Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 29


__ADS_3

"mama..." Entah sudah berapa puluh kali ia terus memanggil mama mertuanya itu. Tapi setidaknya ia merasa nyaman meski hanya menyebut nama itu.


Sementara didalam kamar Daniel sudah mengganti pakaiannya dan selesai melaksanakan sholat Dzuhur dan Ashar. Ia berpikir Medina sholat diruang kerjanya dan saat ini sudah selesai. Ia membuka pintu kamar dan berjalan menuju ruang kerja.


"Honey,,,apa kamu sudah selesai?" Ucap Daniel di depan pintu. Daniel mengernyitkan keningnya ketika lagi-lagi Medina tidak menyahuti panggilannya.


"ada apa dengan gadisku? Bahkan aku sudah minta maaf dan tetap saja tidak meresponku" Gumam Daniel dalam hati.


Daniel sudah memegang handle pintu dan mendorong nya. Mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang kerjanya.


"apa dia semarah itu padaku?"


Daniel membalikkan badannya dan keluar dari ruang kerjanya menuju dapur.


"Apa dia sudah meninggalkan ku?" Daniel tidak lagi melihat tas ransel Medina diatas dapur dan berpikir jika Medina sudah pergi dari apartemen nya.


Saat melewati kamar mandi yang tidak jauh dari dapur ia mendengar suara tangisan.


"Honey..kamu masih didalam?"


"Honey...katakan padaku ada apa? jangan membuatku panik dan khawatir"


"aku minta maaf kalo aku berlebihan. Tapi aku hanya bercanda"


Daniel terus mengoceh di depan pintu kamar mandi. Tanpa sahutan dari Medina.


"Honey...buka pintunya atau aku dobrak"


Kali ini Daniel berteriak dengan tangan yg terus memutar paksa handle pintu. Ia khawatir calon istrinya dalam kondisi tidak baik karena sudah hampir satu jam ia berdiam diri didalam sana.


Mendengar Daniel akan mendobrak pintu, Medina beringsut dari duduknya dan membuka kunci pintu. Namun ia kembali duduk diatas closet. Daniel segera meraih handle pintu dan


Ceklek


Pintu terbuka..Daniel langsung meringsek masuk dan mendapati Medina membenamkan wajahnya ke dalam kedua lututnya yang ditekuk keatas. Daniel melihat isi ransel Medina yang berantakan diatas westafel.


"Honey..." Daniel menghampiri kemudian jongkok dihadapan Medina.


"Ada apa?"


Medina mengangkat wajahnya yang memerah karena menangis dan memberanikan diri menatap wajah calon suaminya.


"kak..." panggil Medina lirih. Saat ini ia sudah membuang semua rasa malu, takut dan canggungnya. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini kecuali meminta bantuan pada Daniel.


Daniel mengangguk pelan.


"kamu sakit?" Medina menggeleng.


"Emm...anu...eemm...Medina...butuh pembalut dan..."


Meski terkejut namun Daniel berusaha menahan diri untuk tidak bertindak berlebihan. Meski dirinya ingin sekali menguyel-uyel gemas gadis dihadapannya itu.


"Dan apa?" Tanya Daniel karena Medina tidak segera menyelesaikan ucapannya.


"****** *****...maaf" Medina membenamkan kembali wajahnya setelah mengucapkan itu. Ia sungguh malu karena harus meminta bantuan Daniel untuk mencarikan barang-barang yang tidak pantas disebutkan dihadapan seoarang pria.


"Apa kamu datang bulan?" Medina mengangguk pelan.

__ADS_1


Sebagai pria dewasa, ketika mendengar hal sensitif itu, tidak menampik jika birahinya kini bergejolak. Namun Daniel masih bisa menguasai dirinya dengan baik. Kini ia mengerti mengapa Medina sangat lama berada didalam kamar mandi dan tidak merespon panggilannya.


"Baiklah...aku akan ke supermarket bawah dan mencari kebutuhan mu" Daniel sudah berdiri dan hendak beranjak keluar kamar mandi. Tapi langkahnya terhenti saat Medina memanggilnya.


"Kak.."


Daniel membalikkan badan.


"Kamu butuh yang lain, nona?" Tanya Daniel.


"Maaf..." Hanya kata itu yang Medina ucapkan. Ia merasa telah menjatuhkan harga diri seorang Daniel karena harus membelikan benda-benda yang tidak seharusnya. Meski saat ini, Daniel adalah calon suaminya sendiri. Namun tetap saja bagi Medina ini tidak sopan.


Daniel hanya tersenyum dan berlalu dari sana.


Medina belum beranjak dari duduknya. Ia berharap Daniel segera kembali dan membawa barang-barang yang ia butuhkan. Karena ia merasa darah haid nya kini bertambah banyak keluar dan merembes mengenai bajunya.


Tidak lama kemudian, Daniel mengetuk pintu kamar mandi. Dengan cepat Medina membuka pintu. Dan alangkah terkejutnya saat melihat belanjaan yang dibawa Daniel hingga mulut Medina menganga.


"Aku tidak tau ukuran celana dalammu, jadi aku membeli semua size dan model" Ucap Daniel enteng.


Medina kehabisan kata-kata. Ia semakin merasa malu setengah mati. Selain sudah menyuruh Daniel membeli barang-barang khas wanita, ia juga lupa memberi tahu jenis dan ukurannya. Sehingga Daniel harus memborong semua jenis pembalut dan ukuran ****** ***** wanita.


