
Daniel, Medina, pak Sanjaya dan Ibu Melani sudah berada di salah satu restoran yang berada tidak jauh dari kantor Daniel. Ke empatnya sedang menyantap makan siang dengan khidmat.
Setelah makan siang selesai, keempat nya terlibat obrolan santai.
"Anda akan pulang hari ini?" Tanya Daniel.
"Istriku tidak ingin pulang" Pak Sanjaya melirik istrinya.
"Kenapa kalian tidak tinggal dikota ini saja?" Semua orang yang mendengar ucapan Medina langsung menoleh secara bersamaan.
Mendapat tatapan semua orang, Medina terkejut dan langsung menutup mulutnya.
"Maaf....maksudku__" Medina terlihat tidak enak hati. Ia pikir semua orang tidak menyukai ide tiba-tiba yang terlontar begitu saja dari bibirnya.
"Itu bukan ide yang buruk, benar Sayang?" Pak Sanjaya menatap istrinya.
"Apa mas mengijinkannya?" Bukannya menjawab ibu Melani justru memberi pertanyaan kepada suaminya.
"Tentu saja....lagipula banyak bisnis yang harus kamu urus disini, bukan?" Manik Ibu Melani membulat seakan tidak percaya dengan yang diucapkan suaminya.
Ibu Melani mengingat beberapa tahun terakhir, suaminya tidak mengijinkan dirinya untuk mengurus semua bisnis yang berada di kota J secara langsung dan hanya meminta orang kepercayaan mereka untuk mengurus segalanya.
"Aku akan menyiapkan semuanya, jika kamu yakin ingin tinggal disini" Ucap Pak Sanjaya meyakinkan istrinya.
"Tapi.... Bagaimana dengan dirimu dan Fian?" Ibu Melani terlihat ragu.
"Hanya butuh waktu 2 jam perjalanan, aku bisa pulang pergi setiap hari" Pak Sanjaya tersenyum.
"Itu tidak baik untuk kesehatan bapak" Potong Medina cepat membuat semua orang kembali menoleh.
"Maksudku....diusia pak Sanjaya sekarang harus menjaga kesehatan nya. Meski bisa ditempuh dengan pesawat dalam waktu dua jam, tapi halangan pasti selalu ada, bukan?" Medina mencoba menjelaskan.
"Terimakasih atas perhatiannya, nak. Tapi aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ku disana. Setidaknya satu dua Minggu ini mungkin masih bisa melakukan perjalanan ini. Setelah itu, mungkin aku akan ikut tinggal disini dan cukup memantau bisnisku dari sini" Ucap Pak Sanjaya.
Medina tersenyum dan mengangguk. Sementara Daniel menjadi pendengar yang baik untuk istri dan keluarga barunya.
"Aku harus kembali ke kantor" Ucap Daniel tersenyum.
"Ahh...iya. Terimakasih sudah menyempatkan waktu makan siang bersama kami" Sahut pak Sanjaya.
Daniel beranjak dari duduknya disusul Medina.
"Aku akan sangat merindukanmu" Ibu Melani memeluk Medina.
"Kita bisa saling memberi kabar. Oh iya...jika sudah tinggal disini kabari kami. insyaAllah kami akan berkunjung" Ucap Medina membuat ibu Melani enggan melepas putrinya.
"Sayang...." tangan pak Sanjaya menyentuh pinggang ibu Melani hingga istrinya tersadar dan melepaskan pelukannya.
"Sayang...aku ingin ke toilet sebentar" Bisik Medina ditelinga Daniel dan suaminya mengangguk.
Daniel menatap istrinya yang berjalan menjauh.
"Apa kamu sudah menyiapkan kejutan istimewa untuk putriku dihari ulang tahunnya?" Tanya Pak Sanjaya setelah kepergian Medina.
"Bahkan aku sudah menyiapkannya sejak sebulan yang lalu" Jawab Daniel.
"Boleh kami tahu kejutannya?" Tanya Ibu Melani penasaran.
"Medina selalu mengeluh karena tidak suka tinggal di apartemen. Jadi...aku menyiapkan rumah sederhana untuknya sebagai kejutan" Ucap Daniel memberitahu kejutannya.
"Kabari kami jika butuh sesuatu" Pak Sanjaya melihat Medina berjalan ke arah mereka.
"Sudah?" Tanya Daniel saat Medina sudah disampingnya.
"Sudah. Ayo pulang, aku sudah sangat rindu rumah" Ucap Medina manja.
Pak Sanjaya dan Ibu Melani menatap putri dan menantunya dengan perasaan bahagia. Mereka bersyukur kehidupan rumah tangga Medina bahagia karena suami yang sangat mencintainya.
