
Setelah menyantap sarapan didalam kamar hotel, Daniel dan Medina melakukan check out hotel. Kini mereka dalam perjalanan menuju apartemen Daniel.
Daniel menautkan jemari tangan kirinya dengan jemari Medina yang mungil dan lentik. Dan Tangan kanan yang fokus memegang kemudi. Sesekali Daniel menciumi punggung tangan Medina yang halus dan harum.
Meski beberapa kali Medina mengingatkan Daniel untuk fokus pada kemudinya, namun Daniel tidak peduli.
"Honey..."
"Ya..." Medina menoleh dan tersenyum manis.
"Beneran kamu ga perlu diperiksa ke dokter?" Entah sudah berapa puluh kali Daniel menanyakan hal ini sejak bangun tidur tadi.
Medina menggeleng.
"Aku sangat khawatir" Daniel kembali mencium punggung tangan Medina.
"Ga perlu kak..itu biasa dirasakan hampir semua wanita yang sedang menstruasi" Jelas Medina agar suaminya tidak semakin khawatir.
"Ingat perintah ku semalam, Honey. Jangan___"
"Jangan menyembunyikan apapun, Saya ingat tuan suami tampan yang baik" potong Medina dengan tawa kecil.
"Terimakasih, Honey" Ucap Daniel dengan mengeratkan genggamannya.
"Terimakasih untuk apa?" Goda Medina. Kini memiringkan tubuhnya menghadap Daniel.
Daniel tersenyum lebar melihat tingkah gemas istrinya.
"Terima kasih karena aku menjadi yang pertama untukmu...." Ucap Daniel dengan senyum yang semakin melebar. Menampilkan sisi menawannya.
Daniel mengingat semua ungkapan cinta Medina semalam dikamar hotel. Ungkapan cinta dari seorang istri yang amat sangat ia cintai dan sayangi. Sosok yang selalu ingin ia lindungi saat ini dan selamanya.
"Ini adalah sentuhan pertamaku, Ini ciuman pertamaku, ini pelukan pertamaku, Ini desahan pertamaku, Ini belaian pertamaku, Bisikan cinta pertamaku, Karena kakak adalah cinta pertamaku dan cinta terakhir ku"
Daniel terus mengingat itu dan membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia akan terus merasakan itu jika berada didekat Medina.
Medina tersenyum malu hingga wajahnya memerah. Ia segera memalingkan wajah dan menggeser tubuhnya. Menatap jalanan yang padat dengan perasan yang nano-nano. Bahagia, Haru dan Malu.
***
Sementara dirumah Mama Safira terjadi kehebohan saat mereka sedang sarapan.
"Bunda...pokoknya Ifa mau ketemu sama mama Niel" Rengek Syifa dengan air mata yang sudah tumpah.
"iya sayang...nanti kita telepon mama Niel ya. Tapi Syifa harus sarapan dulu. Oke?!" Bujuk Rani. Ia mengarahkan sendok yang berisi nasi dan lauk ke mulut Syifa.
Syifa menepis sendok dan menggeleng cepat.
Rani tampak kewalahan membujuk Syifa kali ini.
"ga mau bunda... Ifa kangen sama mama Niel..huhu...huhu...huhu. Papa...Ifa mau ketemu mama Niel...Huhu..huhu..." Tangis Syifa kembali pecah saat melihat papa dan neneknya yang baru keluar dari kamar dan mendekat ke meja makan.
"Kenapa cucu nenek yang cantik pagi-pagi sudah menangis. hah?" Tanya mama Safira lembut.
"Dari semalam Syifa merengek minta ketemu sama Medina, ma" Jawab Rani sembari memgambilkan sarapan untuk suami dan ibu mertuanya.
Danu segera mengangkat Syifa dari kursinya dan memindahkan ke pangkuannya.
"Cup..cup...anak papa yang cantik. Syifa kangen mama Niel ya?" Syifa mengangguk pelan disela sesegukannya.
"Sudah jangan menangis lagi..nanti kita mampir ke apartemen papa Niel ya" Hibur Danu.
"Tapi ifa maunya Sekarang pa...Please. Ifa udah kangen mama Niel" Syifa kembali merengek dan mulai meronta dipangkuan papanya.
Danu menatap Rani dan Mama Safira bergantian.
"Syifa mau pergi sekarang?" Syifa mengangguk cepat.
__ADS_1
"Oke..kita akan pergi sekarang. tapi Syifa janji dulu habiskan sarapannya. Oke?!" tawar Danu.
Syifa diam. Gadis kecil itu nampak berfikir tawaran papanya.
"Papa ga bohong kan?" Tanya Syifa takut dirinya akan dibohongi.
Danu hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Kata mama Niel, kita ga boleh bohong. bohong itu dosa papa" celetuk Syifa membuat semua orang menahan senyum.
"Papa janji" Danu mengangkat 2 jari telunjuk dan jari tengahnya ke udara.
"Papa suapin Syifa ya"
"Tapi Ifa mau makan sendiri pa" Syifa mengambil sendok yang sudah dipegang Danu.
Akhirnya tawa mereka meledak melihat tingkah gadis kecil yang menggemaskan.
Selesai sarapan, Danu menghubungi Daniel.
"assalamualaikum ka" sapa Daniel saat sambungan terhubung.
"Wa'alaikum salam" Jawab Danu
"Kalian masih dihotel?" Tanya Danu.
"Kita sudah di apartemen. Ada apa kak? Mama baik-baik aja kan?"
"Mama baik kok. Justru Syifa yang uring-uringan dari semalam minta ketemu sama Medina" Jelas Danu.
"Kapan kalian berangkat?"
"insyaAllah besok kak, hari ini ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Lagipula...Medina sepertinya kurang sehat"
"Sakit? Kamu membuatnya begadang??" Ledek Danu.
