Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 71


__ADS_3

Setelah memberikan handuk baru untuk Medina, Daniel kembali ke dalam kamar tanpa mengatakan sepatah katapun. Membuat hati Medina terasa sakit dan ingin menangis.


Ingin rasanya mengejar dan memeluk suaminya untuk meminta maaf...namun keadaannya yang masih basah dan kedinginan membuatnya urung melakukan hal itu.


Setelah mengganti handuknya, Medina melangkahkan kakinya menuju kamar. Medina memutar pandangan nya dan mencari Daniel, namun sepertinya suaminya tidak berada didalam kamar.


Tubuh Medina kini berdiri tepat didepan lemari. Tangan kecilnya terulur untuk membuka gagang lemari. Sempat ada ragu untuk memilih salah satu lingerie yang tergantung didalam sana. Namun ia kembali mengingat kemarahan suaminya karena penolakannya atas permintaan suaminya.


Sebenarnya tidak ada yang salah dengan keinginan Daniel. Hanya saja selama menikah, ini pertama kalinya Daniel meminta dirinya memakai pakaian minim seperti itu. Ia merasa seperti seorang pela*** yang sedang menggoda. Dan tentunya ia sangat merasa risih meski belum memakainya.


Menarik nafas panjang da membuarngnya perlahan, akhirnya Medina memilih salah satu gaun tipis nan seksi itu. Ia ingin membuat rasa kesal dan kecewa pada suaminya segera mereda. Sikap cuek yang ditunjukkan Daniel tadi sangat melukai hatinya dan itu tidak ingin terjadi lagi.


"Baiklah...aku akan memakainya. Aku sangat tidak suka jika suamiku mengabaikanku hanya gara-gara kamu" Medina berbicara pada lingerie pilihan nya berwarna hitam yang ia pegang.


Medina masuk kedalam mandi untuk membersihkan diri. Padahal ia baru saja mandi tapi karena insiden kolam renang..mengharuskan ia harus membilas tubuhya lagi.


Sementara itu Daniel sedang berada di ruang tengah villa dan sedang berbicara didalam telepon.


"Iya mam...Daniel hanya dua hari disini. Ini hadiah dari Gio...Daniel tidak enak hati menolaknya. Lusa Daniel pulang dan langsung urus kantor sebelum kembali cuti...hehehe" Ternyata Daniel sedang berbicara dengan mama Safira.


"Dimana putri mama?"


"Medina dikamar"


"Mama mau bicara dengannya"


"Oke...tunggu sebentar" Daniel beranjak dari sofa dan berjalan masuk kedalam kamar.


Disaat yang bersamaan, Medina juga keluar dari kamar Mandi dengan lingerie yang sudah ia pakai ditubuhnya.


Daniel berdiri mematung setelah maniknya melihat sosok cantik dan seksi dihadapannya. Warna lingerie yang amat kontras dengan warna kulitnya yang putih mulus membuat Daniel bersusah payah menelan salivanya. Ingin rasanya ia berlari dan langsung memakan gadis seksi dihadapannya. Sementara Medina berusaha untuk menutupi rasa malu dan gugupnya karena ditatap seperti itu.


"Halo...Daniel...??"


Teriakan mama diseberang telepon membuat Daniel tersadar dan langsung memalingkan wajahnya.


"I_iya ma...Medina sedang dikamar mandi. Nanti Daniel hubungi mama lagi" Daniel memutuskan sambungan ponselnya dan melemparnya ke atas ranjang.

__ADS_1


Ia berjalan mendekati Medina yang sedari tadi berdiri mematung dengan wajah tertunduk. Kedua tangannya meremas gaun tipis itu tanpa ia sadari.


Kini Daniel berdiri berdiri berhadapan dengan istrinya bahkan sangat dekat. Namun keduanya masih tidak berbicara satu sama lain.


"Ehemmm!!" Daniel berdehem untuk menetralkan degup jantungnya yang tidak terkontrol.


Medina menunggu sinyal dari suaminya. Namun sampai dimenit terakhir, Daniel hanya berdiri menatapnya tanpa mengatakan apapun. Membuatnya berinisiatif untuk memulainya lebih dulu. Toh Daniel adalah suaminya.


"Maaf..." Ucap Medina lirih.


Daniel tersenyum penuh kemenangan. Namun ia berpura-pura cuek karena masih menunggu apa kelanjutan dari kata maaf yang diucapkan istrinya itu.


Medina masih merasa dirinya tidak dihiraukan. Ia pun memberanikan diri untuk menengadah dan menatap wajah suaminya.


"Aku sudah melakukan apa permintaan suamiku. Apa kakak masih tidak mau melihatku?" Medina membawa arah pandangan Daniel yang sedari tadi memalingkan wajahnya dengan satu sentuhan jari pada rahang keras suaminya.


Bibir Daniel terus menahan senyum. Sungguh ia ingin memakan istrinya itu bulat-bulat saat ini. Namun ia masih harus menahan karena ingin mengetahui sejauh mana istrinya berusaha.


"Oh...shit!!!" Daniel terus mengumpat dalam hatinya. Tatapan dan sentuhan Medina membuat gejolak gairah dalam tubuhnya terus meronta-ronta dan ingin segera tersalurkan.


Daniel masih tidak bergeming, hingga kedua tangan Medina melingkar dengan manja di leher kokohnya. Dan....


Medina mengecupi hampir seluruh bagian wajah Daniel, tak terkecuali bibir kenyalnya. Meski dengan susah payah berjinjit dengan waktu yang cukup lama, Medina tidak mengendurkan niatnya untuk meluluhkan suaminya.


