
Pagi-pagi sekali keluarga Tante Latifah terlihat sangat sibuk. Calon pengantin dan anggota keluarga lainnya sudah tampak sedang dirias oleh penata Rias. Rencananya pukul sembilan nanti acara ijab qobul akan dilaksanakan. Lalu dilanjutkan resepsi pernikahan di malam harinya.
"Rhen....kamu bersama abangmu semalam kan?" Tanya Tante Latifah yang sudah terlihat cantik dengan riasan.
"Iya, memangnya kenapa mam?" Rhenata yang sedang memakai gaun pengantin menoleh ke arah sang mami.
"Dikamarnya tidak ada. Kemana dia semalam?" Tante Latifah terlihat khawatir karena waktu terus berjalan. Namun ia belum melihat batang hidung anak sulungnya.
"Mungkin dia dikamar yang lain, mam." Sang bungsu ikut menimpali.
"Papi kalian sudah mencari nya sejak subuh. Tapi tidak ada. Ya Tuhan... kemana anak itu?" Tante Latifah berjalan mondar-mandir sambil terus menghubungi Gio.
"Mami...tenanglah. Riasanmu bisa hancur jika mami seperti ini." Ucap Rhenata. Ia mengulurkan tangannya dan sang mami langsung menyambutnya.
"Semalam dia tidak mabuk kan? Padahal sudah mami larang ada minuman seperti itu saat memberinya ijin membuat acara khusus untukmu." Tanya sang mami lagi dengan wajah kecewa.
"Tidak ada alkohol dan tidak ada yang mabuk, mam. Aku sudah memeriksa semua nya." Rhenata mulai kesal karena maminya tidak kunjung tenang.
"Perasaan mami tidak enak. Mami takut, abang__"
"Stop mam. Please!!" Rhenata menatap Tante Latifah.
"Abang akan datang sebentar lagi. Mungkin dia ada urusan atau apa. Jadi jangan berpikir macam-macam lagi. Please...." Tante Latifah mengangguk namun ia belum lega jika belum melihat wajah putra sulungnya.
"Mami akan berbicara dengan Papi."
"Jika mereka sudah siap tolong kabari saya." Ucapnya pada seseorang yang sedang membantu Rhenata mengenakan baju pengantin.
"Baik, Nyonya." Sahutnya.
Tante Latifah keluar dari kamar Rhenata dan menghampiri suaminya yang juga berjalan kearahnya.
"Sudah ketemu?" Tanya Tante Latifah.
Sang suami mengangguk namun wajahnya tidak terlihat seperti biasanya. Hingga mengundang kecurigaan sang istri.
"Ada apa?"
"Apa sesuatu terjadi dengan Gio?"
"Ada apa? Tolong katakan sesuatu. Jangan membuat ku seperti orang gila." Tante Latifah memegang kedua lengan suaminya lalu mengguncangnya.
"Dia akan datang. Dia sedang berganti pakaian." Jawab Sang suami..
"Acara hampir mulai. Kita akan bicara lagi nanti." Tubuh Tante Latifah seketika lemas. Ia tahu ada sesuatu yang terjadi tapi sang suami enggan membuka mulut karena acara pernikahan putri kedua mereka akan segera dilaksanakan.
"Tenanglah...tidak terjadi apapun dengan putra kita. Aku yakin dia bisa mengatasi masalah nya." Papi Gio menggandeng tangan istrinya.
Meski tubuhnya mengikuti langkah suaminya menuju tempat berlangsungnya acara pernikahan sang putri, namun pikiran dan hatinya masih tertuju pada putra pertamanya.
Masalah? Bahkan putra sulungnya hampir tidak pernah melakukan kesalahan dan membuat masalah. Dia justru menjadi anak dan kakak sulung yang sangat bijak dalam hal apapun.
****
Acara Ijab Qobul berlangsung dengan khidmat dan penuh haru. Karena kedua keluarga sepakat hanya mengundang kerabat saat prosesi ijab qobul. Sementara tamu undangan lainnya seperti kolega bisnis, akan hadir saat resepsi malam hari nanti.
"Selamat untuk kalian berdua. Semoga bahagia selalu." Daniel memeluk Rhenata lalu menjabat tangan Raka memberi ucapan selamat.
"Terimakasih, bang." Sahut Rhenata dengan senyum cantiknya.
