutup auratnya secara sempurna" Ucap Medina.


"Honey...tapi hal itu harus berasal dari hati mereka sendiri. Bukan ikut-ikutan trend atau tekanan orang lain" Daniel mencoba mencari cara untuk membuat istrinya paham.


"Tapi...." Medina menatap dalam manik suaminya. Ada rasa kecewa dihati Medina.


"Kamu bisa memberikan hadiah souvenir bulan madu kita kepada mereka" Tangan Daniel mengusap pipi Medina. Ia tahu jika Medina kecewa dengan keputusan nya.


"Baiklah..." Medina menunduk kepalanya membuat Daniel merasa bersalah.


"My love....ayolah jangan pasang wajah seperti itu. Kamu seperti sedang memberi hukuman tidak langsung padaku" Daniel menangkup wajah Medina dengan kedua tangannya.


"Mungkin setelah kalian sudah cukup akrab, kamu bisa memberikan hadiah itu kepada ibu Melani" Ucap Daniel akhirnya.


"Kamu benar sayang" Medina mencium tangan Daniel yang berada dipipinya.


Keduanya tersenyum lalu mulai mengemasi barang-barang mereka dan keluar dari kamar hotel untuk berpamitan kepada pak Sanjaya dan Ibu Melani.


"Kalian sudah akan pulang?" Tanya ibu Melani saat membuka pintu kamarnya dan melihat Daniel dan Medina sudah bersiap.


Pak Sanjaya pun datang menghampiri mereka dan melihat wajah sendu istrinya.


"Iya" Jawab Daniel singkat.


"Kami akan mengantar kalian sampai lobby" Suara Ibu Melani terdengar berat.


Daniel dan Medina saling pandang kemudian berjalan mendahului pak Sanjaya dan ibu Melani.


"Jangan bersedih, kita bisa mengunjungi mereka lain waktu" Pak Sanjaya tahu jika istrinya tidak rela berpisah dengan Medina.


"Rasanya aku tidak sabar menunggu waktu saat dia memanggil kita Ayah dan Ibu" Ibu Melani memeluk tubuh pak Sanjaya.


"Kita akan mendapatkan itu" Pak Sanjaya mengelus punggung ibu Melani memberikan rasa tenang pada istrinya.


Mereka berdua menyusul Daniel dan Medina yang telah jauh berjalan didepan mereka. Hingga sampai dilobby keempatnya saling berpelukan bergantian.


"Jika ada waktu ajak Medina berkunjung kerumah kami" Ucap Pak Sanjaya yang sedang memeluk Daniel.


Daniel mengangguk dan tersenyum ramah.

__ADS_1


"Jika jadwalku kosong, aku akan mengajaknya kesana"


"Ibu akan sangat merindukanmu" Lirih Ibu Melani.


"Kita bisa melakukan videocall setiap hari" Sahut Medina dengan kekehan kecilnya membuat ibu Melani semakin terharu.


"Ibu akan menunggu dan berharap suami-suami kita tidak akan terganggu" ucap ibu Melani.


Dan saat hendak masuk kedalam mobil, Pak Sanjaya memanggil Daniel.


"Daniel..."


Daniel membalikkan badan dan menatap pak Sanjaya.


Pak Sanjaya mendekat dan membisikkan sesuatu.


"Tolong jaga putriku"


Daniel tersenyum dan mengangguk lalu melambaikan tangannya kepada pak Sanjaya dan Ibu Melani. Begitu juga dengan Medina.


Daniel menginjak pedal gas mobilnya dan meninggalkan hotel bersama dua orang yang saat ini sedang menahan rasa sedihnya.


"Mas...kita lupa memberitahu Daniel jika satu Minggu lagi Medina berulang tahun" Ibu Melani menarik rangan suaminya saat hendak kembali masuk kedalam hotel.


"Ya Tuhan...kamu benar. Padahal aku mengobrol lama dengan Daniel tadi. Baiklah...akan kukirim pesan padanya" Pak Sanjaya mengambil ponsel dari sakunya dan segera mengirim pesan kepada Daniel.


"Aku ingin sekali membuat pesta mewah untuknya, dan mengundang beberapa rekan bisnisku" Ucap Pak Sanjaya setelah mengirim pesan kepada Daniel.


"Jangan...Medina belum tahu tentang kita. Kita akan tanyakan kepada Daniel nanti rencana apa yang ia siapkan untuk Medina" Ibu Melani emnggandeng tangan suaminya kembali ke kamar mereka.


Sementara itu didalam mobil, Daniel membuka ponselnya sambil terus memperhatikan jalanan didepannya. hingga mengundang peringatan dari Medina.


"Sayang...kamu sedang menyetir" Medina mengingatkan suaminya.


Daniel hanya tersenyum setelah melihat pesan yang baru dibacanya. Sebenarnya ia sudah tahu jika satu minggu lagi adalah hari ulang tahun istrinya dan Daniel sudah menyiapkan kejutan istimewa kepada Medina.


"Sayang..." Panggil Medina saat Daniel masih memegang kemudi dan ponselnya bersamaan.


"Oke...oke...aku sudah selesai honey" Daniel menyimpan ponselnya diatas dashboard dan menoleh ke arah Medina.


"Kenap senyum-senyum sendiri?" Tanya Medina penasaran melihat wajah suaminya yang nampak tersenyum.


"Tidak ada...."Jawab Daniel tanpa menoleh.


"Tidak ada apa-apa kok senyum-senyum sendiri? Pesan dari seorang wanita ya?" Medina memicingkan matanya menatap Daniel.


Mendengar pertanyaan istrinya, seketika Daniel menoleh dan tertawa.


"Kamu pikir aku sedang membalas chat seorang wanita?" Tanya Daniel dan Medina mengangguk mengiyakan.


Daniel kembali tertawa membuat Medina mendaratkan satu pukulan tidak bertenaga kepundak Daniel.


"Wanita yang aku cintai dan sayangi hanya dua saja dan mungkin akan bertambah". Medina yang sudah memalingkan wajahnya kini menoleh dan menatap suaminya dengan tatapan tajamnya.


"Apa?" Wajah Medina langsung berubah karena cemburu mendengar ucapan suaminya.


Dan pada saat Daniel akan berkata lagi, ponselnya berdering. Daniel langsung mengambilnya dan menggeser icon hijau.


"Halo, Rif"


".........."


"Lima menit lagi aku sampai. Aku akan langsung ke ruang rapat. siapkan semuanya"


"........."


"Oke. Terimakasih" Daniel mematikan ponselnya dan menyimpannya ke dalam saku kemeja.


Daniel melirik Medina yang masih dalam mode cemburu. Daniel hanya bisa tersenyum hingga mobil yang dikendarai mereka berhenti didepan kantor Daniel.


Meski sedang kesal, Medina harus bisa menempatkan diri. Ia tersenyum cantik seperti tidak terjadi apa-apa dan menyapa satpam yang membukakan pintu mobil untuknya.


"Terimakasih, pak" Ucap Medina ramah.


Daniel yang sudah turun lebih dulu menunggu istrinya disisi mobil. Dan langsung menggandeng tangan Medina saat keduanya berhadapan.


Daniel terus menahan senyumnya dan sesekali melirik istrinya karena ia tahu Medina masih merasa kesal, namun Medina berusaha untuk bersikap mesra dan ramah ketika bertemu dengan karyawan kantor Daniel.


_


_


_TBC


_

__ADS_1


_


__ADS_2