Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 79


__ADS_3

Waktu sudah sore namun Daniel belum ingin membawa istrinya pulang. Melihat istrinya tak kunjung bicara, Daniel semakin dibuat gemas. Akhirnya ia punya ide untuk mengajak nya ke sebuah taman yang tidak jauh dari apartemen mereka. Mungkin saja dengan mengajaknya ke taman, mood istrinya akan berubah dan mau bicara, pikir Daniel.


"Lho...kenapa kesini?" Tanya Medina setelah melayangkan pandangan nya keluar jendela mobil.


"Disana, ada yang jual es Doger rasanya super duper enak" Daniel menunjuk ke salah satu stand makanan yang yang berjejer rapi disisi kanan Taman.


"Aku jamin kamu pasti ketagihan makanan disini" Daniel mengitari mobil dan membuka pintu mobil Medina dan mengulurkan tangannya.


Medina menurut dan turun dari mobil. Mereka berjalan bergandengan tangan hingga sampai di stand yang Daniel tunjuk.


"Mas...es dogernya dua ya?" Teriak Daniel dari tempat duduknya.


Sang penjual mengangkat jempolnya tinggi-tinggi. Menandakan ia siap melayani sang pembeli.


"Silahkan..." Sang penjual es Doger menyajikan dua mangkuk diatas meja Daniel.


"Terimakasih" Ucap Daniel dan Medina berbarengan.


Medina menatap mangkok dihadapan nya. Tanpa menunggu lama ia mulai menyendokkan es kedalam mulutnya.


"Enak?" Tanya Daniel saat melihat raut wajah istrinya yang sedang menikmati rasa minumannya.


Mungkin mood nya yang sudah kembali membaik, Medina menganggukkan kepalanya dengan senyuman manisnya.


"Kakak sering kesini?" Daniel agak terkejut dengan pertanyaan istrinya.


Entah ini bentuk pertanyaan polos atau pertanyaan bernada interogasi. Namun Daniel enggan berpikir macam-macam. Ia senang, Medina mulai mengajaknya bicara.


"Sering waktu jaman-jaman kuliah dulu" Jawab Daniel jujur.


"Sama siapa?" Tanya Medina penuh selidik.


"Sama Arif, Gio dan teman-teman kampus. Disini tempat asik buat nongkrong anak-anak kampus dan anak muda"


Medina mulai berpikir "teman-teman kampus".... berarti Daniel bersama Farah juga. Secara mereka satu kampus dan sudah berpacaran semasa itu.


Tiba-tiba dadanya merasakan sesak dan sedikit nyeri. Tapi dengan segera ia menepis semua pemikiran negatif nya.


"Ada makanan enak apa lagi disini selain ini?" Tanya Medina mengalihkan pembicaraan. Tangannya terus menyuapkan sendok ke dalam mulutnya.


"Banyak...aku akan pesankan untukmu" Daniel tersenyum dengan perasaan lega. Tanpa membuang waktu, Daniel segera memesan beberapa makanan yang dianggap cukup enak dilidahnya.


Mereka makan hingga membuat Medina kekenyangan.


"Apa tidak ingin membungkus untuk dibawa pulang?" Tanya Daniel menawari Medina.


"Tidak perlu. Aku sudah kekenyangan" Medina mengelus perutnya dengan gerakan memutar.


"Aku mau jalan-jalan dulu" Pinta Medina saat mereka meninggalkan stand makanan.


Daniel tersenyum dan mengangguk. Daniel menggandeng tangan Medina dengan mesra.


Inilah yang diinginkannya. Membawa istrinya jalan-jalan dan makan hingga kesesalannya menghilang.


"Maafkan aku...." Daniel menghentikan langkahnya hingga membuat Medina juga berhenti.


Daniel meraih pundak Medina dan menariknya masuk kedalam pelukannya.


"Aku bukan tidak mau melibatkanmu dalam persiapan pernikahan kita tapi aku ingin memberimu kejutan. Percayalah padaku...aku tidak bermaksud untuk menyinggungmu. Aku...."


"Aku tahu...Maafkan atas sikapku tadi" Potong Medina cepat.

__ADS_1


CUP!!


Satu kecupan mendarat di pipi Daniel. Membuat Daniel tersenyum puas.


