Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 148


__ADS_3

Daniel, Medina dan mama Safira telah sampai di rumah dengan selamat. Mereka disambut oleh tangis rindu Syifa yang hampir dua Minggu tidka bertemu Medina.


"Mama Niel....Ifa kangen." Gadis kecil duduk menempel memeluk Medina. Tidak membiarkan Medina bergerak sedikit saja.


"Sayang, Mama Niel baru saja sampai dan harus istirahat." Kak Rani membujuk putrinya agar membiarkan Medina istirahat.


"Ifa kangen mama, Bunda." Bukannya melepaskan, Syifa justru semakin erat memeluk tubuh Medina. Bahkan Daniel yang sejak tadi ingin duduk disamping Medina tidak bisa berkutik karena Syifa terus mendorong tubuh Daniel agar menjauh dari mama Nielnya.


Daniel mengalah meskipun ia tahu jika istrinya kelelahan, terlihat dari wajahnya yang sedikit pucat.


Tingkah Syifa membuat semua orang hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala. Mereka akhirnya hanya duduk bercengkrama diruang tengah hingga makan siang tiba.


Medina yang sangat merindukan makanan yang dibuat dirumah mertuanya, terlihat makan dengan begitu lahap.


"Bi Inang....terima kasih atas makanan yang super enak ini. Aku benar-benar merindukan masakan rumah ini." Ucap Medina setelah selesai makan.


****


"Aku akan pergi ke kantor."


"Apa?" Medina menatap suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Daniel baru saja selesai membersihkan diri karena Arif menelepon dan memintanya datang ke kantor.


"kenapa?" Daniel tersenyum.


"Apa kamu tidak lelah?" Medina mengambil handuk kecil dari tangan Daniel yang digunakan untuk mengeringkan rambutnya.


Daniel membawa istrinya duduk dipangkuannya lalu Medina mulai menggosok rambut Daniel dengan handuk.


"Kamu tidak mengizinkan aku pergi?" Daniel menatap wajah cemberut istrinya.


"Kamu baru sampai." Medina mencari alasan. Padahal dirinya masih ingin ditemani dan berduaan dengan suaminya.


"Aku tidak akan lama." Daniel mengambil handuk yang dipegang Medina dan membuat aktifitasnya terhenti.


Tubuh Medina yang berada dipangkuan, membuat Daniel begitu mudah merengkuh tubuh istrinya kedalam pelukan.


Medina yang selalu merasa nyaman dengan pelukan suaminya, memejamkan mata menikmati aroma tubuh suaminya yang menenangkan dan menghangatkan..


"Baiklah...aku tidak akan pergi kemanapun. Tapi jangan salahkan aku, jika besok atau lusa dan seterusnya...Setiap hari aku akan lembur dan pulang larut malam." Ucap Daniel membuat Medina semakin merenggut.


"Apa sangat penting?" Medina mulai berkaca-kaca. Entah karena apa perasaannya menjadi kacau dan tidak ingin ditinggalkan suaminya.


"Iya, Honey. Jika tidak penting aku sudah menyerahkannya kepada Arif." Daniel mengecup hidung istrinya.


"Baiklah...Aku akan mengizinkan__Tapi dengan satu syarat." Tangan Medina melingkar erat dileher Daniel. Lalu menempelkan hidungnya dengan hidung Daniel.


Daniel mengerutkan dahi. Tidak biasanya istrinya itu memberi syarat ketika dirinya akan berpamitan pergi ke kantor.


"Syarat apa?" Daniel menjauhkan wajahnya. Menatap wajah cantik istrinya yang semakin terlihat menggemaskan.


"Sebentar." Medina bangkit dari pangkuan Daniel dan berjalan menuju lemari. Daniel masih bingung saat Medina mengganti pakaiannya lalu mengeluarkan pakaian kerja sang suami.


"Ayo pakai, Sayang." Medina memberikan satu stel pakaian kerja ke hadapan Daniel yang terlihat melamun.


"Kamu ingin bekerja bukan?" Medina tersenyum membuat Daniel semakin heran dengan tingkah istrinya.


"Kamu belum mengatakan syaratnya, Hon." Daniel memakai kemejanya lalu Medina membantu memasangkan dasi. Dan tak lupa jas dengan waran senada dengan celana yang dikenakan Daniel.


"Ayo." Ucap Medina saat melihat suaminya sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


"Honey...Jangan katakan jika syaratnya__" Daniel baru menyadari jika syarat yang diajukan istrinya.


"Kita akan menemani papa bekerja, Sayang." Medina menunduk lalu mengelus perutnya. Wajah Medina bahkan semakin bahagia saat mendapat respons dari jabang bayi melalui tendangan.


"Lihat...dia sangat bersemangat karena ingin menemani papanya bekerja." Medina tersenyum bahagia. Membuat Daniel tidak tega jika harus melarang istrinya untuk tidak ikut dirinya ke kantor.


"Jika kamu tidak lelah, aku akan sangat senang saat bekerja ditemani istri dan anakku." Daniel menggandeng tangan Medina keluar dari kamar.


