
Hari hampir menjelang sore saat Daniel dan Medina tiba dihotel. Didepan lobby nampak Raihan telah menunggu dan menyambut kedatangan bosnya.
Daniel menggandeng tangan Medina masuk kedalam lobby.
"Maaf..membuat mas Raihan harus menunggu lama" Ucap Medina merasa tidak enak hati kepada Raihan.
"Tidak perlu sungkan, Nona" Sahut Raihan.
"Dimana mereka?" Tanya Daniel.
"Pak Radiman dan keluarga nya ada dikamar 502. Saya sudah menyiapkan segala keperluan mereka"
"Apa mereka bertanya tentang kami?" Daniel menatap istrinya.
"Iya, Bos...Tapi saya tidak menjelaskan detail secara pribadi" Jawab Raihan.
"Anda akan menemui mereka sekarang, Bos? Tanya Raihan.
"Honey...kamu ingin langsung bertemu mereka?" Tanya Daniel kepada Medina yang masih berdiri disampingnya.
"Sebaiknya kita membersihkan diri dulu dan beristirahat sebentar" Sahut Medina.
Daniel tersenyum dan menyetujui saran istrinya.
"Baiklah..." Daniel menarik tangan Medina dan masuk ke dalam lift.
Saat sampai didalam kamar, Daniel langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Sementara Medina langsung masuk ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk suaminya.
"Kak...mandilah lebih dulu. Sudah aku siapkan air hangatnya" Ucap Medina setelah keluar dari kamar mandi dan menuju lemari untuk mengambil baju ganti untuk Daniel.
"Kak...airnya keburu dingin" Medina meletakkan baju ganti diatas ranjang dan berbalik ke arah meja rias.
Daniel bangkit dan menghampiri Medina yang sedang membuka hijabnya didepan cermin.
Medina melihat pantulan suaminya yang berjalan mendekat dari cermin. Ia pun tersenyum saat Daniel memeluknya dari belakang. Mengendus ceruk leher Medina yang terbuka.
"Aku ingin dimandikan istriku" Bisik Daniel.
Medina membulatkan matanya tidak percaya.
"Heh? ini Tuan suami tampanku, bukan? mengapa berubah manja?" Canda Medina.
Daniel tertawa. Daniel mengeratkan pelukannya dan menghujani kecupan ditengkuk Medina.
"Kak...Ini sudah sore" Elak Medina hati-hati.
"Justru itu...biar lebih hemat waktu kita mandi bersama" Ucap Daniel dengan seringai liciknya.
Bibir Daniel terus menelusuri tengkuk dan leher jenjang Medina. Bahkan Medina bisa merasakan hembusan nafas Daniel yang mulai bergairah.
"Hanya mandi kan?" Tanya Medina ragu.
"Menurutmu?" Daniel justru menjebak istrinya dengan balik bertanya.
Medina mengambil nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
__ADS_1
"Baiklah...tapi janji dulu tidak akan lama dan tidak akan macam-macam" Pinta Medina.
Daniel mendongak mendengar ucapan istrinya. Ia tersenyum lebar seolah ia mendapat angin surga.
"Aku hanya satu macam" Daniel terkekeh.
"Aku janji, Honey" Daniel mengangkat kedua jarinya ke udara.
Dengan gerakan cepat, Daniel sudah membawa Medina ke dalam gendongannya dan masuk ke kamar mandi.
Daniel benar-benar sedang dibakar api gairah. Permintaan Medina untuk tidak berlama-lama dan tidak macam-macam tidak dipedulikan karena Daniel menginginkan lebih dari sekedar mandi bersama. Daniel tidak pernah lelah dan tidak melepaskan tubuh istrinya dalam permainannya hingga mereka mencapai puncak kenikmatan bersama.
Mereka telah selesai dan kini sudah memakai pakaian untuk bersiap melaksanakan sholat Maghrib. Mereka agak terlambat, karena setelah selesai melaksanakan sholat Maghrib, terdengar suara Adzan Isya bergema dari Handphone Medina.
Daniel menarik tubuh istrinya saat Medina sedang merapikan peralatan sholat. Tubuh Medina yang membelakangi Daniel membuat Daniel dengan mudah mengungkung istrinya dalam dekapannya.
"Honey..."
"hhhhmmm" Sahut Medina
"Kamu marah?" Daniel mengernyit karena Medina menjawab hanya dengan berdehem.
"Siapa yang marah?" Medina balik bertanya. Ia tidak sedang marah. Ia hanya sedikit kesal.
"Apakah sakit? Seperti waktu itu?" Daniel terlihat khawatir. Suaranya sangat pelan bahkan seperti orang bergumam.
Medina memiringkan tubuhnya agar bisa menatap Daniel. Hatinya menghangat saat tatapan Daniel terlihat sendu.
Tangannya terangkat dan membelai wajah suaminya.
"Aku teringat ucapan dokter yang kita temui kemarin. Maafkan aku...Aku tidak bisa mengontrol nafsuku" Ucap Daniel menyesal membuat Medina tersenyum.
"Sedikit perih, tapi tidak sesakit yang pertama" Jawaban Medina seperti memberi angin segar untuk Daniel.
"Benarkah?"
