
Setelah pertemuaannya dengan petugas KUA dengan ditemani Ustadz Fathur. Mereka mengajak Ustadz Fathur dan semua petugas KUA untuk makan siang di restoran yang tidak jauh dari sana. Ini dilakukan sekedar bentuk rasa terima kasih Daniel kepada mereka karena sudah membantunya.
Setelah selesai makan siang mereka berpamitan pulang ke tujuan masing-masing. Ustadz Fathur berjanji akan datang saat prosesi akad nikah di kantor KUA.
Saat ini Daniel dan Medina sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat yang masih dirahasiakan Daniel.
"sayang...sebenarnya kita mau kemana?" Tanya Medina untuk kesekian kalinya namun hanya dijawab senyuman oleh Daniel.
Karena kesal pertanyaan tidak dijawab suaminya, Medina memalingkan wajahnya menatap keluar jendela. Daniel yang melihat tingkah istrinya hanya tersenyum dan sesekali mengelus kepala istrinya yang tertutup hijab.
Mobil Daniel berhenti di parkiran sebuah butik langganan keluarga mereka. Daniel meraih tangan Medina dan menggandengnya masuk kedalam.
"Selamat siang, Tuan...Nyonya" Seorang karyawan butik menyapa mereka saat membuka pintu.
"Siang" Jawab Medina. Sedangkan Daniel hanya menjawab lewat anggukan saja.
"Kenapa kita kesini?" Tanya Medina setelah masuk kedalam butik.
"Tentu saja untuk membeli gaun baru untuk acara akad nikah kita besok lusa" Jawab Daniel masih dengan senyum menawannya. Membuat beberapa pegawai butik disana terdiam dengan pesona Daniel.
Melihat suaminya menjadi pusat perhatian karyawan butik, Medina menarik tangan suaminya agar menjauh.
"Kenapa kita tidak pakai baju saat akad nikah kita waktu itu?" Elak Medina halus.
"Tidak baik menghamburkan uang untuk hal yang mubazir, Sayang" Ucap Medina dengan pelan.
"Baju yang kita pakai waktu itu masih bagus dan hanya dipakai sebentar. Kenapa kita harus membeli lagi? Kita hanya akan duduk didepan penghulu dan keluarga kita saja. Lagi pula, kita sudah memesan gaun pengantin untuk acara resepsi kita nanti, kan?" Ucap Medina dengan senyuman.
Medina memeluk suaminya dan berbisik:
"Bisa kita pulang sekarang? Aku sangat mengantuk".
Daniel tersenyum lalu mencium kening Medina.
"Baiklah...kita pulang sekarang".
"Tuan Daniel...anda tidak jadi memilih?" Tanya seorang karyawan yang sedari tadi berdiri menunggui mereka memilih gaun.
"Mohon maaf...istri saya tiba-tiba hilang mood untuk memilih gaun. Kami akan kembali jika moodnya sudah kembali" Ucap Daniel yang langsung mendapat cubitan kecil di diperutnya.
Keduanya meninggalkan butik dan langsung pulang ke apartemen.
Saat sampai didepan pintu apartemen Medina mengingat jika ia belum berbelanja dan didalam kulkasnya sudah tidak menyimpan bahan makanan.
__ADS_1
"Sayang... Aku lupa berbelanja untuk stok dapur" Medina hendak berbalik badan untuk turun ke supermarket yang ada dilantai bawah apartemen.
"Biar aku yang belanja. Kamu istirahat saja" Daniel menggendong Medina setelah pintu terbuka.
"Terimakasih, sayang" Medina mencium pipi Daniel dengan mesra.
Medina yang merasa nyaman dalam gendongan Daniel saat menuju kamar, perlahan memejamkan matanya. Ia benar-benar sangat mengantuk akibat semalaman begadang hingga fajar.
Daniel tersenyum dan membaringkan Medina dengan pelan. Mencium keningnya dengan mesra sebelum beranjak ke kamar mandi.
****
Sementara di rumah mama Safira, sedang kedatangan keluarga Tante Latifah.
"Kak Safira...berapa lama aku tidak kesini?" Tanyanya dengan bingung karena beberapa ruangan berganti fungsi dan dekorasi.
"Kau hitung saja sendiri" Sahut mama Safira.
"Ya ampun sudah lama aku tidak mampir kerumah ini" Tante latifah terus menyusuri ruangan yang tampak berbeda dari sebelumnya.
"Hanya sedikit perubahan yang dilakukan Medina. Tapi terasa berbeda dari sebelumnya" Ucap Mama Safira mengingat Medina yang melakukan sentuhan perubahan dirumahnya.
"Oh ya ampun gadis itu. Kakak tahu? Sejak awal bertemu, aku langsung menyukainya" Timpal Tante Latifah dengan senyumnya.
"Gio...kamu harus mencari calon istri seperti Medina" Tatapan Tante Latifah kini mengarah putra sulungnya.
"Yaaa setidaknya kamu cari calon istri yang sifatnya mirip-mirip Medina"
"Ck..Mami kebiasaan deh. Selalu antusias dengan sesuatu yang baru dilihat. Belum tentu luar dalam bagus, Mam. Siapa tahu hanya casingnya aja, tapi hatinya kita ga ada yang tahu kan?" Cibir Renata adik Gio. Perempuan cantik yang menatap Medina dengan tajam dan tatapan tidak sukanya saat itu.
