Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 36


__ADS_3

Mama Safira menatap Medina yang masih terpejam.


"Sayang.." Tangannya mengulur menyentuh rambut Medina yang tanpa memakai hijabnya.


Sementara Syifa sudah berada diatas ranjang dan duduk disisi Medina sambil menggenggam tangan Medina.


"Mama Niel..." Panggil Syifa pelan.


Syifa menuruti ucapan neneknya untuk tidak berisik dan mengganggu Mama Niel nya.


Merasakan ada sentuhan, Medina pelan-pelan membuka matanya. Dan dia sangat terkejut ketika melihat orang yang sangat dirindukannya berada disampingnya.


"Kalian disini???" Medina langsung bangun dan memeluk mama Safira.


"Medina kangen mama..kangen kalian semua" Ucap Medina dengan terisak.


"Mama Niel...ifa juga kangeeeeeen sama mama Niel" Ucap Syifa yang ikut memeluk Medina dari belakang.


Medina melepaskan pelukan dari mama Safira dan beralih memeluk Syifa.


"Uummm..sayangkuuu..Mama Niel kangen banget sama kamu" Medina menarik Syifa ke atas pangkuannya dan menciuminya gemas.


Syifa tertawa senang karena akhirnya ia bisa bertemu dengan mama Niel nya. Ia terus bergelayut manja dengan Medina.


Medina segera meraih hijabnya yang ia letakkan dimeja dekat ranjang dan mengenakannya. Ia khawatir jika tiba-tiba Danu atau Arif masuk ke dalam kamarnya dan melihatnya tidak memakai hijab. Dan lagi..Medina ingin menutupi bekas kissmark buatan Daniel dilehernya.


"Apa kak Danu dan Kak Rani ikut?" Tanya Medina.


Mama Safira mengangguk.


"Mereka diluar. Sayang...Daniel bilang kamu sakit" Wajah mama Safira kini terlihat khawatir. Karena wajah Medina masih nampak sedikit pucat.


Medina tersenyum.


"kakak berlebihan ma. Medina cuma kram perut karena sedang datang bulan" Jelas Medina.


Mama Safira terlihat sedikit terkejut. Karena sempat berpikir Medina sakit karena kelelahan melayani Daniel dimalam pertama mereka setelah menjadi suami istri.


"Jadi kalian masih belum buka segel?" Medina membulatkan matanya tidak percaya ucapan sang mama mertua. Medina tersenyum malu dan menggeleng. Ia memalingkan wajahnya dengan rona merah dipipi.


Mama Safira terkekeh sendiri dengan jalan pikirannya.


"Mama kenapa ketawa?" Medina Bingung dengan tingkah mama mertuanya.


"Tidak ada. Mama bahagia melihat kalian akhirnya bersama"


"Doakan kami terus ya ma" Pinta Medina dengan wajah bahagianya.


***


"Kamu sudah mempersiapkan semuanya?" Tanya Danu mengawali obrolan mereka.

__ADS_1


Daniel mengangguk.


Danu menautkan alisnya mendengar helaan nafas kasar yang keluar dari mulut adiknya.


"Ada apa?"


"Tadi pagi, orang suruhan ku memberi kabar jika Pakdenya Medina dibawa ke kantor polisi karena masalah hutang-hutangnya"


"Apa Medina tahu?" Daniel menggeleng.


"kondisinya lemah karena ia terus terjaga dari semalam merasakan sakit diperutnya, aku tidak tega memberitahunya" Ucap Daniel sendu.


"Bawa dia ke dokter"


"Medina tidak mau. Dia bilang, semua perempuan menstruasi akan merasakan hal itu" Daniel menyandarkan kepalanya disandaran sofa.


Tidak lama Rani datang dengan membawa nampan berisi 3 cangkir teh, kue dan cemilan yang ia bawa dari rumahnya dan meletakkannya dimeja.


"Itu biasa terjadi dengan perempuan, Niel. Jangan cemas berlebihan" Timpal Rani setelah duduk disamping Danu.


"Tapi dia sangat terlihat kesakitan sampai wajahnya pucat. Bagaimana aku ga khawatir, bun. Apa sesakit itu??" Daniel benar-benar ingin tahu secara langsung dari kakak iparnya itu.


"Kalian para suami tidak akan pernah bisa membayangkan sesakit apa rasanya. Bahkan ada yang sampai jungkir balik menahan sakit" Jawab Rani lirih. Ia mengingat dirinya dulu juga sering merasakan sakit saat menstruasi sebelum ia mengandung dan melahirkan Syifa.


Daniel membulatkan matanya tidak percaya.


"serius bun??" Rani mengangguk. Lalu menatap wajah suaminya yang sedang mengunyah cemilan.