Setelah mengobrol sebentar dengan pengantin, Daniel kembali ke meja tempat keluarga nya berkumpul. Ada Mama Safira, kak Danu, kak Rani dan juga Syifa. Mereka sedang menyantap hidangan sambil berbincang.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat Gio yang berdiri dipojok ruangan sambil menelepon seseorang. "Siapa yang sedang diteleponnya?" Gumam Daniel. Pikiran nya kembali pada kejadian tadi pagi saat Papi Ronald mencari Gio ke kamarnya. Memang mereka bersama hingga malam namun berpisah saat Daniel memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Setelah itu ia tidak tahu lagi kemana Gio pergi. Sejauh yang Daniel pikir, sepupunya tidak mungkin pergi dari hotel tempat berlangsungnya acara. Karena penanggung jawab acara pernikahan sang adik adalah Gio sendiri.
Satu pertanyaan menggelitik hatinya. Kemana Gio pergi setelah malam pesta reuni untuk Rhenata? Apa dia menghabiskan malam bersama Farah?
"Siapa yang kau hubungi, bro?" Suara Daniel mengagetkan Gio yang membelakangi nya.
Gio membalikkan badan dan tersenyum meskipun ia juga sedikit terkejut. Takut jika Daniel mendengar percakapannya di telepon.
__ADS_1
"Temanku tidak bisa hadir, baru saja dia mengabari ku." Jawab Gio dengan ekspresi biasa. Setidaknya ia harus menutupi wajah gusarnya dari Daniel dan semua orang.
"Ayo menyantap sesuatu yang enak, aku sudah sanagt lapar." Gio merangkul Daniel kembali ke salam pesta. Tanpa disadari Gio, Daniel mencuri dengar percakapannya dengan seseorang yang pasti adalah seorang perempuan.
****
Medina tengah berada diRumah sakit bersama kedua orangtuanya. Rencananya hari ini Pak Sanjaya akan melakukan kontrol dokter spesialis yang menanganinya kemarin saat beliau dirawat.
"Sayang....kenapa tidak sekalian saja kamu juga diperiksa?" Ibu Melani memberi ide kepada putrinya saat mereka menunggu Pak Sanjaya selesai diperiksa.
"Kita akan lakukan USG 4D. Bagaimana?" Medina mengangguk membuat ibu Melani tersenyum lebar.
"Baiklah...Setelah Ayahmu selesai diperiksa kita akan menemui dokter kandungan yang terbaik dirumah sakit ini." Ucap Ibu Melani sambil menggenggam jemari Medina.
"Kenapa ayahmu lama sekali?"
"Ibu akan menyusul nya sebentar." Ibu Melani bangkit dan berjalan masuk ke ruangan dokter yang sedang memeriksa Pak Sanjaya.
"Apa sudah selesai?" Semua orang menoleh ke arah ibu Melani.
"Hampir selesai, Nyonya." Jawab sang dokter dengan senyum ramah.
"Ada apa?" Tanya Pak Sanjaya.
"Medina akan memeriksakan kandungannya." Jawab ibu Melaji ikut duduk dikursi.
"Medina kenapa?" Pak Sanjaya langsung khawatir mendengar Medina akan diperiksa dokter.
"Apa suamiku sudah benar-benar sehat, Dok?" Pandangan ibu Melani beralih pada sang dokter.
"Tuan sudah sangat sehat. Nyonya."
"Syukurlah. Karena akan banyak moment acara yang akan menguras tenaga dan uangnya." Canda Ibu Melani membuat pak Sanjaya dan sang dokter tertawa.
"Baiklah, kami permisi. Terimakasih, dok." Pak Sanjaya menyalami dokter dan bergantian dengan Ibu Melani.
"Saya akan kirimkan undangan nya, nanti." Ucap pak Sanjaya sebelum keluar ruangan.
"Baik, Tuan."
Keduanya keluar dari ruangan dokter dan melihat Medina yang duduk di kursi tunggu.
"Maaf membuatmu menunggu lama, Nak."
"Tidak apa-apa, Ayah."
"Bagaimana hasil pemeriksaannya? Apa semua normal?" Tanya Medina yang sudah berdiri menyambut keduanya.
"Pertanyaan mu seperti detektif." Pak Sanjaya tertawa diikuti ibu Melani dan Medina.
"Semuanya normal dan bagus. Ayahmu jauh lebih sehat karna kamu yang merawatnya dengan aturan ketat." Jawab Ibu Melani.
"Ibu bilang, kamu juga akan diperiksa?" Medina mengangguk.
"Baiklah. Ayo kita temui dokter Rose." Ibu Melani mengandeng tangan Medina. Mereka berjalan beriringan dengan Medina ditengah-tengah diapit kedua orangtuanya.
Keluarga pak Sanjaya mengenal beberapa dokter di rumah sakit itu jadi ia lebih mudah untuk komunikasi dengan para dokter dan petugas medis lainnya.
