Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 147


__ADS_3

Farah membanting pintu mobil saat dirinya dan semua keluarganya telah sampai dirumah sang kakek, paman dari mamanya dan juga pak Sanjaya.


"Sangat menyebalkan. Mereka menganggap kita sampah." Dengus Farah dengan kesal. Ia tidak terima dengan sikap dan perilaku Daniel kepada keluarganya.


"Sialan!!!" Makinya meluapkan kemarahannya.


"Far...hentikan!" Bujuk sang papa.


"Aku tidak bisa, Pa!" Sungutnya.


"Ini penghinaan untuk kita, Pa!" Farah berteriak tidak terima.


"Atau semua ini sengaja dilakukan mereka untuk merendahkan kita?" Sang mama pun ikut tersulut emosi.


"Far....papa mohon hentikan." pinta sang papa sambil memeluk putrinya. Berusaha menenangkan emosinya yang meledak-ledak.


"Ma, sudahlah. Aku mohon jangan diperpanjang lagi." Cegah Papa Farah. Ia tidak ingin dibuat pusing lagi karena akibat yang ditimbulkan oleh perilaku istrinya.


"Om, kenapa kalian diam saja?" papa Farah menatap jengkel. Namun yang diajak bicara hanya diam saja. Entah apa yang dipikirkan pria tua itu.


"Jika kalian berbuat nekad lagi...papa tidak akan ikut campur lagi." Ancam Papa Farah membuat dua wanita beda usia itu terdiam.


****


Medina memeluk kedua tubuh lelaki yang baru saja keluar dari ruang kerja. Bahkan pelukan Medina semakin erat bersamaan dengan isak tangisnya.


Posisi keduanya yang berjalan beriringan membuat Medina mudah untuk merengkuh kedua tubuh nya.


"Honey..."


"Sayang..."


Panggil kedua lelaki beda usia itu bersamaan.


"Aku mohon jangan seperti ini." Bisik Daniel.


"Suamimu lelaki hebat. Dia calon papa yang protektif. Ayah harus banyak belajar darinya." Pak Sanjaya menatap menantunya.


"Ya. Setidaknya anda harus lebih bijaksana." Sahut Daniel.


"Aku akan terus menangis seperti ini jika kalian membuat jarak karena satu kesalahan." Ucap Medina diantara tangisnya. Membuat kedua lelaki itu langsung tertawa lebar.


Semua orang bernafas lega setelah sempat merasakan suasana yang penuh ketegangan. Melihat tawa di bibir kedua pria nya...semua orang menduga jika semua kesalahpahaman telah mencair.


****


"Sayang...terimakasih sudah memaafkan ayah." Medina tidak henti-hentinya berterimakasih kepada Daniel.


"Terimakasih karena tidak melarangku untuk bertemu Ayah dan ibu."


"Terimakasih atas semua yang kamu lakukan untukku sampai detik ini."


"Terimakasih...mmuaaachh...muaaachh..." Medina menciumi wajah Daniel bertubi-tubi.


"Kamu bahagia?" Tanya Daniel.


"Sangat. Aku sangat bahagia." Jawab Medina dengan mata berkaca-kaca.


"Aku juga bahagia" Ucap Daniel pelan.


"Sekarang tidurlah. Besok kita akan pulang, karena mama harus menyambut kelahiran cucu kedua." Medina teringat jika sang kakak ipar akan melahirkan beberapa hari lagi.


"Ya Allah, iya aku lupa." Karena masalah yang terjadi, Medina hampir melupakan sang kakak ipar.


"Aku juga akan ikut menyambut bayi kecil." Wajah Medina berseri-seri.


"Tidak perlu." Sanggah Daniel.


"Kenapa?"


"Karena Syifa akan menempel terus padamu." Daniel tertawa mengingat keponakan kesayangannya.


"Ah...kamu benar, sayang. Syifaku..."


"Sudah..tidurlah." Daniel membelai rambut Medina.


"Kamu tidak ingin dipeluk dari belakang?" Tanya Daniel saat melihat istrinya belum merubah posisi tidurnya.


"Tidak.."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Aku ingin terus memandangi wajah suamiku yang tampan ini. " Ucap Medina menatap suaminya penuh cinta. Jemarinya mulai menari-nari di atas rahang kokoh yang ditumbuhi bulu-bulu halus.


"Aku mencintaimu, suamiku." Medina mengecup hidung dan bibir suaminya.


"Aku mencintai kalian." Daniel menurunkan tubuhnya agar bisa mencium perut Medina.


Medina tertawa kegelian saat bibir Daniel menyentuh perut buncitnya. Karena Daniel menyingkap piyama Medina hingga perut yang menonjol terbuka sempurna.


