
Meski hari libur, rutinitas pasangan pengantin baru ini tetap seperti biasa. Setelah melaksanakan sholat shubuh, Daniel pergi ke ruang Gym untuk melakukan olah raga. Itu ia lakukan untuk tetap menjaga tubuhnya fit dan prima.
Sementara Medina lebih memilih merawat tanamannya yang tersebar diseluruh ruangan.
Setelah selesai mengurusi semua tanamannya, Medina memutuskan untuk membersihkan diri karena tubuhnya berkeringat dan lengket.
Setelah selesai mandi dan mengganti pakaian, Medina keluar ke arah balkon dengan kepala yang terbungkus handuk. Ia duduk di sofa rotan besar dan merebahkan tubuhnya disana. Rasanya nyaman yang dirasakannya membuatnya tiba-tiba mengantuk. Dan tanpa ia sadari, Medinapun langsung memejamkan matanya.
Daniel telah selesai melakukan olahraga, Daniel berjalan menuju dapur. Ia mengambil jus yang sudah dibuatkan istrinya lalu meminumnya hingga tandas.
"Honey....??" Daniel mengedarkan pandangannya namun istrinya tidak terlihat didapur.
"Kemana istriku?" Gumamnya sambil melangkah ke dalam kamar melewati ruang tengah yang juga kosong.
Saat masuk kedalam kamar ia melihat pintu balkon terbuka lebar. Bibirnya tersenyum dan ia langsung melangkahkan kakinya menuju kesana.
"Honey....?" Daniel kembali tersenyum mendapati istri nya tengah meringkuk diatas sofa rotan besar yang ada disana.
Daniel mencium kening Medina dengan mesra.
"Honey..." Jari Daniel meraba pipi mulus istrinya.
"Hemmmm" Medina mendesah karena merasa tidurnya diganggu. Matanya masih terpejam rapat.
Daniel tidak berhenti menganggu. Ia terus membelai dan menciumi wajah Medina dengan lembut. Hingga Medina membuka matanya.
"Sayang....Kamu sudah selesai?" Medina tersenyum manis mendapati wajah tampan suaminya berada dihadapannya.
"Maaf....aku ketiduran" Medina terkekeh karena merasa konyol. Bisa-bisanya ia tertidur dengan nyaman diwaktu seperti ini.
"Apa kamu lelah?" Medina menggeleng pelan saat Daniel bertanya.
"Kamu keramas?" Daniel melihat rambut Medina yang basah tergerai.
"Apa sudah selesai?" Pernyataan Daniel membuat Medina sedikit terkejut.
Wajah tampan Daniel mendekat dan mengecup bibir merah jambu Medina.
"Aku memang keramas tapi bukan bersuci, Sayang" Medina merangkum wajah Daniel lalu mengecup bibir suaminya sekilas.
Wajah Daniel tampak kecewa dengan jawaban Medina. Ia memeluk pinggang istrinya dan merebahkan kepalanya dipangkuan Medina. Posisi Daniel yang berjongkok dibawah membuatnya lebih mudah untuk bermanja.
"Besok aku akan keluar kota untuk urusan pekerjaan. ikut lah denganku" Ucap Daniel.
"Keluar kota? Kenapa baru bilang? Aku belum menyiapkan pakaiannya mu, Sayang" Medina terkejut jika suaminya akan keluar kota untuk urusan pekerjaan.
"Aku lupa mengatakannya" Jawab Daniel.
"Honey...kamu ikut ya?" Daniel membenamkan wajahnya dipangkuan Medina.
"Mama melarang ku bepergian sampai pesta resepsi nanti. Aku akan dipingit mama" Ucap Medina membuat Daniel menengadah.
"Dipingit?" Tanya Daniel.
"Aku akan tinggal dirumah mama sampai pesta nanti dan selama itu kita tidak akan bertemu" Ucap Medina dengan hati-hati. Tangannya mengelus rambut Daniel.
"Hei....siapa yang mengatur begitu?! kita tidak perlu melakukan itu" Daniel meeninggikan suaranya.
Ia sangat terkejut ketika Medina mengatakan mereka tidak akan bertemu hingga pesta resepsi nanti.