Setelah hampir 30 menit lamanya Medina selesai diperiksa dokter kandungan. Ibu Melani yang menemani saat pemeriksaan sangat terlihat bahagia saat keluar dari ruangan dokter kandungan. Membuat pak Sanjaya yang duduk menunggu diluar langsung menghampiri mereka.
"Bagaimana pemeriksaan nya? apa jenis kelaminnya? Apa dia sehat?" Ibu Melani dan Medina saling pandang lalu keduanya tertawa mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari Pak Sanjaya.
"Ayah pernah mengatakan jika sifatmu yang tidak sabaran menurun dari ibu. Tapi lihatlah sekarang...." Ibu Melani melirik suaminya.
"Ternyata sifat itu menurun dari Ayahmu." Keduanya kembali tertawa sementara pak Sanjaya hanya tersenyum.
"Jadi bagaimana hasilnya?" Sang ayah masih menanyakan pertanyaan yang tadi dilontarkan. Ia penasaran dengan jenis kelamin calon cucunya.
"Insya Allah cucu Ayah laki-laki. Doakan yang terbaik ya Yah." Medina menggandeng lengan Ayah nya lalu berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju mobil yang telah siap dilobby Rumah sakit.
__ADS_1
Ibu Melani melihat dua punggung yang berjalan berdampingan itu dengan senyum penuh haru. Tujuan hidupnya kini didepan matanya. Melihat dan merasakan kebahagiaan untuk keluarga kecilnya.
"Terimakasih, Tuhan." Ibu Melani tidak berhenti merapal syukur. Sebelum akhirnya ia menyusul dua orang yang amat dicintainya.
****
"Jadi jenis kelaminnya laki-laki?" Tanya mama Safira yang sedang bertukar suara dengan menantu kesayangannya.
"Iya, ma. insyaAllah." Jawab Medina.
"Kamu harus menjaganya agar tetap sehat hingga persalinan nanti." Pesan Mama Safira sebelum memberikan ponselnya kepada Daniel yang duduk disampingnya.
"Apa kamar si kecil sudah selesai dikerjakan?" Tanya Medina saat suara suaminya terdengar diponselnya.
"Seperti nya sedikit terlambat dari prediksi awal." Jawab Daniel.
"Tidak apa-apa, yang penting hasilnya sesuai keinginan kita."
"Aku penasaran hasil akhirnya." Medina berteriak kegirangan. Ia ingin segera pulang dan melihat kamar yang akan ditemputi anak mereka nanti.
"Sayang....apa tidak bisa kamu memotretnya untukku?" Bujuk Medina.
"No!" Jawab Daniel dengan tawanya.
"Sayang....."
"Honey......"
"Kamu tidak merindukanku?" Tanya Daniel menatap lekat wajah istrinya yang berada dilayar ponsel.
"Dua hari lagi kita bertemu. Aku masih bisa menyimpan rasa rinduku hingga nanti." Medina terkekeh.
"Aku akan mengurungmu nanti." Balas Daniel dengan tawanya yang lebar.
"Kamu ingin aku membawa apa?"
"Tidak ada. Kalian datang dengan sehat dan selamat adalah yang paling penting." Jawab Medina.
"Bagaimana persiapan nya?" Tanya Daniel lagi.
"Aku tidak diijinkan untuk membantu." Ucap Medina lirih. Ia sedih karena tidak bisa ambil bagian dalam persiapan acara syukuran yang diadakan orangtuanya.
"Mereka melakukan itu karena mereka sangat menyayangi mu. Kamu sedang hamil besar tidak boleh sampai kelelahan."
"Aku tahu." Medina mengangguk.
"Istirahatlah.... sampaikan salamku untuk semuanya." Ucap Daniel.
"Baiklah. Jaga diri dan jangan terlalu lelah bekerja." Medina menatap lekat wajah suaminya yang terhalang layar ponselnya.
"Baik, Tuan putri. Hamba akan ingat pesan tuan Putri." Jawab Daniel membuat senyum istrinya merekah.
"Sayang....we love you. Mmmuuuaaacchhh." Medina mengecup layar ponselnya hingga berbunyi.
"Aku mencintai kalian....sangat....sangat.... Mmmuuuaaacchhh." Daniel mengikuti Medina menempelkan bibirnya pada layar ponselnya.
Keduanya tertawa lalu kembali melakukan adegan saling menempelkan bibir pada ponsel masing-masing. Berulang-ulang hingga keduanya saling berbalas ciuman kemudian tertawa lebar.
_
_
_
_
_
Mohon maaf jika ada typo, karena bab ini belum sempat aku revisi. Lempar kopi dan bunga ya...hehehe
__ADS_1