Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 40


__ADS_3

**Assalamualaikum readers...alhamdulillah author bersyukur sudah menulis sampai Eps 40. Terima kasih untuk jempol dan support lainnya. Karena ini karya pertama, Author minta maaf kalo masih suka salah ketik atau alur cerita yang sedikit lambat. Karena begitulah author memilih menulis. Agar cerita yang ingin disampaikan, readers menikmatinya. Karena alurnya Author sudah terencana hingga akhir episode atau tamat nanti.


So, nantikan terus karya Author ini ya. Jangan lupa kasih love dan tinggalin koment positif biar author semangat nulisnya. Syukur2 bisa kasih crazy up😊😘. Ttp jaga kesehatan ya**.


****


Setelah menempuh waktu 45 menit, mobil Daniel sudah sampai dilobby hotel.


"Honey...bangunlah" Daniel membangunkan Medina yang terlelap dipelukannya.


"Kita sudah sampai?" Medina menggeliat kecil dan membuka matanya. Medina menegakkan tubuhnya kemudian merapikan kerudungnya.


"Apa masih pusing?" Tanya Daniel khawatir. Karena sebelum Medina terlelap diperjalanan, ia mengeluh kepalanya pusing dan terasa berat.


Medina tersenyum dan menggeleng.


"Sudah enakan.." jawabnya singkat.


"Ayo turun.." Daniel membimbing Medina turun dari mobil dan masuk ke dalam loby hotel.


Sementara Raihan sudah berada jauh dimeja resepsionis untuk melakukan reservasi dan mengambil kunci kamar.


Daniel dan Medina mengikuti Raihan berjalan menuju lift yang akan mengantarkan mereka ke kamar.


Raihan membuka kunci pintu kamar dengan kartu yang ia pegang. Mendorong daun pintu hingga terbuka lebar. Kamar hotel mewah yang didominasi warna putih sesuai dengn permintaan Daniel.


Bukan tanpa alasan Daniel meminta Raihan menyiapkan kamar hotel istimewa. Ia ingin Medina merasa nyaman seperti saat ia sedang berada dikamar apartemennya. Sehingga bisa membuat mood Medina membaik dan itu akan berdampak pada perasaan istrinya saat ini.


Meski tidak secara terang-terangan Medina mengungkapkan perasaan khawatirnya, Namun Daniel tahu dan bisa merasakan, sangat tidak mudah bagi istrinya untuk kembali ke kampung halamannya dengan masa lalu yang cukup menyulitkan.



"Silahkan bos..Saya sudah pesankan makan siang agar diantar ke dalam kamar" Ucap Raihan setelah meletakkan koper bos nya disisi lemari pakaian.


"Terimakasih, Raihan"


"Kamu bisa istirahat dan makan siang" Titah Daniel, Raihan mengangguk.


"Saya ada dikamar bawah jika anda memerlukan sesuatu" Daniel kembali mengangguk.


Raihan pamit keluar dari kamar bosnya.


"Istirahat lah, Honey. Kamu pasti lelah karena jetlag" Daniel menarik pinggang Medina menuju ranjang.


"Sebaiknya kita membersihkan diri dan sholat dulu. Dan....jangan lupa mengabari orang dirumah. Mama menunggu kabar kita" Ucap Medina seraya menyerahkan ponsel milik Daniel ke tangan suaminya itu.


Kemudina Medina berlalu masuk ke kamar mandi. Sementara Daniel segera menghubungi sang mama.


"Assalamualaikum ma..."


"______"


"Kami baru sampai. Medina sedang mandi...dia hanya sedikit jetlag karena ini pengalaman pertamanya naik pesawat..." Daniel terkekeh kecil.


"______"


"Tidak ma...Siang ini kami istirahat dulu. Sore nanti baru akan berkunjung ke makam orangtua Medina"


"______"


"Baik ma..nanti Daniel sampaikan. Mama jaga diri ya. Salam untuk kakak dan putri chubby ku"

__ADS_1


Klik!


Bersamaan Daniel menutup obrolan dengan sang mama, saat itu pula Medina keluar dari kamar dengan jubah mandi yang menutup tubuhnya dan rambut yang dibungkus handuk.


Daniel menatap istrinya lekat. Nampak gurat hasrat dan gairah kelelakiannya. Daniel berjalan mendekati Medina yang sedang membongkar kopernya untuk mencari baju ganti.


Daniel melingkarkan tangannya diperut Medina. Memeluknya erat dari belakang. Tangan Daniel terangkat melepas handuk yang membungkus rambut hitam istrinya. Menyingkirkan rambut basah istrinya ke samping dan menempelkan bibirnya ditengkuk Medina yang wangi. Membuat Daniel semakin mabuk dan tanpa sadar memberikan tanda merah disana.


"Sayang...bersihkan diri dulu sana....dan kita sholat berjamaah" Tolak Medina halus.


"Sebentar saja...." Suara Daniel terdengar parau. Ia sungguh tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh dan mencumbu istrinya.


Daniel membalikkan tubuh Medina agar menghadap padanya.


"Kamu sangat seksi, Honey..." Bibir Daniel sudah menjelajah leher Medina. Dan kembali membuat tanda merah disana.


Medina membiarkan aktifitas suaminya. Toh dirinya belum benar-benar bersih. Jadi Daniel tidak akan menuntut lebih dari sekedar cumbuan.


Tanpa sadar Medina mendesah pelan. Tangannya mulai meremas tubuh liat suaminya dibalik kemeja. Membuat tubuh Daniel semakin mendidih dan semakin menginginkan istrinya.


