Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 73


__ADS_3

Waktu beranjak semakin gelap dengan angin yang berhembus dingin. Namun tidak dengan suasana kamar villa yang terus menghangat bahkan semakin panas.


"Aaaaakkkhhhh...." Daniel mengerang panjang saat mencapai puncak kenikmatannya.


Tubuhnya dipenuhi peluh akibat gairah panas yang memacu tubuhnya. Bibir kenyalnya tak berhenti mengecupi wajah gadis dibawahnya.


"Terimakasih, Honey. I love you" Daniel mencium bibir istrinya dengan lembut.


Secara perlahan Daniel menarik miliknya yang masih berada didalam milik Medina.


Medina membungkam mulutnya dengan satu telapak tangannya saat milik Daniel berhasil keluar. Ia merasakan lubang miliknya semakin melebar dan rasanya menjadi tidak karuan. Bagaimana tidak? Mereka bergulat panas sejak sore hari tadi, dan hanya beristirahat makan lalu mandi untuk melaksanakan sholat. Dan mereka kembali melakukan gulat panas mereka diberbagai tempat dan gaya. Daniel benar-benar tidak melepaskan istrinya walau sebentar.


Medina masih mengatur nafasnya saat tangan kekar Daniel merengkuhnya kedalam dekapannya.


"Sayang...kamu benar-benar membuatku tidak akan bisa berjalan" Medina merasakan tubuhnya yang lemas karena kelelahan.


"Kamu menyesal?" Tanya Daniel menggoda.


"Aku mau ke kamar mandi" Medina menjauhkan tubuhnya. Ia tidak mau menjawab pertanyaan konyol suaminya. Karena ia sudah tahu jika itu pertanyaan menjebak.


Daniel tersenyum dan membantu wanitanya ke kamar mandi dengan menggendongnya.


"Jangan mandi, ini sudah hampir tengah malam" Ucap Daniel setelah mendudukkan Medina di atas closet.


Daniel berjalan ke arah lemari dan mengambil handuk untuk dirinya dan Medina.


Mereka membersihkan diri secara bersamaan tanpa adu gulat di kamar mandi. Karena mereka sudah melakukan itu tadi.


Setelah selesai Daniel membalut tubuh istrinya dengan handuk setelah ia lebih dulu memakai handuk.


Daniel kembali menggendong Medina keluar dari kamar mandi dan mendudukkannya ditepi ranjang.


Daniel berjalan ke arah lemari pakaian dan mengambil pakaiannya. Setelah dirinya memakai pakaian yang hanya kaos oblong dan celana pendek, Daniel mengambil lingerie untuk Medina.


"Kenapa pakai ini lagi?" Protes Medina. Ia khawatir jika Daniel akan meminta jatah gulat lagi nanti karena melihatnya memakai pakaian seksi itu.


"Baju kamu hanya ini, Honey" Jawab Daniel dengan menahan senyum.


"Aku pinjam baju kakak saja, kalo begitu" Ucap Medina dengan polosnya.


Daniel yang sedari tadi menahan tawanya pun langsung tergelak kencang.


"Hahahhaha...Ya ampun. Bayi besarku sangat lucu dan menggemaskan" Daniel mencubit hidung kecil Medina karena gemas. Hingga Medina meringis.


"Kita hanya pergi tidur, Honey. Tidak apa-apa jika pakai lingerie" Tukas Daniel dengan tatapan lembut.


Dan pada akhirnya Medina menurut dan memakai lingerie seksi berwarna putih itu.


"Tidurlah...aku akan mengambil air minum didapur" Daniel mencium kening Medina.


Medina merebahkan tubuhnya yang sudah sangat lelah dan terasa remuk. Rasa kantuknya yang luar biasa membuatnya langsung terlelap dengan mudah. Bahkan ia lupa menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Daniel tersenyum saat ia kembali masuk ke dalam kamar dan mendapati istrinya tengah tertidur meringkuk seperti seorang bayi.


