
Setelah makan malam, para pria yang terdiri dari Danu, Daniel dan Arif berkumpul diruang kerja. Sementara para wanita duduk santai menonton televisi diruang tengah.
"Ma...besok pagi-pagi Rani ijin ajak Medina perawatan ke salon langganan Rani ya?" Rani membuka suara saat para lelaki sibuk berbincang diruang kerja. Rani bahkan mengedipkan satu matanya ke arah mama mertuanya itu.
"pinter kamu Ran" Puji mama Safira.
"ke salon kak?" Tanya Medina yang baru saja datang dari arah dapur. Ia membawakan sepiring aneka buah potong.
"Tapi Medina harus bantuin bi Inang persiapkan makanan untuk sajian nanti" Ucap Medina lagi dengan polosnya.
Medina memang tidak diberitahu soal tempat dan acara ijab qobul besok. Karena masih dalam pembahasan para pria diruang kerja.
"Calon manten harus perawatan Med. Biar suami puas saat malam pertama" ucap Rani frontal. Ia sengaja menggoda Medina.
"Malam pertama?" Seketika Medina merasakan pipinya menjadi panas dan susah menelan ludah. Bahkan jika diperhatikan, kini wajahnya berubah pias.
"Hahahahaha" Rani tertawa renyah melihat reaksi Medina. Sang mama hanya menahan senyum dan menggelengkan kepala.
"Setelah menikah, seorang istri wajib melayani suami. Iya kan ma?" Rani terus menggoda Medina.
Medina merasa wajahnya berasap karena merasakan panas yang meningkat akibat ucapan dan godaan sang kakak ipar.
"Medina ke kamar mandi dulu ya Ma, kak" Medina berlari kecil masuk kedalam kamar mama Safira. Ia sudah tidak tahan untuk membasuh mukanya dan menenangkan gemuruh dalam dadanya.
Rani dan mama Safira kembali tergelak melihat tingkah polos dan konyol calon anggota baru Keluarganya.
Dan saat itu, para pria keluar dari ruang kerja.
"Sayang, apa yang kamu tertawakan?" Danu mendekati Rani.
"Adik iparku itu sangat lucu dan menggemaskan. Aku semakin ingin menggodanya" Ucap Rani diselingi kekehan kecil.
Daniel hanya bisa menatap tidak berdaya ke arah Rani karena sudah berani menggoda calon istrinya. Ia tidak mungkin bicara seenaknya saat ditengah mereka ada oranglain yaitu Arif.
"Bagaimana? sudah beres semua?" Tanya mama Safira
"Sudah ma, insyaAllah mudah-mudahan tidak ada halangan. Doain ya ma" Jawab Daniel.
"Iya nak..selalu" ucap Mama Safira lembut.
__ADS_1
"Medina kemana ma?"
"CK...baru pisah sebentar udah nyariin aja Lo" kali ini Arif tidak tahan menyumbangkan suaranya.
"berisik Lo!" kesal Daniel.
"udah seharian jalan berdua, masih belum puas juga kamu?" Danu menimpali.
"Medina dikamar. Ya sudah..mama mau istirahat. Arif...Tante tinggal dulu ya. Sebaiknya Kamu menginap saja disini" Ucap Mama Safira sebelum beranjak.
"Iya Tante"
"Ga bisa" Ucap Daniel dan Arif berbarengan. Mereka saling menatap.
"Kita nanti mau keluar sebentar Ma, masih ada yang mau diurus" ucap Danu.
"Ma tolong bilang ke Honey ya..Daniel keluar sebentar"
Daniel dan Arif berdecak sebal mendengar Daniel.
"Baiklah. Hati-hati ya" pesan mama sebelum benar-benar masuk kedalam kamar.
Akhirnya mereka bertiga pergi ke suatu restoran langganan mereka yang tidak jauh dari rumah.
Sebelum mereka berpisah, Daniel kembali mengingatkan sahabat dan juga sekretaris nya itu untuk tidak membocorkan perihal pernikahannya dengan Medina. Banyak hal yang menjadi pertimbangan Daniel untuk tetap merahasiakannya terlebih ia tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dan berimbas pada kesehatan Mamanya.
"Awas kalo sampe bocor, gw pe__"
"siap bos" potong Arif buru-buru.
Dua kakak beradik itu berlalu meninggalkan Arif dengan mengendarai mobilnya. Sementara Arif harus rela pulang dengan taksi online.
