
Medina masih menenangkan suaminya bahkan setelah Gio meninggalkan apartemen tanpa berkata apapun.
Gio pergi begitu saja dan tidak menggubris saat Medina membawakan kotak obat agar luka memar disudut bibirnya dapat diobati.
"Aku akan ambilkan minum." Medina hendak bangkit dari duduknya namun tangannya langsung ditahan Daniel.
"Tidak perlu." Daniel mendongak menatap istrinya. Perasaannya tidak menentu saat ini dan ia perlu sendiri untuk berpikir.
"Bisakah__aku ingin sendiri dulu. " Pinta Daniel kepada istrinya dan tanpa diduga Medina langsung meninggalkan suaminya tanpa sepatah katapun.
Daniel menatap punggung Medina yang berjalan menjauh dengan mata sayu. Daniel ingin menahan istrinya namun gejolak emosi dalam dirinya masih berkobar. Perasaan bersalah menggelayuti hari Daniel saat ini namun ia butuh waktu mencerna semua kenyataan ini.
"Maafkan aku, Hon." Gumam Daniel lirih.
Setelah hampir dua jam Daniel berdiam diri dan berpikir, akhirnya ia sudah merasakan lebih baik. Ia pun bangkit dan berjalan menuju kamar.
Daniel terkejut saat melihat lampu kamar yang masih terang benderang. Dan maniknya langsung menangkap tubuh istrinya yang meringkuk diatas sofa.
"Honey..." Daniel membungkuk dan mencium kening Medina.
"Maafkan aku..aku benar-benar terkejut mengetahui kenyataan Gio selama ini. Bukan karena Farah, tapi karena selama ini Gio memendam luka sendiri. Aku telah melukai saudaraku dan aku tidak tahu sama sekali, dia saudaraku dan itu menyakitkan untukku." Ucap Daniel pelan.
Dan berhenti bicara pada istrinya yang terlelap diatas sofa. Melihat perut besar yang meringkuk tidak berdaya membuat hatinya mencelos. Daniel mengangkat tubuh Medina membawanya ke ranjang besar. Kemudian menarik selimut agar tubuh istrinya tidak kedinginginan karena pendingin ruangan.
Setelah berganti baju, Daniel menyusul istrinya naik keatas ranjang. Kembali mendaratkan kecupan bertubi-tubi pada wajah dan perut istrinya.
"Ennnggghhh..." Desah Medina karena tidurnya merasa terganggu. Membuat Daniel tersenyum tipis.
"Maafkan aku, Honey." Lirih Daniel. Lalu mengambil kecupan singkat di bibir Medina.
"Selamat malam, dan mimpi indah istriku." Daniel ikut memejamkan mata menyusul istrinya yang lebih dulu terlelap terbuai ke alam mimpi.
****
Sementara itu disalah satu bar, Gio menatap kosong gelas yang berisi minuman berwarna merah. Menenggaknya hingga habis lalu meminta seseorang disampingnya untuk menambahkan ke gelasnya.
"Cukup bro! Kau bisa mabuk nanti." Cegah seseorang yang bersama Gio.
"Biarkan sesekali aku mabuk." Gio menepis tangan temannya yang hendak mengambil botol minuman memabukkan itu.
"Ini bukan solusi jika kau memang sedang mengalami masalah." Ucap pria bernama Jack. Salah satu sahabat dan rekan bisnis Gio.
"Aku..." Gio mulai mabuk dan berjalan sempoyongan. Ia menghampiri bartender untuk mengganti minumannya yang ditahan sahabatnya.
"Sebaiknya kita pulang. Aku tidak ingin mendapatkan masalah." Jack menuntun Gio namun lagi-lagi tangan Jack ditepis oleh Gio.
"Pulanglah...biarkan....aku sendiri. Lagipula...kau...takut kena...masalah, kan? Pulang...pergilah...cepat pergi!!." Gio mendorong tubuh Jack namun dorongan Gio percuma karena Jack tidak bergeming sedikitpun.
"Jika ada masalah, kau bisa ceritakan padaku." Bujuk Jack pelan.
"Aku akan menghubungi Daniel." Jack merogoh kantong celananya namun langsung direbut Gio.
"Jangan mengganggunya." Gio mematikan ponsel milik Jack.
"Kalian ada masalah?" Jack menyadari jika ada masalah antara kedua sepupu itu.
Gio berjalan sempoyongan melewati meja bar. Menjauhkan diri dari sahabatnya yang hanya berdiri melongo menatap punggung sahabatnya.
"Ada apa dengan mereka berdua?" Batin Jack lalu ia berjalan dibelakang menyusul Gio.
****
Daniel meraba sisi ranjang yang ditiduri Medina saat pertama kali ia mengerjapkan mata. Maniknya langsung terbuka lebar saat tidak mendapati tubuh istrinya disana. Ia langsung terduduk dan mengedarkan pandangan. Tak juga menemukan sosok yang dicarinya disana, Daniel menghentak selimut dan melompat turun dari ranjang.