"Kamu pasti sangat lelah. Selamat tidur sayang" Daniel mencium kening dan bibir Medina. Kemudian menarik selimut untuk menutupi mereka.


****

__ADS_1


Pukul 2 malam, Medina tampak gelisah dalam tidurnya. Ia merasakan perutnya yang terasa sakit dan melilit.


"Ya Allah...perutku sakit sekali" Gumamnya pelan.


Setelah beberapa kali mencoba memejamkan matanya untuk menetralisir rasa sakit dibagian perutnya akhirnya Medina bangun karena merasa ranjangnya basah.


Medina melepaskan dirinya dari dekapan suaminya dan saat menyibakkan selimut alangkah terkejutnya ada darah dibawahnya cukup banyak.


Tak ingin membuat gaduh dan membangunkan suaminya, Medina turun dari ranjang dengan sangat pelan. Dan segera berlari ke kamar mandi.


"Ya ampun...bagaimana ini? Aku datang bulan tapi tidak membawa pembalut" Lirihnya.


Daniel merasakan dekapannya kosong. Dan langsung membuka matanya.


Daniel mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan kamar dengan pencahayaan yang temaram.


"Honey...." Panggil Daniel


Daniel menyalakan lampu utama. Dan Ia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya diatas ranjang istrinya.


"Darah...??" Daniel langsung melompat dari atas ranjang dan berlari menuju kamar mandi.


Tanpa mengetuk, Daniel langsung membuka pintu dan menyerobot masuk ke dalam kamar mandi yang memang tidak terkunci.


Daniel mendapati Medina yang sedang duduk diatas kloset dengan sebagian baju tidurnya yang terkena noda darah.


"Sayang...." Daniel berjongkok dihadapan istrinya.


"Aku datang bulan" Lirih Medina.


"Tapi aku tidak membawa pembalut. Aku tidak menyangka jika akan dapat lebih cepat dari biasanya. Bagaimana ini?" Wajah Medina terlihat bingung dengan kondisinya saat ini.


"Benarkah?" Tanya Medina penuh harap.


Daniel dan mencium kening Medina sebelum beranjak keluar mencari pembalut didalam mobilnya.


Setelah beberapa saat, Daniel kembali masuk ke kamar mandi.


"Tadaaaaa..." Daniel menyerahkan bungkusan pembalut dan baju ganti kepada istrinya.


"Alhamdulillah... terimakasih, Sayang" Wajah Medina tersenyum berbinar menerima bungkusan itu dan meminta suaminya keluar.


"Hei...darimana piyama ini?" Tanya Medina heran mendapat piyama panjang miliknya.


"Cepat ganti dan pakai bajumu, Honey. Aku tunggu disini" Ucap Daniel.


Tanpa menghiraukan keberadaan suaminya Medina memakai pembalut dan mengganti pakaiannya.


"Bagaimana dengan seprai nya?" Tanya Medina saat Daniel hendak menggendongnya keluar kamar mandi.


"Turunkan aku. Aku akan membersihkan ranjangnya terlebih dahulu" Pinta Medina namun tidak dihiraukan oleh Daniel.


"Sayang..." Medina menatap suaminya.


"Kita pindah ke kamar lain" Daniel terus berjalan menuju kamar lain yang berada disamping dapur.


"Selalu saja seperti itu" Gerutunya Medina. Ia tidak bisa membantah lagi. Selain karena tubuhnya yang sudah lelah dan mengantuk, ia juga merasa percuma berdebat dengan Daniel.

__ADS_1


Daniel masuk kedalam kamar lain dan membaringkan tubuh Medina.


"Tidurlah...ini masih dini hari" Medina mengangguk pelan dan langsung menarik selimut. Sementara Daniel menutup pintu kamar dan kembali ke ranjang untuk menyusul istrinya yang sudah terlelap.


