
Rumah Daniel
Setelah menemani mama Safira yang berjemur dibawah sinar matahari pagi. Medina mengantar Mama Safira ke Ruang tengah. Mereka menonton televisi dengan santai. Tidak lama bi Inang datang membawa 2 gelas jus untuk Medina dan ibu Safira.
"minum dulu jus nya, nyonya"
"terima kasih bi" Ucap Medina.
"Seelah Medina mengurus nyonya, nyonya kelihatan lebih sehat dan semakin cantik saja" puji bi Inang..
ibu Safira dan Medina langsung menoleh dan tertawa.
"tentu saja bi. Karena sekarang ada peri cantik yang merawat saya" Ucap ibu Safira lembut.
Selama pengamatan bi Inang, selama ada Medina, ibu Safira kini terlihat sehat dan lebih segar. Medina benar-benar mengurusnya dengan sangat baik dan telaten.
Bahkan hari ini mereka berencana untuk jalan-jalan ke salah satu mall langganan ibu Safira.
Medina sebenarnya tidak menyetujui rencana ibu Safira mengajaknya keluar rumah karena masih khawatir kondisinya. Tapi karena mama Safira memaksa dan meyakinkan Medina bahwa dirinya jauh lebih sehat. Tentu saja Medina tidak melupakan untuk meminta izin kepada Danu tanpa sepengetahuan ibu Safira.
"Kita siap-siap sekarang?" Tanya mama Safira yang sudah berdiri.
"iya Bu.." Jawab Medina.
Tak lama setelah mereka bersiap, Mereka berangkat dengan diantar supir. Menikmati hobby yang selama beberapa hari ini tidak ibu Safira lakukan.
Pada dasarnya ibu Safira tidak begitu hobi berbelanja. Namun Karena Farah lah yang saat itu masih menjalin hubungan dengan Daniel yang Hampir setiap Minggu mengajak ibu Safira keluar bersama. Berbelanja, makan siang, nonton, dan lainnya.
Kedekatan ibu Safira dan Farah bukan hanya sekedar hubungan calon menantu dengan calon mertua. Bahkan sudah seperti ibu dan anak perempuan. Dan mengakibatkan kekecewaan mendalam yang dirasakan ibu Safira, saat harapannya tidak sesuai kenyataan.
Farah menolak Daniel yang kala itu melamarnya. Dengan alasan ingin meneruskan pendidikan S3 demi masa depan bisnis orangtuanya.
Karena memendam kekecewaan yang mendalam itulah, kondisi kesehatan ibu Safira mudah drop.
Gedung Pernikahan
"congrats bro..." Daniel menyalami Reno dan istrinya dipelaminan.
"thanks bro...Lo kapan nyusul?" Ucap Reno menepuk bahu Daniel.
"insyaAllah segera. Doakan gw" jawab Daniel dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
"siaaapp...thanks ya bro" Reno kembali menyalami Daniel.
Daniel turun dari pelaminan menuju meja prasmanan.
Beberapa menu makanan ia masukan dalam piring. Dan menyantapnya lahap.
Seseorang diseberang meja prasmanan sedang memperhatikan Daniel dengan seksama. Sepasang mata perempuan cantik yang tengah mengobrol dengan Rani dan Danu.
Selesai menghabiskan makanannya Daniel melihat ponselnya yang bergetar di saku celana. Daniel segera melangkah mencari tempat yang lebih sepi untuk menerima panggilan.
"iya Rif..."
"Gw lagi mampir disentra oleh-oleh nih. Mau nitip ga?" Tanya Arif diujung telepon.
__ADS_1
"Hhmmmm..boleh. Samain aja kaya yang Lo beli" Jawab Daniel.
"Ga mau beli yang spesial buat dia?" Goda Arif.
Daniel terdiam.
"Halo..boss?" Pekik Arif.
"Apaan yang spesial? Udah ga usah macem-macem lu" Daniel menutup ponselnya.
Daniel memijit keningnya. Arif benar benar sudah membuat Daniel galau.
"Hai...apa kabar?" Tiba-tiba suara perempuan menyapa Daniel.
Daniel mendongakkan kepalanya. Menatap gadis didepannya dengan seksama.
Kening Daniel mengernyit.
"kamu pasti sudah lupa. Aku Raisa sepupunya Rani" Gadis itu menyalami Daniel dan Daniel membalasnya.
"Kita sering bertemu, apa kamu lupa?" Gadis itu tersenyum kepada Daniel. Berharap Daniel bisa mengingat dirinya.
"aahhh ya...maaf aku baru ingat. Apa kabar?" Daniel sudah mengingat Raisa.
Hanya saja Daniel mengingat sekilas karena baginya tidak ada yang spesial pertemuan dirinya dengan Raisa.
"Seperti yang kamu lihat, kabar saya baik" jawab Raisa sumringah.
Rani dan Danu menghampiri mereka.
Seketika Syifa sudah berada digendongan Daniel.
"Kata Papa, Papa Niel mau pulang kelumah nenek ya?" Syifa memeluk Daniel manja.
