Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 57


__ADS_3

Daniel dan Medina sudah berkemas dan bersiap siap untuk pulang kerumah. Kamar dengan kelopak mawar semalam pun sudah tampak bersih setelah Daniel meminta petugas hotel untuk membersihkan nya pagi-pagi sekali. Saat ini mereka sedang menikmati sarapan didalam kamar. Itu dilakukan karena Medina merasa kurang enak badan. Tubuhnya benar-benar terasa remuk setelah malam panjang yang mereka lewati dengan romantis.


Seperti biasa, jika sedang berdua mereka makan dengan saling menyuapi dengan Medina duduk dipangkuan Daniel.


"Ayo buka mulutmu lagi, ini baru sedikit" Ucap Daniel saat makanan yang ia suapkan ke dalam mulut Medina ditahan tangannya.


Medina menggeleng.


"Aku sudah kenyang, kak" Tolak Medina pelan.


Daniel meletakkan sendok itu ke atas piring dan memperhatikan wajah istrinya yang terlihat sedikit pucat.


"Apa ada yang sakit?" Tanya Daniel hati-hati.


Medina menoleh dan menatap suaminya.


"Aku merasa tubuhku remuk dan itu membuat selera makanku berkurang" Medina memeluk leher Daniel dan merebahkan kepalanya dibahu Daniel.


"Maafkan aku, Honey" Daniel merasa bersalah karena dirinyalah yang menjadi penyebab keadaan istrinya saat ini.


"Aku akan meminta Raihan untuk mencarikan dokter dan membawanya kemari"


Medina kembali menggeleng.


"Tidak usah, kak. Aku hanya butuh tidur sebentar" Suara Medina sudah sangat pelan. Maniknya sudah tertutup dan nafasnya mulai terdengar halus beraturan.


Daniel menyadari istrinya kini sudah terlelap dipelukannya. Ia segera menggendong Medina dan merebahkan nya diatas ranjang.


Daniel merutuki dirinya yang sudah membuat kondisi istrinya seperti sekarang.


Daniel mengambil ponselnya dan menghubungi Raihan. Ia meminta dicarikan dokter perempuan dan segera membawanya kesana sebelum mereka pulang kerumah.


Setelah hampir 40 menit, Raihan datang bersama seorang dokter perempuan.


Dengan sigap dokter spesialis kandungan itu langsung memeriksa Medina. Dan menanyakan beberapa pertanyaan kepada Medina.


"Istri anda hanya kelelahan, tidak ada yang serius dan perlu dikhawatirkan" Ucap Sang Dokter.


"Apa kalian pengantin baru?" Tanya dokter itu tanpa ragu.


Ia menatap pasangan suami istri itu secara bergantian.


Daniel mengangguk membuat dokter itu tersenyum sambil menatap Daniel.


Mendapat tatapan dari dokter itu, Medina merasa malu dan menundukkan wajahnya.


"Nona...jika anda merasa sudah tidak sanggup melayani hasrat suami, anda bisa mengatakan dan menolaknya secara halus" Dokter memberi saran kepada Medina.


Medina hanya mengangguk pelan. Sebenarnya ia juga ingat saran dokter kandungan yang pernah mereka datangi setelah malam pertama. Dokter itu juga menyarankan jika dirinya harus bicara jujur dan terbuka dengan pasangan.


Setelah selesai menuliskan resep vitamin untuk Medina dan memberikan nya kepada Daniel, dokter itu segera pamit keluar.


Daniel mendekati Medina dan duduk disisi ranjang.


"Kenapa kakak harus memanggil dokter kesini?" Todong Medina dengan nada kesal.


"Honey... aku sangat khawatir kondisimu" Jawab Daniel dengan tangannya yang menyentuh pipi istrinya.


"Aku sudah bilang, aku hanya perlu tidur sebentar" Medina memalingkan wajahnya.


Daniel menghela nafas panjang, Ia menatap Medina lekat.


"Honey, apa kamu marah? kesal padaku?"


Medina menggeleng. "Aku sangat malu dengan dokter tadi dan Raihan juga tadi ada disini" Medina menekuk wajahnya.