"Honey...." Perasaan takut menyelimuti hati Daniel. Sambil terus memanggil istrinya ia membuka pintu kamar dan berlari ke ruang tengah.
"Honey..." Manik coklatnya terus saja memindai setiap sudut rumah.
Dapur tampak lengang tidak ada aktifitas seseorang disana membuat tubuh Daniel lemas seketika.
__ADS_1
Daniel terus berjalan hingga melihat pintu kamar tamu yang terbuka setengah.
"Sayang...kamu sudah bangun?" Medina tersenyum saat melihat suaminya menyembul dibalik pintu. Istrinya tampak sedang mengambil sesuatu didalam lemari.
Daniel tidak menggubris pertanyaan istrinya, Ia terus melangkah menghampiri Medina lalu memeluknya dengan erat.
"Sayang....?" Medina membalas pelukan suaminya. Medina tahu jika suaminya pasti merasa bersalah karena membiarkan dirinya sendirian tadi malam.
"Saat bangun tidur aku sangat ketakutan tidak menemukanmu dimana-mana." Daniel mengeratkan pelukannya. Seolah mengatakan ketakutannya lewat pelukan.
"Aku tidak kemana-mana. Aku disini..." Medina mengusap punggung kokoh suaminya dengan lembut.
"Maafkan aku." Daniel mengurai pelukannya dan kini kedua tangannya merangkum pipi Medina yang merona alami tanpa make up. Membuat Daniel segera melahap bibir ranum istrinya tanpa membiarkan Medina menjawab kata maafnya.
Medina membalas ciuman pagi yang menambah semangat dan rasa bahagianya. Kedua bibir saling menaut dan menyecap. Suara kecapan kedua bibir mengalun indah memenuhi ruangan yang hening. "Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Daniel setelah ciuman panasnya terlepas.
"Sudah lama kita tidak kesini, jadi aku membuka jendela dan pintu balkon agar ada sirkulasi udara." Daniel menoleh ke arah pintu balkon yang memang terbuka lebar. Sinar matahari bahkan masuk memberi kehangatan ruangan kamar yang lama tidak dihuni.
"Kenapa tidak membangunkanku?" Daniel menarik pinggang istrinya hingga duduk di pangkuannya.
"Kakak tidur nyenyak sekali. Aku tidak tega." Tangan Medina bergelayut manja dileher Daniel.
"Maafkan aku." Daniel kembali ******* bibir Medina.
"Kakak sudah mandi?" Tanya Medina manja.
"Belum." Bibir Daniel tidak puas menyentuh bibir kini menyusuri leher putih istrinya yang terpampang.
"Kamu sudah?" Tanya Daniel menatap lekat dan gelengan kepala Medina sebagai jawaban membawa senyum merekah di bibir pria Tiga puluh empat tahun itu.
"Waktunya mandi bersama." Daniel membawa Medina dalam gendongannya dengan satu kali hentakan. Membuat Medina menjerit terkejut.
"Turunkan aku....aku sudah sangat berat." Medina yang merasa insecure dengan berat badannya langsung merengek minta diturunkan dari gendongan suaminya namun tidak digubris Daniel.
Namun saat langkah mereka baru saja memasuki kamar utama, terdengar ponsel Medina berdering.
"Ck...mengganggu saja." Daniel akhirnya menurunkan istrinya sambil menggerutu.
Medina yang sudah turun langsung mengambil ponselnya diatas meja.
"Assalamualaikum Ibu."
"Wa'alaikumsalam sayang...maaf kan ibu karena pagi-pagi sudah menganggumu. Karena dari semalam ibu mencoba menghubungimu, tapi ponselmu tidak aktif."
"Maafkan Medina, bu. Semalam ponsel Medina kehabisan baterai."
"Tidak apa sayang. Ah ya, bagaimana kabar kamu?"
"Alhamdulillah Medina baik-baik saja. Bagaimana kabar Ibu dan Ayah? Apa Ayah masih sering pusing?" Medina melirik suaminya yang duduk dibibir ranjang.
"Tidak perlu khawatir berlebihan, kami semuanya sehat. Dan ya...apa kakakmu sudah menelepon?"
"Kak Fian? Sepertinya belum." Medina menatap suaminya dan Daniel mengangkat kedua bahunya.
"Anak itu, bagaimana ia lupa mengabari adiknya?"
"Mengabari apa, Bu?" Medina semakin penasaran. Daniel memberi kode agar Medina membuat panggilan loadspeaker.
"Sayang...pagi ini kakakmu akan menikah dengan Donita."
"Apa?" Medina dan Daniel saling pandang. Tidak puas dengan apa yang didengar, Daniel menarik tubuh istrinya hingga Medina terduduk diatas pangkuannya.
"Maaf jika mendadak memberi tahu. Tapi ini keputusan terbaik untuk kedua keluarga karena Fian beberapakali menundanya."