Arif keluar dari ruang kerja dengan menenteng tas berisi berkas-berkas kantor yang sudah ditandatangani Daniel.


"Bos...gw pamit balik ke kantor ya" Daniel mengangguk.


"Hei...sebentar lagi waktu makan siang. Kita akan makan siang bersama" Danu mencegah Arif kembali ke kantor.


"Ga usah kak..saya bisa makan siang di kantin kantor nanti" jawab Arif cepat.


Tatapan Daniel terlihat seperti seekor elang yang siap menerkam mangsa. Tajam dan menakutkan.


"Rif, jika adikku tidak memberi gaji yang pantas untukmu..aku siap menerimamu dikantorku" Ucap Danu datar.


Arif tersenyum lebar. Ia melirik Daniel yang terlihat kesal dengan ucapan kakaknya.


"akan saya pertimbangkan kak.." sahut Arif kemudian melirik kembali bosnya yang juga sahabat karibnya.


"Salam buat Tante dan Medina ya bos" Ucap Arif sebelum benar-benar meninggalkan apartemen Daniel.


"Halo...pengantin. Ya ampun,,, apa semalam pengantin pria membuatmu begadang dan kelelahan? Lihatlah wajah pengantin wanita ini mama...ck..ck..ck" Rani bangkit dari duduknya dan langsung menyapa Medina yang baru keluar dari kamar.


Daniel menoleh.


Danu dan Mama Safira terkekeh geli. Membuat rona wajh Medina berubah merah seketika.

__ADS_1


"Kak Rani...jangan meneledekku. Medina malu ada mama dan Kak Danu" Wajah Medina menunduk malu.


Medina menyalami Danu.


"Wajah kamu masih pucat. Kamu benar-benar begadang" Ledek Danu.


Medina tersipu dan tidak menjawab. Memang benar, dirinya begadang karena merasakan sakit diperutnya. Bukan begadang karena aktifitas lain.


Daniel menarik tangan Medina untuk duduk disampingnya. Diikuti Syifa yang terus menempel dengannya.


"Honey...apa sudah enakan?" Tangan Daniel membelai kepala Medina yang dibalut hijab instan warna soft pink.


Medina mengangguk pelan.


"Ma...maaf Medina tidak tahu jika kalian akan datang. Jadi Medina tidak menyiapkan apapun" Ucap Medina saat dirinya melihat sajian cemilan yang tertata dimeja. Ia tahu jika semu makanan itu pasti mama mertuanya yang membawa.


"Tidak papa sayang...Mama juga membawa bekal makan siang untuk kalian. Bi Inang sengaja menyiapkan masakan kesukaan kalian" Ucap Mama.


"Terimakasih ma.." ucap Medina.


"Daniel pikir, karena besok kita pergi. Jadi sengaja belum belanja dan menyiapkan bahan-bahan makanan" Kilah Daniel.


"Mama Niel..kenapa bobo disini? Kenapa ga bobo dirumah nenek lagi?" Pertanyaan polos Syifa sontak membuat semuanya tertawa.


"Karena mama Niel akan tinggal disini sayang...." Jawab Rani.


Syifa menoleh bundanya sekilas dan Seketika itu pula tangis Syifa pecah. Ia memeluk tubuh Medina erat seolah tidak rela.


"Sayang..." Medina mengelus punggung Syifa.


Daniel yang melihat itu semakin ingin menjahili keponakan kesayangan nya.


"Mama Niel udah ga mau tinggal dirumah nenek. Karena Syifa suka manja sama mama Niel dan ga mau nurut"


Bukannya malah diam..tangisan Syifa semakin keras dan menjadi-jadi.


Syifa melonggarkan pelukannya, dan mendongak menatap Medina.


"I-fa janji ma...ga..a-kan...man-ja...la-gi" Ucapnya dengan terbata.


Medina yang tak tega mendengar itu pun ikut menitikkan air mata.


"Syifa anak yang baik dan pintar. Harus nurut sama Papa sama bunda juga nenek ya" Medina menngelus punggung Syifa dengan lembut.


"Iya mama.." Jawab Syifa dan kembali mengeratkan pelukannya.


Semua melihat adegan itu sangat senang sekaligus haru dengan sikap Medina yang keibuan. Sejak kehadiran Medina, Syifa memang sangat dekat dengannya. Padahal untuk Syifa sendiri, ia termasuk anak yang tidak mudah dekat dengan orang asing yang baru ditemui. Namun berbeda dengan Medina yang langsung mencuri hati Syifa dan keluarga Daniel.


Daniel menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Medina dan Syifa. Kemudian memeluk keduanya setelah mendaratkan 2 kecupan dikepala istri dan keponakan kesayangannya.


"I love you, Honey" Bisik Daniel ditelinga Medina.

__ADS_1


__ADS_2