"Iya..." Jawab Medina malu-malu.
Kemudian ia memeluk Daniel dan membisikkan sesuatu ke telinga Daniel.
"Aku sangat lapar, Tuan suami tampan"
Seketika Daniel tertawa lebar dan mengundang pukulan kecil tangan Medina dibahunya.
"Honey...kamu mau makan dimana? apa ingin kuliner malam sambil jalan-jalan?"
Dengan cepat Medina menggeleng.
"Aku lelah...bisakah kita pesan makanan dan makan didalam kamar?" Pinta Medina.
"Baiklah. Aku akan pesan makanan" Tangan Daniel meraih gagang telepon yang berada diatas meja disamping tempat tidur.
Dengan masih memangku Medina, Daniel memesan makanan ke pihak hotel.
"Terimakasih, Sayang" Medina mencium pipi suaminya.
__ADS_1
"Untuk?"
"Semuanya yang kamu lakukan hari ini dan hari-hari sebelumnya" Mata Medina mulai berkaca-kaca.
Daniel mengecup seluruh wajah Medina tanpa terlewat. Begitu juga sebaliknya. Medina mengecupi wajah Daniel tanpa jeda. Mereka benar-benar sedang merasakan bahagia menjadi pasangan yang saling mencinta dan melengkapi.
****
Sementara itu dikamar 502 Pak Radiman, istri dan 2 anaknya sedang membongkar barang belanjaan yang dibelikan oleh Raihan.
"Waaahhh pak...Ini semua barang-barang mahal dari mall guede yang ada dikota" Seru Bude Tatik yang sangat antusias.
"Iyo Bu...bener. Salsa sama Billa jadi kayak anak orang kaya yo bu?" Sahut Pakde yang melihat kedua anaknya sedang mencoba pakaian baru mereka yang diberikan Raihan.
"Bagus Ndak pak..Bu?" Tanya Salsa sembari bergaya dihadapan orangtuanya.
"Iyo nduk...bagus. Kamu tambah cantik" Puji Bude Tatik.
"Tapi nasib Medina jauh lebih beruntung daripada kita, mbak" Celetuk Billa yang pembawaannya lebih kalem dari sang kakak.
"Ndak usah muji-muji dia. Nanti kalo kita udah tinggal dikota..aku juga mau cari laki-laki kota yang kaya seperti suami si Medina itu" Protes Salsa dengan wajah kesalnya.
"Ngimpi sampean, mbak!" Pekik Billa tidak mau kalah.
Kedua kakak beradik itu terlibat adu mulut yang membuat pusing kedua orangtuanya.
"Eeeehhhhh... sudah...sudah. kenapa kalian jadi Podo ribut? Suara kalian bisa membuat seisi hotel ini sakit telinga" Teriak Bude Tatik melerai keributan kedua anak perempuanya.
Billa kesal dan memilih untuk masuk kedalam kamar mandi. Sementara Pakde Radiman terus mondar mandir didalam kamar.
"Oalah pak...Kamu itu udah kayak setrikaan bolak balik terus Ndak ada kerjaan. Aku tambah pusing lihatnya" Ketus bude Tatik.
"Aku udah Ndak sabar pengen ketemu Medina, Bu. Tapi ndak tahu kamar berapa dia menginap sama suaminya"
"Ck..bapak ini kan sudah dengar sendiri dari pak Raihan tadi. Kita cukup menunggu dan menurut saja. Mereka nanti yang menemui kita" Sahut bude Tatik.
"Emangnya bapak mau apa?" Tanya bude Tatik penasaran.
"Bapak ndak bisa menjadi wali nikahnya Medina, Bu. Karena Medina___"
"Ssstttt...bapak punya mulut mbok Yo dijaga" Potong bude Tatik membuat suaminya berhenti bicara. Ia menoleh sekilas Salsa yang sedang fokus dengan dunianya dan berharap anaknya tidak mendengar ucapan suaminya.
"Tapi, Bu..." Elak Pakde Radiman.
"Dengerin ibu, pak. Ini justru kesempatan kita untuk bisa tinggal dikota dan hidup enak. Apa bapak ndak kasihan melihat nasib kita dan masa depan anak-anak kita? Untuk sementara ini, biarkan mereka menganggap kita keluarga kandung Medina. Toh tidak ada yang tahu kebenarannya, selain kita dan bidan yang menolong ibu kandung Medina saat melahirkan Medina. Itu pun jika bapak tidak buka mulut" Ucap Bude Tatik panjang lebar.
Pakde Radiman tampak diam berpikir.
"Kita harus menutup rahasia itu. Sekarang ini, kita hanya akan menurut dan mengikuti apa yang mereka inginkan. Dan kita akan gunakan rahasia Medina untuk mengambil kesempatan yang jauh lebih besar" Ucap Bude Tatik dengan senyum jahatnya.
Pakde Radiman hanya manggut-manggut mendengar rencana istrinya.
"Untuk saat ini, biarlah kita seperti orang bodoh yang terlihat ingin membalas budi karena suaminya Medina sudah mengeluarkan bapak dari penjara dan membayar semua hutang-hutang kita"
"Kita akan manfaatkan situasi ini" Bibir bude Tatik tidak berhenti tersenyum licik.
__ADS_1