"Maafkan jika keputusan ini membuatmu kecewa, karena pastinya kamu ingin bisa berada disini, bukan? Begitu juga dengan kami semua."
Medina mendengarkan penjelasan sang ibu sambil memainkan rambut suaminya. Daniel yang sedang bergairah tidak melepas kesempatan. Tangan jahilnya mulai menelusup kedalam dress rumahan yang Medina kenakan. Membuat Medina membulatkan maniknya hingga beberapa kali memukul tangan jahil suaminya agar berhenti dari aksinya.
"Alhamdulillah, aku turut bahagia ibu. Tidak apa-apa jika aku tidak ada disana. Jangan merusak moment bahagia kalian dengan bersedih karena aku tidak bersama kalian. Aku selalu mendoakan untuk kebahagiaan kalian."
__ADS_1
Daniel tidak berhenti, saat tangan tidak dapat beraksi. Dengan bibirnya Daniel mulai mencumbu bagian dada Medina yang telah terbuka. Membuat Medina beberapa kali harus menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan *******.
"Terimakasih sayang, jaga dirimu dan cucu ibu. Salam untuk Daniel ya."
"Ibu dan Ayah juga harus menjaga diri. Jangan memaksakan diri untuk melakukan pekerjaan. Dan jangan lupa minum vitaminnya." Medina bersusah payah menutup mulut suaminya. Agar berhenti menciuminya.
"Iya, sayang."
"Peluk rindu untuk ayah dan kak Fian. Semoga acara hari ini lancar." Ucap Medina mengakhiri obrolan dengan ibu kandungnya. Tangannya langsung menutup ponselnya dan menatap tajam suaminya.
Namun justru yang ditatap hanya tersenyum lebar menampilkan deretan gigi yang rapih. "Aku hampir mendesah tadi." Kesal Medina karena perbuatan suaminya yang tidak tahu waktu.
"Suruh siapa pagi-pagi menganggu." Jawab Daniel asal. Dan langsung mendapat cubitan didada.
"Awww!!!" Daniel meringis kesakitan.
"Iya...maaf." Bujuk Daniel sambil memeluk Medina. Ia harus meluluhkan istrinya yang terlihat kesal karena ulah dirinya.
"Fian menikah hari ini?" Tanya Daniel dan Medina menjawab dengan anggukan.
"Itu yang ibu katakan." Jawab Medina.
"Kamu menyesal tidak bisa menghadiri moment pernikahan Fian?" Tanya Daniel.
"Bukan seperti itu...aku hanya merasa semuanya mementingkan urusanku daripada urusan pribadi yang lebih penting. Kakak sering meninggalkan kantor demi aku, dan kak Fian harus terus menunda pernikahannya demi aku." Medina terlihat sendu mengatakan isi hatinya.
Melihat istrinya bersedih, Daniel langsung berpikir untuk menghibur istrinya.
"Itu karena kamu sangat berharga dan istimewa." Jawab Daniel menghibur.
"Sekarang mereka sudah menikah...apa kamu akan mengirim hadiah untuk mereka?" Tanya Daniel lagi.
"Kakak punya ide?" Medina menatap suaminya..
"Belikan mereka obat kuat." Jawab Daniel bercanda.
"Ishhh!!." Medina kembali mencubit tubuh suaminya.
"Sakit, Hon." Daniel memegangi bekas cubitan istrinya yang terasa panas.
"Tidak perlu memakai obat kuat, semua pengantin baru, pastinya gairah sexualnya berada dilevel paling atas." Medina menutup mulutnya, merasa malu sudah mengatakan hal absurb dihadapan suaminya.
"Wow....Istri mesum siapa ini??" Daniel menggoda Medina.
"Hei...aku tidak mesum. Hanya mengatakan pengalaman pribadi saja." Medina mengerlingkan sebelah matanya ke arah Daniel dan keduanya tertawa bersama. Detik berikutnya Daniel sudah mengungkung tubuh istrinya dan keduanya melakukan penyatuan merasakan manisnya surga dunia.
****
Setelah ijab qobul selesai dan melaksanakan sungkem kepada kedua orangtua Fian dan orangtua Donita, kedua keluarga itu pergi ke sebuah restoran mewah untuk merayakan pernikahan.
"Terimakasih." Ucap Fian sambil mencium punggung tangan Donita, wanita yang kini telah sah menjadi istrinya.
"Aku juga berterimakasih karena kamu memutuskan hal terbaik untuk kita dan keluarga." Donita tidak bisa menyembunyikan rasa haru dan bahagianya. Ia menatap suaminya dengan manik berkaca-kaca.
"Maaf aku belum bisa membawamu pergi berbulan madu. Kondisi Ayah belum stabil sehingga mengharuskan aku untuk mengerjakan banyak pekerjaannya. Aku harap kamu mengerti." Fian menyadari posisinya saat ini.
"Aku mengerti dan aku akan selalu mendukungmu." Donita mencium pipi Fian dengan mesra. Membuat senyum Fian merekah.
_
_
_
_
_
_
__ADS_1