"Semalam dia sakit perut akibat menstruasi nya"
"Ohhh...shhitttt!!! Jadi kamu masih perjaka,?" Danu kembali menggoda adiknya.
"kakak belum bilang kenapa menelepon ku"
"Kami akan ke apartemen mu 1 jam lagi. Jadi bereskan ranjangmu yang berantakan"
Klik!
Danu memutuskan sambungan ponselnya secara sepihak. Kemudian tertawa geli karena sukses menggoda adiknya.
"Papa......." Syifa berteriak sambil berlari menghampiri Danu yang berada diruang tamu.
"Ayo pa..kita berangkat sekarang" pinta Syifa dengan menarik tangan Danu.
"Bunda panggil nenek dulu ya" Rani kembali masuk kedalam untuk menjemput ibu mertuanya.
Nyatanya saat hendak masuk ke kamar, Mama Safira sudah membuka pintu kamar.
"Dimana Danu?"
"Kak Danu sudah diluar ma sama Syifa. Dia sudah tidak sabaran bertemu Medina" Ucap Rani mengingat tingkah anaknya.
"Mama juga sangat merindukan nya" Sahut mama Safira.
Rani tersenyum.
"Entah apa jadinya jika Daniel benar-benar mengajak Medina tinggal di apartemen nya. Baru sehari ditinggal, suasana dirumah ini sudah sangat berbeda. Akhh! aku juga merindukan tingkah lucu dan polosnya" Batin Rani.
***
__ADS_1
Tingtong....
Daniel yang sedang didalam ruang kerjanya bersama Arif menoleh.
"Mereka sampai..." Daniel bangkit dari duduknya namun dicegah Arif.
"Biar gw aja" Arif berjalan keluar ruang kerja untuk membuka pintu.
"oke..aku ganti baju dulu" Daniel melangkah ke kamarnya untuk mengganti baju seragam kantornya. Ia baru saja selesai melakukan telekonferens dengan klien.
Seharusnya pertemuan itu dilakukan diruang rapat kantornya. Namun karena kondisi Medina tentubia tidak tega meninggalkan nya. Kemudian ia mengubah tempat dan waktu rapat dengan alasan Daniel merasa kurang enak badan. Beruntung kliennya mengerti dan tidak mempermasalahkan.
Pintu apartemen dibuka Arif.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikum salam.." jawab Arif.
Syifa yang sudah antusias dari rumah langsung masuk kedalam dan mencari sosok yang dirindukannya.
"Lho...Kok kamu yang buka? kemana tuan rumah?" Tanya Danu.
"Daniel didalam, kami baru menyelesaikan rapat dan beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum dia pergi" Jawab Arif menjelaskan.
"Mama Niel..." Suara cempreng Syifa membuat suasana sepi apartemen menjadi ramai.
"Sayang... pelan-pelan" Pekik Rani melihat anaknya berlarian. Ia meletakkan 4 Goodiebag berisi makanan yang ia bawa dari rumah.
Didalam kamar Daniel sudah mengganti pakaiannya. Ia menoleh tubuh istrinya yang tengah meringkuk dibalik selimut seperti bayi. Ia mendekat dan mendaratkan kecupan di hidung dan bibir Medina. Kemudian Ia segera keluar dan menemui keluarganya.
"Papa Niel....." Teriak Syifa dan langsung berlari menghambur ke pelukan Daniel.
"Oohhh anak papa yang cantik..." Daniel menggendong Syifa dan berjalan menghampiri mamanya yang sudah duduk diruang tengah bersama yang lain.
Daniel menurunkan Syifa dan menyalami mama, kakak dan kakak iparnya.
"Papa Niel...dimana mama Niel?" Tanya Syifa penasaran. Karena sedari tadi manik bocah itu berkeliaran mencari sosok Medina namun tidak menemukan nya.
"Mama Niel sedang tidur sayang. Mama Niel ga enak badan" jawab Daniel.
"Medina sakit? kenapa Kamu tidak mengabari mama?" Mama Safira kini sudah bangkit dan beranjak menuju kamar putranya untuk menemui menantunya.
"Daniel ga mau bikin Mama khawatir" sahut Daniel.
"Kamu membuatnya kelelahan?" Tanya Rani dengan wajah yang pura-pura kaget.
"Maaf nyonya, jangan lupa kalo anda yang memberi materi kuliahnya" Daniel menyeringai menatap Rani.
"Baiklah, berikan aku hadiah..Aku tidak menerima ucapan terima kasih" Ucap Rani dengan menengadahkan tangannya ke wajah Daniel.
"Tentu saja Kakak ipar...kau terbaik" Puji Daniel membuat Danu dan Arif tergelak.
"aku mau menyusul mama ke kamar. Mau lihat kondisi adik iparku. Aku mau memeriksanya sendiri" Ucap Rani.
"oh ya sayang...apa kau mau kopi?" tawar Rani sebelum ia melangkah jauh.
"Buatkan kami teh saja" jawab Danu.
"Oke..." Rani berjalan menuju dapur.
"Rif...bereskan berkas diruang kerjaku dan segera balik ke kantor" Perintah Daniel membuat Arif berdecak kesal.
"Ini masih jam kantormu, jika kami lupa" Ejek Daniel.
"oke..oke..bos" Arif menghelas nafas.
Ia segera berlalu meninggalkan keduanya menuju ruang kerja. Melakukan perintah bos nya dan sesegara mungkin kembali ke rutinitas kantor yang padat dan melelahkan. Apalagi seminggu belakangan ini, Arif menggantikan Daniel mengurus semua pekerjaan nya dikantor. Bahkan ia tidak bisa merasakan nikmatnya libur weekend.
__ADS_1