Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 103


__ADS_3

Ponsel Daniel berdering saat ia baru keluar dari kamar mandi bersama istrinya. Mereka baru saja membersihkan diri setelah olahraga malam yang melelahkan.


"Sayang, ponselmu" Medina membuka lemari dan mengambil pakaian untuk suaminya.


Daniel yang masih memakai handuk mengambil ponselnya.


"Pak Sanjaya" Ia melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.


Namun saat Daniel akan menekan icon hijau, panggilan itu terputus. Bahkan ada 10 kali panggilan tak terjawab dari pak Sanjaya saat mereka dikamar mandi.


"Kenapa tidak diangkat?" Medina menyerahkan baju ganti ke tangan Daniel.


"Terputus. Nanti aku akan menghubunginya lagi." Daniel melepas handuknya dan memakai pakaiannya.


"Kebiasaan!!" Gerutu Medina melihat suaminya berganti pakaian dihadapannya.


Medina mengambil handuk dari tangan suaminya dan hendak berlalu pergi namun Daniel dengan cepat mencegahnya.


"Hampir tiap saat kamu melihatnya bahkan menikmatinya" Bisik Daniel dengan seringainya.


Medina terkekeh geli mendengar kalimat absurb suaminya. "Ya...aku tidak menolak kenikmatan yang satu itu". Keduanya tertawa terbahak-bahak.


"Aku harus menelepon seseorang, istirahatlah lebih dulu" Daniel mencium dahi Medina dan keluar dari kamar.


Medina masih tersenyum menatap punggung suaminya yang berjalan keluar kamar. Kemudian merebahkan badannya di ranjang dan langsung terlelap karena sudah lelah dan mengantuk.


Daniel berjalan menuju ruang baca. Ia senagaja mencari tempat aman untuk menelepon pak Sanjaya.


"Halo, selamat malam Pak" Sapa Daniel saat telepon telah tersambung.


"Selamat malam. Daniel....Maaf meneleponmu malam-malam begini. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Tapi bukan masalah pekerjaan" Ucap Apk Sanjaya seberang telepon.


"DEG!!!"


Daniel yang telah mengetahui jika pak Sanjaya adalah orangtua kandung istrinya mencoba menahan diri agar emosinya tidak meluap.


"Aku tidak tahu harus memulainya dari mana, tapi sebaiknya kita bertemu"


"Baiklah...Saya akan menunggu anda dikantor" Ucap Daniel tanpa basa-basi.


"Tidak... jangan dikantor. Kita akan bertemu di Hotel XXX kamar 501" Tolak Pak Sanjaya cepat dan memberi alamat tempat mereka bertemu nanti.


Daniel menyanggupi permintaan Pak Sanjaya. Ia tahu, tidak mungkin membicarakan hal pribadi didalam kantor. Akan ada banyak telinga yang akan mendengar dan Daniel tidak mau jika nantinya nama istrinya menjadi bahan gosip karyawannya.


Setelah menutup telepon, Daniel kembali ke dalam kamar. Daniel melihat istrinya sudah tidur dengan sangat nyenyak.


Daniel naik keatas ranjang dan memeluk Medina


"Mimpi yang indah, Honey" Daniel mencium dahi Medina lembut.


Medina menggeliat pelan lalu membalas pelukan Daniel membuat pria bermata coklat itu tertawa gemas.


Daniel terus memandangi wajah istrinya sambil membelai surai hitam Medina yang tergerai indah.


"Semoga pertemuanku dengan keluargamu akan mendatangkan satu kebahagiaan lain untukmu" Ucap Daniel dalam hati.


****


Pagi hari setelah membantu menyiapkan sarapan bersama Bu Inang, Medina kembali ke kamarnya untuk membantu suaminya bersiap ke kantor.


Saat Medina masuk, Daniel baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan hanya berbalut handuk selutut dan tubuh kekar yang masih terlihat basah, Daniel nampak seksi di mata Medina.


"Jangan hanya melihat, kamu bisa meminta dan menyentuh bagian yang ingin kamu sentuh" Daniel menghampiri Medina yang sedari tadi memperhatikannya.


"Ge-er" Medina memanyunkan bibirnya. Ia tidak habis pikir suaminya semakin mesum.


"Kenapa tidak dipakai didalam kamar mandi?" Medina melihat baju dalaman suaminya yang masih tergeletak diatas meja.


"Kenapa harus didalam kamar mandi?" Tanya Daniel pura-pura polos. Padahal ia sengaja tidak membawa pakaian dalam ke kamar mandi, ingin mengerjai istrinya.


Medina segera mengambilnya dan menyerahkan pakaian dalam itu kepada Daniel.


"Bagaimana jika ada yang masuk tiba-tiba?" Medina menahan handuk yang hendak dilepas suaminya.


"Tidak akan ada yang masuk" handuk Daniel sudah jatuh ke lantai.


