Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 159


__ADS_3

Donita berlari menyusul suaminya kekamar. Ia melihat Fian yang tengah berdiri di balkon kamar sambil menengadahkan wajahnya ke langit dengan mata terpejam. Entah apa yang sedang dilakukan dan dipikirkan pria itu, namun yang jelas dari raut wajahnya, Donita merasa suaminya sedang dalam peperangan bathin. Dan itu membuatnya semakin merasa bersalah.


"Maafkan aku." Donita memeluk suaminya dari belakang dengan terisak. Fian sedikit terkejut dengan kehadiran istrinya yang tiba-tiba langsung memeluk dengan berurai air mata.


"Ma_maafkan aku, tolong...." Ucapnya lagi dengan terbata kerena ia tersedu dibalik punggung suaminya.


Fian masih tidak bergeming, bahkan dengan suara tangis istrinya yang semakin keras.


"Aku tidak bermaksud untuk melukai perasaanmu dengan mengatakan hal yang kurang baik tentang Medina. Tapi aku benar-benar cemburu karena kalian sangat memperhatikan Medina bahkan untuk hal terkecil. Aku iri padanya, Maafkan aku." Donita mengeratkan pelukannya. Semakin pilu ia menangis karena Fian mengabaikannya.


"Tolong tarik kata-katamu. Aku menunggu lama untuk bisa hidup dengan pria yang sedang aku peluk sekarang. Aku mencintaimu, Sayang. Tolong jangan abaikan aku." Donita semakin tersedu membuat Fian tidak tega akhirnya. Ia pun berbalik badan dan manatap wajah istrinya yang telah sembab.


"Kamu tahu posisiku dalam keluarga ayah Sanjaya hanyalah__"


"Jangan diteruskan lagi. Aku mengaku salah, jadi.. tolong maafkan aku." Donita menutup mulut suaminya dengan telapak tangannya. Fian tersenyum dan mencium talapak tangan istrinya yang masih berada di bibirnya.


"Mari jalani kehidupan rumah tangga seperti apa yang kita rencanakan. Aku rela hidup tanpa kemewahan yang saat ini kita rasakan. Asalkan itu bersama kamu, suamiku." Donita menatap sendu wajah tampan dihadapannya.


"Kamu yakin?" Tanya Fian.


"Iya." Jawab Donita tanpa keraguan sedikitpun. Ia akan membina rumah tangganya dengan Fian seperti harapan keduanya.


"Tolong jangan tinggalkan aku." Air mata Donita kembali mengalir mengingat perkataan suaminya tadi pagi membuat hatinya berdenyut sakit.


"Memangnya siapa yang akan meninggalkanmu? Kita baru saja menikah dan aku belum puas menikmatimu." Fian mencium Donita tanpa aba-aba. Perempuan itu sempat terlena dengan ciuman lembut suaminya. Namun sesaat mengingat ucapan suaminya barusan, ia menyudahi ciumannya.


"Maksudnya apa? Jadi aku hanya pelampiasan nafsumu saja?" Teriak Donita dengan airmata menggenang. Membuat Fian tersenyum lebar dengan reaksi istrinya.


"Kata orang, pengantin baru itu selalu mengutamakan nafsu dibanding yang lain. Tidak peduli dengan dunia sekelilingnya." Kekeh Fian dan satu cubitan di perut Fian membuatnya mengaduh. Bukan karena sakit tapi lebih pada terkejut.


Manik keduanya saling menatap hangat dan penuh damba. Perasaan cinta yang tumbuh sejak mereka kuliah hingga saat ini tidak pernah berkurang bahkan terus bertambah. Donita tersadar dari kesalahannya dan Fian memaklumi itu. Tugasnya harus bisa membimbing istrinya dan lebih akrab lagi dengan keluarganya agar istrinya bisa merasakan semua kasih sayang dan ketulusan keluarganya.


"Apa kamu memaafkanku?" Donita meraih pipi Fian dengan kedua tangannya.


"Ya." Fian mengangguk.


"Terimakasih, sayang." Donita bahagia dengan jawaban suaminya. Hatinya merasa lega dan tenang sekarang.


"Tapi...dengan satu syarat." Fian menyeringai.


"Apapun...akan aku lak__."


Sapuan hangat bibir Fian membuat Donita tidak lagi meneruskan kata-katanya. Justru ia menyambut dengan penuh perasaan bahagia saat kedua bibir bertemu dan saling bertukar saliva.

__ADS_1


Fian membawa istrinya masuk kedalam kamar tanpa melepas pelukan dan ciumannya. Hingga keduanya saling memberi kenikmatan dan kepuasan yang membuat mereka melayang hingga berkali-kali.


****


Sementara itu dikamar lain, Medina baru saja selesai melakukan terapi air hangat seperti yang dijanjikan ibunya. Kedua wanita beda usia itu terlihat sangat menikmati moment tanpa ada yang menganggu. Bahkan Daniel dan Ayah mertuanya hanya bisa menyaksikan keduanya dengan senyuman diwajah mereka.


"Medina pernah bercerita jika dulu dirinya pernah mencari uang dengan menggembala kambing disebuah Padang rumput. Dia sering membolos sekolah demi mengumpulkan uang agar bapaknya bisa berobat." Daniel menarik nafas panjang dan dalam. Tatapannya hanya terarah pada sosok wanita yang sedang tersenyum bahagia.


