
Medina yang berjalan lebih dulu membuka pintu kamar Mama Safira dengan sangat pelan.
"Assalamualaikum, Ma..." Ucap Medina saat setengah tubuhnya sudah masuk kedalam kamar.
"Wa'alaikum salam" Mama yang saat itu sedang berbaring miring langsung menoleh ke arah suara kemudian senyumnya mengembang.
"Sayang..." Mama mengulurkan tangannya dan segera disambut Medina. Mereka menangis dan berpelukan dengan sangat erat.
Daniel dan Danu yang berada dibelakang Medina tersenyum hangat melihat kedua wanita yang disayangi tengah melepas rindu.
"Medina minta maaf, Ma" Ucap Medina yang masih terisak.
"Sudah...sudah. Mama tidak mau membahas itu. Saat ini dan selanjutnya, kamu adalah putriku. Jangan pernah berpikir jauh dan macam-macam" Nasehat mama kepada Medina.
Medina tersenyum haru dan mengangguk.
"Terimakasih banyak, Ma. Terimakasih" Medina semakin mengeratkan pelukannya.
"Hemm..Hemm" Daniel berdehem pelan.
"Apa Tuan Puteri dan ibu Ratu sudah selesai?" Canda Daniel yang kini berjalan ke arah mereka.
Medina terkekeh sementara Mama Safira hanya menggelengkan kepala.
Daniel menyalami dan memeluk sang mama. Mencium kening dan pipi sang mama.
"Hei..Cairan bening apa ini?" Daniel menyeka pipi Medina yang basah lalu mengecup pipinya dihadapan mama.
Medina membulatkan matanya terkejut dengan tindakan tiba-tiba suaminya. Apalagi itu dihadapan mama Safira. Dengan gerakan refleks tangan Medina mendorong tubuh suaminya agar segera menjauh. Sementara wajahnya tampak merona karena malu.
Daniel terkekeh sementara Mama memukul lengan putranya.
"Kau, ini!! Tidak tahu sopan santun, ya!! Mentang-mentang sekarang dia istrimu, bertindak seenaknya saja" Mama pura-pura memarahi Daniel.
"Pantas saja, kalian mendatangi 2 dokter kandungan selama dua hari berturut-turut" Celetuk Danu yang sudah duduk disofa.
"Itu..." Daniel menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sementara Medina menunduk malu.
Mereka berkumpul dikamar mama Safira berbincang melepas rindu.
Suasana rumah kembali riuh dan ramai. Syifa terus berceloteh dan bercerita apa saja kepada Medina hingga mengundang gelak tawa Medina dan neneknya.
"Princess...besok sekolah bukan? kamu belum mengantuk?" Tanya Medina sambil mengusap punggung Syifa yang berbaring diranjang bersama neneknya.
"No...Ifa mau bobo sama mama Niel" Sahutnya dengan mimik wajah menggemaskan. Tangan mungilnya memeluk tubuh Medina.
"Baiklah...sekarang kamu bisa tidur dan ayo kita membaca doa" Medina ikut berbaring disisi ranjang dan memeluk Syifa.
Interaksi keduanya tidak luput dari perhatian semua orang yang ada dikamar itu.
"Aku punya saingan" Celetuk Daniel dengan suara pelan.
Rani dan Danu tersenyum lebar mendengar ucapan adiknya.
"Setiap hari...setiap menit...yang dia tanyakan hanya Medina" Rani tersenyum mengingat tingkah putrinya.
__ADS_1
"Dia sudah berani mendebat jika kami ketahuan membohongi nya" Timpal Danu sambil terkekeh.
Rani beranjak dari duduknya dan mendekati ranjang.
"Apa dia tidur?" Tanya Rani dengan suara pelan.
Medina mengangguk dan melepaskan pelukannya.
"kalian istirahat lah...ini sudah malam" Ucap Mama.
Rani dan Medina mengangguk bersamaan.
"Aku akan membawa Syifa ke kamarnya" Ucap Danu menyudahi obrolannya dengan Daniel setelah mendapat kode dari Rani.
"Mama juga istirahat ya" Sahut Daniel.
Melihat istrinya masih belum beranjak dari samping mamanya, Daniel tersenyum kecil.
"Istirahatlah sayang...tidak perlu khawatir. Akan ada perawat yang menjaga mama disini" Ucap mama.
Dengan berat hati Medina meninggalkan kamar mama Safira. Dan berjalan ke kamar suaminya yang berada dilantai 2.
Daniel membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan istrinya masuk.
"Selamat datang, Tuan Puteri" Ucap Daniel sambil membungkukkan badan.
Medina tertawa kecil kemudian berdiri dengan anggun menyambut lakon yang suaminya mainkan.
"Terimakasih pangeran. Bawa aku kedalam kastilmu" Medina mengulurkan tangannya ke hadapan Daniel.
Mereka tertawa kecil dengan berpelukan. Tingkah konyol yang sering mereka lakukan sangat garing dan membuat mereka tertawa sendiri.
"Hei...mau kemana?" Daniel mencegah lengan istrinya. Memelukinya dengan erat dari belakang.
"Tentu saja mau tidur..Pangeran" Jawab Medina dengan senyum cantiknya.
"Apa kamu lelah, Tuan Puteri?"
"Sedikit"
"Berarti malam ini__" Daniel sudah mengangkat tubuh Medina dan membawanya ke atas ranjang membuat Medina berteriak karena terkejut.
"Honey...kamu mau semua penghuni rumah ini datang kekamar kita?"
Medina menggeleng pelan dengan terkekeh.
