
Medina benar-benar menghabiskan waktunya untuk membereskan rumah dan memasak. Ia benar-benar merindukan aktifitas sebagai ibu rumah tangga. Karena selama hidup bersama Daniel, Medina benar-benar tidak bisa melakukannya dengan leluasa. Daniel selalu saja melarangnya dengan alasan tidak ingin membuat Medina kelelahan.
"Ehh...kemana semua barang-barang dan
hadiah pernikahan yang disimpan disini?" Medina terkejut melihat ruang olah raga suaminya sudah kosong. Medina datang mesana berniat hendak membersihkan ruangan itu.
Penasaran dengan ruangan yang lain...Medina membuka ruang kerja dan kamar tamu.
"Apa?? Disini juga kosong?" Medina menutup kembali pintu. Ia kemudian berjalan ke dalam kamar dan mengambil ponselnya. Ia akan menanyakan hal ini kepada suaminya.
Namun sebelum ia menghubungi Daniel, ponselnya berdering lebih dulu.
"Mama..." Medina langsung memekan tokobol hijau dilayar ponselnya.
"Assalamualaikum, ma" Sapa Medina.
Medina terkejut ketika mama Safira mengabarinya sudah berada diperjalanan menuju apartemen dengan membawa Syifa yang terus menangis karena tidak ingin diajak pulang kerumah saat pulang sekolah.
Syifa masih menjaga jarak dengan bundanya, apalagi melihat kondisi Rani yang terus memuntahkan isi perutnya membuat gadis kecil itu merasa tidak tega.
Medina melirik jam diatas meja. Waktunya makan siang. Tapi ia belum memasak apapun, karena ia berencana memasak saat sore nanti ketika suaminya akan pulang.
Masih memegang ponselnya, menimang apa dia harus masak atau memesan makanan. Jika dipikir waktu yang dibutuhkan untuk memasak dan waktu pengiriman hampir sama.
"Sebaiknya aku memasak saja." Medina berjalan menuju dapur dan mulai mengeluarkan bahan-bahan yang akan dia masak.
Hampir setengah jam berlalu, Medina hampir menyelesaikan pekerjaannya didapur lalu terdengar bel berbunyi.
"Itu pasti mereka." Medina berlari kecil ke arah pintu dan langsung membukanya.
"Mama....." Syifa langsung memeluk Medina dengan tangisnya yang semakin kencang. Bahkan sampai sesegukan.
"Sayang...." Medina langsung menggendong dan membawa Syifa masuk kedalam.
"Siapa yang menemani kak Rani, ma?" Tanya Medina setelah melihat bi Inang dan Babysitter Syifa juga ikut.
"Ada Danu dirumah" Jawab Mama Safira yang sudah duduk disofa.
"Sayang...mama mohon berhentilah menangis. Nanti suaramu bisa habis" Bujuk Medina.
"Bagaimana sekolahmu hari ini?" Medina mencoba mengalihkan perhatian gadis kecil itu.
"Mbak...apa Syifa juga menangis seperti ini saat disekolah?" Tanya Medina kepada babysitternya.
"Ifa ga nangis disekolah" Sela Syifa sebelum babysitternya menjawab.
Mama Safira dan Medina tersenyum mendengar suara Syifa yang mulai tenang.
"Syifa mau mandi?" Syifa langsung mengangguk saat Medina menawarinya mandi.
"Setelah mandi kita akan makan bersama, oke?" Medina membawa putri kecilnya ke dalam kamarnya.
Setelah selesai mandi dan makan, Syifa langsung tertidur dengan sangat pulas. Mungkin karena ia sudah sangat lelah seharian menangis.
"Mama juga harus istirahat" Medina mengulurkan tangannya.
"Kita mengobrol saja sambil menonton film" Mama Safira memberikan ide.
"Film favorit mama? Atau favoritku?" Tanya Medina sambil tersenyum.
"Kamu tahu, sejak kamu hadir dalam kehidupan kami, film favorit ku juga berubah seperti dirimu." Jawab Mama Safira membuat Medina terkekeh geli.
Keduanya lalu kelaur dari kamar. Medina langsung menyalakan televisi dan memasukkan Flashdisk yang beriri puluhan film kesukaannya.
"Yang ini?" Tanya Medina yang mana membuat Mama mertuanya menoleh.
"Apa filmnya sedih?" Mama Safira balik bertanya.
Medina mengangkat kedua bahunya. "Medina juga belum menonton nya."
"Ya sudah...sediakan tisu dan camilan" Pinta mama Safira dengan tawa khasnya.
