Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 84


__ADS_3

Setelah sholat subuh, Medina mengajak Mama Safira untuk melakukan jogging disekitaran taman komplek.


"Sejak kamu menikah, mama tidak pernah lagi pergi kemari" Ucap mama mengingat saat Medina masih bekerja sebagai perawat dirinya, hampir setiap pagi Medina membawanya ke taman. Melakukan gerakan olah raga ringan seperti yang disarankan oleh dokter.


Medina tersenyum namun pikirannya teralihkan kepada sesuatu.


"Ma...Jika Medina ingin merawat mama seperti dulu, apa mama dan kakak keberatan?" Tanya Medina.


"Mama akan sangat senang, Sayang. Tapi kamu harus mendapatkan ijin suamimu yaaa meskipun dia adalah putraku, Tapi aku tidak akan memaksakan keinginan mama jika Daniel tidak menyetujuinya" Ucap Mama bijak.


Medina mengangguk paham. Mereka kembali berjalan santai mengitari taman yang sangat asri dan rindang. Sesekali Medina meminta mamanya untuk duduk dikursi yang terdapat di beberapa titik ditaman.


Medina berjongkok dihadapan mamanya lalu menyodorkan botol minum yang Medina bawa dari rumah.


"Terimakasih, Sayang"


Medina memijat kedua kakinya secara bergantian. Hampir setengah jam lebih mereka mengitari taman dan Medina melihat wajah mamanya sudah dipenuhi keringat.


"Sebaiknya setelah ini kita pulang" Ucap Medina kepada mamanya.


Mereka keluar rumah tanpa sepengetahuan Danu dan yang lainnya. Hanya satpam yang berjaga didepan pintu gerbang yang tahu mereka keluar untuk berolah raga.


****


Setelah menyelesaikan sarapannya Daniel membereskan pakaiannya. Pagi ini ia memutuskan untuk kembali ke kota J. Ada banyak pekerjaan menantinya dikantor. Dan tentu saja karena ia sangat merindukan istrinya.


Setelah selesai memasukkan pakaian nya kedalam koper, Daniel mengambil ponselnya dan menghubungi Arif untuk meminta supir kantor menjemputnya dibandara. Daniel juga meminta bantuan Arif untuk melakukan sesuatu yang direncanakan Daniel untuk menemui istrinya.


Sore nanti sepulang dari kantor rencananya Daniel ingin memberi kejutan kepada istrinya. Oleh karena itu, kepulangannya pagi ini tidak ia kabarkan kepada Medina. Ia hanya mengirim pesan singkat,, bahwa ia tidak bisa menghubungi Medina karena urusan pekerjaan yang belum selesai.


"Sampai bertemu nanti sore, Honey" Daniel mengecup wallpaper ponsel yang bergambar istrinya.


****


Ditempat lain, Pakde Radiman dan Salsa sudah bersiap akan pergi bekerja.


"Ibu, masih tidak habis pikir Pak. Darimana Daniel dan Medina tahu kebenaran bahwa Medina bukanlah anak kandung mas Agus. Apa Jangan-jangan....Bidan Nurul itu yang mengatakannya? Karena tidak ada orang lain yang tahu rahasia ini kecuali dia" Ucap Bude Tatik penuh emosi.


"Tapi dimana dan bagaimana mereka bertemu?" Tanya Salsa penasaran.


"Iya juga ya? Bidan itu bahkan tidak tahu jika Medina sudah memiliki suami dan mengunjungi kampung" Bude Tatik semakin tambah penasaran.


Billa yang baru keluar dari kamar untuk berangkat ke sekolah meanatap kesal kepada ibunya.


"Kalian tidak lupa dengan ancaman Mas Daniel tadi malam, bukan? Jadi Billa mohon...jangan teruskan tindakan kalian karena akan merugikan kalian sendiri nantinya" Ucap Billa mencoba mengingatkan pertemuan mereka dengan Daniel.


"Alaaahh...kamu tuh masih cilik. Ndak usah ikut campur urusan orang dewasa" Potong Salsa dengan nada sengit.


"Oya? Semalam kamu dari mana? Tengah malam anak wedhok baru pulang. Diantar karo sopo?" Tanya Salsa penuh selidik.


