Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 131


__ADS_3

Farah menatap lekat laki-laki dihadapannya. Laki-laki yang pernah ia cintai dan mengisi relung hatinya yang terdalam. Mungkin hingga detik ini, perasaannya masih sama meski ia pernah meninggalkan luka untuknya.


"Kamu sudah makan?" Tanya Farah basa basi. Mencoba menghilangkan rasa canggung yang menyelimuti dirinya.


"Sudah. Kami baru saja makan malam dirumah." Jawab Daniel dengan menekankan kata-katanya.


"Ah ya. Kau mengatakannya tadi." Farah merubah posisi duduknya.


"Aku tidak punya banyak waktu. Katakan keperluan mu." Daniel menatap Farah sebentar lalu membuang pandangannya ke arah lain.


"Aku pikir kita bisa bicara santai tanpa terburu-buru." Ucap Farah. Ia meneguk minuman dihadapannya. Mencoba menenangkan gemuruh kesal yang mulai timbul karena sikap Daniel yang kini berubah cuek padanya.


"Aku tidak bisa meninggalkan istriku terlalu lama." Daniel mengangkat kursi yang didudukinya. Menggeser nya lebih jauh dari meja.


"Ah... bagaimana kabarnya?" Tanya Farah dengan senyum tipis dibibir nya.


"Sangat baik.


"Mama saat ini dipenjara." Farah menarik nafasnya pelan.


"Dia terjerat hukum dengan tuduhan pemerasaan dan rencana penculikan." Lanjut Farah. Suaranya tercekat karena menahan isak.


"Benarkah? Siapa yang melakukan itu?" Tanya Daniel berpura-pura.


"Kakak dari mama. Om Sanjaya." Jawab Farah ketus. Ada emosi dalam ucapannya. Menyimpan dendam pada seseorang yang telah menjebloskan mamanya kedalam penjara.


Sudut bibir Daniel menyunggingkan sebuah senyuman. Tipis hingga Farah tidak menyadari itu.


"Kamu berharap aku membantu mama mu keluar dari sana?" Daniel memegang gelas miliknya.


Farah menganggukkan kepalanya dengan cepat. Ia tersenyum manis. mengira jika Daniel sangat paham maksudnya dan akan membantu dirinya.


"Ini urusan keluarga. Aku tidak bisa membantu. Maaf." Daniel menatap Farah. Meski Daniel mengatakannya dengan pelan namun ada ketegasan dalam ucapannya. Dan itu berhasil membuat Farah terkejut.


"Daniel...." Lirih Farah. Seketika airmatanya jatuh. Harapannya hanya Daniel. Namun jawaban Daniel membuat harapannya hancur seketika.


"Aku minta maaf." Ucap Daniel. Ia sudah beranjak berdiri dari kursinya. Hendak pulang.


"Apa karena wanita kampungan itu?" Sungut Farah dengan mata yang memerah.


Daniel yang sudah berbalik badan hendak melangkah pergi, seketika menghentikan langkahnya mendengar Farah.


"Kamu tidak membantuku, karena wanita itu bukan? Dia pasti melarangmu peduli padaku. Iya kan? Dasar wanita kampungan!!" Farah terus memaki Medina.


"Hentikan!" Daniel berbalik dan mencengkram tangan Farah dengan kuat.


"Siapa yang kamu maksud wanita kampungan?"


"Cih...siapa lagi jika bukan istrimu. Istrimu adalah mantan pembokat!!" maki Farah penuh emosi.


"Kau tidak berhak menghina istriku." Tangan Daniel semakin kuat mencengkram. Membuat Farah meringis kesakitan.


"Auucchhh!!" Pekik Farah.


"Satu hal yang harus kau tahu. Wanita yang baru saja kau hina dengan mulutmu....dia adalah istriku. Wanita yang aku cintai dengan segenap jiwa dan ragaku." Daniel menatap Farah penuh amarah.


"Dan satu hal yang harus kau tahu," Daniel mengambil jeda.


"Medina adalah putri pak Sanjaya dan Ibu Melani. Istriku adalah target penculikan yang direncanakan mama kamu." Daniel menepis tangan Farah dengan kuat hingga tubuh wanita ikut terhuyung ke samping. Sorot matanya menyiratkan kemarahan dan kekecewaan.


