Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 121


__ADS_3

"Honey....kamu yakin ingin menginap disini?" Ini pertanyaan sudah yang kelima kalinya yang ditanyakan oleh Daniel kepada Medina.


"Iya...memangnya kenapa?" Medina yang sedang mengambil pakaian tidur untuk suaminya pun seketika menoleh.


"Tidak apa-apa. Lagipula besok hari Minggu, kita bisa menghabiskan waktu berdua saja disini." Daniel tersenyum bahagia.


"Aku akan siapkan air untuk mandi." Daniel tidak mendengar ucapan istrinya karena sibuk mengecek ponselnya.


Mereka baru saja pulang makan malam di restoran bersama dengan pak Sanjaya dan Ibu Melani.


Daniel terkejut ketika berpapasan dengan Pak Sanjaya setelah bertemu Danu tadi sore. Daniel langsung mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari mertuanya itu, hanya bisa diam mendengarkan lalu barulah dia menjelaskan tentang semua yang ingin diketahui mertuanya itu.


Lalu pak Sanjaya mengajak Daniel dan Medina makan malam bersama direstoran yang tidak jauh dari apartemen.


"Sayang... airnya sudah siap." Suara Medina membuyarkan lamunan Daniel.


"Sudah kubilang...tidak usah menyiapkannya lagi." Daniel mencium tangan Medina dengan mesra.


"Cepat mandi..ini sudah malam." Medina menarik tangan Daniel.


"Jangan katakan jika istriku ingin bercinta lagi." Ucap Daniel membuat manik Medina membulat seketika.


Keduanya tertawa sebelum akhirnya medina mendorong tubuh suaminya masuk kedalam bathroom.


Medina melangkahkan kakinya menuju balkon, tempat favoritnya saat menempati apartemen. Maniknya menatap jauh suasana ibukota dari tempatnya berdiri.


Pikirannya menerawang jauh. Bukan tentang kepulangan mantan tunangan suaminya. Tapi pada sosok Ibu Melani dan pak Sanjaya.


Pada awalnya Medina hanya merasa jika suami istri itu menyayangi nya karena sebatas kedekatan bisnis antara pak Sanjaya dan suaminya. Namun belakangan Medina merasa jika sikap dan perhatian Pak Sanjaya terutama ibu Melani sangatlah berlebihan.


Medina pun tidak menampik perasaannya yang teramat nyaman berada didekat keduanya. Hanya saja...ada yang terasa mengganjal dihatinya. Kenapa mereka begitu perhatian dan meny,ayangi nya seperti rasa cinta orang tua untuk anak kandungnya.


Bahkan Medina pernah berpikir jika Pak Sanjaya dan ibu Melani adalah kedua orangtuanya yang menyerahkan dirinya kepada orangtua angkatnya. Namun pemikiran itu langsung dibuangnya jauh2. Karena tidaklah mungkin orang yang hidup berkecukupan harus menyerahkan bayi mungil kepada orang lain.


Medina menitikkan air matanya tanpa sadar. Hatinya kembali sedih saat mengingat dirinya adalah bayi yang tidak diinginkan boleh kedua orangtua kandung nya hingga harus menyerahkan nya kepada orang lain.


"Mama janji...apapun yang terjadi pada kehidupan mama kelak. Mama akan tetap menggenggam tanganmu dan kita akan berjalan bersama, meski harus menggendongmu melewati bara api." Janji Medina dalam hati.


Medina terus mengajak buah hatinya mengobrol, hingga lengan kekar Daniel melingkar erat diperut Medina.


"Kenapa belum tidur?" Daniel mencium leher Medina dan menghirup wangi khas istrinya. Tangan Daniel ikut mengusap perut Medina.


"Aku merindukan tempat ini." Sahut Medina dengan suara pelan.


"Waktu itu....untuk pertama kalinya mama mengajakku kemari dan langsung membawaku ke kamar." Medina tersenyum.


"Bagaimana perasaanmu waktu itu?" Tanya Daniel.


"Saat aku masuk yang pertama kali aku rasakan adalah wangi parfummu. Dan aku menjadi gugup, seolah ada kakak didekatku." Medina terkekeh mengingat awal ia masuk ke apartemen Daniel.


"Benarkah?" Daniel meletakkan dagunya dipundak Medina.

__ADS_1


"Mama sudah melakukan hal yang benar. Karena setelah kamu masuk ke kamarku, setiap malam aku selalu terbayang wajahmu." Gombal Daniel membuat Medina tertawa..


"Dan aku tidak bisa tidur." Bisik Daniel membuat Medina merinding.


"Waktu berjalan begitu cepat. Terkadang aku masih belum percaya jika saat ini aku...." Medina tidak melanjutkan kata-katanya. Ia terdiam dan tanpa terasa airmata nya kembali mengalir.


Daniel membalik tubuh istrinya lalu merangkup wajah Medina dengan kedua tangannya.


"Apa kamu tidak merasa bahagia bersama denganku?" Tanya Daniel.


Medina menggeleng kuat. Tentu saja ia merasa bahagia bahkan ia sedikit lupa akan kesusahan nya selama ini.