"Aku dulu sangat arogan dan keras. Bahkan suara ibu mertuamu sangat jarang aku dengar. Kecuali saat ia sedang bicara dengan Fian. Aku dan keluargaku membuat Melani menjadi seseorang yang tertekan secara lahir dan bathin." Entah mengapa hatinya kini mendadak sakit jika mengingat masa-masa kelam dirinya.


"Itu bagian dari perjalanan hidup. Dan kita tidak bisa memilih atau bertukar takdir." Sahut Daniel tanpa menoleh mertuanya.


"Aku membeli Padang rumput itu sebagai hadiah untuk istriku saat pernikahan kami yang pertama nanti. Dan semoga hari itu, bersamaan dengan lahirnya putra kami." Papar Daniel membuat keduanya saling tatap.


"Oh ya? Itu bagus, lalu apa rencananya dengan Padang rumput itu?" Tanya Pak Sanjaya tampak bahagia karena menantunya sangat mencintai Medina.


"Aku akan tanya istriku, nanti. Tapi...beberapa waktu lalu Medina pernah mengutarakan beberapa cita-citanya. Salah satunya adalah yayasan amal, dimana disana mereka bisa belajar dan mendapatkan pengobatan secara gratis." Papar Daniel kali ini menatap ayah mertuanya yang tersenyum.


"Aku akan menjadi donatur pertama yang akan mengisi daftar." Ucap Pak Sanjaya serius dan Daniel mengangguk.


"Ini akan hadiah istimewa untuk Medina." Pak Sanjaya berdiri dan menyentuh pundak Daniel.


"Terimakasih." Ucapnya lagi.


"Rumah yang dulu medina tempati bersama orangtuanya, aku membelinya dan sudah merenovasinya."


"Rumah itu adalah rumah penuh kenangan putri anda. Disana dia dibesarkan dan dididik oleh orangtua asuhnya. Hingga menjadi gadis yang mandiri dan luar biasa."


"Boleh aku bertanya, Nak?" Kali jni Daniel yang menolwh keraha mertuanya. Daniel pun lalu mengangguk.


"Setelah putriku melahirkan, bolehkah kami tinggal bersamanya?"


"Maksudku...."


"Istriku pasti akan sangat bahagia. Jadi aku tidak keberatan dan justru berterimakasih." potong Daniel membuat ayah mertuanya tersenyum bahagia.


"Terimakasih, Nak." Pak Sanjaya tidak bisa menutupi rasa bahagia dan harunya.


Saat mereka kembali berbincang tentang bisnis, tiba-tiba ponsel Daniel yang berada diatas meja berdering. Daniel segera mengambilnya dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Asisten Dokter Helda?" Kening Daniel berkerut namun tangannya langsung menekan ikon hijau hingga panggilan itu tersambung.


"Halo."

__ADS_1


"........"


"Oh, baiklah. Kami akan ke Rumah sakit siang ini juga. Terimakasih informasinya, sus." Daniel menjauhkan ponsel dari telinganya lalu menutup sambungan itu.


"Ada apa?" Pak Sanjaya yang sejak mendengar percakapan menantunya sangat penasaran dengan obrolan menantunya. Apalagi Daniel sempat menyebut Rumah sakit.


"Dokter yang menangani Medina akan mengambil cuti. Jadi jadwal pemeriksaan Medina dimajukan lebih awal dari seharusnya. Aku akan mengabari Medina dan bersiap-siap." Papar Daniel.


****


"Aku akan meminta maaf pada Medina." Ucap Donita setelah penyatuan mereka yang ke lima kalinya. Fian benar-benar tidak melepaskan istrinya hingga benar-benar merasa puas. Donita pun tak menolak perbuatan suaminya. Baginya saat ini, menyenangkan dan membahagiakan suaminya adalah hal utama. Selain agar maafnya diterima sang suami. Tubuh keduanya masih sama-sama polos dan hanya tertutup selimut.


"Hm."


"Sayang...kamu dengar tidak?" Donita kesal dengan jawaban suaminya.


"Dengar." Sahut Fian dengan bibir yang berada di tengkuk istrinya. Mengambil kecupan-kwcupan kecil hingga Donita kembali melenguh.


"Sayang hentikan. Aku tidak ingin semua orang menatapku aneh dipelaminan." Ucap Donita menahan bibir suaminya.


"Memangnya kenapa?" Entah memang polos atau pura-pura tidak tahu, tapi pertanyaan Fian membuat Donita inging melayangkan pukulan.


"Ck..." Donita berdecak membuat Fian tergelak.


"Ayo mandi...dan bersiap." Fian yang bangun lebih dulu membuat Donita melebarkan matanya. Karena dengan santainya suaminya berdiri dihadapannya seraya mengulurkan tangan ke arahnya.


Donita langsung melengos mengalihkan pandangannya. Meski dirinya sudah beberapa kali melihat tubuh polos suaminya namun tetap saja ada rasa malu jika ia melihat dalam keadaan sadar seperti sekarang.


"Kenapa malah membuang muka? Kamu sudah melihat semuanya. Untuk apa kamu harus merasa malu." Rasanya Donita ingin menggigit dada suaminya karena bicara terlalu vulgar.


"Awww..!!!" Pekik Donita terkejut tatkala tubuhnya melayang ke udara. Siapa lagi jika bukan Fian pelakunya. Ia menggendong tubuh polos Donita masuk kedalam bathroom. Dan didalam sana bukan hanya sekedar mandi. Keduanya mengulang kembali manisnya gairah yang membawa kenikmatan untuk kesekian kali.


_


_


_


_


_


_

__ADS_1


__ADS_2