__ADS_1
"Bukan mengatur....tapi itu keinginan mama dan keinginanku. Lapipula kakak akan keluar kota dan pasti akan sibuk dengan pekerjaan yang akan kakak kerjakan lebih awal, bukan?" Medina mencoba memberi penjelasan.
"Apa kakak tega? Meninggalkan ku sendiri disini?"
Daniel terdiam. Ia berpikir Yang dikatakan Medina memang benar. Dirinya akan keluar kota meski hanya sebentar, namun pekerjaannya dikantor sudah menantinya sepulang dari luar kota dan pasti akan menyita waktunya lebih banyak.
Dan semua itu pasti akan berdampak pada waktu yang dimilikinya bersama Medina. Tapi bagaimana bisa jika dirinya harus tinggal berjauhan dan tidak bisa bertemu dengan istrinya??
Aaaahhhh... memikirkannya saja Daniel sudah tidak sanggup. Apakah dirinya bisa melewatinya atau tidak.
"Mama akan menjemputku nanti sore" Medina merangkum wajah Daniel kemudian mencium keningnya.
"Hanya beberapa hari saja, sayang" Medina menatap suaminya dengan lekat.
"Lagipula....Aku belum pernah membantu persiapan pernikahan kita sedikitpun. Semuanya....Mama, Kak Danu dan Kak Rani yang sibuk mengatur ini dan____"
"Semuanya sudah diserahkan ke WO, Honey. Kita tidak perlu repot apa-apa lagi. Hanya sekedar mengecek kekurangan" Potong Daniel dengan nada kesal.
"Setidaknya...aku bisa menjaga dan menemani mama" Sahut Medina dengan tatapan sayunya. Membuat Daniel tidak bisa menolak keinginan istrinya.
"Baiklah...tapi aku yang akan mengantarmu kerumah mama besok siang. Bukan nanti sore"
"Aku akan menelepon mama" Ucap Daniel. Ia berjalan masuk kedalam kamar.
Medina mengekori suaminya masuk kedalam kamar. Dan menyiapkan baju ganti untuk suaminya yang sedang mandi.
setelah itu, Medina melangkahkan kakinya menuju dapur. Ia akan menyiapkan sarapan.
****
Selesai sarapan Daniel masuk kedalam ruang kerjanya dan menelepon sang mama. Dan mengatakan jika tidak perlu menjemput Medina. Karena Daniel sendiri yang akan mengantar istrinya kerumah sang Mama.
Daniel tersenyum lebar dan langsung menutup teleponnya.
Sementara Medina berada didalam kamar sedang mempersiapkan pakaian suaminya kedalam koper.
Saat sarapan Daniel memberi tahu jika setelah dari kota B dia akan mampir ke Kota S untuk bertemu dengan pakde Radiman.
Meski tidak bertanya tujuan Daniel menemui Pakde Radiman tapi ia yakin jika apa yang akan dilakukan suaminya pastilah untuk kebaikannya.
Setelah selesai mengemas, Medina keluar kamar. Ia melihat ruang kerja suaminya yang masih tertutup rapat.
"Apa dia benar-benar sangat sibuk?" Gerutu Medina dengan kesal.
Ia mengambil buah didalam kulkas dan membawanya ke ruang tengah. Ia menyalakan tv dan menonton acara favoritnya, Film India. (Authornya yang Fans berat film India 😁).
Medina mulai mencari-cari judul film yang ingin ia tonton. Dan kali ini, dia memilih salah satu film dari best couple yaitu Shah Rukh Khan dan Kajol dalam Kabhi Kushi Kabhie Gham. Meski film itu termasuk film lama dan bahkan sering ditontonnya berulang kali, namun Medina tidak pernah bosan.
Sambil memakan buah, ia mulai menonton. Tidak lupa ia menyiapkan tisu disamping tempat duduknya.
****
Daniel keluar dari ruang kerjanya dan melihat istrinya tengah menonton acara favoritnya.
Karena Medina tidak jadi kerumah mama Safira hari ini, Daniel mengajak Medina ke butik tempat mereka memesan Gaun pengantin.
"Tapi film nya belum habis, Sayang" Medina enggan beranjak.