Medina mengusap rambut suaminya dengan lembut. Dan tawa Medina terus menghiasi wajahnya tatkala sang suami mengajak bicara calon anak mereka yang berada didalam perutnya. Beberapa kali sang jabang bayi merespon perkataan Daniel dengan membuat gerakan hingga perut Medina menonjol di salah satu sisi lalu sisi lainnya.


"Dia sangat aktif. Apa kamu kesakitan saat dia menendang atau bergerak?" Daniel mengusap perut istrinya yang menonjol.


"Kadang-kadang iya, kadang-kadang tidak." Jawab Medina.


"Boy...kamu tidak boleh nakal. Jangan membuat mama kesusahan. Oke?!" Daniel kembali mengusap perut Medina sambil terus mengajaknya bicara. Medaratkan kecupan bertubi-tubi.


"Iya, papa." Sahut Medina menirukan suara anak kecil.


"Sayang..." Kedua pasang mata mereka saling menatap dalam. Tatapan teduh penuh cinta.


" Terimakasih." Medina merangkum pipi Danjel dengan kedua tangannya.


"Rasanya ribuan bahkan jutaan ucapan terimakasih tidak cukup untuk membayar semua kebaikanmu." Manik Medina mengembun.


Daniel menoleh untuk mengecup tangan Medina. "Tetaplah disisiku, memberi cinta dan dukungan sampai maut memisahkan kita. Itulah bayaran yang bisa kamu berikan padaku."


Medina mengangguk dengan air mata meleleh dari maniknya yang indah. Medina sangat bersyukur karena Tuhan menganugerahi suami dan keluarga yang sangat mencintai dan menyayanginya.


"Terima kasih, Aku mencintaimu." Daniel mengecup pelipis Medina. lalu memeluknya dengan erat.


"Terimakasih telah mencintaiku." Balas Medina membuat Daniel langsung menjauhkan wajahnya.


"Kenapa?" Tanya Medina dengan polosnya.


"Kenapa tidak membalas seperti biasa...Emm__ 'Aku juga mencintaimu, suamiku'__seperti itu?" Daniel menirukan ungkapan cinta yang biasa Medina ucapkan.


"Aku sudah mengatakannya tadi dan bahkan sudah sering." Goda Medina dengan senyumnya.


"Tapi aku ingin kamu terus mengatakannya." Daniel memeluk Medina.


"Sampai kita memiliki banyak anak dan banyak cucu."


"Sampai rambut kita memutih."


"Apa?" Medina tertawa.


"Ayo cepat katakan." Daniel menegakkan tubuhnya. Bersiap mendengarkan ungkapan cinta dari istrinya.


"Sayang, aku mencintaimu." Ucap Medina penuh penghayatan.


"Suamiku..imamku..pangeranku..ayah dari anak-anakku..kakek dari cucu-cucuku..Kakek dari cicit-cicitku__I love y__" Daniel langsung menutup bibir Medina dengan bibirnya.


Kedua bibir saling ******* dan menyesap dengan lembut. Mengalirkan rasa cinta yang semakin besar dan dalam hingga cinta diantara mereka semakin kuat dan tidak ada akan pernah goyah.


****


Fian berdiri di balkon kamarnya sambil memandang hamparan taman bunga yang persis berada dibawahnya. Pikirannya sedikit kacau karena memikirkan nasib pernikahannya yang terancam diundur kembali.


Semalam orangtua Donita memanggil Fian kerumahnya untuk membicarakan perihal hubungan keduanya tanpa sepengetahuan Ayah dan Ibunya.


Pak Faisal menginginkan pernikahan Fian dan Donita secepatnya dilaksanakan sesuai janji Pak Sanjaya beberapa hari yang lalu.


Namun Fian menolak karena untuk saat ini fokusnya pada kesembuhan Ayahnya dan menanti kelahiran keponakan pertamanya yang tidak lama lagi.


Fian mengatakan keluarganya tidak akan lengkap dihari pernikahannya. Karena usia kandungan Medina yang sudah hampir melahirkan.


Ia ingin semua keluarganya berkumpul disaat pernikahannya. Moment spesial yang tidak akan terulang karena hanya berlangsung sekali seumur hidupnya.


Fian yang mengungkapkan alasannya, kembali mendapat penolakan dari calon mertua. Calon mertuanya itu mengatakan Keluarganya sudah menahan malu karena sudah beberapa kali menunda pernikahan putrinya.


"Beri saya waktu untuk memutuskan semua ini, Pa." Pinta Fian kepada calon mertuanya.


