
Keesokan paginya, Arif sudah berada di apartemen Daniel dengan membawa 2 kantong paperbag berisi makanan dari restoran langganannya.
Setelah membuka pintu apartemen untuk Arif, Daniel kembali masuk kedalam kamarnya dan melihat istrinya sedang memakai hijabnya.
"Mama dan yang lainnya dalam perjalanan kemari" Daniel memeluk Medina dari belakang.
"Mereka menjemputku?" Tanya Medina.
Mendengar pertanyaan istrinya Daniel menggeleng dan tersenyum.
"Sepertinya kamu tidak ingin berada jauh dariku, ya?" Godanya.
"Hidupku sudah sangat bergantung dengan mu, Sayang" Jawab Medina dengan mata berkaca-kaca.
"Sssttt....kita hanya berpisah sebentar. Aku akan ke kantor terlebih dahulu dan menyusul kalian nanti" Daniel mengeratkan pelukannya.
"Kita akan pergi kemana?" Tanya Medina yang penasaran karena keluarganya akan datang ke apartemen.
"Ini sudah hari Jumat, Honey. Kita akan pergi memeriksa semua persiapan pesta resepsi pernikahan kita" Jawab Daniel yang masih memeluk istrinya.
"Aku tidak mau berpisah lagi" Medina berbalik menghadap suaminya.
Daniel terkekeh dan langsung melahap bibir ranum istrinya yang selalu menggoda. Ciuman yang semula lembut berubah menjadi ciuman panas yang menuntut.
Perasaan tidak ingin ditinggal dan berpisah dengan suaminya semakin membuat Medina hilang kendali. Ia terus membalas setiap serangan dari suaminya.
Daniel merasa senang dengan sikap istrinya yang agresif. Tapi mereka harus menyudahi kegiatan mereka sebelum berakhir dengan adu gulat panas diranjang.
"Ada Arif disini" Ucap Daniel disela ciumannya.
"Apa??" Medina langsung menjauhkan bibirnya dari bibir Daniel.
Medina sedikit terkejut karena Arif pagi-pagi buta sudah berada di apartemen nya.
"Apa kamu lupa jika dia adalah sektretaris juga asisten pribadiku?"
"Kenapa tidak bilang daritadi" Medina mencubit lengan kekar suaminya yang tertawa lebar.
Mereka pun keluar kamar setelah merapikan penampilan mereka yang sedikit berantakan karena adegan ciuman panas tadi.
"Sepertinya kalian tidak senang jika aku ada disini" Sahut Arif dengan memasang wajah sendunya karena pasangan suami istri itu terlalu lama berada dikamar.
"Maaf..kak Arif. Suamiku tidak bilang jika ada kak Arif disini" Medina menatap suaminya.
"Kak Arif mau kopi atau teh?" Medina kini beralih menatap Arif.
"Buatkan dia kopi" Ucap Daniel setelah mengecup bibir Medina dihadapan Arif.
"Ya ampun....kalian benar-benar pasangan tidak tahu diri. Berciuman didepan pria jomblo" Arif menutup wajahnya dengan bantal sofa. Membuat suami istri itu tertawa lebar.
Medina berjalan menuju dapur diikuti Daniel dibelakang.
"Apa ini?" Tangan Medina menyentuh paperbag diatas meja makan.
"Aku akan membantu istriku menyiapkan sarapan" Daniel mengeluarkan isi paperbag.
__ADS_1
"Pasta dipagi hari?" Medina mengernyit bingung.
"Semalam aku sudah memesan tempat untuk makan malam romantis dengan mu. Tapi karena kegiatan kita semalam yang tidak kenal lelah dan waktu, jadi aku melupakannya. Akhirnya aku meminta Arif datang ke restoran untuk mengambil makanan yang sudah dipesan dan membawanya kemari. Tapi saat Arif sudah disini, kita bahkan tidak membuka pintu untuknya" Suara tawa Daniel menggelegar.
"Jadi kak Arif datang kesini tadi malam?"
Medina menatap Arif dengan wajah yang sangat malu. Pantas saja jika Arif terlihat sangat kesal.
"Kenapa dia menatapku seperti itu. Apa Daniel tidak bilang rencana gagalnya tadi malam?" Gumam Arif dalam hati.
"Jangan dipikirkan. Dia sudah biasa seperti itu" Daniel mengecup kening Medina dan berlalu ke dalam dapur mengambil piring.
Medina menghela nafasnya. Kemudian mengambil cangkir dan membuat kopi untuk suami dan Arif.
****
Medina kini sudah berada di Ballroom sebuah hotel yang akan menjadi tempat resepsi pernikahan nya.
Ditemani mama, Kak Danu, Rani dan si kecil Syifa. Sepeti biasa Syifa yang jika bertemu dengan Medina tidak akan pernah jauh-jauh darinya.
Melihat tingkah manja Syifa pada mama Niel nya, membuat yang lain tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Sementara Medina justru menikmati waktu berdua dengan keponakan kesayangannya.
"Kata bunda...mama akan pergi honeymoon sama papa?" Celetuknya sambil bergelayut manja.
Medina yang mendengar celoteh Syifa langsung membulatkan matanya tidak percaya.
"Memangnya kamu tahu honeymoon itu apa?" Tanya Medina menahan senyumnya.