Daniel segera menarik tubuh istrinya dan mendekapnya erat.


"Maafkan aku, seharusnya___"

__ADS_1


"Sebelum kita pulang, bisakah aku bertemu dengan Pakde?" Potong Medina. Ia segera melepaskan pelukannya.


"Raihan sedang menjemput mereka" Ucap Daniel sambil menahan tangan Medina yang hendak turun dari ranjang. Yang mana membuat Medina terduduk dipangkuan Daniel.


Daniel sudah merencanakan ini sebelum mereka pulang kerumah. Karena ia tahu, istrinya pasti ingin menemui keluarga Pakde Radiman.


"Aku mau ke kamar mandi" Elak Medina saat Daniel mencoba mencium bibir ranum istrinya.


"Satu ciuman saja"


CUP


"Sudah, sekarang lepaskan!"


"Itu bukan ciuman" Protes Daniel yang masih belum melepaskan pelukannya.


"Kak lepaskan...aku sudah kebelet" Bohong Medina. Nyatanya dia masih kesal pada suaminya dan hanya ingin menghindar.


"Tidak akan!!"


"Nanti aku bisa ngompol disini"


"Aku tidak peduli"


"Hanya ciuman biasa, kan??" akhirnya Medina menyerah dan tidak ingin lagi berdebat.


Daniel tersenyum mengangguk.


"Tutup mata dulu" pinta Medina.


Daniel bersikap manis dan menuruti yang diperintahkan istrinya.


Medina menghela nafasnya kemudian kedua tangannya menangkup wajah Daniel dan menempelkan bibirnya dengan bibir suaminya.


Medina menempelkan bibirnya dengan durasi lama. Hanya menempel tanpa lum*tan.


Namun saat Medina akan melepaskan ciumannya, Daniel menahan tengkuk Medina dan ******* bibir istrinya dengan lembut.


Daniel menyudahi ciumannya lalu menyeka bibir Medina dengan ibu jarinya.


"Maafkan aku...aku benar-benar khawatir. Aku tidak tahu jika ide memanggil dokter itu akan membuatmu malu didepan dokter itu dan juga Raihan" Ucap Daniel lirih. Ia menatap istrinya lekat.


Medina merasa terharu dan seketika kesalnya menguap entah kemana.


"Aku akan maafkan kakak, jika kakak mau lepasin dulu" Bujuk Medina. Kini ia benar-benar ingin ke kamar mandi.


Daniel menggeleng cepat.


"Never" Sahutnya dengan diiringi kekehan kecil.


Medina memutar malas bolamatanya. Dan tanpa aba-aba Medina berinisiatif mencium bibir suaminya terlebih dahulu.


Medina tampak agresif, dan Daniel semakin menyukainya.


"Sudah... sekarang lepaskan!!" Ucap Medina setelah selesai berciuman.


Daniel tersenyum puas dan melepaskan pelukannya. Medina yang sedari tadi menahan, segera berlari ke dalam kamar mandi.


Daniel tertawa lebar melihat istrinya lari terbirit masuk kedalam kamar mandi.


Drtt...ddrrrttt...


"Halo, Rai"


"Bos...mereka sudah ada direstoran"


"Baiklah...kami segera turun ke bawah" Daniel mengakhiri panggilan diponselnya dan menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup.


Daniel beranjak dari bibir ranjang tempatnya duduk dan mendekat ke pintu kamar mandi.

__ADS_1


Tangannya hampir memgang handel pintu kamar mandi, namun pintu kamar mandi sudah terbuka dari dalam.


"Sudah selesai?"


Medina hanya mengangguk dan keluar dari kamar mandi melewati Daniel.


"Keluarga pakde sudah dibawah, sekalian kita chek out hotel" Daniel memberi tahu.


Medina mengemasi barang miliknya yang berada disamping ranjang dan memasukkannya kedalam tas.


"Sudah??" Tanya Daniel.


"Sudah" jawab medina singkat. Ia sudah berjalan ke arah pintu kamar.