"Apa kamu sedang menggodaku, Nona?" Daniel tak tahan lagi untuk mengeluarkan suara beratnya.


"Jika kamu berpikir seperti itu,,,,Ya!!! Aku sedang menggoda pria tampan dihadapanku. Aku harap dia menyukai sentuhanku" Jemari Medina mulai nakal. Menelusuri setiap inci wajah, rahang hingga leher Daniel dengan lembut. Suara Medina yang pelan, penuh manja dan terdengar indah di pendengaran Daniel berhasil membuat pria berambut dark brown itu seperti teraliri sengatan listrik tegangan tinggi.


"Kamu akan menyesali tindakanmu, Nona" Daniel mulai mendorong tubuh Medina hingga punggung wanita bermanik bulat itu menempel pada dinding kamar.


"Aku sudah menyesal sejak awal, Tuan. Menyesal mengapa tidak menuruti permintaanmu tanpa perlu berdebat hingga membuatmu mengacuhkanku" Daniel menelan salivanya dengan susah payah.


Salah satu Jemari cantik Medina kini mulai turun membelai lembut dada bidangnya yang terbuka. Sementara satu tangannya masih bertengger cantik dileher Daniel.


"Aku akan membuatmu tidak bisa berjalan" Bisik Daniel membuat wajah Medina merona sekaligus merinding. Namun tekadnya tidak akan mundur lagi. Menuruti semua permintaan suami tampan yang amat ia cintai.


"Aku tidak takut ancamanmu, Tuan. Karena aku tahu, kamu akan rela menjadi pengganti kakiku jika aku tidak bisa berjalan" Medina dan Daniel terus menatap dengan lekat dan dalam.

__ADS_1


"Jadi....??" Senyum smrik terukir manis dibibir Daniel.


Medina tidak lagi bermain kata-kata. Sebelah tangannya menekan tengkuk Daniel agar wajah pria itu sedikit menunduk. Kemudian.....


Medina mencium bibir Daniel dengan lembut. Sedikit ilmu yang ia pelajari dari kebiasaannya selama menikah, membuatnya semakin lihai dalam hal itu.


Daniel yang mendapat serangan mendadak tidak melepaskan kesempatan emas itu. Ia menyambut pag*tan panas wanitanya dengan membalas ci*man Medina.


Ci*man panas belum usai, kini tangan Daniel mulai menjelajah tubuh Medina dengan liar. Membuka simpul berukuran kecil pada kedua sisi bahu Medina. Membuat gaun itu lolos dengan mudah dari tubuh Medina. Dan hanya menyisakan pengaman bagian int* Medina dibawah sana.


Menyudahi ci*man pada bibir ranum wanitanya yang sudah nampak membengkak akibat ci*man panas dengan durasi lama. Kini manik Daniel menatap penuh gairah pada bahu polos istrinya. Tanpa hitungan menit, bibir kenyal pria yang sedang diselimuti kabut gairah itu beralih pada leher, tulang selangka hingga peg*n*ngan kembar yang menantang. Menyusuri tiap incinya dengan intens tanpa terlewat. Meninggalkan banyak tanda cinta dimana-mana.


Terdengar lenguhan nikmat dari bibir manis Medina saat bibir kenyal pria berpostur tinggi 185 cm itu mulai mendaki pegunungan kembar yang tempampang indah dihadapannya.


"Uuuummmmhhhh...." Suara desahan dan lenguhan yang terus lolos dari bibir cantik istrinya membuat Daniel seperti meminum puluhan obat perangsang.


Menyadari tubuh istrinya yang mulai melemas, Daniel menyudahi aksi brutalnya. Ia menatap lekat wajah cantik yang dipenuhi peluh dengan nafas yang memburu.


Tangan kekar Daniel menyapu lembut butiran-butiran peluh yang mengalir di wajah Medina.


"Masih ingin dilanjut?" Bisik Daniel dengan tatapan yang mengunci.


"Tentu. Tapi bisakah kita berpindah tempat?" Medina melirik ranjang berwarna putih yang masih terlihat rapi.


"As You wish, Honey" Daniel langsung menggendong Medina dan menyatukan kembali bibir mereka.


Seperti permintaan wanitanya. Dengan hati-hati Daniel membaringkan Medina seperti layaknya kaca yang mudah pecah. Tidak ada kebrutalan seperti sebelumnya. Ia ingin menikmati moment indah ini tanpa terburu-buru.


Merapal doa sebelum mereka bermain gulat dengan berbagai jurus dan metode untuk saling memuaskan hasrat dan gairah pasangan halalnya. Bukan hanya kepuasan s*ksual yang dicari, lebih dari itu Medina ingin mencari Ridho Allah SWT melalui Ridho suaminya. Menolak ajakan dan permintaan suami yang membuat dirinya merasa bersalah dan merasa telah melakukan dosa dalam ibadah.


Karena hubungan suami istri adalah bernilai ibadah. Dan tentu saja dengan menolaknya akan menjadi dosa besar bagi seorang wanita yang telah berstatus istri.


**To Be Continue


Padahal bukan adegan ranjang tapi kenapa as bikin chapter ini, author sampe harus duduk diantara 2 kipas angin yang menyala. Padahal cuaca diluar juga tidak terik. Hareudang euyyy!!! Hahahah.


Jangan lupa tinggalkan jejak kebaikan ya..Vote, Poin, love, and koment.

__ADS_1


Thank you allπŸ€—πŸ˜˜**


__ADS_2