"Bagus. Pelankan suaramu oke??!!" Daniel langsung mencium bibir istrinya dan me**matnya dengan lembut.
"tunggu dulu!" Medina menahan tubuh suaminya .
"Ada apa?"
"Hanya satu ronde, Ya?! Tidak ada dua, ti__hhmmptt" Daniel membungkam bibir istrinya dengan bibirnya. Tangannya bergerak dengan lincah, menyentuh sana sini dengan lembut. Membuat sensasi geli namun nikmat hingga lenguhan dan desisan lolos tanpa sadar dari bibir Medina.
Mereka melakukan olah raga malam dengan iringan merdu desahan dan rintihan nikmat yang memenuhi kamar.
__ADS_1
"Terimakasih, Honey" Daniel mengecup pundak polos Medina sebelum berpindah posisi.
"Hemmm" Medina tersenyum cantik.
"Kak...aku mau ke kamar mandi" Ucap Medina manja saat Daniel kembali memelukinya dan menghujaninya dengan kecupan.
"Sebentar lagi" bibir Daniel masih betah berlama-lama dileher mulus Medina. Mengendus aroma wangi istrinya yang sangat ia sukai. Membuat gigitan kecil sebagai tanda kepemilikan.
Medina memejamkan matanya menahan diri agar tidak mengeluarkan suara desahan karena perbuatan suaminya. Ia tidak munafik, dirinya sangat menikmati setiap sentuhan tangan dan bibir pria halal disampingnya.
Bibir Daniel terus mengeksplor leher istrinya dengan jejak-jejak merah yang ia sengaja tinggalkan. Saat bibir itu mulai turun ke bawah menuju dada Medina, tanpa sadar kedua tangannya terangkat dan meremas rambut Daniel. Menekan kuat agar bibir suaminya berlama-lama bermain di kedua gundukan sintalnya.
Daniel mendongak sebentar melihat ekspresi wajah Medina dan menyeringai lebar mendapati tubuh Medina yang sudah bergetar. Desahan dan racauan yang keluar dari bibir Medina menjadi pemantik api gairah dalam tubuhnya yang sulit padam jika sedang bersama istrinya.
Tidak membuang kesempatan emas, Daniel kembali melakukan penyatuan. Sifat munafik istrinya kini dengan jelas ia ketahui. Awalnya menginginkan satu...Ya hanya satu ronde saja. Namun malam itu mereka melakukan nya hingga 4 ronde. Hingga Medina terkulai lemas dan langsung terlelap tidak berdaya.
Waktu menunjukkan pukul 2 pagi saat mereka menyudahi permainan panas nan nikmat. Daniel tersenyum puas meski ada rasa iba melihat istrinya kini terlelap karena kelelahan. Daniel menarik selimut dan menutupi tubuh mereka yang polos kemudian mengecup kening Medina dengan mesra sebelum ia menyusul Medina terlelap tidur.
***
Medina meraba meja disamping tempat tidur untuk menjangkau ponsel yang berdering alarm. Semalam ia sengaja memasang alarm karena takut kesiangan setelah aktifitas yang melelahkan. Dan benar saja, jika ia tidak memasang bunyi alarm diponselnya, ia pasti bangun kesiangan.
Berusaha membuka matanya yang pagi ini seperti diberi lem.
"Astaghfirullahal' Adziim" Medina beberapa kali merapal dzikir karena rasa lelah dan kantuknya yang sangat besar.
Sudut bibirnya terangkat saat menoleh sisi ranjangnya. Medina buru-buru turun dari ranjang saat Ingatannya kembali aktifitas mereka malam tadi.
"Memalukan" Gumam Medina sambil berjalan ke kamar mandi.
Setelah 30 menit, Medina selesai dan keluar dari kamar mandi. Berjalan ke arah lemari dan mengambil baju dan segera memakai nya.
Ia melaksanakan sholat subuh setelah mengerjakan sholat Sunnah Ba'diyah subuh. Setelah selesai dan berdoa, Medina membereskan peralatan sholatnya dan menyimpannya ke lemari.
Kakinya melangkah ke sisi ranjang dimana suaminya masih terlelap.
"Sayang...bangun. Waktunya sholat subuh" Medina mengelus pipi dan rambut Daniel.
Daniel menggeliat mendapat sentuhan dari Medina. Senyumnya mengembang tatkala membuka matanya dan wajah cantik istrinya berada dihadapannya.
"Morning, Honey" Daniel duduk dan menyandarkan punggungnya diheadboard ranjang.
"Morning..Sayang. Ayo bangun sekarang. Sudah aku siapkan baju Koko dan sarungnya diatas meja. Aku mau ke kamar mama" Medina menarik tangan kekar Daniel hingga tubuhnya turun dari atas ranjang.
"Sayang...apa hari ini kamu ke kantor?" Tanya Medina.
"Sepertinya begitu. Banyak yang harus aku kerjakan sebelum aku kembali cuti untuk pergi bulan madu kita" Daniel mengerlingkan sebelah matanya kepada Medina.
"Baiklah...akan aku siapkan baju kerja kakak" Medina berjalan ke arah lemari dan memilihkan kemeja dan celana untuk suaminya berangkat kerja.
"Mau sarapan apa?" Medina mendekati Daniel yang berdiri dipintu kamar mandi.
"Apapun asal buatan tangan istriku" Daniel mencium kening Medina dengan mesra.
"Baiklah...segeralah turun jika sudah selesai. Aku tunggu dibawah" Medina meninggalkan Daniel dikamarnya dan turun ke lantai satu.
__ADS_1