Melihat tingkah suaminya, Medina hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia berjalan ke arah lemari dan mengambil pakaian yang akan dipakai Daniel ke kantor.


"Ya Allah...suamiku semakin mesum" Gumam Medina pelan namun masih bisa didengar oleh Daniel.


Daniel tertawa lebar mendengar ucapan istrinya. Ia sangat senang dan gemas mengerjai Medina yang masih malu-malu.

__ADS_1


"Apa kita akan pulang ke apartemen?" Tanya Medina saat membantu suaminya memasang kancing kemeja.


"Apa kamu ingin pulang?" Daniel balik bertanya sambil menatap wajah Medina.


"Sejujurnya aku tidak ingin pulang ke apartemen. Aku lebih suka disini. Tapi aku akan selalu mengikuti kemanapun suamiku tinggal" Pernyataan Medina membuat Daniel tersenyum.


"Aku juga ingin meneruskan sekolah paketku dan mengambil kursus baking. Yaa...setidaknya aku punya kesibukan" Medina telah selesai membantu suaminya.


"Kakak sudah berjanji, dan aku sedang menagih janji" Medina mendongak dan menatap suaminya.


"Kamu akan mendapatkan dua hal itu, Honey" Daniel mencium bibir Medina membuat Medina tersenyum cantik.


"Berarti kita masih akan tinggal di apartemen?" Daniel mengiyakan dengan anggukan.


"Baiklah, terimakasih, sayang" Kedua tangan Medina bergelayut manja dileher Daniel yang menjulang.


"Aku minta hadiahku karena sudah mengabulkan permintaan mu" Medina melotot tidak percaya.


"Baiklah...akan aku pikirkan hadiah apa yang pantas suamiku dapatkan" Medina tersenyum jahil.


Daniel menyadari senyum jahil istrinya. "Apa yang kamu pikirkan?" Daniel khawatir istrinya akan melakukan hal konyol.


"Hahahaha...Ayo... semua orang pasti sudah ada dimeja makan" Medina menarik tangan suaminya keluar kamar.


Setelah Daniel dan Danu pergi ke kantor, Syifa pergi ke sekolah diantar bundanya, kini tinggal Mama Safira dan Medina di meja makan.


"Sayang...mama ada janji dengan Tante Latifah. Apa kamu mau ikut?" Tanya Mama Safira.


"Medina dirumah saja. Medina belum membongkar koper sepulang dari bulan mandu" Jawab Medina.


"Baiklah...mama akan bersiap-siap dulu" Mama Safira beranjak dari duduknya dan berjalan ke kamar.


Medina kembali melanjutkan membereskan sisa makanan dimeja makan dan membawanya ke dapur.


"Bi...panggil yang lain untuk sarapan. Setelah itu, bisakah bibi membantuku membongkar koper? Aku membeli hadiah untuk semua orang" Medina tersenyum cantik.


"Tentu saja bisa, nduk. Setelah selesai bibi akan kekamarmu" Sahut Bu Inang.


"Terimakasih, Bi. Aku akan ke kamar mama sebentar". Medina berjalan meninggalkan dapur.


Namun sebelum masuk kekamar mama Safira, suara Tante Latifah sudah terdengar diteras rumah. Medina mengurungkan niatnya masuk kedalam kamar mama Safira dan memilih berjalan keluar untuk membuka pintu.


"Jaka...bawa box yang hijau itu juga. Nahh...bawa semuanya masuk" Titahnya kepada mang Jaka yang membantunya mengeluarkan beberapa barang dari dalam mobilnya.


"Wa'alaikumsalam...halo sayaaangggg?? Pengantin sudah pulang honeymoon? kenapa cepat sekali??" Tanyanya sambil menghampiri Medina.


"Iya tante" Medina langsung menyalami dan menautkan pipi.


"Apa Daniel sudah pergi bekerja?" Tanyanya sambil melangkah masuk kedalam rumah.


"Apa kakakku sudah siap?"


Medina yang mendengar pertanyaan Tante Latifah hanya bisa mengangguk sambil tersenyum.


"Ya ampun...kenapa kamu terus tersenyum cantik seperti itu?" Tante Latifah memeluk Medina.


"Jangan memeluk putriku terlalu lama" Suara mama Safira mengejutkan keduanya.


"Oh ya ampun....pertama putranya dan sekarang ibunya berubah menjadi posesif" Ucap Tante Latifah dengan gaya bicaranya yang penuh canda. Ketiganya pun tergelak.


"Kita berangkat sekarang?"


"Oh tentu saja kakak. Oh ya...kenapa kamu tidak ikut saja sayang?" Tante Latifah menarik tangan Medina.


"Hei...putriku baru pulang bulan madu dan dia masih harus banyak istirahat setelah bertempur dimedan perang" Larang mama Safira dengan gaya absubrnya.


"Kamu lihat itu? dia adalah kakakku yang sebenarnya" Bisik Tante Latufah kepada Medina.