Salsa tidak sengaja melihat Billa semalam diantar dengan mobil oleh seseorang.


"Billa semalam pergi ke hotel untuk menemui Mas Daniel" Jawab Billa cepat. Ia tidak ingin dituduh yang tidak-tidak oleh kakak nya.


"Untuk apa kamu pergi kesana?" Kali suara besar bapaknya menguar ke udara. Sorot matanya mengisyaratkan jika Pakde Radiman tidak menyukai tindakan putri bungsunya yang menemui Daniel tanpa sepengetahuan dirinya.


"Billa datang kesana untuk meminta maaf atas perbuatan kalian selama ini. Karena Billa tidak pernah mengetahui rahasia Mbak Medina. Billa... merasa bersalah karena tidak bisa membelanya ketika kalian berlaku tidak adil padanya" Ucap Billa dengan lantang.


Ia tidak tahu keberaniannya mengatakan itu dihadapan keluarganya yang selama ini tidak pernah ia tampakkan.


"Kamu sudah berani menjawab bapakmu ya?" Teriak Pakde Radiman penuh amarah.


"Sudah cukup,.pak!!! Apa bapak Ndak mikir apa yang dilakukan Mas Daniel dan Mbak Medina kepada kita? Mereka sudah membantu menyelesaikan masalah bapak, mengeluarkan bapak dari penjara dan memberi kesempatan kepada kita untuk hidup dengan layak dengan memberi pekerjaan, rumah dan sekolah kepada Billa tanpa memikirkan biaya??"


Bapak, Ibu dan Salsa sangat terkejut dengan keberanian Billa yang mengucapkan semua kebenaran itu dengan lantang. Mereka tidak menyangka gadis kecil polosnya kini telah berubah.


"Dan kita masih beruntung, Mereka masih mau mengundang kita ke acara resepsi mereka"


"Jadi..Billa mohon kepada kalian. Sudahi semuanya...jangan membenci mbak Medina lagi dan jangan merencanakan apapun yang justru akan merugikan kita sendiri" Billa meraih tas sekolahnya dan berlari keluar rumah sambil menangis.


"Billa...!!! Billa...!!! Ndak sopan kamu, nduk. Berangkat sekolah ndak pamitan" Pekik bude Tatik dengan suara yang sangat kencang.


Pakde Radiman dan Salsa hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah, Bu. Dia ndak bakal denger juga. Ayo pak...kita juga berangkat" Salsa mengambil tasnya dan berjalan ke luar rumah.


Bapak dan anak itu berangkat ke kantor bersama dengan menaiki sepeda motor yang juga disediakan Daniel.


****

__ADS_1


Daniel baru saja turun dari pesawat dan sedang berjalan menuju mobil yang sudah standby menjemputnya.


"Selamat pagi, Pak. Silahkan" Supir itu membukakan pintu mobil.


"Terimakasih" Daniel melesat masuk kedalam kursi penumpang. Sementara sang supir masih memasukkan koper kedalam bagasi.


Daniel melirik jam tangannya. Waktu masih menunjukkan pukul 10.30 wib. Ia berpikir masih ada waktu untuk bertemu rekan bisnisnya selepas makan siang.


Ponsel Daniel tiba-tiba berdering. Nama Arif tertera dilayar ponselnya.


"Halo" Sapa Daniel.


"Ohh begitu....baiklah. Tapi seperti nya lebih baik aku langsung ke tempat pertemuan. Aku tidak yakin akan datang tepat waktu jika harus ke kantor dulu. Sampai bertemu disana" Daniel menutup panggilan diponselnya setelah selesai bicara dengan Arif.


"Pak...kita ke langsung gedung XC saja. Tidak jadi ke kantor" Perintah Daniel kepada supirnya.


"Siap, pak" Sahut pak Supir.


Mobil melaju cepat menuju gedung XC dimana tempat pertemuan Daniel dan rekan bisnisnya akan bertemu.


Setelah sampai disana, Daniel disambut Arif yang sudah beberapa menit tiba lebih dulu dari Daniel.


"Bos..." Panggil Arif.