****
Sementara dirumah, Medina sedang berbicara berdua dengan calon ibu mertuanya didalam kamar. Sebenarnya ini rutinitas mereka sebelum terlelap dan terbuai mimpi. Namun kenyataannya, topik malam ini sangatlah sulit untuk tidak dibahas begitu saja.
"Apa yang kamu pikirkan Nak?" Meski Medina terus menutupi kekhawatiran nya, namun nyatanya wanita paruh baya itu selalu saja menemukan titik kelemahan Medina yang bahkan orang lain tidak melihatnya.
Medina mengambil nafas dalam dan menghembuskan nya teratur.
__ADS_1
"Ma...bagaimana jika kami tidak bisa membuat pakde mengerti dan bersedia menjadi wali nikah Medina?"
Sesaat suasana menjadi hening.
"Bagaimana jika Medina tidak bisa kembali lagi kesini?"
Pertanyaan terakhir Medina sontak membuat Mama Safira mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Medina. Seolah itu sebuah ungkapan perasaan Mama Safira bahwa ia tidak rela jika Medina meninggalkannya dan Daniel.
"Medina takut tidak bisa ketemu mama lagi" Kini tangis Medina yang sedari tadi ia tahan pecah begitu saja. Semakin mengalir deras ketika tangan lembut mama Safira meraih pundaknya dan menariknya dalam pelukan hangatnya.
"Bagai...mana...Medina..bisa..melewati semuanya...tanpa kalian" Suara Medina terputus-putus karena isakan.
"Ma...tolong bilang ke kak Daniel. Batalkan rencananya untuk menemui pakde" Medina tiba-tiba saja mengatakan itu.
"Istighfar sayang...kamu tidak boleh seperti ini" Mama Safira mencoba menenangkan Medina.
"Kalian bahkan belum mencobanya kan? Siapa tahu pakdemu sudah berubah dan bisa saja selama ini mereka mencarimu kan?"
"kamu harus yakin dan mohon sama Allah supaya hati mereka dilembutkan"
"Semoga Allah mudahkan urusan kita semua, aamiin Allahumma Aamiin"
Medina mengangguk pelan dalam pelukan mama Safira. Tak lupa juga ia mengamini nasehat dan doa yang diucapkan mama mertuanya.
"Sudah..kamu harus istirahat. Besok pagi-pagi Rani akan membawamu ke salon bukan?" Medina mengangguk kembali.
Beringsut dari pelukan mama Safira dan merebahkan tubuhnya diranjang disamping mama Safira kemudian Menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
***
Adzan subuh berkumandang dengan indah dan syahdu. Medina yang sedang melantunkan ayat -ayat Al-Qur'an segera menghentikan bacaannya. Saat dirinya terjaga pukul 3 dinihari, Medina memutuskan untuk melaksanakan sholat tahajud dan tilawah Al-Qur'an. Dilanjutkan dengan sholat hajat dan kembali melanjutkan tilawahnya hingga suara Adzan terdengar.
Tangannya menengadah dengan iringan doa ketika Adzan selesai dikumandangkan.
Setelahnya Medina melaksanakan sholat subuh sendirian diruang kerja Daniel.
Hati dan pikirannya kini menjadi tenang. Semua kegelisahan nya ia curahkan dalam tangis dan lantunan doa sepanjang ibadah qiyamullail. Menyerahkan segala urusan kepada Sang Pemilik hati manusia. Segala takdir yang ia jalani adalah bagian dari Qodo dan Qodar yang ia pahami dan yakini dalam ajaran agamanya. Setelah tekun dalam doa, tugas manusia adalah melaksanakan ikhtiar tanpa batas. Mengimani dan meyakini Tuhan selalu bersama hamba-hamba Nya yang senantiasa mendekat padaNya dalam keadaan senang ataupun susah.
Nasehat mama Safira semalam sudah menjadi salah satu penyemangatnya menyambut dan menatap masa depannya bersama orang yang ia cintai dan mencintainya dengan tulus. Memilih berdamai dengan masalalu dirinya dan masalalu calon suaminya. Dan merajut asa bersama meski jalan terjal selalu menghadang didepan nya.
__ADS_1
Satu hal yang selalu Medina yakini hingga saat ini, setiap hubungan apapun didunia ini, semuanya mengandung resiko dan ujian. Maka bijaklah dalam menjalin hubungan apapun, agar resiko dan ujian itu tidak seketika membuatmu goyah dan terluka terlalu dalam.
Aslinya Authornya yang curcol nih😂😊😘