Medina hanya bisa tersenyum.


"Baiklah sayang...mama pergi dulu" Mama Safira memeluk Medina.


"Hati-hati dan jangan telat makan dan minum obatnya, ma" Pesan Medina..


"Iya...jangan khawatirkan mama" Sahut Mama Safira.


"Tante...Medina titip mama ya" Medina memeluk tante Latifah.


"Jangan khawatirkan soal itu. Tante akan mengembalikan mamamu dengan keadaan sehat dan selamat. Daaah sayang..." Kedua wanita paruh baya itu masuk kedalam mobil dan meninggalkan rumah.


Setelah mobil tidak terlihat lagi, Medina masuk kembali kedalam rumah dan langsung menuju kamarnya.

__ADS_1


Baru saja ia masuk ke dalam kamar, ponsel Medina berdering.


"Assalamualaikum sayang..."


"Kamu dari mana? Aku menelepon mu daritadi" Todong Daniel diseberang telepon.


"Aku dirumah....tidak kemana-mana" Jawab Medina dengan lembut.


"Aku merindukanmu" Daniel mendesah pelan.


"Aku juga" Sahut Medina memancing.


"Oh Honey....kau jangan memulainya. Atau aku akan pulang sekarang juga" Suara Daniel terdengar berat.


"Sayang...sudah dulu ya. Aku akan membongkar koper dan membereskan semuanya"


"Minta Bi Inang atau Risma membantumu. Jangan kerjakan sendiri, kamu mengerti?"


"Iya suamiku. Sampai bertemu nanti sore, sayang"


"Honey...sepertinya aku akan pulang malam. Aku menelepon untuk memberitahu istriku yang paling cantik"


"Baiklah...jangan lupa makan dan sholat tepat waktu" Pesan Medina.


"Iya, Honey. Istriku, Cintaku, belahan jiwaku. I love you.. mmmmuuuuaaaccchhhh"


"Aku juga mencintaimu. Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Tok...Tok...Tok


Medina menutup ponselnya dan membuka pintu.


"Masuk bi..." Medina menarik tangan Bi Inang masuk kedalam kamar. Keduanya duduk diatas karpet.


Sebelum membongkar kopernya, ia menceritakan semua pengalamannya selama berbulan madu.


Bi Inang tersenyum bahagia mendengar semua yang diceritakan Medina. Sesekali ia mengelengkan kepala saat Medina sedikit membuka sikap romantis Daniel kepada dirinya.


"Kami menikmati waktu berdua dengan sangat romantis" Senyum Medina tidak luntur dari bibirnya.


"Lihat bi, aku menghabiskan uang suamiku untuk belanja oleh-oleh" Medina tertawa lebar saat mulai membongkar koper berisi hadiah-hadiah yang ia beli.


"Kamu sangat beruntung, nduk" Bi Inang mengelus pundak Medina.


"Aku sangat bahagia karena dicintai banyak orang" Medina memeluk Bi Inang yang sudah dianggap seperti ibu nya.


"Semoga kalian selalu bahagia" Ucap Bi Inang.


"Aamiin yaa Allah" Sahut Medina mengamini.


Keduanya kembali membereskan isi koper dan mulai memilah hadiah yang akan diberikan kepada orang-orang.


"Aku bingung apa yang harus aku bawa untuk kalian. Jadi hanya ini yang bisa Medina bawa. Tolong bibi bagikan kepada yang lain ya" Medina sudah terlihat lelah.


"Istirahatlah...bibi akan membawa ini keluar"


"Terimakasih banyak Bi" Medina kembali memeluk bi Inang dengan erat.


"Kamu itu tidak pernah berubah. Sudah punya suami kaya, masih saja peluk-peluk bibi" Canda Bi Inang.


"Jika Den Daniel tahu, dia akan memecat bibi" Candanya lagi.


"Ihhh bibi...suamiku tidak akan sejahat itu. Aku dan kakak menyayangi kalian semua" Medina semakin mengeratkan pelukannya.


"Sudah...sudah...biar bibi bawa hadiah dan pakaian kotor kalian ke bawah. Terimakasih sudah membawa hadiah untuk kami semua" Bi Inang melepaskan pelukannya dan berjalan keluar kamar membawa hadiah untuk para pegawai dirumah.


Medina tersenyum bahagia karena dikelilingi oleh orang-orang yang tulus menyayanginya. Meskipun sebelumnya mereka adalah orang asing baginya...namun kini mereka adalah bagian dari keluarga barunya.


Saat memikirkan keluarga, tiba-tiba ia teringat keluarga Pakde Radiman.


"Mereka apa kabar ya? Aku akan menelepon Billa nanti" Medina merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


Rasa lelah dan kantuknya membuatnya dengan cepat memejamkan matanya dengan pulas.


_


_


_Ayo dukung terus karya ini jika kalian suka dengan vote, like dan komennya ya. Love you all

__ADS_1


_


_


__ADS_2