"Kata papa, honeymoon itu saat Bunda sama Papa pergi cuma berdua ke tempat yang sangat indah dan pulangnya ada Ifa diperut Bunda" Jawabnya dengan polos.
"Kata Bunda...mama dan papa Niel juga akan punya baby setelah pulang honeymoon" Ucapnya dengan wajah sendu.
"Hei kenapa wajah princess mama berubah sedih?" Medina mengelus pipi Syifa.
"Jika mama punya baby, Papa sama mama Niel tidak akan sayang lagi sama Ifa"
"Oh Sayang...tentu saja tidak. Mama sama papa akan selalu menyayangi dan mencintaimu" Medina menghujani gadis kecil itu dengan ciuman bertubi-tubi. Membuat wajah sendunya seketika berubah penuh binar kebahagiaan.
"Justru...jika mama atau bunda nanti punya baby, Syifa harus jadi kakak yang baik untuk adik baby. Karena adik baby belum bisa melakukan apapun selain menangis. Jadi Syifa harus sayang sama adik baby. Paham, Sayang?" Wajah Syifa kini penuh senyuman saat Medina menjelaskan.
"Iya..mama. Syifa akan jadi kakak yang baik dan sayang sama adik baby" Syifa mengangguk kan kepalanya.
"Good girl" Medina mencium pipi Syifa.
Mereka berpelukan dengan sangat erat. Bagi Syifa tempat ternyaman setelah pelukan Papa dan Bundanya adalah Pelukan sayang Mama dan Papa Nielnya juga tentu saja pelukan neneknya.
****
Semuanya sangat tampak puas dengan dekorasi ballroom yang begitu luar biasa. Bahkan Medina tidak kuasa menitikkan airmata saat membayangkan betapa megahnya suasana dan acara resepsi pernikahan mereka nanti.
Daniel yang saat itu menyusul mereka pun, tampak sangat puas. Ia merasa sangat tidak sabar untu duduk diatas pelaminan bersama dengan Medina.
"Apa yang kau pikirkan, Kid?" Goda Kak Danu yang saat itu memergoki Daniel tengah melamun sambil tersenyum sendiri.
"Ah...Tidak ada kak!" Elak Daniel sambil tersenyum.
__ADS_1
"Selamat berbahagia untukmu. Bahagiakan dia dan aku harap kamu tidak pernah menyakiti Medina apapun yang terjadi dalam rumah tangga kalian nantinya" Ucap Kak Danu dengan penuh penekanan.
Keduanya menatap Medina dengan intens yang berdiri agak jauh dari tempat mereka berdiri. Saat itu Medina sedang berbincang dengan mama Safira, Rani, dan juga Syifa.
"Jika sampai itu terjadi..Kamu tidak hanya menyakitinya. Kamu juga akan menyakiti__"
"Aku tahu, Kak. Terimakasih sudah mengingatkanku" Potong Daniel sebelum Kak Danu menyelesaikan perkataannya.
"Bagaimana perkembangan baru pencarian keluarga Medina?"
"Kemungkinan orangtua kandung Medina bukanlah orang biasa. Aku sudah mendapatkan foto perempuan yang sangat mirip dengan wajah Medina. Dan...dia mengenakan kalung yang saat ini berada pada Medina" Jawab Daniel.
"Benarkah?" Kak Danu sedikit terkejut dengan pemaparan adiknya.
"Raihan sedang mencari tahu pemilik kalung itu. Karena data perempuan itu sepertinya sengaja ditutupi atau bahkan dihilangkan" Jawab Danu lagi.
"Apa Medina tahu?"
"Tidak. Aku masih mengumpulkan informasi lebih detail sebelum aku mengatakannya kepada Medina. Lagipula, aku tidak mau moodnya menjadi tidak stabil menjelang pesta resepsi kami" Daniel menarik nafasnya.
"Aku mengerti" Kak Danu menepuk pundak Daniel seolah memberi semangat kepada adiknya.
Syifa berlari mendekat ke tempat Daniel dan Danu. Diikuti Mama safira, Rani dan Medina.
"Papa...."
"ooohhh...my little Princess" Daniel menggendong Syifa.
Daniel mencium pipi Syifa dengan gemas hingga Syifa tertawa karena kegelian.
"Sebaiknya kita mencari tempat makan. Mama tidak boleh telat makan" Ucap Medina yang menggandeng tangan mama Safira.
"Sayang....mama masih bisa menahan nya"
"Jangan dibiasakan menahan, Mama" Protes Medina mencium pipi Mama Safira gemas karena mamanya selalu saja membantah.
Semuanya tertawa lebar melihat reaksi Medina yang menampakkan rasa kesalnya dengan mencium pipi mama Safira.
"Baiklah...ayo kita pergi ke restoran favorit mama. Kali ini biar mama yang traktir"
"Yeeeaayyyyy!!!" Teriak mereka bersamaan.
"Kalian jangan senang dulu....mama hanya mentraktir Medina dan Syifa. Jika Kalian ingin ikut...kalian bayar sendiri" Mama Safira menarik tangan Medina meninggalkan Daniel, Danu dan Rani yang terdiam sejenak karena terkejut.
Ketiganya saling pandang kemudian tertawa bersama. Kemudian ikut berjalan menyusul Mama Safira, Medina dan Syifa yang sudah keluar lebih dulu menuju mobil mereka.
_
_
_To be continue
_
_
__ADS_1
_