Medina berjalan ke arah dapur mengambil beberapa buah dan camilan yang tadi pagi suaminya beli. Tidak lupa ia juga mengajak Bi Inang dan Babysitter Syifa untuk bergabung dengan mereka menonton film.
Keempatnya mulai serius menonton saat film sudah menampilkan gambar. Hingga akhirnya Film berdurasi tiga jam itu selesai mereka tonton.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya mama Safira kepada Medina yang masih menyeka airmatanya. Mama Safira sangat mengkhawatirkan menatu kesayangannya itu.
Film yang baru saja mereka tonton, mengisahkan kehidupan seorang gadis yang dibuang oleh orang tuanya semenjak dilahirkan. Dan pada akhirnya dipertemukan dengan kedua orangtuanya saat gadis itu telah beranjak dewasa dan telah berumah tangga.
Alur cerita yang sangat mirip dengan kehidupan yang dijalani Medina saat ini.
__ADS_1
"Sayang...." Mama Safira memeluk Medina.
"Medina baik-baik saja, ma." Sahut Medina tidak ingin membuat ibu mertuanya sedih.
"Medina tidaklah sama dengan wanita yang ada difilm tadi. Dia sendirian, sementara Medina punya kalian."
"Meski Medina tidak bisa bertemu dengan keluarga kandung, kalian sudah Medina anggap keluarga kandung Medina." Ucap Medina dengan menahan air matanya.
Keduanya berpelukan dengan sangat erat. Hingga tidak menyadari kedatangan Daniel dan kini sedang melihat dua wanita yang dicintainya.
"Ekhemmm!!" Daniel berdehem hingga keduanya menoleh.
"Apa filmnya begitu menyedihkan hingga kalian sesedih ini?" Tanya Daniel.
"Kapan kakak pulang?" Medina melepas pelukan dari ibu Mertuanya lalu berjalan menghampiri suaminya.
Daniel menatap wajah istrinya yang terlihat sendu meski Medina menyambutnya dengan senyuman.
"Ahh...ya. Aku ingin bertanya." Sela Medina saat suaminya hendak bicara.
"Apa?"
"Beberapa ruangan di apartemen ini kosong. Bahkan semua hadiah pernikahan juga tidak ada. Apa kakak memindahkan nya?" Tanya Medina yang belum mengetahui tentang rencana Daniel yang akan memboyongnya ke rumah baru mereka.
"emmm...itu...." Daniel tergagap. sambil menatap sang mama.
"Dia ingin mengganti furnitur." Sela mama Safira saat mendapat kode dari Daniel untuk membantunya menjawab.
"Ohh...Kenapa kakak cerita?" Tanya Medina lagi.
"Aku lupa memberitahu mu. Maaf...." Daniel memeluk Medina kemudian mencium pipi istrinya dengan lembut.
"Aku akan melihat Syifa. Mungkin dia sudah bangun." Medina berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah kamar.
"Hufft!!" Daniel membuang nafasnya.
"Mama tidak membocorkan rahasia ku bukan?" Tanya Daniel setelah Medina pergi.
"Jika mama memberitahunya, dia tidak akan bertanya " Jawab mama Safira.
"Syukurlah" Daniel merebahkan tubuhnya disofa. Dan saat itu Medina keluar dari kamar dengan menggandeng Syifa yang baru bangun dari tidurnya.
"Sayang...apa kamu baru bangun tidur?" Tanya Daniel sambil mengusap punggung Syifa.
"Aku akan menyiapkan makan malam." Medina tersenyum lalu berjalan ke arah dapur.
Sementara Daniel, Mama Safira dan Syifa masuk kedalam kamar karena akan melaksanakan sholat Maghrib.
"Apa yang ingin kamu masak nduk?" Bi Inang yang mendengar ucapan Medina mengikutinya dari belakang.
"Syifa sangat suka ayam teriyaki, Aku akan memasak itu. Untuk mama dan suamiku...." Medina masih berpikir apa yang akan dimasaknya untuk keduanya. Karena ini makan malam, Medina ingin menunya harus sehat.
Medina membuka kulkas dan mengambil brokoli, dan ikan Tuna. "Kita akan masak ini untuk mama dan suamiku." Medina mulai meracik bahan sayuran yang akan dimasaknya dibantu Bi Inang dan Babysitter Syifa.
Namun saat sedang memanggang ikan Salmon, Medina merasa mual mencium aroma yang ditimbulkan dari masakan tersebut. Medina segera berlari ke dalam kamar mandi yang berada disisi kiri dapur.
Bi Inang dan Babysitter merasa heran dengan tingkah Medina yang tiba-tiba berlarian ke kamar mandi.