"Aku sangat bahagia. Terimakasih telah memberiku kebahagiaan sebesar ini." Medina mencium pipi suaminya sekilas lalu memeluknya dengan erat.


"Katakan apapun yang mengganjal dihatimu. Apapun itu... aku tidak mau istriku menanggung beban apapun sendirian." Ucap Daniel.


"Dan jangan berterimakasih....Sudah menjadi kewajiban ku untuk membahagiakan istri dan anak-anakku. Kamu paham?"


Medina mengangguk dengan airmata yang masih mengalir di pipinya.


"Ayo tidur. Besok pagi aku akan mengajakmu jogging ditaman favorit mu." Ajak Daniel membawa Medina masuk kedalam.


****


"Mas...apa sebaiknya kita meminta Daniel untuk tidak mengatakan kebenarannya kepada Medina?" Tanya ibu Melani yang sedari tadi terlihat khawatir.


"Kenapa kau begitu khawatir?"


"Medin sedang hamil dan aku takut saat dia mengetahui kebenarannya, dia tidak siap dan....."


"Aku tahu saat ini dia pasti sedang banyak pikiran karena kepulangan Farah."


"Jangan khawatir berlebihan. Akan aku lakukan apapun agar Medina tetap bahagia." Sahut Pak Sanjaya tidak ingin membuat istrinya semakin khawatir.


"Istirahatlah."


****


Sementara itu, dirumah kediaman Keluarga Farah.


"Kamu sudah bertemu Om dan tantemu?" Tanya Papa Farah.


"Sudah." Jawab Farah singkat.


"Ada apa dengan wajahmu?" Ledek papa Farah saat melihat wajah anak gadisnya terlihat muram.


"Kenapa papa tidak memberitahu ku, jika Daniel sudah menikah?" Tanya Farah dengan tatapan tajam kepada papanya. Ia sedikit marah karena papa dan mamanya tidak memberitahu dirinya.


"Papa pikir....kau tidak ingin tahu menahu lagi tentang mantan tunangan mu." Sindir papa Farah. Karena ia tahu alasan saat putrinya meninggalkan pesta pertunangan nya dengan Daniel.


"Tapi pa...."

__ADS_1


"Sudahlah....kau sendiri yang memutuskan pergi dari kehidupannya. Apa sekarang kau menyesalinya?" Selidik Papa Farah.


"Lagipula Daniel menikah dengan gadis biasa. Tidak ada yang spesial dari gadis itu."


"Papa sudah bertemu dengan istri Daniel?" Tanya Farah terkejut ternyata papanya sudah tahu Medina.


"Papa pernah bertemu sekali. Waktu itu mereka belum menikah." Jawab papa Farah.


"What?" Pekik Farah tidak percaya.


"Selera Daniel menurun drastis. Hahahhaha...." Ledek Papa Farah dengan tatapan sinis.


"Tunggu...tunggu. Apa kau sudah bertemu Daniel dan istrinya?" Tanya Papa Farah saat sadar putrinya terus membahas Daniel.


Farah mengangguk malas.


"Baguslah....kau sudah melihat sendiri bukan bagaimana istri Daniel? Dan apa kau tahu? Dia itu mantan perawat Safira." Sinisnya lagi.


"Apa?? Mantan perawat Tante Safira?" Farah terkejut.


"Iya."


"Bagaimana papa tahu?" Tanya Farah.


"Tentu saja papa tahu. Kau menyepelekan papamu?" Papa Farah tidak terima.


"Papa tahu banyak tentang istri Daniel?" Tanya Farah penasaran. Ia menggeser duduknya lebih dekat Dengan sang papa.


"Sungguh kau ingin tahu?" Papa Farah balik bertanya dengan tatapan penuh selidik.


"Ayolah pa. Aku penasaran bagaimana bisa seorang Daniel sampai jatuh cinta pada gadis biasa seperti dia." Bujuk Farah dengan nada sinis.


Sang papa akhirnya menceritakan asal mula pertemuan Medina dengan Daneil menurut yang ia ketahui.


Mendengar cerita sang papa, Farah hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Papa datang ke pernikahan mereka?" Tanya Farah.


Pria paruh baya itu mengggeleng pelan. "Ck..yang benar saja."


"Daniel tidak merasa bersalah sama sekali." Lanjut papa.


"Kau masih menyimpan foto-foto itu?" Tanya Papa Farah.


"Sepertinya iya. Kenapa?" Farah balik bertanya.


"Kau tidak punya rencana untuk mereka?"


"Ayolah pa. Aku kembali kesini untuk memulai segalanya dengan yang baru. Jika Daniel sudah bahagia dengan kehidupan nya yang sekarang. Maka aku bisa apa?" Farah mengehela nafasnya. Ia tahu mengambil hati Daniel kembali akan menjadi hal yang sulit karena Daniel kini banyak berubah. Farah hanya ingin diberi kesempatan untuk menjelaskan kesalahan nya dimasa lalu.


"Gadis itu sangat beruntung." Gumam Farah pelan.

__ADS_1


****


Maaf Pendek....Lagi banyak kerjaan. love you all❤️


__ADS_2