
Pagi ini, Medina bangun pukul 4 seperti biasanya. Ia memandang wajah suaminya yang masih terlelap dengan tangan yang memeluknya erat. Setelah mengecup kening suaminya, Dengan sangat hati-hati dan pelan Medina dapat melepaskan diri dan bergegas berjalan ke kamar mandi.
Saat akan membuka baju yang ia kenakan, Medina meringis merasakan perih pada ****** buah dadanya. Ia berjalan menuju cermin yang ada di dalam kamar mandi. Ia pun segera memeriksanya melalui pantulan dirinya didalam cermin.
""Astaghfirullah..." Pekik Medina karena ia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Ia menemukan banyak kissmark yang dibuat Daniel mulai dari leher, dada hingga perutnya. Lalu ia meneliti area kulit yang terasa perih.
"Ya ampun..." Gumam Medina tidak percaya Daniel bisa sangat ganas diatas ranjang. Padahal ia belum seutuhnya memberikan hak bathin kepada suaminya.
"Bagaimana nanti___" Medina menghentikan ucapannya. Pikirannya melayang kemana-mana. Medina kesulitan menelan ludahnya.
Medina menggeleng-gelengkan kepalanya. mencoba mengusir semua pemikiran yang membuatnya ragu dan takut.
"Akkhhh...Tapi ini benar-benar perih jika terkena air"
Akhirnya Medina mandi meski dengan menahan rasa perih bercampur kesal.
Setelah beberapa puluh menit Medina keluar dari kamar mandi dan berjalan membuka lemari pakaian. Saat sedang memilih pakaiannya yang sudah berjejer rapi didalam sana. Ia tersenyum sendiri, karena suaminya telah menyiapkan semua keperluannya tanpa memberitahunya. Mulai dari pakaian, pakaian rumahan, hijab sampai pakaian dalam. Bahkan Daniel juga menyediakan pembalut hampir satu box dengan berbagai merek dan ukuran. Katanya supaya tidak bolak-balik membelinya.
Meski sedikit malu, tapi Medina sangat menyukai sikap Daniel yang sedikit misterius. Lagi-lagi bibir Medina mengulas senyum, dalam hati ia sangat bersyukur karena mendapat perhatian luar biasa dari suaminya. Tanpa sadar Medina melupakan rasa takut dan perih ditubuhnya.
Setelah memakai pakaiannya Medina menghampiri Daniel yang masih terlelap. Menguncir asal rambut panjangnya ke atas.
"Sayang...bangunlah. Sudah waktu subuh" Medina mengelus pundak suaminya lembut.
Daniel menggeliat kecil namun tidak membuka matanya.
"Sayang...." bisiknya mesra ditelinga Daniel.
CUP!!
Medina mengecup hidung mancung Daniel. Membuat Daniel seketika membuka matanya.
"Kamu menggodaku Honey" Ucap Daniel dengan suara khas orang bangun tidur.
Medina tersenyum cantik menatap suaminya yang begitu dekat.
"Ayo bangun kak...ga baik menunda waktu sholat" Medina menarik tangan suaminya.
Jika sudah menyangkut urusan ibadah, Medina menjadi wanita yang tegas. Daniel pun tak bisa membantah. Ia segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Sementara Daniel sedang mandi, Medina membersihkan tempat tidur yang sangat berantakan.
Ingatannya kembali pada aktifitas mereka semalam. Medina hanya membantu melepas tembakan suaminya, namun Medina sudah sangat kewalahan mengimbangi permainan Daniel.
Medina menghela nafas dalam. Mengingat adegan semalam, entah mengapa timbul kembali rasa takut pada dirinya.
Ia beranjak ke lemari pakaian dan mengambil kan sarung dan baju Koko untuk suaminya dan meletakkannya di atas meja rias.
Setelah membersihkan kamar, Medina membuka pintu kaca yang memisahkan kamar mereka dengan balkon apartemen. Ia ingin melihat suasana pagi dari atas sana.
Saat pintu kamar mandi terbuka, Medina menoleh. Ia pikir suaminya sudah selesai. Ia pun kembali masuk ke dalam kamar.
"Honey...kamu disana?"
"Iya...kak" jawab Medina.
__ADS_1
"Tolong ambilkan handuk. Aku lupa membawanya" pinta Daniel.
Medina segera mengambil handuk dan memberikannya pada Daniel.
"Kak...handuknya"
"Masuklah..." Medina melotot. Ia diam mematung.
"Cepatlah Honey...aku kedinginan disini" teriakan Daniel mengejutkan Medina.
Akhirnya dengan jantung yang serasa melompat-lompat Medina mendorong pintu kamar mandi dan masuk ke dalam.
Daniel tersenyum melihat Medina yang berjalan dengan menunduk.
"Cepatlah Honey..." Teriak Daniel dengan sengaja saat melihat Medina akan meletakkan handuknya diatas westafel.
"A-aku....letakkan disini aja ya kak" Medina melempar handuk yang ia bawa diatas westafel. Kemudian dengan cepat ia segera berlari keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya.
Daniel terkekeh melihat tingkat istrinya.
"Huffftttt"
"kenapa aku jadi seperti ini?" Gumam Medina dalam hati.
Kemudian Ia kembali berjalan menuju balkon untuk menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan.
Tak lama Daniel keluar dari kamar mandi. Ia mengedarkan pandangan, ia tidak melihat istrinya. Ia melihat kamar yang sudah rapih dan bersih lalu maniknya melihat pintu Balkon terbuka. Daniel tersenyum kecil, ia tahu istrinya pasti berada disana.
