Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 128


__ADS_3

"Sayang....sampai kapan kita disini?" Tanya Medina setelah hampir satu Minggu ini mereka masih berada divilla.


Dan selama itu pula Medina melihat gelagat suaminya yang tidak biasa. Mulai dari menerima telepon dengan sembunyi-sembunyi, tidak memberinya ponsel bahkan untuk menelpon mama Safira ia harus merengek dan menangis dan akhirnya diijinkan meski hanya sebentar.


"Apakah kamu sudah mulai bosan?" Daniel balik bertanya. Ia menutup komputer lipat dan menaruhnya diatas meja.


"Tidak. Aku suka disini tapi aku juga rindu mama dan semuanya." Medina merebahkan tubuhnya.


Daniel beranjak dari sofa dan menghampiri Medina yang berada diatas ranjang.


"Aku sudah sehat. Lebih baik kita pulang." Pinta Medina dengan wajah memohon. Medina masih menahan diri untuk tidak terlihat curiga.


"Aku janji tidak akan menyembunyikan hal apapun lagi." Lanjutnya.


"Honey...." Daniel duduk dihadapan Medina dengan tatapan intens.


"Apa kakak menyembunyikan sesuatu dariku?" Medina menelisik wajah suaminya yang terlihat berbeda.


"Ini tentang kedua orangtuamu." Daniel mengusap pipi Medina dengan lembut.


Daniel menyadari tidak mungkin untuk menyembunyikan kebenaran ini lebih lama lagi. Apalagi ia melihat bagaimana pak Sanjaya dan Ibu Melani berusaha untuk melindungi Medina ketika tahu ada orang-orang yang berniat jahat padanya.


Seketika wajah Medina berubah. Tubuhnya menegang karena ucapan suaminya.


"Apa mereka masih hidup?" Pertanyaan Medina lolos begitu saja dan Daniel mengangguk pelan.


"Honey...maafkan aku." Tiba-tiba suara Daniel tercekat.


"Ada apa?"


"Apa keberadaan ku disini ada hubungannya dengan mereka?" Tebak Medina.


Hatinya bergemuruh hingga menimbulkan rasa sesak didada. Cairan bening mulai menggenang diujung maniknya yang bulat.


"Honey....dengarkan aku. Aku akan memberitahumu dan setelah itu kamu boleh marah padaku. Akan aku terima. Tapi berjanjilah satu hal....."


"Aku tidak akan bertanya lagi. Jadi...katakan sekarang juga." Suara Medina terdengar bergetar.


"Mereka...."


****


Sementara itu di pulau B, Pak Sanjaya baru saja keluar dari kantornya yang saat ini dikelola Fian.


"Fian...katakan pada calon mertua kamu, malam ini kami akan datang berkunjung ke rumah." Ucap Pak Sanjaya sebelum pergi.


"Baik ayah." jawab Fian.


Pak Sanjaya meninggalkan kantor Fian dan segera pergi ke kantor pengacara keluarga yang selama ini selalu mengurusi segala sesuatu yang berhubungan dengan keluarga itu.


Didepan kantor, sang pengacara sudah menunggu kedatangan klien nya.


"Selamat datang, Tuan Sanjaya." Sambut sang pengacara.


"Apa kabar?"


"Alhamdulilah semuanya baik dan sesuai keinginan anda." Jawab Pengacara yang tahu maksud dari pertanyaan pak Sanjaya.


"Apa mereka setuju?" Keduanya berjalan masuk kedalam kantor dan duduk diruangan pengacara.


"Ada satu syarat yang diajukan paman dan adik anda." Jawab Pengacara dengan hati-hati.


"Cih...sudah merampok masih bisa-bisa nya mereka mengajukan syarat. Apa syarat mereka?" Tanya Pak Sanjaya dengan raut wajah kesal.


"Tidak ada yang boleh menempati rumah utama." Jawab Pengacara lugas.


"Apa?" Pak Sanjaya terkejut dengan syarat yang diajukan..


"Rumah itu bahkan selamat dari sitaan bank karena aku yang membayarnya. Mereka benar-benar mencari masalah." Rahang pak Sanjaya tampak mengeras.


"Jika aku tidak menuruti keinginan mereka? Apa yang akan mereka lakukan?" Pak Sanjaya menatap tajam pengacara.

