Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 53


__ADS_3

Daniel benar-benar membawa Medina jalan-jalan setelah bertemu dan berpamitan dengan keluarga Pakde Radiman.


Raihan membawa mereka untuk melihat rumah, sekolah untuk Billa dan kampus untuk Salsa.


Hari ini Daniel sengaja meminta Raihan untuk menyiapkan mobil khusus untuk mereka agar dengan bisa leluasa membawa Medina kemanapun istrinya mau.


Saat ini mereka berada didalam mobil setelah makan siang di restoran hotel tempat mereka menginap.


Daniel membawa istrinya ke sebuah mall besar dikota S sesuia permintaan Medina, mereka berdua akan menonton bioskop.


"Honey...tunggulah disini. Aku akan membeli cemilan untuk nanti didalam" Pinta Daniel.


Medina mengangguk. Maniknya menatap punggung Daniel yang berlalu dari hadapan nya.


Dan saat menunggu Daniel selesai, ponsel Medina berdering.


Medina merogoh tas miliknya untuk mengambil ponselnya.


Bibirnya melengkung indah saat menatap nama dilayar ponselnya.


"Assalamualaikum, Ma"


"Wa'alaikum salam, Nak"


"Mama apa kabar? Gimana kondisi mama? Mama makan dan minum obat dengan rutin bukan? Apa mama istirahat cukup?" Berondong Medina membuat mama Safira tertawa diseberang telepon.


"Kondisi mama sangat baik, sayang. Jangan terlalu khawatir. Hanya ada satu yang mengganjal dihati ma__"


"Apa ma? Mama kenapa? apa dada mama sakit?"


"Hahahaha...Sayang. mama hanya sangat merindukan kalian. Bukan apa-apa"


"Medina juga, Ma"


"Medina ingin cepat pulang tapi kakak masih ingin disini sampai besok" lanjutnya


"Nikmati waktu berdua kalian dan cepatlah kembali"


"Mama jaga kesehatan ya. Besok kami kembali ke rumah"


"Sayang...apa kamu ingin Bi Inang memasak yang spesial untukmu?"


"Sepertinya tidak Ma, Terimakasih. Medina hanya ingin cepat sampai rumah dan memeluk mama"


"Sayang...sekarang kamu adalah seorang istri"


"Apa kakak akan cemburu dan tidak memberi ijin jika aku tidur dengan mama?"


"Hahahhaha...tentu saja dia akan melarang itu, sayang"


Sontak jawaban mama mertuanya seketika membuat wajah Medina murung.


"Halo sayang..."


"I_iya, Ma. Medina disini"


"Kalian sedang jalan-jalan bukan?"


"Iya"


"Selamat bersenang-senang"


"Mama ingin dibawakan apa?"


"kalian pulang dengan sehat dan selamat"


"Doakan kami selalu, Ma"


Setelah itu, Medina mengakhiri sambungan teleponnya dengan mama Safira. Dan saat itu pula Daniel kembali dengan cemilan dan minuman ditangannya.


"Honey...telepon dari siapa?" Tanya Daniel saat melihat istrinya sedang memasukkan ponselnya kedalam tas.

__ADS_1


Medina menengadah dan tersenyum.


"Dari mama" Jawabnya singkat.


Daniel duduk disamping Medina.


"Apa yang mama katakan?"


"Mama ingin kita segera kembali dengan sehat dan selamat" Jawab Medina pelan.


"Apa mama tidak minta kita segera memberinya cucu?" Daniel menatap istrinya lekat. Sementara Medina menunduk dengan rona merah diwajahnya.


Ia bahkan tidak pernah berpikir ingin secepatnya mengandung karena masih hrus menyelesaikan sekolah paketnya dan beberapa keinginan kecilnya sebelum ia benar-benar menjadi seorang ibu rumahtangga.


"Jam berapa filmnya mulai?" Tanya Medina mengalihkan pembicaraan.


Ia mengambil alih cemilan yang dipegang suaminya. Sementara Daniel memegang dua cup minuman dingin.


"Sebentar lagi"


"Film apa yang akan kita tonton?"


"Film Romantis"


Daniel dan Medina saling menatap kemudian keduanya tertawa tanpa sebab.


"Setelah ini, kita akan kemana lagi?" Tanya Medina.


"Pulang ke hotel" Jawab Daniel.


Medina mengerucutkan bibirnya seolah memprotes keputusan suaminya.


Daniel melihat ekspresi istrinya dan tidak tahan untuk mengecup puncak kepalanya.


"Kenapa?"


"Aku ingin makan pizza" Jawab Medina sedikit menunduk karena malu.


"Aku ingin makan ditempat" Rengek Medina.


Kali ini ia menatap suaminya dengan tatapan memohon agar suaminya mengabulkan permintaannya.


"Kakak bilang akan mengantarkan aku kemanapun aku mau"


Daniel yang mendapati wajah istrinya, sangat tidak mungkin untuk menolaknya. Padahal ia punya kejutan untuk istrinya saat mereka tiba dihotel nanti. Namun sepertinya istrinya sangat ingin menikmati pizza.


"Oke...oke...kita akan makan pizza setelah menonton. Kau puas Nona?" Medina mengangguk dengan wajah sumringah.


"Terimakasih, Sayang" Ucap Medina dengan senyum manisnya yang menampakan gigi putihnya.


"Hei...jangan menggodaku, Honey" bisik Daniel


"Apanya? Siapa yang menggoda?" Wajah Medina merona saat Daniel mendekatkan bibirnya pada telinganya.


"Berhenti tersenyum seperti itu, atau aku akan memakanmu disini"


Manik Medina melotot dan tangannya memukul lengan Daniel dengan refleks. Membuat keduanya tertawa kecil.


Daniel melihat segerombolan orang baru saja keluar dari pintu bioskop.