Bibir Daniel terus menelusuri ceruk leher Medina. Dan saat bibir Daniel beralih ke bibir Medina tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.


Tok...Tok...Tok


"Mungkin itu makan siang kita, Sayang..." Medina tersenyum dan mendorong tubuh Daniel. Ia mengambil baju gantinya dan masuk kedalam kamar mandi.


Daniel menggeram kesal. Dan berjalan untuk membuka pintu.


"Pesanan anda, Tuan Daniel" Saat 2 pelayan akan masuk untuk melatakkan nampan, Daniel mencegahnya.


Ia tidak ingin mereka melihat Medina ketika keluar dari kamar mandi tanpa memakai hijabnya.


Daniel membawanya kedalam meski sedikit kewalahan. Meletakkan 2 nampan itu di meja yang ada didalam kamar.


Medina keluar dari kamar mandi sudah mengenakan pakaian tertutup.


"Sayang...bersihkan diri dulu. lalu kita sholat berjamaah" Medina memberikan handuk kepada Daniel.


"Baik..Tuan putri" Daniel menerima handuknya dan berjalan ke kamar mandi.


***


Sementara dirumah kediaman mama Safira, nampak sedang kedatangan tamu.


Seorang perempuan cantik yang lumayan akrab dengan keluarga Daniel.


"Raisa....???" Pekik Rani saat ia turun dari mobil setelah menjemput Syifa sekolah.


Rani melihat Raisa sedang berdiri didepan pintu yang belum dibuka pemilik rumah.


"Hai Ran..." Sahut Raisa.


"Sedang apa disini? emmm...maksudku__"


"Kebetulan aku lewat. Jadi sekalian aku mampir. Mau lihat keponakanku yang gemas ini" Potong Raisa dengan Tangan yang memainkan pipi gembul Syifa.


Rani membuka pintu dan mengajak Raisa masuk kedalam rumah.


"Apa sudah lama berdiri didepan? Soalnya hari ini memang rumah sedang sepi"


"Ga juga...Baru sampe kok pas kamu Dateng" Jelas Raisa bohong. Padahal ia sudah setengah jam berdiri didepan pintu.

__ADS_1


"Emang pada kemana?" Tanya Raisa penasaran.


"Oohh...mama tadi pergi kontrol ke Rumah sakit sama papanya Syifa, mungkin bibi juga ikut buat nemenin mama. Kalo yang lain mungkin lagi pada keluar belanja" Ucap Rani panjang lebar.


"Daniel???" Tanya Raisa tanpa malu.


"Ohh..Daniel?? Itu...dia lagi ada urusan keluar kota" Jawab Rani bohong. Ia sudah dimaklumat Danu agar tidak menyampaikan berita pernikahan Daniel dan Medina kepada siapapun meskipun kepada keluarganya sendiri.


"Bun...Ifa capek..." Rengek Syifa yang sepertinya sudah kelelahan.


"Sa...aku tinggal sebentar ya. Aku mau nidurin Syifa dulu" Pamit Rani yang sudah menggendong Syifa menuju paviliun.


Raisa berdecak kesal. Ia memutar pandangannya menyapu ruangan.


"Kemana si culun kampungan itu ya??" Raisa berkata sendiri.


Tidak lama, Rani sudah kembali ke ruang tengah rumah utama.


"Sa...mau minum apa?" Tawar Rani.


"Apa aja Ran.."


Rani berjalan ke dapur untuk membuatkan minum. Raisa mengekori.


"Oya....kemana gadis berjilbab itu? Susternya Tante Safira..." Tanya Raisa datar.


"Dia sedang pulang kampung...Ziarah ke makam orangtuanya" Jawab Rani singkat.


"Yuk..duduk disana" Rani mengajak Raisa untuk kembali duduk diruang tengah.


"Eh..Sa..kamu udah makan siang? Mau aku pesenin apa?" Rani mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Sebenarnya ia hanya mencoba mengalihkan rasa canggungnya karena sempat berdebat di hotel tempo hari.


Walau bagaimanapun Raisa adalah sepupu Rani. Artinya mereka keluarga dekat. Dan Rani tentu tidak ingin merusak hubungan kekeluargaannya.


"Ga usah Ran...Gw cuma mau ngobrol aja kok"


Sekitar 1 jam mereka mengobrol dan Raisa bersiap untuk pamit pulang. Saat Raisa keluar rumah, Mama Safira turun dari mobil.


Danu menatap Raisa dengan tanda tanya dikepalanya.


"mengapa dia ada disini?" Tanya Danu dalam hati.


Pandangannya beralih pada wajah istrinya. Sorot mata Danu membuat Rani menundukkan kepala.


"Ehh...ada tamu..?"


"Iya Tante. Tadi kebetulan Raisa lewat dan mampir" Jawab Raisa sesopan mungkin.


"Bi...Tolong bawa mama masuk duluan ya. Saya mau menyapa tamu dulu" Ucap Danu datar.


Mama Safira dituntun Bi inang masuk kedalam rumah. Sementara Rani, Raisa dan Danu masih berdiri didepan pintu.


"Terima kasih atas kunjungannya Sa..." Ucap Danu.


Rani yang faham ucapan suaminya, nampak salah tingkah dan langsung memeluk Raisa.


"Hati-hati dijalan ya, Sa. Salam buat Bibi dan paman"


"Oke..gue pamit ya" Raisa berjalan kedepan pintu gerbang. Dan menyetop Taxi Setelah keluar.


"Gue harus pikirin rencana yang lebih besar kali ini. Gue ga mau gagal untuk kedua kalinya" Seringai Raisa yang sudah duduk didalam taxi.

__ADS_1


__ADS_2