****

__ADS_1


Daniel menggandeng mesra Medina saat memasuki lobby kantornya. Semua karyawan yang melihat pemandangan sedikit terkejut karena tanpa pemberitahuan, Bos mereka datang ke kantor dengan membawa istrinya. Membuat suasana disana riuh karena hampir setiap karyawan yang melihat istri dari sang bos bergumam memuji kecantikan Medina bahkan dengan perutnya yang membucit.


Kedatangan Daniel pun seketika merubah atmosfer gedung berlantai 21 itu menjadi horor karena beberapa karyawan harus salah tingkah karena ketahuan sedang bersantai bahkan bergosip dijam kantor.


Melihat itu Daniel menghentikan langkahnya dan menatap lima orang karyawannya. "Kalian pindah divisi?" Tanya Daniel dengan penuh penekanan.


Mendapat tatapan tajam dari pimpinan perusahan, membuat kelima karyawan itu menggeleng pelan sambil menundukkan kepala.


"Jadi untuk apa kalian disini?" Daniel mulai geram dengan perilaku karyawannya yang tidka disiplin. Ia baru mengetahui jika tidak ada dirinya dikantor, semua orang pasti akan melakukan hal seenaknya saat jam kerja.


"Kembali ke ruangan masing-masing" Titahnya .


Suasana semakin tegang saat kelima karyawa itu mulai beranjak dari tempatnya. Bahkan karyawan lain tidak luput dari sorotan tajamnya.


Medina yang sejak melangkahkan kakinya kedalam lobby hanya bisa terdiam saat suaminya memberi teguran kepada karyawannya. Medina juga merasa bersalah karena membuat suaminya sering meninggalkan pekerjaannya untuk menemani dirinya.


Dan pemandangan inilah yang saat ini Medina lihat. Para karyawan tidak disiplin karena sering sang CEO jarang berada ditempatnya.


"Maaf Bos...aku telat menyambut kalian." Suara Arif membuat Daniel dan Medina menoleh ke sumber suara.


Arif datang bersama dengan Karin. Keributan kecil tadi telah sampai di telinga keduanya hingga membuat Arif dan Karin langsung turun ke lobby untuk mengecek keadaan.


Daniel melepas tautan jemarinya. Lalu mendekat untuk membisikkan sesuatu ditelinga Medina.


"Honey...ada pekerjaan yang harus aku selesaikan dengan Arif. Pergilah ke ruangan ku bersama Karin." Medina mengangguk.


"Karin...tolong temani istriku." Daniel melihat Karin sekilas lalu menggiring Medina hingga sampai kedalam lift khusus.


"Aku tidak akan lama. Tunggu diruanganku, jangan keluar dari sana. Jika butuh sesuatu katakan pada Karin." Daniel mencium kening Medina sebelum berlalu dari hadapan istrinya bahkan Meidna belum sempat menjawabnya.


Karin bergegas masuk kedalam lift dan menekan tombol hingga pintu lift tertutup.


"Karin...rasanya sudah lama tidak berjumpa." Medina merentangkan tangan lalu memeluk sahabatnya.


"Iya...sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" Karin membalas pelukan Medina.


"Aku baik. Tapi melihat kekesalan suamiku tadi, aku merasa tidak baik." Medina terkekeh sambil mengurai pelukannya.


"Ya. Semenjak si Bos menikah dan sering tidak masuk kantor." Karin mengedipkan sebelah matanya. Awalnya hanya ingin menggoda Medina, namun justru ucapan Karin membuat wajah cantik Medina berubah sendu.


"Hei...aku bercanda. Jangan serius." Karin sadar ia salah bicara. Dan berusaha untuk mencairkan suasana hati istri bosnya.


"Maafkan aku__kalian pasti kewalahan harus bekerja ekstra tanpa suamiku." Medina semakin merasa bersalah. Ia mengingat dirinya saat dirumah tadi yang tidak ingin ditinggal suaminya. Dan justru ia mengekori suaminya ke kantor seperti sekarang ini. Ia sadar ada tanggung jawab lain yang dipikul oleh suaminya selain tanggung jawabnya sebagai seoarang suami dan kepala rumah tangga.


"Tidak juga__itu sepadan dengan gaji dan bonus yang kita terima setelah bos menikah." Karin tertawa lebar.


"Apa?"


"Setelah bos menikah, perusahaan menambang tunjangan dan membagikan bonus karena profit perusahaan yang naik signifikan dan terus merangkak naik."


"Bahkan pimpinan sedang mengusahakan pembebasan lahan untuk dijadikan hunian bagi karyawan yang berada di divisi yang honornya masih dibawah 5 juta__Dan tentu saja yang belum memiliki rumah." Penjelasan Karin membuat Medina terkejut bahkan sampai berkaca-kaca.


"Kalian membawa keberuntungan untuk perusahaan dan karyawan semakin sejahtera. Terimakasih." Karin mengusap perut Medina.


"Terimakasih sudah banyak membantu suamiku selama ini." Medina memeluk Karin hingga suara dentingan lift terdengar. Keduanya berjalan keluar lift dan langsung memasuki ruangan Daniel.