"iya sayang.." Daniel membelai rambut Syifa.
Syifa menoleh bundanya.
"Bunda...ifa boleh ikut papa Niel pulang ke lumah nenek ya Bun.." Syifa mulai merajuk.
Daniel mulai khawatir, Syifa akan membuka suara tentang percakapan dirinya dengan Syifa soal mama Niel yang berada di rumah mama Safira.
"aduh gawat..." pekik Daniel dalam hati.
"apa sayang?" Rani membulatkan matanya ketika mendengar cicitan Syifa.
Sementara Danu terlihat tidak kaget dan biasa saja. Karena ia sudah tahu jika Syifa akan memilih pulang bersama dengan Daniel.
"Boleh ya Bun..?" Syifa memasang wajah sendunya.
"Ifa udah kangen sama nenek..." tambahnya.
Rani menoleh ke arah suaminya. Meminta persetujuan.
"tapi sayang...bunda sama ifa belum bisa pulang cepat nak...masih ada yang bunda urus dirumah Oma dan opa" Ucap Rani.
__ADS_1
"ngga mau, pokokna ifa mau pulang sama Papa Niel" Rengek Syifa lagi.
"Ga apa kak, Syifa bisa pulang bareng aku. Lagian aku udah biasa urus Syifa juga kan" ucap Daniel
"Tapi..Niel kamu kan harus kerja nantinya. Siapa yang akan urus Syifa. Jangan mengada-ada deh" Rani mulai khawatir.
"sudah-sudah..aku akan ikut pulang bareng Daniel. Lusa aku harus kembali ke kantor. Sudah lama juga aku meninggalkan pekerjaan" Danu akhirnya memberi keputusan.
"kamu ga pa-pa kan kalo aku tinggal sendiri?"
Rani terdiam. Dalam benaknya ia tidak mungkin bisa jauh dari anaknya. Tapi Syifa kekeh ingin ikut Daniel pulang bertemu sosok mama Niel yang diceritakan Daniel.
"Ya sudah..Tapi tolong jaga Syifa ya Niel. Awas saja kalo anak ku kenapa-kenapa" Ucap Rani dengan intonasi yang penuh penekanan.
"siap bos...kan ada papa nya juga" Daniel dan syifa tersenyum puas.
"Maaf ya Raisa...kamu jadi dicuekin" Ucap Rani.
"iya ga pa-pa Ran." jawab Raisa. Maniknya masih menatap dalam ke arah Daniel.
"kamu benar-benar sosok idamanku, Daniel. Aku harus punya cara untuk mendekati kamu dan menjadikanmu milikku" Gumam Raisa dalam hati.
Dan akhirnya acara resepsi pernikahan selesai, Rani mengantar Danu, Daniel dan Syifa turun ke lobby setelah berpamitan ke Sohibul hajat. Danu menggendong Syifa yang terlelap karena kelelahan. Ia tidak perlu mengambil bajunya dan Syifa kerumah Rani. Rani akan membawanya saat dia pulang nanti.
Arif sudah berada dilobby. Setelah sebelumnya pulang berbelanja, ia balik ke hotel untuk mengambil kopernya dan koper Daniel.
"Kita langsung pulang?" Tanya Arif setelah mereka bertemu dilobby.
"iya...ada yang sudah tidak kuat menahan rindu" Ledek Danu dengan suara lantang.
"kalian ngomongin apa sih?" Rani mengernyit. Rani yang belum tahu, seperti orang linglung menatap pria disekelilingnya satu persatu.
Arif tergelak kencang. Sontak saja membuat Daniel memukulkan tinjunya ke dada Arif.
Arif mengaduh "Awww!!!"
"bisa diem ga Lo??" pekik Daniel dengan tatapan tajamnya.
"Lo jadi supir sampe ke rumah" perintah Daniel kesal seraya berlalu pergi.
"siap Bos....i'm ready" ucap Arif enteng.
Danu terkekeh kecil. Ia pun ikut beranjak menuju mobil dan merebahkan tubuh Syifa didalam mobil. Kemudian kembali ke sisi mobil. Berpamitan dengan sang istri yang sudah memasang wajah sendunya. Karena harus berpisah sementara dengan suami juga anaknya. Danu mengecup dahi dan bibir Rani kemudian masuk kedalam mobil.
Mobil melaju dengan kencang membelah jalanan kota Bandung. Daniel dan Syifa tertidur duduk dikursi penumpang belakang. sementara Danu duduk disamping kursi pengemudi.
Daniel membuka baju batiknya dan meninggalkan kaus oblong ketat hingga menampakkan otot-otot kekarnya. Ia menyandarkan tubuhnya disandaran jok mobil. Memejamkan matanya hingga bayangan wajah Medina melintas dibenaknya.
Daniel mengerjap. Mengusap wajahnya kasar. Bibirnya mengulum senyum.
"mengapa kamu terus mengganggu ku...Medina" Gumam Daniel lirih dalam hatinya.
Entah mengapa ia sangat merindukan gadis yang belum lama masuk ke dalam kehidupan keluarganya.
TBC
__ADS_1
##############