"Kalian belum mengenalnya dengan baik, tidak baik menilai seseorang secara instan" Mama Safira menatap Renata dan tersenyum.
Renata segera memalingkan wajahnya saat sang mama juga menatapnya tajam.
Merasakan suasana yang mulai canggung. Gio mengajak adiknya pergi keluar.
"Mam...Tan...Aku jemput Erika dulu ya" Pamit Gio.
"Oh iya...mami hampir lupa" Tante Latifah menepuk jidatnya karena lupa menjemput putri bungsunya disekolah.
"Kalo Abang mau jemput Erika kenapa harus ngajak gue sih?!" Sungut Renata.
"Kamu ga bisa jaga mulut kamu didepan Tante Safira. Ngomong seenaknya aja. Bener kata Tante Safira, kita baru kenal Medina sehari. Jadi jangan menilai seseorang dengan mudah apalagi karena kecemburuan yang buta" Ucap Gio kesal karena sifat keras sang adik.
__ADS_1
"Cemburu? Siapa yang cemburu?"
"Udah deh, Ren. Aku bukan orang lain yang ga bisa lihat perasaan sayang kamu ke Daniel" Gio mengacak rambut adiknya.
"Iiihhhh...ngomong apaan sih lo, Bang" Wajah Renata berubah merah karena malu ketahuan sang kakak yang ternyata diam-diam menaruh hati pada sepupunya sendiri.
"Sejak kapan kamu menaruh perhatian kepada Daniel?" Tanya Gio penuh selidik.
"Sejak kalian sering main dan menginap di rumah" Jawab Renata singkat.
"Hei...itu waktu kami masih SMA dulu?! Oh my God" Teriak Gio tidak percaya.
Renata mengangguk samar dengan senyum yang terus mengukir dibibir seksinya.
"Bahkan waktu kamu baru lulus SD" Pekik Gio masih dengan keterkejutannya. Ia tidak menyangka jika adik nya sudah menyukai Daniel sejak dulu. Bahkan saat itu Gio dan Daniel hampir lulus SMA. Setelah lulus, mereka kuliah di universitas berbeda.
Perbedaan usia mereka terpaut 5 tahun. Membuat Renata yang saat itu menjadi putri satu-satunya dikeluarganya, sangat dimanja. Tak terkecuali Gio dan Daniel yang jika sedang berada di rumah Tante Latifah juga ikut memanjakan Renata.
"Kalian aja yang ga peka!" Renata melipat kedua tangannya kedepan.
Gio tertawa terbahak-bahak. Membuat Renata semakin kesal dan memukuli sang kakak.
"Stop menertawai adikmu, Gionardo Gunawan" Renata terus memukuli kakaknya.
"Hei...aku sedang menyetir!" Gio berteriak karena ulah adiknya bisa membahayakan mereka.
"Salah Abang sendiri, dari tadi bikin kesel" Gerutu Renata.
"Hhhhmm...Aku pikir kamu mulai menyukai Daniel saat dia ditinggal tunangannya pergi" Ucap Gio tanpa menoleh.
"Justru saat perempuan itu meninggalkan Daniel, rasanya gue mau terus bersama dan menemaninya hingga luka hatinya pulih. Tapi apa daya, saat itu Papi menyuruh gue balik ke London buat lanjutin kuliah" Renata menyebikkan bibirnya jika mengingat saat itu.
"Tapi sumpah, aku salut dengan Medina. Seorang Daniel yang terpuruk bertahun-tahun karena cinta matinya sama si Farah bisa dengan begitu mudah membuka hatinya dan bisa mencintai Medina" Gio tersenyum membayangkan pasangan pengantin baru itu.
"Tapi tetap ga ada chemistry nya. Ga cocok!!" Sungut Renata semakin kesal.
"Kamu ga lihat wajah bahagia Daniel?? Aku sih bisa melihat, mereka saling mencintai dengan tulus" Gio terus memuji hubungan Daniel dan Medina.
"Jaman sekarang, mana ada perempuan yang ga tergoda sama pesona pria tampan dan kaya seperti Daniel?? Sangat bulshit kalo perasaan itu tulus tanpa embel apa-apa" Cibir Renata.
"Hei nona...kamu hanya memandang Medina dengan tatapan cemburu karena dirinya telah menjadi pendamping hidup pria pujaanmu. Come on....pria tampan dan kaya bukan hanya Daniel seorang. Jadi berhentilah berpikir buruk dan mengurusi mereka. Daniel sudah bahagia dengan kehidupannya yang sekarang. Bahkan bukan hanya Daniel, Tante Safira juga sangat bahagia" Ucap Gio panjang lebar.
Mendengar ucapan sang kakak, Renata hanya diam. Meski tidak mengiyakan namun ia juga tidak membantah. Karena apa yang dikatakan Gio semuanya realita. Daniel dan Tante Safira sudah bisa melupakan masa lalu dan kini bisa hidup bahagia.
__ADS_1
Renata memalingkan wajahnya ke luar jendela. Meskipun dirinya tidak pernah dianggap spesial oleh Daniel namun dirinya belum bisa menerima jika pria pujaanya kini bahagia dengan wanita yang mengisi hari-harinya di masa depan.
"Aku mencintaimu, Daniel. Sejak dulu sampai saat ini...bahkan pintu hatiku sengaja aku tutup bagi pria lain. Hanya kamu...hanya kamu yang aku cintai" Ucapnya dalam hati.