****


"Bos..." Lima orang karyawan yang berada di lantai lobby berdiri bersamaan saat Daniel masuk ruangan tempat divisi mereka berada.


"Sebagai senior dengan pendidikan lebih tinggi dari karyawan lainnya, seharusnya kalian bisa memberi contoh yang lain."


"Aku pikir dengan gaji dan tunjangan serta bonus besar membuat kalian semakin bertanggung jawab terhadap pekerjaan kalian." Ucapan Daniel menohok lima orang yang berdiri tertunduk.


Daniel memindai satu persatu karyawannya. Mereka terdiri dari dua orang pria dan tiga orang lainnya wanita.


"Jika kalian merasa tidak nyaman bekerja disini lagi, saya persilahkan untuk menyerahkan surat pengunduran diri." Mereka langsung mendongak saat mendengar ucapan Daniel.


Arif yang berada dibelakang Daniel juga ikut terkejut dengan yang baru saja didengarnya. Namun ia masih menahan diri untuk mengeluarkan pendapatnya dan memilih diam sambil mengawasi keadaan.

__ADS_1


"Ma_maafkan kami, Pak." Ucap salah seorang dari mereka.


"Kami tidak akan mengulanginya." Ucap lagi seorang yang berada disampingnya.


"Ini terakhir kali." Daniel duduk dibibir meja masih menatap lima karyawan yang berdiri dihadapannya.


"Rif...catat nama dan divisi mereka dan serahkan padaku." Daniel langsung meninggalkan ruangan tanpa berkata apa-apa lagi. Ia benar-benar kesal melihat mereka yang tidak disiplin bekerja.


Daniel lebih dulu masuk toilet untuk mencuci wajahnya sebelum menemui istrinya. Ia tidak ingin menemui istrinya dalam keadaan kesal.


"Apa kamu sedang memikirkanku?" Tangan Daniel melingkar erat diperut Medina yang sedang melamun ditepi jendela. Pandangannya yang fokus pada pemandangan diluar jendela, membuatnya tidak menyadari jika Daniel sudah masuk kedalam ruangan bahkan sudah meminta sekretaris yang menemani istrinya untuk meninggalkan mereka.


"Hmm...?" Medina tersadar dari lamunannya.


"Sejak kapan kakak masuk?" Medina mendongak menatap suaminya lekat-lekat.


"Sejak tadi." Daniel mengecupi wajah Medina hingga istrinya meronta kegelian.


"Aku benar-benar melamun sampai kamu masuk pun aku tidak menyadari." Medina terkekeh.


"Apa yang kamu lamunkan? Tanya Daniel.


"Tidak ada." Medina tersenyum dan mencoba menyembunyikan rasa gelisahnya.


"Jangan berbohong." Daniel memicingkan mata.


"Kak...Maafkan aku." Medina tidak bisa menatap manik suaminya. Ia terlalu merasa bersalah.


"Ada apa?" Daniel bingung dengan perubahan sikap istrinya.


"Aku sudah menyita banyak waktumu. Kamu rela meninggalkan pekerjaan untuk menemaniku dan__ akhirnya karyawanmu tidak disiplin." Medina menghela nafas panjang membuat Daniel tersenyum dengan apa yang diucapkan istrinya.


"Maafkan aku." Bibir Medina kembali mengucapkan kata maaf.


"Apa kamu memecat mereka?" Medina mendongak.


"Kenapa jika mereka dipecat? Itu konsekuensi dari pekerjaan, bukan?" Daniel masih menatap lekat istrinya.


"Jangan memecat mereka." Ucap Medina memohon dengan manja.


"Kak..." Medina menggoyangkan tangan Daniel yang belum menjawab.


"Jangan memecat__"


"Aku hanya memberikan peringatan kepada mereka." Potong Daniel. Ia tidak ingin istrinya terus memohon dan merasa bersalah.


"Perusahaan tidak akan merugi karena aku sering tinggal pergi. Bahkan semakin berkembang dengan keuntungan besar." Daniel meraih dagu Medina lalu menatapnya penuh cinta.


"Apa kamu ikut kesini hanya untuk bersedih?" Daniel mencium bibir istrinya. Dan terkejut karena Medina membalasnya dengan penuh gairah.


"Honey..." Daniel menjauhkan wajahnya untuk menjangkau wajah istrinya. Membuat Medina langsung tertunduk malu.


"Apa sebaiknya kita pulang ke apartemen?" Daniel mengedipkan matanya.


"Apa?" Medina membulatkan matanya.


"Bagaimana jika kita menginap disana dan menghabiskan malam panas panjang hingga kita berkeringat?" Tanya Daniel menggoda istrinya dengan terbahak.


"Ishh!!! Dasar mesum!" Medina menghujani Daniel dengan pukulan tak bertenaga. Hingga keduanya tertawa bersama.


_


_


_


_


_

__ADS_1


Bersambung.


Lempar kopi boleh dong...biar author kuat melek malem buat nulis sampai cerita ini tamat. hehehe.


__ADS_2