"Kamu masih bisa menontonnya lagi nanti" Daniel menggendong tubuh Medina danasuk kedalam kamar untuk bersiap-siap.
Tidak butuh waktu lama mereka sudah siap dan segera pergi ke butik yang dipercayakan untuk merancang gaun Pengantin untuk Medina.
__ADS_1
Medina nampak kaget dengan desain Gaun yang telah dipesan untuknya. Ia tidak menyangka jika gaun yang akan ia gunakan sangat mewah dan elegan.
"Sayang...." Medina masih belum percaya.
"Kenapa, Honey? kamu tidak suka desainnya?" Daniel hampir memanggil dan akan memprotes sang desainer.
"Ini luar biasa, apa aku akan terlihat seperti Cinderella?" Mata Medina nampak berkaca-kaca mengingat nasibnya yang hampir sama dengan cerita Cinderella.
Melihat istrinya yang hampir menangis, Daniel memeluk tubuh Medina dan menciumi kening Medina.
"Kamu bukan Cinderella...Kamu itu Anjali dan aku Rahul" Ucap Daniel membuat Medina seketika itu tertawa. Pun dengan sang desainer.
Setelah puas melihat gaun, Daniel membawa istrinya bertemu WO yang dikontrak untuk menangani pesta resepsi mereka.
Daniel sudah menghubungi pihak WO dan meminta bertemu di Hotel yang akan menjadi tempat mereka
melangsungkan acara.
Lagi-lagi Medina dibuat terkejut dengan ruangan Ballroom yang akan menjadi tempat resepsi. Ruangan yang sangat luas. Bahkan Medina tidak bisa membayangkan jika ruangan itu sudah didesain sedemikian rupa.
"Aku tidak suka kesalahan sekecil apapun" Ucap Daniel dengan tegas kepada pihak WO.
"Tenang saja, Pak. Semuanya akan sesuai keinginan anda" Jawab penanggung jawab WO bernama Alex itu.
"Sayang....apa kamu tidak salah memilih gedung ini?" Tanya Medina.
Daniel tersenyum menatap istrinya yang masih nampak terkejut.
"Berapa undangan yang kamu undang?"
"Sedikit...Hanya 2000 undangan"
"A_apa?" Medina membelalakkan matanya. Jantungnya hampir saja. keluar dari tempatnya karena saking terkejutnya.
Otak Medina langsung berpikir bahwa akan banyak tamu undangan dari keluarga dan kolega bisnis suaminya. Dan semuanya pasti dari kalangan atas.
Dan bukan hanya itu saja, Medina sedikit kecewa karena Daniel tidak pernah melibatkan dirinya untuk ikut menentukan pilihan. Jika hari ini Daniel tidak membawanya, mungkin hingga hari H ia tidak akan pernah mengetahuinya.
"Hei....Kenapa kamu terlihat khawatir?" Daniel mengusap pipi Medina.
Medina hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan suaminya. Dan Daniel paham apa yang dipikirkan oleh istrinya itu.
Melihat istrinya yang lebih banyak diam dan murung, Daniel memutuskan untuk tidak meneruskan kegiatannya.
"Tidak boleh ada yang berubah sedikit pun dari keinginan ku di awal, kamu mengerti?" Alex hanya mengiyakan.
"Kami akan melakukan dengan maksimal" Sahut Alex.
Daniel akhirnya membawa pulang Medina. Sepanjang perjalanan pun Medina hanya terdiam. Daniel hanya tersenyum melihat sang istri dengan memasang wajah cemberutnya.
"Kenapa cemberut begitu? Kamu marah padaku?" Daniel membuka suara.
"Menurut kakak?" Alih-alih menjawab pertanyaan suaminya, Medina justru balik bertanya.
Daniel menghela nafasnya dalam-dalam. Istrinya benar-benar sedang dalam keadaan kesal.
Hay...Hay...Hay... Author ucapkan Terimakasih yang masih setia dengan cerita Medina dan Daniel.
Jangan lupa selalu tinggalkan jejak kebaikan kalian ya... Like, vote, and coment sebanyak2nya.
Thank you and love you all...💞🤗
__ADS_1