"Apa?" Farah menutup mulutnya. Matanya terbelalak karena terkejut. Tubuhnya lemas dan ambruk dikursinya.


"Ti_tidak mungkin." Farah frustasi mendengar kenyataan bak petir yang menggelegar ditelinga nya.

__ADS_1


"Keserakahan membutakan akal sehat kalian." Daniel merasa sesak karena tidak bisa melampiaskan kemarahannya. Ia memilih pergi dari sana. Meninggalkan Farah yang masih duduk mematung.


"Semua orang bahkan sudah tahu. Mengapa tidak ada yang memberitahuku? Bahkan semua orang memasang badan untuk melindunginya. Aaarrggghhh.....!!!" Farah mendorong meja makan dihadapannya hingga terguling. Membuat seisi meja jatuh dan hancur berantakan.


Beberapa orang yang sedang berada di cafe terkejut dan menatap aneh kepada Farah. Dua orang karyawan Cafe datang dan terkejut melihat kekacauan yang dibuat pelanggan nya.


"Nona...Anda tidak apa-apa?" Tanya seorang karyawan Cafe. Ia mendekati Farah dan menyentuh lengannya.


Farah merogoh tasnya. Mengambil kartu nama didalam dompet. Melempar kedepan karyawan Cafe yang berada didekatnya.


"Hitung semua kerugian kalian dan kabari aku." Farah melangkah pergi dengan suasana hatinya yang bergejolak.


****


Medina berjalan mondar-mandir didepan teras menunggu suaminya. Malam sudah sangat larut. Ia sangat khawatir karena Daniel tidak mengangkat telepon dan membalas pesannya.


"Non...lebih baik menunggu tuan didalam saja. Udara malam tidak baik untuk ibu hamil." suara Bi Wati membuyarkan lamunan Medina.


"Tuan pasti pulang sebentar lagi." Seolah tahu apa yang dipikirkan oleh majikannya, bi Wati berusaha menenangkan Medina.


"Aku tidak bisa tenang, Bi." Medina merngelus perutnya.


Medina melirik ponselnya. Kembali menghubungi suaminya. Dan lagi-lagi ia harus kecewa karena tidak ada jawaban dari Daniel.


"Aku takut sesuatu terjadi pada suamiku, Bi." Medina ambruk dikursinya. Air matanya lolos tanpa permisi membasahi pipinya.


"Non...." Bi Wati melihat gerbang terbuka dan sebuah mobil yang ia kenal masuk kedalam halaman.


Mendengar suara mobil, Medina mengangkat kepalanya. Sudut bibirnya melengkung cantik. Ia menyeka air matanya.


"Kenapa kalian disini?" Tanya Daniel saat sudah dekat.


Tanpa kata, Medina langsung memeluk suaminya. Mengendus aroma wangi tubuh Daniel yang menjadi candu bagi Medina. Ia kembali menangis.


"Apa?"


"Saya sudah meminta nona untuk menunggu didalam, tapi Nona menolak dan tetap ingin menunggu Tuan disini." Lanjut bi Wati.


"Maaf ponselku kehabisan baterai." Daniel mengusap kepala Medina yang tertutup hijab instan. Ia merasa bersalah karena ia sengaja menonaktifkan ponselnya.


Setelah tadi keluar dari cafe, Daniel tidak langsung pulang kerumah. Ia memilih menenangkan pikiran dan juga emosinya. Ia menghubungi Arif dan meminta bertemu sahabatnya itu.


Flashback on


"Halo." Sapa Daniel saat sambungan terhubung.


"Bos?"


"Apa kau sibuk?" Tanya Daniel ragu. Mengingat malam sudah hampir larut.


"Tidak. Ada apa?" Tanya Arif.


"Kau dirumah?" Daniel tidak menjawab pertanyaan Arif. Ia justru menjawab dengan dengan pertanyaan lainnya.


"Iyalah, dimana lagi?" Arif terkekeh diujung telepon.


"Aku akan mampir." Ucap Daniel sebelum mengakhiri sambungan teleponnya.


"What?" Arif menatap ponselnya.


Flashback off


Daniel memberi isyarat agar bi Yani masuk kedalam. Dan bi Yani mengangguk.

__ADS_1


"Lain kali jangan seperti ini lagi. Kamu dan bayi kita bisa kedinginan." Daniel membalas pelukan istrinya lebih erat.