****


Pagi-pagi sekali Medina sudah bangun dari tidurnya. Sebenarnya ia tidak benar-benar pulas karena selalu kepikiran ranjang dikamar sebelah yang penuh dengan noda darahnya.


Setelah mengganti pembalut dan mencuci muka, Medina berjalan menuju kamar yang sebelumnya ia tempati. Namun saat pintu terbuka ia terkejut karena sudah ada sepasang suami istri yang sedang membersihkan kamar. Mereka adalah mang Eno dan istrinya bi Entin.


"Ehh??"


Mendengar suara, keduanya menoleh.


"Maaf, Nona. semalam Tuan Daniel meminta kami membersihkan kamar ini" Ucap Mang Eno sopan.


"I_itu tidak perlu, pak..Bu. Saya bisa membersihkannya sendiri" Ucap Medina dengan perasaan malu. Karena Bi Entin sudah menggulung seprai yang terkena noda.


"Tidak perlu sungkan, Non. Semuanya sudah menjadi tanggung jawab kami" Kali ini Bi Entin bersuara.


"Ehh...tidak bisa begitu bi. Saya yang seharusnya membersihkan ini. Rasanya tidak sopan jika kalian yang membersihkan nya" Medina benar-benar merasa tidak enak hati kepada kedua suami istri ini.


Medina mengambil sselimut dan seprai yang ada ditangan bi Entin.


"Maaf bi..."


"Ada apa, Honey?" Tiba-tiba Daniel muncul.


"Sayang...Sudah aku bilang, biar aku yang membereskan dan membersihkan ini semua. Tapi kamu malah menyuruh mereka" Medina menghampiri Daniel yang baru saja masuk kedalam kamar.


Daniel memeluk Medina dan menatapnya lekat.


"Honey...aku sangat lapar. Aku ingin makan masakan buatanmu" Bisiknya ditelinga Medina.


Medina menghela nafasnya, ia tahu suaminya tidak ingin membahas tentang dirinya yang ingin membereskan kamarnya sendiri.


Daniel menarik tangan istrinya menuju dapur villa. Di meja dapur sudah nampak sayuran dan buah-buahan segar yang sepertinya baru dipetik dari kebun. Matanya langsung berbinar senang.


"Sayang...mau sarapan apa?" Tawar Medina sembari membuka kulkas. Maniknya memindai isi kulkas yang cukup terisi. Sepertinya Bi Entin sudah menyiapkan semuanya.


"Apa saja..." Jawab Daniel yang sudah duduk di kursi pantry sambil menatap istrinya.


Medina mengeluarkan susu murni dan menuangnya ke dalam wadah. Ia akan membuat pancake dan salad buah.


Daniel terus memperhatikan wanitanya dengan intens. Mengulas senyum manis saat mengingat moment panas mereka kemarin.


Setelah beberapa saat, Medina menghidangkan sajia yang dibuatnya dihadapan suaminya.


"Hmmm..." Daniel mengendus aroma wangi pancake dihadapannya.


Dan saat mereka akan makan, Medina melihat Bi Entin dan mang Eno keluar dari kamar mereka.


"Mang...Bi...Ayo sarapan bersama" Ajak Medina. Ia turun dari pangkuan Daniel.


"Tidak usah, non. Kami tidak biasa makan pagi" Tolakang Eno sopan.


"Ini bukan makan berat. Aku sengaja membuat banyak. Ayo mang, bi" Ajak Medina lagi.

__ADS_1


Mang Eno dan Bi Entin tetap menolaknya dengan halus. Dan akhirnya membuat Medina mengalah. Daniel hanya tersenyum dengan tingkah istrinya. Ia tahu, Medina merasa tidak enak hati dan ingin berterima kepada mang Eno dan Bi Entin. Jadi ia tidak berusaha tidak ikut campur.


"Baiklah...jika kalian tidak mau makan disini, bisa dibawa pulang kok" Ucap Medina tersenyum.


__ADS_2