"Kamu sudah siapkan semuanya?" Tanya Daniel.


"Sudah" Keduanya berjalan menuju ruangan yang sudah disiapkan.


"Oh iya, Bos. Pihak WO tadi pagi datang ke kantor. Mereka meminta bertemu" Ucap Arif.


"Kenapa mereka tidak menelepon ku?" Daniel terkejut pihak WO datang ke kantornya.


"Aku tidak tahu" Arif mengedikkan bahunya.


"Baiklah. Hubungi mereka agar menemuiku di Cafe dekat apartemen ku jam 2 nanti"


Daniel memasuki ruang dan disambut oleh rekan kerjanya. Selama hampir 2 jam keduanya merencanakan kerja sama pengembangan bisnis.


Kini tujuan berikutnya adalah menemui pihak Wedding organizer disebuah cafe dekat apartemen. Bukan tanpa alasan Daniel memilih cafe itu. Karena ia sudah tidak sabar bertemu dengan istrinya.


"Kamu sudah menghubungi istriku?" Daniel menatap Arif yang duduk disebelah nya.


"Apa dia curiga?"


"Sepertinya, tidak" Jawab Arif dengan menahan senyum nya.


"Kenapa kau tersenyum begitu?" Wajah Daniel berubah kesal saat melihat Arif yang menahan tawanya.


"Tidak ada, Bos"


"Kamu akan merasakan nanti jika kamu sudah berrumah tangga. Jadi...jangan meledekku" Ucap Daniel ketus.


"Ampun, Bang Jago" Arif tertawa lebar.


****


Medina sudah berada di apartemen nya setelah satu jam lalu Arif mengabarinya akan mengambil file penting perusahaan. Dan meminta Medina mencarinya karena Arif tidak dapat mencari file itu karena alasan pekerjaan yang sangat sibuk.


Setelah mendapat ijin mama Safira, Medina pergi ke apartemen dengan diantar mang Jaka.


Dan saat ini Medina sedang mencari sesuatu diruang kerja suaminya.


"Ya ampun...kepala ku jadi pusing karena harus mencari file sebanyak ini" Gerutu Medina dengan tangan yang terus memilah berkas yang bertumpuk di meja kerja suaminya.


"Sebaiknya aku sholat Ashar lebih dulu. Nanti kulanjutkan lagi" Medina meninggalkan ruang kerja suaminya dan pergi ke kamarnya.


Setelah menunaikan kewajibannya, Medina kembali ke ruang kerja tapi sebelumnya ia pergi ke dapur untuk mengambil air minum kemudian membawanya.


Medina melihat meja kerja suaminya yang sangat berantakan karena ulahnya.


"Ya Allah....kenapa jadi berantakan seperti ini? Seharusnya aku mencarinya tanpa membuatnya berantakan" Gumam Medina.


Dengan sigap Medina mulai membereskan kekacauan disana. Karena saking seriusnya merapikan berkas, hingga ia tidak menyadari ada sosok laki-laki yang masuk kedalam apartemen nya dengan mengendap-endap seperti seorang pencuri.


Medina meneguk minumnya hingga tandas setelah semua berkas selesai ia rapikan. Tapi ia masih heran, tidak menemukan file yang dicarinya.


"Mas Arif bilang ada ditumpukkan berkas-berkas ini. Tapi kenapa tidak ada?" Medina berbicara dengan dirinya sendiri.


Sosok laki-laki yang masuk secara diam-diam itu terus menatap Medina dengan tatapan tajam. Mengikuti setiap gerakan tubuh Medina tanpa berpaling sedikitpun. Sembari sesekali tersenyum.

__ADS_1


Disaat Medina benar-benar sudah lelah dan dalam keadaan lengah, laki-laki itu tiba-tiba berjalan ke arah Medina yang membelakangi nya. Kemudian memeluknya dari belakang.


"Awww!!! Astaghfirullah'al Adziim..." Pekik Medina dengan kencang karena ia sangat terkejut hingga membuat jantungnya hampir copot.


Medina yang hendak meronta untuk melepaskan dekapan laki-laki dibelakangnya, tiba-tiba....