__ADS_1


"Mereka akan menuntut Anda ke pengadilan."


"Mereka bercanda?" Pak Sanjaya tidak habis pikir dengan kelakuan kedua anggota keluarganya.


Pak sanjya menghela nafasnya dengan panjang. Sebenarnya ia tidak mau berurusan lebih panjang dengan kedua adik dan pamannya. Karena masih menghormati keduanya. Masalah harta bukanlah hal yang penting untuknya. Pak Sanjaya bisa saja menututi keinginan Paman dan adik perempuannya namun sepertinya ia harus mengambil sikap tegas. Karena fokusnya saat ini adalah pengakuan Medina. Harta paling berharga dalam hidup pak Sanjaya saat ini.


"Aku akan menuntut balik mereka dengan tuduhan pemerasaan dan pengancaman atas nyawa seseorang." Tegas pak Sanjaya. Ia benar-benar tidak ingin kompromi lagi.


"Katakan pada mereka aku tidak bisa menuruti keinginan mereka. Jika mereka keberatan, mereka tidak akan menerima satu sen pun dan akan berakhir di penjara." Ucap Pak Sanjaya tak terbantahkan.


"Persiapkan segalanya untuk menyeret mereka ke penjara." Pak Sanjaya meninggalkan kantor pengacara. Moodnya benar-benar rusak dan kacau.


Didalam mobil pak Sanjaya merebahkan tubuhnya dan memijit batang hidungnya merasakan kepalanya sedikit pusing.


"Anda tidak apa-apa, Tuan." Tanya Supir yang sedari tadi memperhatikan majikannya.


"Hm,..." Pak Sanjaya masih memejamkan matanya. Pikirannya tertuju pada Medina. Ia sangat merindukan putrinya.


"Apa yang sedang mereka lakukan?" Tanyanya dalam hati.


"Kita kemana Tuan?" Tanya supir pak Sanjaya.


Sang supir yang tidak mendapatkan jawaban dari majikan. Ia tahu betul jika saat ini Tuannya sedang ingin sendiri. Ia melajukan mobilnya ke sebuah komplek pemakaman.


"Ini Tuan." Supir itu memberikan satu keranjang berisi kelopak bunga.


"Terimakasih." Pak Sanjaya tersenyum menepuk pundak sang supir.


"Maaf tidak meminta ijin Anda sebelumnya." Supir itu menunduk.


"Kamu sangat paham. Terimakasih." Pak Sanjaya berjalan masuk ke dalam komplek pemakaman dan berlutut saat sudah berada disamping pusara Kedua orangtuanya.


Pak Sanjaya beranjak dan meninggalkan pemakaman setelah hampir setengah jam lamanya berada disana. Beliau meminta supirnya untuk mampir ke toko kue langganan untuk membeli kue kesukaan istrinya sebelum kembali ke rumah.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Pak Sanjaya disambut senyuman cantik Ibu Melani yang menyambutnya didepan pintu.


"Kenapa ponsel kamu ga aktif, Mas? Aku menghawatirkan kamu." Ibu Melani memeluk suaminya saat sudah dekat.


"Terimakasih." Ibu Melani menerima kue dan masuk bersama.


"Bagaimana hasilnya?" Tanya ibu Melani saat mereka sudah berada dikamar.


"Aku minta maaf. Aku tidak bisa berkompromi lagi dengan sikap arogan mereka." Pak Sanjaya menatap Ibu Melani dengan wajah yang menahan amarah.


"Mas...."


"Cukup Mel...biarkan kali ini aku berbuat yang seharusnya aku lakukan sejak dulu." Elak Pak Sanjaya karena ia tahu pasti Istrinya tidak menyetujui keputusan nya.


"Apa yang akan kamu lakukan, Mas?"


"Aku akan menuntut mereka." Tegas pak Sanjaya.


"Apa?"


Pak Sanjaya menarik tangan Ibu Melani dan mendudukkannya ditepi ranjang.


"Jika hanya karena harta aku akan memberikannya. Tapi mereka sudah kelewat batas. Aku menyimpan bukti, bahwa mereka menyewa orang untuk menculik dan melukai Medina." Jelas pak Sanjaya.