"Nduk...kamu kenapa?" Bi Inang mengetuk pintu kamar mandi.
"Nona kenapa bi?" Tanya babysitter.
"Apa perlu kita panggil pak Daniel bi?" Babysitter mulai khawatir karena Medina masih berada dikamar mandi.
"Ya sudah panggil saja, cepat!" Babysitter langsung berlari dan mengetuk pintu dengan kuat. Membuat Daniel dan Mama Safira terkejut.
"Maaf Nyonya, pak....itu...Nona...." Baby sitter itu terlihat gugup.
"Ada apa dengan Medina?" Tanya Mama Safira.
Daniel yang merasa khawatir langsung berlaribke arah dapur.
"Ada apa bi?"
"Nona masuk kamar mandi sambil muntah, den" Jawab Bi Inang.
"Honey....! buka pintunya!" Teriak Daniel sambil menggedor pintu.
CEKLEK!!
Medina keluar dengan wajah yang pucat karena Ia memuntahkan semua isi perutnya hingga ia merasa lemas mengeluarkan keringat dingin.
__ADS_1
"Honey" Daniel langsung menggendong Medina dan membawanya ke dalam kamar.
"Sayang...kamu kenapa?" Mama Safira pun ikut khawatir.
Medina hanya mampu menggeleng sambil memejamkan matanya.
"Kita ke Rumah sakit sekarang" Ucap Daniel sambil menatap istrinya.
"Jangan....tidak usah" Tolak Medina dengan suara lemah.
"Aku hanya butuh istirahat." Medina tersenyum.
"Den...berikan teh hangat ini." Bi Inang membawa teh hangat dan menyerahkan kepada Daniel.
"Terimakasih, bi."
"Honey....minumlah." Daniel membantu istrinya bangun sambil menyodorkan cangkir ke mulut Medina.
"Kamu yakin tidak ingin diperiksa?" Daniel masih khawatir jika istrinya hanya dirawat dirumah.
Medina hanya menjawab dengan anggukan pelan.
"Mama...." Syifa mendekat dengan suara tangisnya.
"Kenapa kamu menangis, sayang?" Medina merentangkan kedua tangannya.
"Mama sakit apa karena Syifa?" Gadis kecil itu langsung memeluk Medina.
"Tentu saja tidak. Mama mungkin masuk angin." Ucap Medina sambil mengelus rambut Syifa.
"Sebaiknya kita pulang agar Medina bisa beristirahat." Mama Safira menepuk pundak Daniel.
"Ayo ikut mama sebentar." Daniel mengikuti mma Safira keluar kamar.
"Jangan terlalu khawatir...." Mama menatap Daniel yang masih terlihat khawatir.
"Ini pertama kalinya Medina sakit." Daniel menatap mamanya sendu.
"Dia tidak sakit, mama rasa....."
"Ma...Daniel masih khawatir keadaan Medina. Jangan membuat Daniel semakin khawatir." Daniel mendesah.
"Belikan alat test kehamilan dan minta Medina menampung urinenya besok pagi." Ucap Mama Safira sambil tersenyum.
"Maksudnya?"
"Kau benar-benar tidak peka?" Mama mencubit tangan Daniel hingga mengaduh.
"Semoga dugaan mama benar." Mama berjalan ke dalam kamar dengan wajah sumringah meninggalkan Daniel yang masih kebingungan.
"Mama dan Syifa menginap saja." Ucap Medina saat melihat mama mertuanya masuk.
"Mama akan pulang, sayang." Sahut mama dengan wajah bahagia.
"Lagipula besok Syifa harus sekolah." lanjut mama Safira.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Rasanya lemas dan sedikit pusing." Jawab Medina yang duduk bersandar diantara bantal yang yang disusun tinggi.
"Nyonya, makan malam sudah siap." Ucap Bi Inang saat masuk kedalam kamar Medina.
"Baiklah...kita tunggu Daniel dulu." Sahut Mama Safira.
"Memangnya kak Daniel kemana ma?" Tanya Medina.
"Mama minta dibelikan sesuatu." Jawab Mama sambil tersenyum.
"Owhhh....." Medina mengangguk pelan.
Dengan dibantu Bi Inang, Medina dipapah keluar kamar menuju meja makan. Padahal mama Safira sudah melarang menantunya dan menganjurkan makan didalam kamar, namun Medina menolaknya dengan alasan tidak berselera jika makan sendirian.
Setelah makan malam, Mama Safira dan Syifa pulang kerumah. Sementara Daniel yang tadi sempat bingung dengan permintaan mamanya, kini sudah mulai mengerti dan justru ia sangat menjaga Medina.
_
_
_
_
__ADS_1