"Kamu mulai nakal, Tuan Putri" Daniel kembali memeluk Medina sementara Medina tertawa kecil.


"Ayo pulang...Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu" Daniel menggendong Medina membawanya masuk kedalam mobil.


"Aku akan bertanggungjawab, Sayang" Ucap Medina mengalungkan tangannya dileher Daniel.


Mobil melesat dengan cepat. Karena jarak taman dan apartemen yang tidak terlalu jauh, mereka sampai hanya setelah beberapa menit mengemudi saja.


Daniel setengah berlari membuka pintu mobil Medina dan kembali menggendongnya masuk kedalam lift.


Daniel yang menahan gairah nya sejak tadi akhirnya rintik saat lift dalam keadaan kosong. Ia menempelkan bibirnya pada bibir Medina dan mel*matnya tanpa ampun.


Saat pintu lift berdenting dan terbuka, Daniel segera keluar dari sana tanpa melepas pagutannya.


Hingga tiba didepan pintu apartemen Medina melepaskan ciumannya. Karena ia harus menempel acces card untuk dapat membuka pintu.


Daniel benar-benar sudah diselimuti kabut gairah. Hingga ia tidak mampu berpikir dengan jernih. Bahkan ia langsung masuk kedalam kamar tanpa membuka sepatu.


Daniel kembali mencium bibir Medina saat tubuh istrinya sudah terbaring atas tempat tidur.


Tangan Daniel mulai membuka hijab dan resleting gamis Medina. Dari bibir ciuman Daniel beralih ke leher hingga dada Medina.


Dengan gerakan cepat Daniel sudah melucuti pakaian Medina. Dan melemparnya ke sembarang arah. Hanya menyisakan segitiga pengaman bagian inti Medina.


Lidahnya mulai bermain-main didua gunung kembar milik istrinya. Salah satu bagian favoritnya. Daniel menjilat, mengulum, menghisapnya setiap inci bagian tubuh Medina tanpa terlewat. Memberi tanda cinta kepemilikan.


Seperti bayi yang sedang kehausan, Daniel melahap


dua buah dada Medina dengan rakus. Seminggu tidak menyentuh tubuh istrinya membuatnya benar-benar seperti seorang musafir ditengah gurun.


"Jadi tadi pagi kau berbohong padaku?" Tanya Daniel penuh selidik mengingat ucapan istrinya tatkala dirinya bertanya soal rambut Medina yang basah.


"Eemmm...itu...Maaf...aku...akan melayani suamiku hingga puas" Ucap Medina gugup.


Medina sudah membohongi suaminya dan ia sadar itu salah. Dan ia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan melayani suaminya hingga puas.


"Kamu sudah sangat nakal, Honey. Malam ini aku tidak akan melepasmu dan sesuai janjimu...buat diriku puas" Ucap Daniel dengan suara paraunya.


Daniel menunduk dan kembali menciumi setiap jengkal tubuh Medina. Medina menikmati setiap sentuhan bibir dan tangan Daniel.


Udara malam yang semakin dingin tidak menyurutkan keduanya untuk saling berbagi erangan dan desahan kenikmatan.


Mengingat mereka akan berpisah sementara waktu, membuat Daniel terus melakukan gulat panasnya hingga menjelang subuh.


Setelah keduanya merasa sama-sama kelelahan, mereka memutuskan untuk mandi bersama. Dan Daniel mengambil kesempatan itu untuk kembali melakukan penyatuan dengan istrinya.


****


Daniel terlihat sangat bersemangat. Baterai nya terisi full karena adegan panas mereka semalam suntuk. Sedikit bisa mengobati kerinduannya ketika Medina mulai dipingit.


Berbeda dengan suaminya yang tampak segar tanpa rasa lelah sedikitpun, Medina justru merasakan tubuhnya remuk redam.


Melihat istrinya yang terlihat kelelahan, Daniel mengambil alih tugas Medina memasak sarapan didapur. Daniel meminta istrinya untuk beristirahat saja didalam kamar.


Medina mengiyakan permintaan suaminya karena tubuhnya benar-benar sangat lelah dan matanya juga sangat mengantuk.