"Jika sampai terjadi sesuatu dengan Medina, aku tidak akan mengampuni mereka."


"Tapi Medina baik-baik saja."


"Aku tetap akan melaporkan nya. Aku ingin memberi mereka pelajaran dan efek jera." Lanjut pak Sanjaya.


"Aku tidak akan melaporkan mereka tanpa bukti yang kuat. Jadi jangan khawatir." Pak Sanjaya melihat kecemasan diwajah istrinya.


"Semoga mereka menyadari kesalahannya." Ucap ibu Melani.


"Ya. Ah ya...bersiaplah karena malam ini kita akan silaturrahmi ke rumah calon besan." Pak Sanjaya beranjak menuju kamar mandi.


"Kenapa mendadak?"

__ADS_1


"Aku ingin segera kembali dan bertemu putri kita. Aku sangat merindukannya."


"Aku juga sangat merindukannya." Ucap Ibu Melani dengan mata berkaca-kaca.


*****


Medina masih menangis setelah Daniel mengatakan kebenaran tentang kedua orangtuanya. Daniel terus memeluknya meski Medina menolaknya.


"Aku mohon jangan begini." Daniel memohon agar Medina berhenti menangis yang terdengar menyanyat hati.


"Aku ingin sendiri." Lirih Medina dengan terisak.


"Aku tidak akan meninggalkan mu, Honey." Daniel mencium kepala Medina.


"Aku tidak marah.... tapi aku benar-benar ingin sendiri. Aku mohon." Medina menatap suaminya dengan tatapan memohon. Ia benar-benar ingin sendiri dulu karena saat ini ia tidak bisa berpikir jernih.


"Honey...."


"Aku akan baik-baik saja. Aku janji." Tegas Medina.


Daniel menatap wanitanya yang terlihat rapuh. Ia tidak tega meninggalkannya. Tapi ia sadar, jika saat ini Medina butuh waktu sendiri untuk mengambil keputusan.


"Baiklah." Daniel mencium kening Medina dan meninggalkan kamar.


Medina kembali menangis setelah Daniel keluar kamar. Meski saat itu ia berharap memiliki kedua orangtua seperti pak Sanjaya dan ibu Melani, namun kenyataannya tidak mudah untuk menerima kenyataan, bahwa mereka lah kedua orangtua kandungnya.


Meski Daniel menceritakan alasan ibu Melani meninggalkan dirinya, namun kenyataannya ia tidak bisa menerima alasan apapun saat ini. Hatinya terasa sakit.


"Selama ini aku menginginkan suamiku mencari keberadaan kedua orangtuaku. Tapi setelah semua kebenaran berada didepan mataku, mengapa hatiku begitu sakit? Mengapa aku sulit menerima kenyataan ini? Mengapa aku justru menyalahkan suamiku?" Medina berbicara dengan dirinya sendiri setelah beberapa saat ia berpikir dalam kesendirian nya.


"Tapi kenapa harus disembunyikan begitu lama? Kenapa tidak langsung memberitahu diriku?" Kesal Medina mengingat dirinya yang merasa sudah dibohongi.


Medina kembali menangis hingga dirinya tertidur meringkuk diatas ranjang.


Sementara diluar Daniel menyambut mama dan Kak Danu, Rani dan Syifa yang baru saja tiba disana.


"Mama...."


"Dimana Medina?" Suara mama terdengar bergetar.


Daniel menang menelepon keluarganya dan meminta mama Safira dan yang lainnya datang karena khawatir ia tidak bisa menenangkan Medina.


"Dia dikamar." Jawab Daniel.


"Kenapa ditinggal sendirian?" Geram mama Safira.


"Medina bilang ingin sendiri."


"Ish...." Mama Safira makin kesal.


"Mama harus tenang jika ingin menemui Medina." Saran Danu sebelum mama Safira beranjak masuk ke kamar.


"Iya." Mama Safira mengambil nafas panjang dan mengembuskan nya perlahan.


"Ma...." Panggilan Daniel terputus.


"Mama mengerti." Mama Safira menatap putranya dan tersenyum. Ia tahu apa yang diinginkan putranya.


_


_


_


_


_


Mohon maaf tidak up setiap hari.


Terimakasih atas dukungan nya.

__ADS_1


__ADS_2