"Baiklah." Pak Faisal menarik nafas panjang.


"Aku memberi waktu dua hari untuk kamu mengambil keputusan." Ucap Pak Faisal.


"Jika dalam dua hari aku tidak mendapatkan keputusan, aku akan membatalkan pernikahan ini." Ancam pak Faisal.


"Papa!" Pekik Donita sambil menggelengkan kepalanya.


Gadis itu muncul dari balik pintu. Wajahnya telah basah karena sejak tadi ia mencuri dengar pembicaraan Fian dengan sang papa.

__ADS_1


"Sayang..."


"Donita...."


"Maaf, aku mendengar pembicaraan kalian." Donita melangkah masuk dengan wajah sedih.


"Maafkan aku." Fian meraih tangan Donita. Pria itu tidak berani memandang wajah kekasihnya karena rasa bersalah.


"Pa, aku bersedia menunggu." Donita melihat papa nya.


"Sayang...apa kamu ingin hubungan ini berakhir?" Donita menatap Fian dengan mata yang memerah karena terus menangis.


"Pa...bersabarlah sebentar lagi." Ucap Donita pelan.


"Aku yakin, Fian melakukannya karena ingin yang terbaik untuk kedua keluarga." Donita menggenggam tangan Fian. Seolah memberi dukungan untuk calon suaminya.


"Baiklah." Pak Faisal tidak tega melihat putrinya yang terus memohon.


"Papa akan menunggu seperti katamu. Tapi papa harap ini yang terakhir kali kalian menunda pernikahan."


Kedua sejoli itu tersenyum dan bernafas lega. "Terimakasih, pa." Donita menghampiri papanya lalu memeluknya.


"Papa hanya ingin melakukan yang terbaik untuk kamu." Bisik pak Faisal dan Donita mengangguk.


"Terima kasih, pa. Aku janji ini yang terakhir." Fian ikut menimpali.


*****


"Jaga dirimu baik-baik. Ibu akan menyusul kalian setelah Ayahmu mendapatkan rekomendasi dari dokter." Medina mengangguk.


"Kalian juga harus menjaga kesehatan. Aku akan menunggu Ayah dan ibu dirumah." Balas Medina memeluk ibu Melani.


"Kemana kak Fian?" Medina mengedarkan pandangannya.


"Aku disini." Fian turun dari kamarnya.


Medina langsung menghampiri kakaknya. "Apa kak Fian baik-baik saja?" Tanya Medina penuh selidik. Ia melihat wajah sang kakak sedikit muram.


"Aku baik-baik saja." Jawab Fian dengan senyumnya.


"Jaga kandungan dan kesehatanmu." Ucap Fian pelan. Membuat Medina semakin curiga dengan sikap sang kakak yang tidak seperti biasanya.


"Kak..."


"Apa sesuatu terjadi?" Medina yakin telah terjadi sesuatu dengan sang kakak.


"Bukan apa-apa." Jawab Fian.


"Baiklah. Aku ingin kak Fian juga ikut mengantarku." Medina menarik tangan Fian dan berjalan mendahului semua orang.


****


Setelah mengantarkan anak menantu dan besannya, keluarga Pak Sanjaya kembali pulang kerumah.


"Ada apa dengan Fian? Tidak biasanya dia tidak turun untuk makan bersama." Saat makan malam, Fian tidak ikut turun makan bersama sehingga membuat pak Sanjaya penasaran.


"Aku tidak tahu, Mas. Sejak tadi pagi dia terlihat pendiam." Ibu Melani mengingat Fian yang tidak banyak bicara saat mengantarkan keluarga Medina ke bandara.


Pun saat kembali ke rumah. Putranya terlihat pendiam dan seolah menghindari pembicaraan dengan kedua orangtuanya dengan alasan akan mengerjakan pekerjaan.


"Aku yakin...ini pasti ada kaitannya dengan rencana pernikahan. Ah...aku merasa tidak enak hati dengan Faisal karena terus menunda pernikahan." Pak Sanjaya mengembuskan nafas.


"Bicaralah dengannya, aku akan menyusul."


Keduanya selesai makan malam dan ibu Melani meminta suaminya untuk segera menemui Fian.


"Baiklah." Pak Sanjaya beranjak dari duduknya. Meninggalkan ibu Melani yang masih terdiam seraya memandangi punggung suaminya yang berjalan menjauh.


"Aku akan menelepon Donita." Ibu Melani mengambil ponsel dan menghubungi calon menantunya.


_


_


_


_


_


_

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih sudah mampir. Dukung terus karya ini dengan cara melempar bunga/kopi/ atau like/ vote yg banyak..😘


__ADS_2