Setelah sarapan di dalam kamar, Daniel dan Medina kini sedang bersiap-siap untuk pergi bersama. Daniel sudah memberi tahu Medina jika Medina akan ikut ke kantor sebelum diantar kerumah Mama Safira.

__ADS_1


Awalnya Medina menolak, karena ia tahu pasti akan ada kehebohan besar jika dirinya datang ke kantor suaminya. Namun Daniel terus membujuknya dengan mengatakan jika ini adalah kesempatan untuk mengenalkan dirinya kepada semua karyawan dikantor. Akhirnya Medina menyetujui untuk ikut pergi bersama suaminya.


"Honey...kamu sudah siap?" Daniel masuk kedalam kamar selepas menghubungi Arif untuk menanyakan semua berkas yang hendak ia bawa ke Kota B.


Daniel menatap istrinya dengan tatapan lembut. Tiba-tiba saja ia merasa enggan untuk berpisah dengan wanitanya. Tapi ia sudah cukup puas dengan pelayanan istrinya semalam dan itu bisa mengobati rasa rindunya ketika berada jauh dari istrinya nanti.


"Terimakasih untuk semalam. Dan...maaf sudah membuatmu kelelahan" Daniel mencium bibir Medina.


"Kakak harus memberiku hadiah yang spesial" Celetuk Medina membuat Daniel tertawa.


"Akan ku kabulkan, Tuan Putri" Daniel menggamit tangan Medina keluar dari apartemen.


****


"Ma...kapan Medina datang?" Tanya Rani saat mereka sedang sarapan.


"Daniel akan mengantarkan nya nanti siang. Sebelum Daniel keluar kota untuk urusan pekerjaan"


"Dia masih bekerja?" Tanya Rani heran.


"Dia mengambil pekerjaan nya lebih awal. Supaya dia bisa honeymoon lebih lama" Jawab Mama.


"Nenek...Honeymoon itu apa?" Tanya Syifa dengan wajah polosnya.


Nenek dan bundanya langsung tertawa mendengar pertanyaan Syifa.


"Honeymoon itu...liburan sayang" Jawab Rani sekenanya.


"Ifa juga mau liburan, bun..."


"Oke...nanti kita liburan bersama ya...?." Rani mengusap kepala putrinya.


Syifa mengangguk lalu kembali memakan sarapannya.


Meliht suaminya tidak kunjung datang ke meja makan, Rani menyusulnya ke dalam kamar.


"Sayang...Mama menunggu untuk sarapan" Ucap Rani saat melihat suaminya sedang memakai dasi.


"Maaf...tadi Daniel meneleponku. Dan kami mengobrol agak lama" Ucap Danu sambil merapikan kemejanya.


"Rapi sekali?" Rani menatap suaminya dengan lekat.


"Aku mengajukan proposal kerja sama dengan perusahaan asing. Dan hari ini kami akan meeting untuk membahasnya. Doakan aku" Danu memeluk istrinya dan mereka berciuman dengan mesra.


"Aku selalu mendoakan mu, Sayang" Rani mengecup bibir Danu sekilas sebelum keluar dari kamar.


Setelah sarapan dan berpamitan, seperti biasa Danu akan mengantar Syifa ke sekolah terlebih dahulu.


"Belajar yang pintar dan jangan merepotkan ibu guru, oke?!" Pesan Danu sebelum putrinya masuk kedalam kelas.


"Oke...papa!!" Jawabnya dengan suara lantang.


Syifa yang kini mulai terbiasa berangkat sendiri dengan papanya tanpa ditunggu oleh sang bunda. Hanya saat putrinya pulang sekolah, Rani baru akan menjemputnya.


Setelah putrinya masuk kedalam kelas, Danu masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan sekolah Syifa menuju kantornya.


*TO BE CONTINUE*


Yo...Yo...Yo...Dukung terus novel ini dengan cara Vote, like, coment supaya rate nya naik.


Terus tinggalkan jejak kebaikan kalian ya....Kalo ga suka novel ini ga apa2...tapi please jangan kasih rate buruk. Karena membuat novel itu tidak semudah membuat mie instan, Zeyenkkkk....

__ADS_1


Biasakan menghargai karya orang apapun itu....Love you all.


__ADS_2