"Aku merindukan, Honey" Suara laki-laki yang sangat Medina kenal. Juga aroma parfum yang menempel ditubuh laki-laki yang tengah memeluknya erat.


"Sayang??" Medina membalikkan tubuhnya.


"Kejutan untuk mu" Daniel langsung melahap bibir ranum istrinya dengan cepat.


Daniel terus menekan tubuh Medina hingga Medina terus bergerak mundur hingga punggungnya membentur dinding.


Ciuman panjang dan panas menjadi salah satu pembuka pertemuan mereka setelah hampir 3 hari tidak berjumpa.


"Aku merindukan, sangat...." Ucap Daniel disela ciumannya.


Medina yang juga merasakan hal yang sama dengan suaminya merasa sangat bahagia melihat sosok yang dirindukan nya sudah berada dihadapannya dalam keadaan sehat.


"Aku juga merindukanmu" Medina mengalungkan kedua tangannya dileher Daniel.


Ia bergelayut dengan manja bahkan cairan bening dari maniknya tidak terbendung untuk jatuh membasahi pipinya.


"Oh..Honey. Jangan menangis" Daniel mengeratkan pelukannya.


"Apa yang sedang kamu cari, Tuan putri?" Tanya Daniel berpura-pura.


Mendengar pertanyaan suaminya, Medina tersadar jika dirinya belum menemukan file yang diminta Arif.


"Ya Allah...aku lupa. Kak Arif memintaku mencari file. Tapi file yang dimaksud tidak ada disini. Aku sudah membongkarnya tapi tidak ketemu" Raut wajah Medina berubah sendu. Ia khawatir karena belum menemukannya.


"Jangan dipikirkan...dan tidak perlu dicari lagi" Ucap Daniel


"Sekarang yang harus kamu lakukan adalah...." Tangan Daniel mulai bergerilya dan membuka Zipper gamis yang Medina kenakan.


Gamis Medina jatuh ke bawah. Menyisakan penutup gunung kembarnya dan legging menutupi tubuh bagian bawahnya.


"Tunggu....apa ini adalah rencanamu?" Medina memicingkan matanya menatap Daniel.


"Istri pintar" Daniel mengecup bibir Medina sekilas.


Daniel kembali melakukan aksinya tanpa peduli dengan sedang kesal karena sudah dibohongi.


"Sayang...tapi ini masih sore. Dan aku harus pulang, aku takut mama mengkhawatirkan ku" Medina menahan tangan Daniel yang mencoba membuka pengait bra.


"Apa mama melarang mu untuk melayani ku?" Suara Daniel terdengar berat menahan gejolak gairah yang mulai meronta.


Bibir dan tangan Daniel tidak berhenti menyusuri setiap jengkal tubuh Medina. Dan Medina tidak kuasa untuk bisa menolak sentuhan lembut yang menghadirkan perasaan nyaman dan bahagia dalam hatinya.


Sore itu, mereka melepaskan rasa rindu dengan saling menyatukan tubuh dengan segala perasaan indah yang menyelimuti nya.


"Aku sudah mengabari mama" Daniel mengambil ponsel yang sedang Medina pegang.


Daniel kembali menarik tubuh telanjang istrinya ke atas ranjang dan menindihnya.


"Masih ada 5 ronde lagi, jadi jangan beranjak dari ranjang tanpa seijinku, Tuan Putri" Daniel menunduk dan mendaratkan bibirnya dileher mulus Medina. Kembali mencetak tanda cinta yang berwarna merah keunguan.


Beruntunglah Daniel...Tubuh sang istri berbalut gamis panjang dan hijab. Karena ia bisa dengan leluasa membuat tanda kepemilikan disekujur tubuh istrinya tanpa harus takut dan malu terlihat orang lain.


_


_


_


_TO BE CONTINUE


_


_


_


Niatnya mau up tiap hari, karena kondisi yang tidak bisa diprediksi, jadi Author mohon maaf karena tidak bisa menyanggupi keinginan readers. Sebagai gantinya, Author nulis bab ini hampir 2000 kata. 🙏🙏😅


Tetap jaga kesehatan dan ingat pesan ibu.


Thank you all 🤗😘

__ADS_1


__ADS_2