Daniel mengenakan sarung dan Koko yang disiapkan Medina. Lalu melaksanakan sholat subuh sendirian.
Setelah selesai, Daniel merapikan kembali perlengkapan sholatnya dan sudah berganti pakaiannya. Ia berjalan menuju balkon menyusul Medina yang sedari tadi berada disana.
"Jam berapa kita berangkat?" Tanya Medina. Tangannya ikut melingkar diatas tangan Daniel yang melingkar di pinggang nya.
Daniel mengambil nafas sebelum menjawab.
"Jam 10 kita harus sudah dibandara"
"Apa yang kamu pikirkan, Honey??" Daniel mencium pundak Medina.
Medina menggeleng pelan. Meski begitu Daniel tahu istrinya saat ini sedang memikirkan kepulangannya.
"Jangan khawatir, Insya Allah semuanya akan berjalan sesuai harapan kita" Ucap Daniel tenang dan meyakinkan.
"Bagaimana jika___" Daniel yang membalikkan tubuh Medina dan membekap bibir istrinya dengan bibirnya. Memagutnya lembut dan penuh perasaan. Mengalirkan kehangatan dan kenikmatan.
"Aku akan melakukan yang terbaik untukmu, untuk kita dan anak-anak kita nanti" Ucap Daniel setelah melepas bibir Medina.
Medina tersenyum haru mendengar ucapan suaminya yang begitu tulus dan penuh perasaan.
"Terimakasih sayang...." Sahut Medina lembut. Maniknya nampak sudah berkaca-kaca. Kemudian membenamkan wajahnya didada Daniel. Memeluk suaminya dengan erat dan Daniel membalas pelukan itu dengan menghujaninya dengan kecupan di puncak kepalanya.
"Kak...Aku lapar" Medina menengadah menatap suaminya.
"Aku juga. Kamu mau makan apa Honey?" Daniel menyelipkan anak rambut Medina ke belakang telinga.
"Emmmm...aku mau makan pasta. Boleh?" Tanya Medina ragu.
__ADS_1
"Tentu saja, Honey. Apapun untukmu" Daniel mencium kening Medina lama.
"Sayang...aku benar-benar lapar" Medina mendorong tubuh Daniel. Sebenarnya Ia tidak sampai hati untuk mendorong suaminya, tapi perutnya benar-benar terasa lapar meski matahari belum menampakkan diri.
"Sepertinya kegiatan semalam sudah sangat menguras tenagamu, ya?" Goda Daniel dengan alis yang naik-turun.
"Yaa gitu deh.." Jawab Medina enteng membuatnya terlihat menggemaskan dimata Daniel.
Daniel mengambil Ponselnya dimeja. menghubungi salah satu restoran Western langgannya yang buka 24 jam dan memesan makanan.
Klik!
"Masih ada waktu 30 menit sebelum sarapan datang" Tangan Daniel sudah menyentuh pinggang Medina.
"Lalu...?" Tanya Medina pura-pura tidak mengerti arah pembicaraan suaminya.
"ahhhh...aku akan membuat teh madu" Lanjut Medina.
"Baiklah...aku akan menemani istriku membuat teh madu" Daniel menarik tangan Medina berjalan keluar kamar menuju dapur.
Medina tertawa kecil mengikuti langkah kaki suaminya.
Sesampainya didapur, dengan cekatan Medina meracik minuman untuk mereka berdua dan membawanya ke meja makan. Sementara Daniel terus memperhatikan gerak-gerik istrinya dengan wajah yang bahagia.
"Kenapa berdiri terus..ayo duduk tuan suami tampan" Medina menggandeng lengan kekar Daniel dan mendudukkan nya dikursi.
Setelah mendudukkan suaminya, Medina juga berniat untuk menarik kursi disamping Daniel. Namun dengan cepat Daniel menarik pinggang Medina hingga ia terduduk dipangkuan Daniel.
"Kenapa duduk berjauhan...begini lebih dekat dan romantis" Bisik Daniel membuat tubuh Medina meremang.
"Tapi ijinkan aku menyiapkan piring" Daniel mengangguk dan melepaskan pelukannya.
Dan pada saat bersamaan terdengar suara bel berbunyi.
"Makananmu sudah datang Honey" Daniel beranjak pergi untuk membuka pintu.
"Pesanan anda tuan" Seorang pengantar restoran memberikan pesanan Daniel.
"Terimakasih" Daniel menerima paperbag dan segera membawanya ke dalam setelah menutup pintu.
Medina sudah berada dimeja makan. Manik Medina berbinar ketika melihat makanan yang diinginkannya datang.
"Waahhh..." Medina mengendus aroma pasta yang baru Daniel buka.
Daniel hanya tersenyum melihat tingkah istrinya.
"Honey...kenapa hanya satu piring?" Tanya Daniel bingung.
"Aku akan makan setelahmu, Sayang..." Medina memberikan garpu dan sendok. Daniel terdiam.
"Aku akan makan, setelah suamiku selesai makan" Medina kembali mengulang ucapannya.
"kemari..." Daniel menepuk pahanya mengisyaratkan agar Medina duduk dipangkuannya. Medina menurut.
"Setiap kali kita makan berdua dirumah, kita akan makan seperti ini. Satu piring dan satu tempat duduk" Daniel menyeringai.
"Sekarng suapi aku...dan aku akan menyuapimu" Pinta Daniel.
__ADS_1
Medina mengangguk dan tersenyum manis. Mereka menyantap sarapan pagi dengan romantis.