"Honey... sekarang waktunya. Ayo kita masuk" Daniel yang telah berdiri langsung menarik tangan Medina untuk memasuki gedung bioskop.


Mereka berdua masuk dan mengambil tempat duduk paling atas, tempat favorite Daniel jika datang ke bioskop.


Sebenarnya Daniel bisa saja meminta Raihan untuk menyewa satu gedung bioskop hanya untuk mereka berdua. Namun melihat antusiasme istrinya, rasanya tidak mungkin untuk melakukan hal itu. Akhirnya Daniel hanya membatasi penonton masuk gedung bioskop.


Sekitar 2 jam lebih mereka sangat menikmati alur film yang mereka tonton. Bahkan Medina sesekali menutup matanya jika pemeran utama dalam film itu beradegan vulgar. Karena memang yang ditonton nya adalah film bergenre Romantis. Jadi yaa...banyak adegan-adegan hot selama film berlangsung.


"Masih mau makan pizza?" Tanya Daniel saat keluar dari gedung bioskop.


"Aku lelah, kak. Bisakah kita beli dan makan dikamar hotel?" Bujuk Medina membuat wajah Daniel berbinar senang. Rencana membuat kejutan untuk istrinya bisa terlaksana.

__ADS_1


"Oke" Jawab Daniel singkat padat dengan senyum mengembang dibibirnya.


Setelah pizza yang dipesan selesai, mereka langsung beranjak keluar mall menuju mobil yang terparkir dibassment mall.


Medina merasa suaminya sedikit aneh, karena semenjak keluar dari membeli pizza, hanya sedikit bicara.


"Sayang...kamu baik-baik saja, kan?" Tanya Medina khawatir. Tangannya terangkat menyentuh pundak suaminya.


Daniel menoleh kearah Medina.


"Aku?"


"Aku kenapa, Honey?" Kini Daniel balik bertanya.


"Kakak kenapa? Dari tadi aku ajak bicara cuma menjawab singkat. Ada apa?" Medina benar-benar khawatir, jika keluarga pakde Radiman kembali membuat masalah dan kembali melibatkan suaminya.


"Apa Pakde___"


"Tidak ada apa-apa, Honey. Aku hanya lelah" Bohong Daniel. Padahal dia sedang akting untuk memberi kejutan kepada istrinya.


Medina manatap suaminya. Ia merasa sesuatu pasti sudah terjadi dan Daniel tidak ingin memberitahu dirinya.


Ada sedikit rasa kecewa dihatinya, saat suaminya lebih menyembunyikan sesuatu hal dari dirinya tanpa ingin mengungkapkannya.


Tapi hal apa?? Medina masih berpikir keras yg untuk menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi dengan suaminya yang dengan tiba-tiba berubah menjdi pribadi yang dingin.


Suasana di dalam mobil menjadi hening. Hanya terdengar deru mesin dan sesekali suara klakson yang ditekan Daniel.


Medina memalingkan pandangannya ke arah luar jendela. Menyapu ramainya jalanan protokol dikota S dengan perasaan yang tidak menentu.


Saat sampai dilobby hotel pun, Medina masih melamun. Hingga suara Daniel membuyarkan lamunannya.


"Honey...kita sudah sampai" Medina menangguk dan segera keluar dari mobil. Mengikuti Daniel yang ternyata sudah turun dari mobil dan berjalan mendahului nya.


"Oh ya honey...aku memesan sesuatu kepada Raihan. Tolong tunggu dia disini dan terima pesananku. Aku mau ke toilet" Pinta Daniel masih dalam rencana kejutan untuk istrinya.


Daniel langsung berlalu ke arah lift bahkan sebelum Medina menjawabnya. Membuat hati Medina semakin sesak dan hampir menumpahkan air mata yang sedari tadi ditahannya. Namun, niatnya kembali diurungkan karena ia mendengar seseorang memanggil namanya.


"Nona Medina!!"


Medina berbalik dan mendapati Raihan sedang berjalan ke arahnya.


"Hai..Mas Raihan" Sapa Medina memaksakan senyumnya.b


"Apa itu pesanan suamiku?" Medina melihat 3 paperbag yang dibawa Raihan.


"Oh..iya. Maaf...tolong berikan ini kepada Bos Daniel" Raihan menyerahkan paperbag itu kepada Medina.


"Apa ada yang lain?" Tanya Medina.


"Tidak ada, Nona" Raihan menggeleng.


"Baiklah...Aku akan membawanya ke kamar. Terimakasih" Ucap Medina sebelum berpaling dari hadapan asisten suaminya itu.


Mendapati sikap suaminya yang sedikit berubah membuat Medina benar-benar frustasi. Ia terus mengurut kejadian demi kejadian hari ini. Dan rasanya tidak melakukan kesalahan yang membuat suaminya kesal.


Saat hampir masuk kedalam lift, Medina berhenti dan berbalik. Ia melihat Raihan masih berdiri ditempatnya.


Medina kembali mendekati Raihan.


"Mas Raihan...apa yang dilakukan dengan Pakde?" Tanya Medina hati-hati.


"Ohh Pak Radiman sudah menemukan rumah yang cocok untuk mereka tinggal. Salsa dan Billa juga sudah mendaftarkan diri sekolah dan universitas yang mereka inginkan. Anda tidak perlu khawatir lagi, Nona" Jawab Raihan.


Medina menangguk paham. Ia merasa lega karena ternyata bukan karena Pakdenya yang membuat Daniel seketika berubah.


"Ya sudah... terimakasih untuk hari ini, Mas Raihan. Maaf merepotkan"


"Tidak perlu sungkan, Nona"


Medina kembali berjalan menuju lift dan menekan tombol saat pintu lift tertutup.

__ADS_1


__ADS_2