"Cepatlah bersihkan diri. Mama sudah menelepon dan menanyakanmu. Aku akan menunggumu" Ucap Daniel setelah memberikan paper bag berisi baju yang baru ia beli dibawah tadi.


Daniel duduk disofa panjang lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Ia menelepon Arif karena 2 hari ini ia tidak ke kantor.


"Halo, Rif. Bagaimana urusan kantor hari ini?"


"___"


"Terimakasih. Jangan lupa dengan tugasmu besok"


"___"


"___"


"Jam 1 siang harus sudah dirumah. Kalo sampe telat, Lo gue the end"


"___"


Daniel mengakhiri panggilannya, lalu menyesap minuman kaleng yang baru saja ia beli tadi. Menyandarkan kepalanya disandaran sofa dan tertawa kecil saat mengingat kejadian saat disupermarket. Rasa malunya menguap begitu saja saat ia memikirkan nasib gadisnya yang masih berada didalam kamar mandi. Tidak mempedulikan sorotan mata tajam pengunjung supermarket dan pegawai supermarket yang menahan tawa melihat dirinya memborong pembalut dan ****** *****.


Garis bibir Daniel terus melengkung manis. Hingga Medina datang dan menghampiri nya.


Daniel menatap Medina dengan tatapan cinta. Gadisnya selalu terlihat cantik.


"Bisa kita pulang sekarang?" Ucap Medina yang terus berusaha bersikap tenang dihadapan Daniel.


"Apartemen ini juga akan menjadi tempat kita pulang, Honey" Goda Daniel membuat sikap tenang Medina hampir roboh.


Medina mencoba mengalihkan pandangannya agar tidak terlihat gugup dihadapan Daniel.


"Aku rindu mama" Ucap Medina pelan lalu berjalan keluar meninggalkan Daniel yang masih berdiri mematung.


"Entah apa yang terjadi, jika aku benar-benar membawamu tinggal disini dan berpisah dengan mama setelah menikah nanti. Istriku pasti akan merengek setiap hari" Daniel bericara dengan dirinya sendiri.


***

__ADS_1


Sementara itu dirumah mama Safira sudah berkumpul bersama Kak Danu, Rani, Syifa dan Arif. Mereka menunggu Daniel dan Medina untuk membicarakan perihal persiapan pernikahan keduanya besok siang.


"Apa yang mereka lakukan seharian ini" Gerutu Danu.


"Bahkan ponsel Medina sekarang sudah tidak bisa dihubungi" Mama ikut menimpali.


"Setidaknya hari ini ada 3 meeting yang dicancel karena Daniel tidak datang ke kantor" Arif ikut-ikutan mengeluh tentang Daniel.


Sementara Rani hanya menjadi pendengar yang baik. Dan sesekali terkekeh sendiri.


"Bunda ketawain apa?" Tanya Syifa saat melihat bundanya tertawa.


"Ga papa Syifa sayang. Bunda kangen sama mama Niel. Syifa kangen ga?"


"Ifa kangen mama Niel, Bun..kangeeeenn banget" Syifa merentangkan kedua tangannya ke samping. Mengekspresikan rasa kangennya pada Medina yang seharian ini belum ia temui.


Suasana diruang tengah menjadi riuh karena menertawakan tingkah gemas Syifa.


"Assalamualaikum" Suara Medina membuat semua orang yang berada diruang tengah pun menoleh.


"wa'alaikum salam" Sahut mereka bersamaan.


"mama Niel..." Syifa berlari dari pangkuan bundanya menghambur memeluk Medina.


Medina berjongkok untuk menyamai tinggi badan Syifa dan membalas pelukan gadis kecil itu. Medina menggendong Syifa membawa nya duduk disofa.


"Ma...Medina kangen mama. Maafin Medina udah pergi seharian ninggalin mama" Kini Medina beralih memeluk mama Safira dengan erat. Mama Safira membalas pelukan hangat Medina.


"Mama juga kangen kamu, sayang"


"Kalian dari mana aja sih? Hari gini baru pulang? Semua orang dibuat panik karena rencana dadakan, dia malah enak-enakan pergi berdua tanpa bersalah" Berondong Danu ketika melihat Daniel masuk kedalam rumah.


"Maaf kak...Medina juga ga tahu Kak Daniel buat rencana itu. Dan baru tadi pagi bilang" Ucap Medina menunduk. Ia tahu maksud arah ucapan Danu kemana.


Medina memang benar-benar tidak tahu menahu soal rencana pernikahannya yang akan diadakan besok, meski masih sebatas menikah siri. Meski ingin menolak, namun Daniel terus membujuknya bahwa ini yang terbaik untuk saat ini.


"Jadi?? apa semuanya sudah siap untuk acara besok, ma?" Tanya Daniel dengan entengnya. Sengaja ia mendekati mamanya dan duduk disampingnya. selain mencari aman dari Omelan Danu, ia juga tahu bahwa mamanya pasti sudah menyiapkan semuanya dengan baik walaupun melalui tangan kakaknya.


Danu membulatkan matanya tidak percaya dengan pertanyaan adiknya.


"Dasar bocah!!" Kesal Danu.


Semua orang disana tergelak. Meski sudah sama-sama berumur tapi tetap saja jika Danu dan Daniel bersama akan terlihat seperti remaja ABG yang tidak sungkan untuk menjahili satu sama lain. Namun disanalah letak kehangatan keluarga itu tercipta.


_


_


_


_


_


_


_

__ADS_1


_


__ADS_2