Medina tidak menjawab. Ia semakin membenamkan wajahnya pada dada bidang suaminya.


"Ayo masuk." Daniel mengangkat tubuh mungil itu masuk kedalam kamar.


Daniel membaringkan tubuh Medina diatas ranjang. Mencium kening Medina lama lalu duduk disisi ranjang.


"Bagaimana?" Tanya Medina menatap suaminya. Ia ingin tahu hasil pertemuan suaminya dengan sepupunya.


Daniel tersenyum menatap istrinya. Pipi yang chubby, mata yang bulat dan bibir ranum kecil dan tipis membuat Daniel gemas. Ia ingin memakan istrinya saat ini namun masih ia tahan karena malam sudah sangat larut.


"Kak?" Medina memajukan tubuhnya.


"Ba_Hhhmmmpp." Bibir Medina sudah dilahap Daniel.


Keduanya larut dalam ciuman panas namun penuh kelembutan. Suara kecapan dan sesapan seolah menjadi irama yang indah dan menghangatkan suasana malam yang semakin dingin.


Keduanya melepas ciuman saat merasa udara di paru-parunya mulai menipis. Napas keduanya tersengal. Daniel masih belum beranjak jauh. Keduanya saling menempelkan dahi dan hidung. Hingga bisa merasakan pertukaran udara.


"Tidurlah..." Daniel mengecup bibir Medina.


Medina menahan tangan Daniel saat suaminya itu hendak beranjak. Daniel berpikir jika istrinya tengah berhasrat akibat ciuman panas mereka.


"Ini sudah sangat larut, Honey. Kita akan lanjutkan besok pagi selepas subuh." Ucap Daniel.


"Apa? Kenapa kakak berpikir kesana?" Gumam Medina yang masih bisa didengar telinga Daniel.


"Aku pikir, kamu minta ja__" Medina menutup mulut suaminya membuat Daniel terkekeh.


"Jangan mandi, ini sudah larut." Medina ikut turun dari ranjang dan berjalan ke arah lemari pakaian. Mengambil baju tidur untuk suaminya.


"Terimakasih, istriku yang cantik." Daniel mengecup pipi Medina dan berlalu ke kamar mandi.


Medina tersenyum melihat punggung bsuaminya yang menjauh dan menghilang saat tubuh itu masuk kedalam kamar mandi. Ia menghela nafasnya pelan. Medina tahu jika suaminya sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Yang pasti hasil pertemuan suaminya dengan Farah. Tapi ia tidak bisa memaksa agar suaminya buka mulut.


"Aku akan tanyakan lagi besok." Medina kembali naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya. Menunggu suaminya yang sedang membersihkan diri.


"Ya Ampun...aku hampir lupa dengan pemeriksaan kandungan. Tanggal berapa sekarang?" Medina mengambil ponsel pintarnya. Mengecek jadwal pemeriksaan kandungan yang ia catat disana.


"Syukurlah masih dua hari lagi. Mama pikir hampir melewatkan pemeriksaan kamu, sayang." Medina bernafas lega karena jadwal pemeriksaan kandungan masih dua hari. Tangannya menyentuh perutnya yang sedikit membuncit.


"Kenapa belum tidur?" Suara Daniel membuat Medina mendongak.


"Kami menunggu dipeluk Daddy." Ucap Medina manja.


Mendengar itu Daniel langsung melempar handuk bekas mengelap wajahnya keatas sofa. Dan berlari ke arah ranjang dengan senyum merekah.


"Yakin hanya ingin dipeluk?" Tanya Daniel dengan mengedipkan matanya. Membuat Medina melotot.


Daniel merentangkan tangannya dan Medina langsung menghambur masuk kedalam pelukan suaminya. Pelukan yang selalu membuatnya hangat dan nyaman.


Daniel mengeratkan pelukannya. Bersama dengan istrinya, segala emosi dan beban dipikirannya seolah hilang begitu saja. Bibirnya tak henti mengecupi rambut dan kening istrinya. Membuat Medina semakin nyaman dan terlelap dengan cepat.


Daniel menarik selimut untuk menutupi tubuh Medina juga dirinya. Ia menguap beberapa kali sebelum akhirnya ikut terlelap menyusul sang istri yang lebih dulu terbuai mimpi.


_


_


_


_

__ADS_1


_


__ADS_2