"Baiklah....kami pamit. Sampai berjumpa lagi" Daniel menyalami dan memeluk pak Sanjaya dan ibu Melani bergantian. Begiru juga Medina, meski ada rasa sungkan saat memeluk Pak Sanjaya, tapi seperti yang diucapkan suaminya, dirinya harus mulai mengakrabkan diri dengan mereka sebegai keluarga.
Pak Sanjaya dan ibu Melani menatap kedua anak dan menantunya hingga mereka meninggalkan restoran.
__ADS_1
"Mas....apa benar kita akan pindah ke kota ini" Ibu Melani masih ragu dengan keputusan suaminya.
"Untuk mendapatkan putriku, aku akan mengorbankan apapun" Ucap Pak Sanjaya penuh keyakinan.
"Kita akan bicarakan hal ini dengan Fian" Pak Sanjaya memeluk istrinya dari samping.
Ibu Melani menghela nafasnya, tidak dipungkiri jika masih ada ketakutan dalam hatinya. Ia tahu bagaimana keluarga suaminya, dan ibu Melani takut jika mereka tahu kebenarannya, mereka akan menyakiti Medina.
Namun ia harus membuang jauh-jauh rasa ketakutannya. Karena dari cerita suaminya, selain Daniel, keluarga Daniel sangat menyayangi Medina. Ia berharap mereka juga akan menjadi pelindung putri semata wayangnya.
"Ibu juga harus belajar menjadi wanita kuat untuk bisa melindungi dirimu dari apapun yang akan menyakiti mu" Lirih ibu Melani dalam hati.
****
Setelah sampai di kantor Daniel kembali bekerja dengan memeriksa beberapa berkas yang sudah menumpuk dimeja kerjanya.
Sementara Medina dengan setia menunggui suaminya sambil membaca novel di ponselnya dan mengunjungi aplikasi belanja online yang seperti ia lakukan sekarang.
"Sayang...apa boleh aku mengirim hadiah untuk Billa?" Tanya Medina.
"Hanya untuknya?" Daniel balik bertanya.
"Apa kamu mengijinkanku memberikan hadiah kepada semuanya?" Medina berjalan mendekati kursi Daniel dan berdiri dihadapannya. Membuat Daniel menutup berkas yang sedang dibacanya.
"Aku mengijinkan istriku" Daniel menarik tubuh Medina hingga duduk dipangkuannya.
"Terimakasih, sayang" Medina mencium pipi Daniel dengan wajah yang merona merah.
"Cepat selesaikan pekerjaanmu, dan kita pulang" Medina mencubit gemas hidung mancung Daniel.
"Jangan menggodaku" Daniel memeluk Medina.
"Kenapa sentuhanku semua kakak anggap itu godaan?" Medina menggelengkan kepalanya.
"Diam disini, dan aku akan menyelesaikan pekerjaanku" Daniel mengurung tubuh istrinya dengan satu tangan dan satu tangan lainnya melanjutkan pekerjaannya.
"Nanti ada yang masuk" Medina melihat pintu.
"ahh.. terimakasih sudah mengingatkan" Daniel meraih gagang telepon diatas meja dan menekan tombol angka 1.
"Sudah aman" Daniel tersenyum tampan yang mana membuat Medina hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Tidak ingin mengganggu suaminya bekerja, Medina kembali sibuk dengan ponselnya. Kembali asyik dengan aplikasi belanja online. Medina membelikan barang untuk keluarga pakde Radiman.
Setelah selesai dengan semua pembayaran onlinenya, Medina segera mengabari Billa dengan mengirimkan pesan padanya.
Daniel sesekali melirik istrinya yang asyik dengan ponselnya. Daniel meletakkan pulpennya lalu merebut ponsel yang sedang dipegang Medina.
"Apa yang kakak lakukan?" Pekik Medina kaget.
"Aku sedang membalas pesan dari Karin" Tangan Medina bergerak mencari ponsel nya yang disembunyikan Daniel dibelakang tubuhnya.
"Kalian semakin akrab. Apa yang kalian bicarakan?"
"Tidak akan kuberitahu. Ini rahasia kami berdua" Jawab Medina cepat.
Medina terus bergerak untuk mengambil ponselnya hingga menimbulkan gesekan pada tubuh bagian bawah.
"Jangan banyak bergerak, nanti adik kecilku terbangun" Daniel menunjuk dengan ekor matanya.
"Dasar mesum!!" Manik Medina membulat sempurna. Membuat Daniel tertawa.
"Makanya cepat selesaikan pekerjaanmu, aku sudah ingin pulang" Ucap Medina manja. Ia sudah sangat merasa bosan seharian berada dikantor suaminya tanpa melakukan apa-apa.
"Baiklah...aku akan selesaikan dan kita akan pulang ke apartemen" Sahut Daniel.
"Kenapa ke apartemen? Aku ingin pulang kerumah dan bertemu mama. Aku merindukannya" Medina memeluk leher suaminya dan menyenderkan kepalanya dibahu Daniel.