"Tidak ada yang tertinggal?" Tanya Daniel lagi membuat Medina berhenti melangkah.


Medina menoleh ke belakang dan tersenyum. Ia berjalan menghampiri Daniel.


"Tidak ada, Ayo" Medina memeluk lengan Daniel dan menariknya keluar kamar.


Mereka berdua menuju Restoran yang berada dilantai 1 gedung hotel. Tampak Raihan dan Keluarga Pakde Radiman sudah menunggu disana.


"mbaaakk..." Billa menghambur dan memeluk Medina. Membuat Medina tersenyum dan memebalas pelukan Billa.


"Terimakasih atas semuanya" Ucap Billa.


"Mbak tidak melakukan apapun, Bil. Semuanya kak Daniel yang mengatur. Kamu bisa berterima kasih padanya" jawab Medina.


"Pakde, Bude, Salsa apa kabar?" Sapa Medina dengan senyum manisnya. Ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Alhamdulillah baik, Med" Jawab Bude Tatik semanis mungkin. Ia melirik Daniel yang berada dibelakang Medina.


"Kalian sudah sarapan?" Tanya Medina saat mereka duduk.


"Sudah"


"Belum" Jawab Salsa dan Billa bersamaan. Salsa menjawab belum dan Billa menjawab sudah.


Medina menatap kedua kakak beradik itu bergantian.


"Jika kalian belum sarapan silahkan memesan makanan, atau kalian mau pesan untuk dibawa pulang?" Tawar Medina membuat Bude Tatik merespon dengan cepat.


"Ahh iya...sebaiknya pesan untuk dibungkus saja. Untuk makan siang dirumah"


Medina tersenyum dan menatap suaminya seolah meminta persetujuan untuk memesan makanan.


Daniel mengangguk samar dan melambaikan tangannya kepada pelayan restoran.


Seorang pelayan datang dengan membawa buku menu dan memberikannya kepada Daniel.


"Silahkan pilih makanan yang kalian sukai dan ingin dibawa pulang, tidak perlu sungkan" Daniel memberikan buku menu kepada Bude Tatik yang sedari tadi menatap buku menu yang dipegang Daniel.


Dengan senyum sumringah bude Tatik langsung menyambar buku itu. Dengan bantuan dari Salsa, mereka memesan makanan dengan berbagai menu.


Setelah beberapa menit, Daniel berpamitan.


"Pakde, Bude dan semuanya, hari ini kami akan kembali ke kota J. insyaAllah kalian akan segera dikabari setelah persiapan resepsi kami selesai. Dan Raihan akan mengatur keberangkatan kalian ke Kota J" Ucap Daniel panjang lebar.


"Iya Tuan Daniel" Jawab Pakde singkat.


"Jika boleh tahu, kapan acaranya dilaksanakan?" Tanya Bude Tatik penasaran.


"Saya harus mendiskusikan ini dengan keluarga saya, nanti segera kami kabari" Jawab Daniel tegas.


"Kamu jangan hamil dulu, Med. Nanti apa kata tamu undangan jika melihat perut kamu yang membuncit" Celetuk Salsa tanpa merasa bersalah.


Mendengar itu, Daniel mengepalkan tangannya menahan amarah. Bisa-bisanya sepupu istrinya itu berkata demikian. Toh jika memang Medina hamil sebelum acara resepsi, tidak menjadi masalah untuk Daniel dan tidak akan pedulikan pendapat orang-orang.


Medina menatap Daniel yang tidak menyukai perkataan Salsa. Ia hanya tersenyum dan mengusap lengan suaminya untuk menenangkan amarahnya.

__ADS_1


Sejak dulu Salsa memang tidak pernah menyukai Medina. Saat tinggal bersama, Medina bahkan sering menjadi sasaran empuk untuk kekesalan Salsa dan orangtuanya. Namun Medina hanya bisa menerima karena pada saat itu ia tidak mempunyai keberanian untuk melawan. Hingga saat dirinya sudah tidak lagi bisa bertahan, ia memutuskan untuk kabur dan pergi ke Kota J.


__ADS_2