"Honey...apa kamu tidak ingin kembali ke apartemen?" Tanya Daniel.
"Jika suamiku mengijinkan" Jawab Medina pelan.
__ADS_1
"Tapi kita perlu waktu untuk membina rumah tangga dengan mandiri" Daniel memeluk pinggang Medina.
"Aku tahu....maaf" Terdengar suara Medina yang sedang menahan diri untuk tidak menangis.
"Aku akan membereskan ini dan kita pulang" Daniel memberikan ponsel milik Medina dan kembali menyelesaikan pekerjaannya.
****
Pak Sanjaya dan Ibu Melani baru saja tiba di rumah mereka dikota B pukul lima sore. Wajah keduanya sangat bahagia hingga membuat Fian dan beberapa pegawai dirumah pak Sanjaya bisa merasakan atmosfer kebahagiaan mereka dengan sangat jelas.
"Apa kabar, Yah, Bu?" Fian menyambut kedua orangtuanya didepan pintu utama.
"Kami sangat baik" Senyum terus terukir diwajah keduanya.
"Ada yang ingin Ayah dan Ibu sampaikan padamu" Pak Sanjaya merangkul pundak Fian.
"Kalian sangat terlihat bahagia, apa kalian sudah bertemu dengan adikku?" Tanya Fian langsung. Ia sangat penasaran.
"Kami sudah bertemu dengan adikmu. Meskipun....dia belum tahu kebenarannya. Tapi kami sangat bahagia bisa bertemu dan bicara dengannya" Ucap Pak Sanjaya.
"Apa? Kenapa Medina belum diberitahu jika kalian adalah orangtua kandungnya?" Fian terheran.
Dan akhirnya pak Sanjaya menceritakan secara detail mengapa ia belum menyatakan kebenaran kepada Medina.
"Dan....kami berencana untuk tinggal dikota J agar bisa lebih dekat dengan Medina" Ucap Pak Sanjaya.
"Ayah sama ibu akan pindah?" Tanya Fian yang langsung mendapat respon dari keduanya.
"Benar, kami akan pindah"
"Makanya, beberapa hari kedepan ayah akan mengurus pekerjaan ayah yang sempat tertunda..Dan selanjutnya kamu yang akan meneruskan nya" Pak Sanjaya menepuk pundak putranya dengan yakin.
"Ayah percaya bahwa kamu bisa menggantikan ayah disini" Lanjut Pak Sanjaya.
Fian terdiam, ia menatap ibunya yang sedari tidak mengatakan apapun.
"Apa ibu setuju dengan keputusan ayah?" Fian mencoba untuk membuat orangtuanya tidak memutuskan dengan terburu-buru.
"Kami sudah sepakat" Jawab Ibu Melani..
"Kami sadar waktu 24 tahun tidak akan mudah terganti dengan hitungan hari, Minggu atau bulan. Semuanya perlu proses dan pengorbanan. Kami sudah berpikir dengan jernih dan inilah keputusan yang akan kami ambil" Ucap Ibu Melani dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi Bu...."
"Kami tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah Tuhan berikan kepada kami. Karena entah esok atau lusa jika kami meninggalkan dunia ini, kami tidak mati dengan membawa penyesalan yang mendalam" Ibu Melani menatap sendu pak Sanjaya yang berdiri disampingnya.
"Keinginan kami bukan hanya pengakuan dari Medina. Kami berharap Medina memaafkan Ibu dan Ayahmu" Ibu Melani mulai terisak.
Melihat ibunya menangis, Fian menjadi tidak tega. Ia segera memeluk ibu angkat yang sudah dianggap sebagai ibu kandungnya sendiri.
"Tolong jangan seperti ini, Bu" Fian mengusap punggung ibu nya.
"Fian akan selalu mendukung apaoun keputusan kalian. Dan jika Ayah dan Ibu mengalami kesulitan, Fian akan menjadi orang yang pertama yang merentangkan kedua tangan Fian untuk membantu kalian semampu Fian" Ucap Fian bersungguh-sungguh.
"Terima kasih, Nak" Pak Sanjaya mengusap kepala Fian.
"Bu, sebaiknya kamu mandi dan berisitirahat" Ucap Pak Sanjaya membuat Fian melepaskan pelukan ibunya.
"Kami tinggal dulu" Fian menatap kepergian kedua orangtuanya.
Fian merasakan sedih dan juga cemburu secara bersamaan. Ia merasa iri karena perhatian orang tuanya akan teralihkan kepada Medina.
Namun ia buru-buru membuang rasa iri dan cemburunya itu jauh-jauh.
"Aku tidak boleh seperti ini. Seharusnya aku tahu diri, selama 24 tahun aku telah mengambil semua hak Medina dari keluarga ini" Gumam Fian pelan.
_
_
_*Terimakasih sudah mampir. Jika kalian suka cerita ini, langsung vote, like dan komennya.*
__ADS_1
_
_